
Arvin sudah gelap mata, bibir perempuan itu langsung di cium serta di pagut sedikit terburu-buru. Sebelah tangan Arvin memegang tengkuk perempuan itu, memperdalam ciuman yang di berikannya.
Perempuan itu terkejut dan berusaha melepaskan diri dari Arvin, dia berusaha memberontak melindungi kehormatan yang di jaganya. Dia mencoba menggigit bibir Arvin namun dengan lihai Arvin memainkan lidahnya sehingga perempuan itu gelagapan. Arvin membalikkan keadaan dengan berguling ke samping, hingga kini dia berada di atas perempuan itu,
“Maaaf.... Hah.... Hah... Tolong.... Aku.... Sudah....hah.... Hah.... Tidak... Sanggup lagi...aku... mohon.. tolong... aku... ” ucap Arvin terbata-bata. Perempuan itu tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Arvin dia terus berusaha memberontak, namun sia-sia karena kekuatan Arvin yang terpengaruh oleh obat.
“Tuaaan jangan.... Saya.... Mohon jangan tuaan... Hiksss... jangan... tuan...” perempuan itu menangis berusaha mempertahankan apa yang selama ini di jaganya, Arvin sejenak terpana saat melihat wajah perempuan itu.
Hasratnya sudah tidak terbendung lagi, dengan cepat Arvin mencium kembali bibir ranum itu. Namun kali ini dia melakukan dengan penuh kelembutan, membuat perempuan itu yang semula menangis ketakutan mulai sedikit tenang.
Ciuman itu kini semakin berani, Arvin mulai mengabsen setiap yang ada di dalam mulut itu. Hijab serta Jaket ojol yang di gunakannya sudah terlepas, wajah perempuan itu terlihat cantik. Rambut panjangnya tergerai indah, tangan Arvin begitu aktif melepaskan satu persatu pakaian yang di kenakannya. Begitu pun pakaian perempuan itu yang di lepas Arvin dengan cepat,
Maafin gua... Maafin gua... Gua janji bakalan nikahin lu guman Arvin penuh penyesalan dalam hati. Dia telah di kalahkan oleh hawa nafsu akibat obat peran***ng yang tidak sengaja di minumnya. Perbukitan milik perempuan itu sudah terlepas dari pengamanannya, bibir Arvin menjelajahi dari bukit yang satu ke bukit yang lain. Meninggalkan jejak-jejak kemerahan di sana membuat perempuan itu merasakan sensasi yang tidak pernah dia alami selama ini.
Arvin memberi pijatan, memi**n dan bermain memberi sensasi berbeda bagi perempuan itu, kini tangisan itu berganti dengan nyanyian yang tidak pernah sama sekali dia nyanyikan. Suasana panas di kamar Arvin semakin panas dengan di dukung hujan lebat serta guntur yang saling bersahutan.
Perempuan itu seperti tersadar dari buaian dan sentuhan lembut Arvin, kembali dia mencoba berusaha mendorong Arvin.
“tuan, lepaskan saya.... Atau saya aka...” bibir perempuan itu kembali di cium dan di pagut lembut oleh Arvin. Dia memberikan sentuhan demi sentuhan membuat gadis itu semakin terlena dalam permainan itu.
“Maaf..” sebuah kata meluncur dari bibir Arvin membuat perempuan itu terkejut dan termenung menatapnya.
"Maaf..." sekali lagi kata itu mulus keluar dari bibir Arvin, dia hrus menuntaskan hasrat yang tidak hanya membakar diriny namu juga membakar perempuan itu.
Perempuan itu sejenak menatap wajah dan mata Arvin yang terlihat berbeda, mata itu berkabut akan hawa nafsu namun ada sebuah penyesalan juga yang terpancar di sana. Kedua tangan perempuan itu di tahan di atas kepalanya oleh Arvin dengan sebelah tangan.
Sebelah tangan Arvin yang lain mulai membuka pertahanan terakhir perempuan itu hingga mereka berdua terlihat seperti bayi yang baru saja di lahirkan. Tidak ada sehelai benang pun menutupi tubuh kedua insan itu, hanya selimut tebal yang menyelimuti mereka.
Tong sky sudah tidak sabar, dia sudah sangat ingin masuk ke sarang yang ternyata masih tersegel. Tong sky mencoba menerobos sarang itu, memaksa masuk hingga perempuan itu sedikit menjerit,
“Aaaaah.... Sssakit” ujar perempuan itu merasakan rasa sakit di bawah sana yang di terobos oleh benda asing yakni tong sky. Air mata bening menetes di kedua sudut mata perempuan itu, Arvin kembali memberi perlakuan lembut hingga perempuan itu terbiasa dengan tong sky.
