
“ Aduuh....untung lu ingetin may, gue lupa buat ganti perban”
“Udah cepat ambil sana obat ama perban barunya. Biar akika yang pasangin”
Arinda masuk ke kamarnya untuk mengambil perban baru dan obat salep untuk lukanya.
Cantika baru selesai menerima telepon melihat maya duduk di depan Tv menonton acara gosip.
“Kapan lu datang may” sapa Cantika yang duduk di samping maya.
“Baru aja cin. Lu aja yang ke asyikan tele tele ma orang, siapa sih yang telepon? jadi penasaran akika”
“adaa ajaa, kepo banget sih. Trus Arinda mana?” tanya Cantika yang tidak melihat Arinda.
“Arin lagi ambil perban tangannya” kata maya matanya terfokus melihat infotaiment di Tv,
“Arin di sini mbak, ada apa mbak?” kata Arinda yang baru saja mengambil kotak obat berisi perban baru dan obat salep luka.
Arinda memberikan perban dan obat salepnya pada Maya, kemudian duduk dilantai yang di alasi dengan karpet bulu lembut untuk memudahkan Maya mengganti perban Arinda.
Maya mulai membuka perban di tangan Arinda, Cantika terkejut saat melihat luka dengan delapan jahitan di tangan Arinda.
“Gila juga itu si Sinta ampe luka kamu bisa parah kayak gini” Kata Cantika menahan perih seolah olah dirinya yang terluka.
“Makanya tu Akika bilangin ama ni anak biar di penjerong aja tu mak lampir. Tapi ni anak hmmm, gemes akika jadinya, keterlaluan bener baiknya ni anak” Maya mengoleskan obat sambil mengomel dan memperban tangan Arinda kembalk
“yak nggak musti juga dong gue bales jahatin dia. Tuhan aja Maha Pemaaf, apalah kita manusia penuh dosa kita mustinya ngasih dia kesempatan buat berubah” jelas Arinda.
“iye...iye ustadzah. Udah nih slesai” Maya meletakkan hati-hati tangan Arinda.
“mbak sebenarnya mau aja mecat si Sinta, kalo bukan kemauan kamu detik ini juga mbak bisa mecat dia” cantika prihatin melihat tangan Arinda.
“udah nggak apa-apa kok mbak, toh dia juga nggak sengaja. Sewaktu aku dorong dia kebelakang tangannya yang megang pisau nggak sengaja kena tangan Arinda. Namanya juga musibah mbak” kata Arinda menyandarkan tubuhnya ke kursi yang diduduki Maya.
Maya melihat rambut panjang Arinda merogoh tasnya untuk mengambil sisir dan menyisiri rambut Arinda. Dia mulai mengkreasikan membuat ikatan rambut yang cantik, rambut panjang indah milik Arinda susah menjadi mainan bagi Maya. Arinda menatap layar TV membiarkan maya bereksperimen dengan rambutnya.
“Lupa mbak ngasih tahu ma kamu Rin, tadi tuan Daniel ngasih tahu kalo hari ini dia mau liat konsepnya. Dia bilang akan menunggu kita di cafe Afra Coffe” kata Cantika sambil makan cemilan yang di sediakan Arinda.
“jam brapa pertemuannya mbak?” tanya Arinda.
“Jam 2 siang ini” Kata Cantika.
“Akika juga ikut boleh ya tika” Maya memasang wajah imutnya.
“iya kamu boleh ikut tapi jangan kecentilan di depan Tuan Daniel” cantika mengingatkan Maya.
“Iye iye janji akika” maya mengangkat tangannya dengan dua jari menunjukkan tanda peace.
__ADS_1
“Ya udah Arin mo siap-siap dulu, sekalian mo cherger laptop ” kata Arinda beranjak dari duduknya menuju kamar untuk bersiap-siap.
Cantika terpana melihat hasil kreasi Maya pada rambut Arinda yang menambah kesan fresh.
“makin jago aja kamu may, udah bisa nih kita buat kamu jadi hairstyles buat client kita” kata Cantika
“No no no akika ga mau, akika Cuma mau megang rambut ye ama rambutnya Arin” Kata Maya
“kenapa sih may? Kan bisa nambah profit kita may!” cantika merasa heran pada Maya.
“Nggak mau aja, akika mo ngembangin bakat akika di bidang desain. Kalo ini mah Cuma sampingan aja, apalagi akika paling senang megang rambut lu ama rambut Arin” jelas Maya.
“Loh apa bedanya rambut kita ama yang lain. Kan sama aja may?” tanya Cantika.
