
“kita bawa ke rumah sakit saja bang” Yuda akan membantu Arvin untuk di bawa ke rumah sakit. Sean tahu dengan watak Arvin mencegahnya,
“Arvin tidak akan mau, percuma saja” ujar Sean.
“Kenapa begitu bang?” tanya Yuda bingung.
“ seorang pria seperti Arvin lebih menjaga harga dirinya, jika lu di posisi Arvin apa lu mau pergi ke rumah sakit dengan diagnosa karena obat perang**ng?” tanya Sean membuat Yuda mengerti.
“Lalu sekarang bagaimana” Yuda menatap Arvin bernafas dengan terengah-engah. Seluruh tubuhnya semakin panas, dia harus mencari cara untuk melepaskan hasratnya.
“Hah.... Hah.... Hah.... Lu cari... Ziko, mungkin.... Dia... Tahu... Obat penawar... Obat... Perang**ng si**n ini... Hah...” Arvin masih terbata-bata menyuruh Yuda untuk mencari Ziko.
“ oke bang, gua ke markas sekarang” yuda bergegas keluar dari apartemen Arvin pergi menuju markas. Sean mengambil jarum suntik baru, dia mengambil darah Arvin untuk di periksa agar dapat menemukan penawar yang cocok.
“Gua ke rumah sakit sekarang untuk periksa darah lu buat bikin obat penawarnya. Lu kagak apa-apa gua tinggalkan?” tanya Sean yang hanya di angguki oleh Arvin.
Sean segera menuju rumah sakit untuk memeriksa sampel darah milik Arvin. Dia merasa kuatir dengan keadaan sahabatnya, dia lalu mencoba menghubungi Ansel, dia menatap jam menunjukkan pukul sebelas malam.
Tuuutt.....tuuuut.....
Ponsel berdering berbunyi nyaring memaksa Ansel untuk bangun dari tidur lelapnya. Dengan mata setengah terbuka dia menatap layar ponselnya yang tertera nama Sean di sana.
“Assalamualaikum Se....” sapa Ansel dengan suara khas orang bangun tidur.
“Waalaikum salam, sorry bro gua ganggu lu. Urgent....” Sean langsung menceritakan kondisi Arvin. Punggung Ansel bersandar di kepala ranjangnya, dia termangu saat mendengar cerita Sean.
“Aku segera ke apartemen Arvin” ujar Ansel, dia bangkit dari ranjang berganti pakaian lalu meraih kunci mobil miliknya.
***
Arvin tersiksa dengan hawa panas tubuhnya, sekujur tubuhnya berkeringat.
Ajim.... Kenapa pengaruh obatnya nggak hilang-hilang serangan Hasratnya kembali menyerang.
Ting tong... Ting tong....
Terdengar suara bel di depan pintu apartemen milik Arvin,
Breng**k, siapa yang datang jam segini... mata sayu melirik ke jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sebelas malam.
Ting tong.... Ting tong....
__ADS_1
Kembali terdengar suara bel pintu kamar apartemennya, dengan terpaksa Arvin bangkit dari ranjang. Berjalan menuju ke pintu kamar dengan nafas terengah-engah.
Pintu di buka dengan kasar, Arvin termangu saat melihat seseorang di depan pintunya. Seorang perempuan dengan memakai atribut ojek online memegang bungkusan makanan. Perempuan itu memakai hijab tertutupi dengan jaket ojek online yang di kenakannya.
“Assalamualaikum tuan, ini pesanan atas nama tuan Yuda” perempuan itu menyapa Arvin dengan ramah. Kali ini Arvin sudah tidak bisa menahan hasratnya, dia menatap wajah perempuan lama.
Perempuan itu heran bercampur bingung saat melihat Arvin yang tampak kesakitan dengan wajah memerah.
“anda tidak apa-apa tuan?” tanya perempuan itu, Arvin mengabaikan pertanyaan perempuan. Tubuhnya hampir terjatuh, dengan sigap perempuan itu menangkap tubuh Arvin. Bungkusan makanan yang di pegangnya terjatuh ke lantai depan pintu Apartemen.
Mata Arvin semakin berkabut, namun dia tetap berusaha untuk melawan hasratnya. Siksaannya semakin lengkap saat tercium bau harum yang berbeda dari perempuan itu.
“Tuan, anda tidak apa-apa? Badan anda sangat panas” perempuan itu terpaksa membantu memapah Arvin kembali masuk ke dalam apartemennya.
***
Mendadak langit malam tergambar kilatan petir saling sahut menyahut, suaranya yang menggelegar membuat Arinda ketakutan. Satu jam yang lalu Arinda dan Daniel telah kembali ke Penthouse mereka.
