Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 245


__ADS_3

Abinya Aisyah begitu terkejut melihat foto-foto bukti kekerasan yang di lakukan pemuda itu. Arvin Cs juga ikut melihat foto-foto itu tampak sangat geram, mereka saja yang pernah dari dunia bawah masih berpikir panjang untuk memukul perempuan.


“selidiki” perintah Arvin pada Riko yang langsung di anggukinya. Segera dia menyalin foto-foto bukti kekerasan yang di lakukan pemuda itu pada Aisyah.


Abinya Aisyah begitu sedih dan malu karena sudah percaya pada mulut manis pemuda itu, dia tidak pernah menyangka jika selama dalam pertunangan putrinya sering di kasari. Dia menyadari kesalahan lalu meminta maaf pada Arvin yang sempat di remehkannya, abinya Aisyah menyadari kesalahan karena hanya menilai seseorang dari penampilan dan masa lalu orang yang buruk.


“nak Arvin, saya...” perkataan Abinya Aisyah segera di potong oleh Arvin.


“kagak usah di pikirin pak kiai. Saya tahu dan mengerti kalo pak kiai hanya ingin yang terbaik untuk Aisyah, tapi jangan risau pak kiai saya akan menjaga dan akan belajar menjadi imam yang pantas untuk Aisyah” ujar Arvin meyakinkan kedua orang tua Aisyah.


Sungguh mulia hati pemuda ini, tidak hanya paham tentang agama. Dia juga baik dan rendah hati guman uminya Aisyah merasa


***


Daniel masih di kantor sambil memperhatikan pemandangan malam kota J,


Sayang.... kamu di mana? Apakah kamu bisa tidur dengan nyenyak tanpa ku? Guman Daniel dalam hati merindukan belahan jiwanya.


Beberapa bulan yang lalu keluarga Arsenio kedatangan anggota keluarga baru. Tepat dua bulan sebelum acara pertunangan Sean dan Davira, Amanda melahirkan putri pertama mereka yang di beri nama Nufaira Manda Arsenio. Kebahagiaan mereka semakin lengkap saat sebulan setelahnya Davira dan Sean bertunangan.


Tidak butuh waktu berapa lama, Ansel dan Cantika akhirnya melangsungkan niat tulus mereka untuk ke jenjang pernikahan. Seminggu sebelum pernikahan, Arvin mengadakan pesta bujangan untuk Ansel. Tidak lupa pula Sean mengajak Evan yang sangat ingin bertemu dengan Daniel.


Dia sudah mengetahui siapa pengirim pesan rekaman itu pada Cantika, Daniel sangat marah dan kesal. Tapi amarah itu di redamnya, dalam pikirannya saat itu hanya ingin bertemu dan menjelaskan semuanya kalau semua itu hanya salah paham.


Evan sangat merasa bersalah karena pesan rekaman yang di kirimnya membuat Arinda salah paham pada Daniel. Di akuinya dia memang bermaksud untuk mengirim pesan itu pada Arinda, agar membuatnya membenci dan meninggalkan Daniel. Di saat keinginannya terwujud sama sekali tidak membuatnya bahagia. ada perasaan yang membuatnya merasa tindakannya tidaklah gentleman.


Hatinya merasa terbebani dengan rasa bersalah, masih teringat olehnya wejangan Sean padanya.


“Jika kamu mencintai Arinda, seharusnya kamu membiarkan dia bahagia dengan Daniel” kata-kata itu terus menggema di benaknya.


Di saat pesta bujangan Ansel, Evan meminta pertolongan Sean untuk di pertemukan secara private. Demi terjaganya perdamaian antara sahabatnya, Sean menyanggupi apa keinginan Evan mengajak Daniel untuk berbicara di ruangan lain. Mereka menikmati pemandangan dengan udara malam yang terasa sejuk.

__ADS_1


“Dan...” sapa Evan di belakang Daniel. Mata elang itu menatap lurus ke arah pemandangan indah dengan kerap kerlip lampu yang menghiasi.


“aku...” Evan ingin berbicara, tangan Daniel terkepal erat siap untuk melayangkan pukulan ke arah Evan. Daniel membalikkan tubuhnya menatap Evan yang berdiri dengan penuh penyesalan. Mata Elang itu menatap tajam ke arah Evan,


“ kamu lebih baik pergi menghilang dari hadapan ku. Sebelum aku bertindak lebih jauh” ujar Daniel menahan amarahnya.


“Dan, aku di sini hanya ingin meminta maaf padamu. Aku benar-benar tidak sadar saat rekaman itu terkirim, aku akui jika keinginan ku ingin membuatmu berpisah dari Arinda. Tapi...” belum selesai Evan menyelesaikan ucapannya, sebuah pukulan akhirnya mendarat di wajahnya.


