
Arind memutuskan untuk beristirahat lebih dulu, di kamar Daniel dengan bau harum membuat Arinda semakin merindukan Daniel. Ponsel Arinda bergetar, dia melihat layar ponsel miliknya. Dia berharap jika suaminya yang menelepon, baru saja sehari di tinggal Daniel Arinda sudah sangat merindukannya.
Namun harapannya sirna saat melihat nama Ifan di sana, walaupun harapannya tidak terkabul Arinda masih sangat senang akhirnya bisa berbicara dengan adiknya.
Ifan yang bertugas di perbatasan negara IN membuatnya sangat sulit di hubungi, berkali-kali Arinda menghubungi selalu saja tulalit.
“assalamualaikum Fan” sapa Arinda pada adiknya.
“Waalaikum salam mbak, maaf Ifan baru bisa telepon mbak. Di sini signal masih sulit mbak”
Arinda langsung mengganti ke video call, terlihat gelap di sana,
“fan kamu di mana? Kok gelap begitu?”
“sebentar mbak” ifan menyalakan sebuah senter lalu mengarahkan ke arahnya, rasa rindu pada adiknya terbayar sudah dengan melihat wajahnya.
“kamu ada di mana Fan? Kok mbak seperti lihat tiang tower?” Arinda melihat pemandangan di belakang Ifan yang gelap gulita dengan tiang berwarna abu-abu.
“hehehe Ifan di atas tower sekarang mbak. Signal di sini sulit, jadi Ifan harus memanjat tower di sini baru bisa Video call dengan mbak. O ya mbak apa kabar? Bang Daniel dan keluarga juga, gimana kabarnya mbak?”
“alhamdulillah, kami di sini baik. Kamu di sana gi mana Fan? Pastinya serba kesulitan ya?”
“sudah sewajarnya mbak, namanya juga anggota militer. Harus siap di tempatkan di mana pun, o ya mbak kok Fan liat ada yang berbeda dari mbak”
“berbeda?”
“iya, sedikit lebih berisi”
“tentu saja kan sebentar lagi kamu akan jadi oom” Arinda tersenyum sambil mengode dengan mengelus perutnya. Mata Ifan berbinar-binar bahagia saat mendengar kabar jika kakaknya saat ini sudah mengandung.
“ benaran mbak” Ifan bertanya sekali lagi tidak percaya. Arinda menganggukkan kepalanya dengan senyum tersungging di wajahnya yang cantik. Mereka berdua mengobrol lama hingga Ifan terpaksa mengakhiri panggilannya karena sudah di panggil untuk bertugas kembali.
Dengan berat hati Arinda mengakhiri video call bersama adiknya, dia masih menatap ponsel miliknya, menatap jam yang sudah larut.
“sepertinya Daddy kamu sibuk sekali, sehingga lupa untuk menghubungi kita” Arinda mengelus lembut perutnya yang datar.
“baby juga kangen ya sama daddy? Bunda juga kangen dengan daddy” Arinda menatap ponselnya dengan wallpaper foto dirinya dan Daniel. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang daniel, masih tercium bau parfum Daniel di sana sedikit mengurangi rasa rindunya.
__ADS_1
Arinda mencoba untuk tidur, namun matanya tidak dapat terpejam. Dia sudah terbiasa tertidur dalam pelukan suami dan belaiannya, Arinda kembali mencoba menghubungi Daniel. Namun, lagi-lagi dia tidak bisa menghubungi Daniel.
***
Dalam waktu dua jam, Daniel berhasil menyelesaikan krisis perusahaan di negara JP. Para petinggi penting di perusahaan Arebeon berdecak kagum dengan kemampuan Daniel mengatasi masalah dengan cepat. Dia juga menemukan solusi terbaik dari krisis perusahaan, dengan tidak membuang waktu Daniel bergegas kembali ke negara IN membuat semua petinggi menatap heran.
“what happened to Mr. Daniel? he seemed in a hurry to return to IN?” tanya salah satu petinggi.
“You are never Young. he's just married, of course he wants to return to IN as soon as possible” kata petinggi lainnya.
“I heard that he married a beautiful girl. Of course he will come home as soon as possible, with a beautiful wife waiting at home” para petinggi tersenyum senang.
Daniel kini sudah berada dalam pesawat, menatap layar laptop di mana harga saham di perusahaannya mulai normal kembali. Dia lalu menghubungi Yuda untuk memanipulasi laporan harga saham hingga pihak musuh percaya jika saat ini ada masalah di perusahaannya.