“Beda aja pokoknya, udah sini rambut ye” perintah Maya, Cantika menuruti dan membiarkan Maya bermain main dengan rambutnya.
Maya pamit untuk bersiap-siap pergi bersama dengan Arinda dan Cantika
“ntar Akika nyusul ke sana ya” pamitnya ke Cantika.
“Oke deh, aku juga mau siap-siap dulu” kata Cantika mengantar Maya ke depan pintu apartemennya, Lalu ia ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang, Cantika dan Arinda sudah berangkat ke cafe Afra Coffe. Mereka sengaja berangkat lebih awal karena letak cafe itu jauh dari apartemen Cantika.
“Mbak...” panggil Arinda.
“Hmm..iya Rin”
“haaa" Cantika memandang lurus ke jalanan.
“kemaren malam waktu angkat telepon dari tuan Ansel Arin liat nama tuan Ansel ada lambang hatinya, sebenarnya mbak dan Tuan Ansel ada hubungan apa? ” tanya Arinda bertingkah polos
Ciiiiittt....
Suara decitan mobil yang di rem mendadak oleh Cantika membuat Arinda hampir membetur dashboard mobil, namun hal itu tidak sampai terjadi karena Arinda memakai sabuk pengaman. Cantika masih bersyukur keadaan jalan tidak terlalu padat, hingga tidak terjadi tabrakan.
“mbak....” Arinda sedikit syok.
“ma...maaf Rin” cantika menepikan mobilnya di tepi jalan.
Mereka berdua menarik nafas dan membuang nafas untuk menenangkan perasaan syok akibat Cantika yang mengerem mendafak, merasa sudah sedikit tenang Cantika melihat ke arah Arinda.
“Kamu nggak pa pa kan Rin”
“nggak pa pa mbak. Arin hanya kaget aja”
“Maaf ya rin, abisnya kamu juga nanya yang bikin mbak kaget”
__ADS_1
“Hah (Arinda menghela nafasnya) emang mbak udah jadian ya ama tuan Ansel?” Tanya Arinda langsung ke intinya
“mmm...mmm....itu...mmm...” cantika tampak gugup
“nyantai kayak di pantai aja mbak, Arin mah senang banget kalo mbak udah nemuin pangeran mbak” Arinda tersenyum bahagia.
“Mmm belum sih Rin. Mbak belum jadian ama Ansel. Kami masih pedekate gitu, dan maunya saling mengenal dulu baru deh ke jenjang selanjutnya”
“Arin doain biar mbak ama tuan Ansel berjodoh, apalagi sepertinya tuan Ansel orangnya baik. Nggak seperti....” Arinda menggantungkan ucapannya membuat Cantika penasaran.
“Nggak seperti siapa Rin”
“Nggak deh mbak... Nggak ada... Lebih baik sekarang kita ke cafe mbak. Ntar kita telat lagi”
Cantika kembali melanjutkan perjalanan menuju cafe Afra coffe.
Mobil Cantika memasuki halaman parkir cafe, arinda turun tangannya menenteng tas laptopnya. Semua mata tertuju pada Arinda yang terlihat cantik dan imut. Arinda memakai dress berwarna biru jeans dan memakai sepatu casual tampak lebih segar, Begitupun Cantika yang tampil elegan.
Mereka berdua memasuki cafe dan duduk di meja dekat jendela. Semua pengunjung terutama kaum adam melihat ke arah mereka, di antara mereka ada Sean dan Arvin tengah menikmati coffe mereka. Sean melihat kearah dua perempuan yang baru saja masuk dan mengenali Arinda.
“Se, gila cewek itu imut banget” kata Arvin melihat ke arah Arinda dan Cantika.
“Loh Dia kan gadis yang?"
“Kamu kenal Se?” tanya Arvin melihat Sean yang menganggukkan kepalanya.
“salah satunya!”
“Yang mana?”
“Yang pake dress biru, dia cewek yang ponselnya nggak sengaja gue rusakin”
Arvin melihat ke arah perempuan yang di tunjuk Sean.
“jadi cewek itu? Cewek yang berani nyari masalah ama Daniel dan berhasil merebut perhatiannya? pantas aja”
“pantas apanya?” Sean meminum kopinya.
"pantas aja si Daniel tertarik ama tu cewek. Selain cantik dia juga imut, gue yang playboy aja suka ama tu cewek" jelas Arvin.
para pengunjung cafe berbisik-bisik membicarakan Arinda dan Cantika. Ada yang kagum dan ada pula yang syirik pada kedua perempuan itu.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