Buuugh...


“Dan... sabar bro” Sean menahan Daniel dengan memeluknya di belakang. Evan mengelap darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah akibat pukulan Daniel.


“aku emang pantas mendapatkannya, kamu boleh pukul aku jika hal itu bisa mengurangi beban di hati mu dan beban ku juga” ujar Evan menatap Daniel yang masih di liputi dengan amarah dan emosi.


“Dan, tahan emosi lu. Jangan lu bertindak gegabah, dengan lu mukulin Evan hingga dia babak belur kagak bakalan buat Arinda balik ke sisi lu” Sean berusaha menenangkan Daniel yang terlihat akan melayangkan pukulan kembali.


Siapa yang sebenarnya aku bohongi? dengan menutupi rasa bersalah di hati. Aku malah bertindak berlebihan Daniel membalikkan tubuhnya kembali menatap ke arah pemandangan malam kota J, memukul tepian paggar yang terbuat dari besi.


“Dan...” Evan bangkit lalu berdiri di samping kiri Daniel sambil memegangi bibirnya bekas pukulan.


“aku minta maaf, karena rekaman itu sudah membuat Arinda salah paham. Seharusnya aku tidak merekamnya, aku benar-benar minta maaf padamu aku siap menjelaskan pada Arinda”


“sudahlah, semuanya sudah terjadi. Hal ini tidaklah sepenuhnya kesalahanmu” ujar Daniel mulai tenang, lalu menatap tajam Evan.


“jika kamu masih berkeinginan untuk memiliki Arin, kamu akan tahu apa akibatnya. Selamanya Arin hanya milikku, jadi jangan pernah berpikir untuk...” Daniel menekankan setiap ucapannya pada Evan yang langsung di angguki olehnya.


Pertengkaran mereka di akhiri dengan pembicaraan bisnis yang menguntungkan di antara mereka. Evan juga berjanji pada Daniel dia akan membantu menjelaskan semuanya pada Arinda.


Mata elang itu menatap pemandangan malam di luar jendela kantornya, seperti malam-malam sebelumnya kerinduannya pada Arinda semakin dalam. Dia menatap foto wallpaper di ponselnya, senyuman manis yang selalu membuatnya rindu dan ingin bertemu.


Sayang...aku sangat merindukanmu...Daniel menghela nafas berat menahan rindu yang teramat pada belahan jiwanya.

__ADS_1


Mata indah itu tidak dapat terlelap, sudah berkali-kali pemilik mata indah itu membolak-balikkan tubuhnya. Dia menatap langit-langit di kamar berusaha mencari posisi yang nyaman, perutnya sudah terlihat sedikit besar dengan usia kandungan yang memasuki lima bulan.


Arinda berusaha untuk menutup matanya, namun bayangan Daniel terus menari di benaknya. Dia begitu merindukan Daniel dan sangat ingin berada di pelukannya, dia menyerah bangun dari tempat tidur melangkah menuju balkon kamar. Dengan memakai sweter miliknya dan memakai hijab dia duduk di kursi beranda sembari mencari udara segar.


Aisyah terbangun dari tidurnya, melihat ke sisi samping tidak menemui Arinda. Dia melihat ke arah balkon kamar yang pintunya terbuka, dia bangkit dari tidurnya menurunkan kakinya dari ranjang. Kakinya melangkah menuju ke depan pintu kaca geser menatap Arinda dari bali kaca itu.


Pasti mbak Arin rindu ama suaminya. Apa aku coba saja menghubungi Arebeon? Aku kasihan melihat mbak Arin yang selalu murung guman Aisyah menatap Arinda yang menatap langit malam dengan kerlap -kerlip bintang.


Sebelah tangan kanan Arinda membelai lembut perutnya,


“kalian merindukan daddy ya? Maafin ke egoisan bunda memisahkan kalian dengan daddy. Bunda nggak ingin kalian nantinya merasa sedih dan kecewa” ujar Arinda dengan wajah sendu matanya tampak berkaca-kaca.


Kamu sudah berhasil membuatku terjebak dengan cinta palsumu Daniel. Aku terus berusaha untuk melupakanmu, tapi tidak pernah bisa. setiap apa yang aku lakukan bayanganmu selalu ada, Aku ingin membencimu namun semakin hari aku semakin mencintaimu Arinda menatap langit malam, dia termenung melihat sosok Daniel yang berdiri tepat di depannya. Tangannya akan menggapai dan membelai lembut wajah Daniel.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2