Sepanjang perjalanan pulang hingga masuk ke dalam penthouse, Daniel terlihat kesal. Berkali-kali Arinda bertanya perihal apa yang membuatnya kesal, namun Daniel hanya diam dan mengabaikan Arinda.
Dalam kamar itu Daniel tidur dengan memunggungi Arinda, dia sedikit kesal saat di bilang aki-aki alias tua. Arinda tahu jika Daniel kesal padanya, dia pun mulai menggoda suaminya dengan sering menyebut kata tua.
Kini Arinda begitu ketakutan mendengar petir yang bergemuruh dengan keras. Seakan memberi peringatan kepada manusia, kilatan dan suara terus saling bersahutan.
Arinda membalikkan tubuhnya menatap punggung Daniel, wajahnya terlihat ketakutan dia lalu menggeser tubuhnya hingga mendekat ke punggung Daniel.
Mata elang itu terbuka saat merasakan kehangatan di punggungnya,
Aku tahu jika kamu tidak akan tenang dan berusaha untuk membujuk ku, baiklah.... Kali ini aku akan memaafkanmu guman Daniel membalikkan tubuhnya. Mata mereka saling bertemu, terlihat jelas oleh Daniel sorot ketakutan terpancar dari kedua mata indah itu.
“Sayaang... kamu takut” Daniel memegang lembut pipi Arinda yang langsung di balasnya dengan memeluk erat Daniel. Dalam pelukan Daniel, istrinya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan yang di lontarkan.
Kembali terdengar dentuman keras kilat atau guntur yang kini di temani rintikan hujan yang sangat deras. Senyuman nackal Daniel tersungging di bibir, dia membalas memeluk Arinda dengan membelai lembut punggungnya.
Lama kelamaan mata Arinda terasa berat, dia tertidur dalam dekapan hangat suaminya. Suara gemuruh guntur teredam dengan degupan detak jantung Daniel, membuat Arinda merasa aman dan tenang hingga dia tertidur dengan damai.
***
Perempuan berhijab itu memapah Arvin menuju kamar yang di tunjuknya. Dia terus berusaha untuk menahan hawa nafsunya, berusaha tidak terpengaruh dengan godaan-godaan yang silih berganti. Kini mereka berdua berada di samping ranjang Arvin, saat akan membantu mendudukkannya terdengar....
Jedaaar....
__ADS_1
Suara guntur menggelegar hebat membuat perempuan itu terkejut sontak memeluk tubuh Arvin. Karena apartemen Arvin berada di tingkat paling atas, suara guntur itu terdengar sangat keras.
Sh** kenapa cobaan datang silih berganti gini, mana ni cewek meluk gua kenceng banget bikin si tong sky nggak fokus guman Arvin mencoba fokus.
Perempuan itu tersadar karena dia telah lancang memeluk Arvin,
“Ma...mmmaaf tuan” ujar perempuan itu sambil melepaskan pelukan dan mendorong Arvin sedikit kasar.
Tanpa sengaja tangan Arvin menarik lengan jaket ojol yang di kenakan perempuan itu hingga mereka berdua jatuh ke atas ranjang. Posisi perempuan itu berada di atas Arvin, hasrat menggebu-gebu minta untuk di tuntaskan.
Arvin sudah gelap mata, bibir perempuan itu langsung di cium serta di pagut sedikit terburu-buru. Perempuan itu terkejut dan berusaha melepaskan diri dari Arvin, dia berusaha memberontak melindungi kehormatan yang di jaganya.
Arvin membalikkan keadaan, kini dia berada di atas perempuan itu,
“Maaaf.... Hah.... Hah... Tolong.... Aku.... Sudah....hah.... Hah.... Tidak... Sanggup lagi...” ucap Arvin terbata-bata. Perempuan itu berusaha memberontak, namun sia-sia karena kekuatan Arvin.
“Tuaaan jangan.... Saya.... Mohon jangan tuaan... Hiksss” perempuan itu menangis, Arvin sejenak terpana saat melihat wajah perempuan itu.
Hasratnya sudah tidak terbendung lagi, dengan cepat Arvin mencium kembali bibir itu. Namun kali ini dia melakukan dengan penuh kelembutan, membuat perempuan itu yang semula menangis ketakutan sedikit tenang.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
mohon maaf jika hanya up Satu episode...
karena musim penghujan, kondisi fisik author sedikit drop 🤒🤒🤒🤒 jadi sedikit agak kurang fokus...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1