“jika dia bisa memanipulasi kita, tentunya kita bisa membalasnya dengan memanipulasi laporan yang ada. Biar mereka berpikir jika perusahaan Arebeon dalam keadaan sulit seperti yang di pikirkan mereka, sehingga mereka lengah dan tidak menyadari jika kita sudah menguasai mereka” Daniel menjelaskan rencananya pada Arvin, Yuda dan Ansel.
Mereka menyusun rencana untuk melakukan serangan balik. Dia mengatur strategi cerdas hingga membuat musuh tidak akan menyadari jika mereka dalam kendali Daniel.
Suara azan subuh berkumandang, entah jam berapa Arinda akhirnya dapat tertidur. Perlahan mata cantik itu membuka melihat ke sekeliling kamar, matanya membuka sempurna saat merasakan sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
Perlahan matanya menatap tangan yang di kenalnya, walaupun dalam penerangan tidak terlalu terang Arinda dapat mengenali tangan itu.
Tangan ini... Arinda lalu membalikkan tubuhnya menatap suaminya yang tertidur dengan pakaian jas lengkap.
“sayaang, kamu sudah kembali?” Tanya Arinda membelai pipi Daniel membuatnya terjaga menatap istrinya.
“hmm... aku kembali secepatnya karena tidak ingin istriku yang cantik ini merindukanku” sebelah tangan Daniel menoel hidung mancung Arinda.
Mata Arinda berkaca-kaca menatap Daniel membuatnya kebingungan,
“hei sayang, ada apa? Apa kamu tidak senang aku kembali?”
Arinda menggelengkan kepalanya, sebulir air matanya menetes membuat Daniel kebingungan.
“sayang ada apa? Apa ada yang mengganggumu?” Daniel menyeka air mata Arinda, dia lalu membelai rambut istrinya berusaha menenangkan. Namun, Arinda malah semakin menangis sejadi-jadinya, membuat Daniel semakin kebingungan.
“sayang... ada apa?” Daniel memeluk Arinda untuk menenangkannya,
__ADS_1
“huwaaaaa kamu bau.... aku benci dengan bau kamu.... huuwaaaa” tangisan Arinda semakin menjadi saat mencium bau yang tidak mengenakan pada Daniel.
Tangisan Arinda samar-samar terdengar oleh Davira yang akan turun ke lantai bawah. Ternyata pintu kamar Daniel tidak tertutup begitu rapat hingga Davira dapat mendengar tangisan Arinda.
“Kak Arin kenapa?” Davira langsung membuka pintu dan mendapati Arinda menangis tersedu-sedu dan Daniel dengan wajah kebingungan.
“hiks...hikss... vira.... suruh kakak mu menjauh. Aku benci dengan bau nya” tangisan Arinda kembali terdengar membuat semua keluarga yang sudah terbangun mendatangi kamar Daniel.
“ada apa dengan Arin?” tanya Aileen yang masih mengenakan piama tidur mendapati menantunya masih menangis. Davira berada di samping Arinda memeluknya untuk menenangkan, Aileen melihat Daniel dengan wajah kebingungan.
“Daniel, kapan kamu kembali? Lalu apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu membuat Arin menangis sepagi ini?” Aileen dengan kesalnya memarahi Daniel.
“Dan juga bingung mom, Arinda tiba-tiba menangis karena mencium bau Dan” Daniel mendekat ke arah Aileen yang langsung tercium bau yang menyengat darinya.
“bau apa ini? Baunya sangat menyengat. Seperti bau parfum perempuan malam” Aileen menatap tajam Daniel, dia tahu alasan kenapa Arinda menangis karena mencium bau Daniel.
Daniel teringat ketika bersalaman dengan para petinggi di sana, salah seorang petinggi di sana tidak sengaja jatuh dan Daniel menangkapnya. Salah satu dari mereka memang tercium bau parfum yang sama persis dengan bau yang melekat padanya.
Tangisan Arinda kembali menjadi mendengar jawaban Aileen yang membuatnya berpikir hal lain. Aileen langsung memberondong Daniel dengan berbagai pertanyaan membuatnya merasa pusing.
Rasa mual ingin muntah pun tak terelakkan, dia segera pergi ke kamar mandi dan memuntahkan apa pun yang ada dalam lambungnya. Arinda ingin membantu Daniel, namun karena bau parfum aneh itu membuatnya tidak ingin mendekati suaminya.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1