__ADS_1
Arvin mengecup kedua mata perempuan itu, lalu mencium kembali bibir ranum itu. Membuai perempuan itu dalam suasana panas yang menggelora.
Tong sky bergerak perlahan di awal permainan, gerakannya semakin bertambah tatkala tong sky sadar jika pemilik sarang itu sudah terbiasa. Hal itu terbukti dengan suara nyanyian merdu membuat tong sky semangat untuk bermain.
Permainan tong sky hampir selesai saat merasa dirinya akan memuntahkan cairan yang begitu banyak. Nafas mereka terengah-engah membuat dada mereka naik turun, Arvin sejenak menatap perempuan itu dengan keringat yang membasahi sekujur tubuh.
Akibat efek dari obat perangsang itu, tong sky belum berpuas diri. Dia kembali agresif saat menatap betapa sexy nya perempuan yang berada di sampingnya kini, tong sky bereaksi hingga kembali menggempur perempuan itu tanpa ampun. Hingga berkali-kali perempuan itu berada di atas puncak kenikmatan yang tiada taranya.
***
Ansel melajukan mobilnya menerobos hujan lebat yang mengguyur. Sebuah kilat menyambar sebuah pohon di tepi jalan yang kebetulan di lintasi Ansel, seketika pohon itu tumbang jatuh menimpa mobil.
Dengan cepat Ansel menginjak rem menghindari pohon yang tumbang. Namun tetap saja beberapa ranting pohon itu mengenai kaca mobil hingga pecah.
“Astagfirullah” Ansel terkejut, dia merasakan ada yang mengalir dari keningnya dan juga lengannya. Dia merasakan sakit di dadanya,
Hujan turun begitu lebat, di tengah rasa sakit sebelah tangan Ansel mencoba meraih ponsel di kotak kecil samping kursi pengemudi. dia menghidupkan lampu senter di ponselnya, menyenteri bagian dada atasnya yang tertusuk dahan kayu yang tajam.
“aaaaaaaaaakh..” Ansel merasakan sakit luar bisa, rupanya dahan itu menancap di bagian atas dadanya. Dia masih bersyukur jika dahan ranting itu tidak menembus hingga ke belakang punggungnya.
Dengan sebelah tangannya dia menghubungi Sean yang masih berada di Arsen Medical.
Tuuut.... tuuuuut...
“assalamualaikum bro” sapa Sean,
“wa..aaalai..... kum aaaaa.... salam....” jawab Ansel dengan terbata-bata membuat Sean heran.
“bro ada apa dengan suara lu. Kenapa terdengar kesakitan?”
“aku....aaaaaa... aku.... di jalan DD... kirimkan... bantuan.... aku.... “ Ansel terbata-bata menjelaskan keadaannya pada Sean.
__ADS_1
“bro tenang, gua sekerang ke sana dengan ambulans” Sean mendengar suara Ansel kesakitan segera bertindak dengan mengutus ambulans untuk menuju jalan DD. Dia juga ikut dalam mobil ambulans, ada rasa kekhawatiran yang terlihat jelas di wajah tampan Sean.
Mobil ambulans meluncur dengan cepat menuju lokasi Ansel, tidak selang beberapa menit mobil ambulans berada tepat di depan sebuah batang kayu besar yang melintang di jalan. Ambulans pun berhenti, semua penumpang dalam mobil ambulans keluar. Mereka semua turun tidak memedulikan hujan yang turun dengan deras.
Sean melihat ke arah di balik pohon itu, tampak mobil Ansel yang tertutupi dahan dan ranting kayu. Ada beberapa ranting yang memecahkan kaca mobilnya,
“kamu segera panggil petugas damkar, kalian ikut saya segera” perintah Sean pada perawat pria dan petugas Ambulans.
Dengan sigap Sean dan Para perawat itu menaiki pohon lalu menghampiri mobil Ansel, dengan senter di pegang beberapa perawat menyenter ke dalam mobil. Sean sangat terkejut melihat kondisi Ansel, darah masih mengucur dari pelipis juga dada atas sebelah kirinya yang tertancap kayu.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf jika hanya up Satu episode...
karena musim penghujan, kondisi fisik author sedikit drop 🤒🤒🤒🤒 jadi sedikit agak kurang fokus...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1