
“Teman baru tuan muda” kata Ansel melihat ke arah depan.
“ Teman baru? Siapa? Apakah aku mengenalnya?” interogasi Daniel penasaran.
Nih tuan muda kepo banget, aku kan juga punya privasi. Nggak musti semuanya tuan muda tau guman Ansel dalam hati.
“Hanya teman tuan” Ansel lalu mensilent ponselnya.
“ tidak masalah jika kamu ingin berhubungan serius dengan lawan jenis, tapi aku harap kamu berhati-hati” kata Daniel mengalihkan matanya ke jendela samping mobil menatap pemandangan di luar sana.
Ansel sangat mengerti dengan maksud Daniel,
Tenang saja tuan muda, gadis yang ku dekati ini tidaklah seperti gadis yang telah menghancurkan hatimu guman Ansel.
***
Maya dan arinda sedang melihat-lihat contoh kain yang akan di jadikan gaun pengantin oleh Maya di mall terbesar di IN.
“May....gue ke toilet bentar ya”
“Oke cin. Ntar akika nunggu di mobil aja ya”
“Oke”
Arinda berjalan menuju ke toilet yang tersedia di mall itu. Arinda tidak menyadari ada seorang perempuan yang mengikutinya dari belakang.
Arinda masuk ke dalam toilet, perempuan asing itu juga ikut masuk dan segera menarik rambut Arinda yang saat itu terurai dengan kuat.
“Aaawww....apa-apaan ini” teriak Arinda kesakitan memegangi rambutnya.
“sakit bukan” perempuan itu mendorong Arinda ke dinding toilet.
“Aaawww...siapa kamu? Apa kesalahanku sampai kamu berbuat seperti ini” tanya Arinda merasa kesakitan di wajah dan rambutnya.
“Kesalahan lo karena lo merebut segalanya dari gue” perempuan asing itu mengeluarkan sebilah pisau dari tasnya.
“Sekarang, wajah cantik lu bakal gue hancurin” ancam perempuan itu menempelkan pisau ke wajah Arinda.
Arinda memberontak dan mendorong badannya ke belakang. Arinda berhasil terlepas dari kuncian perempuan itu, tanpa sengaja pisau itu mengenai tangan Arinda.
Darah mengucur dan menetes ke lantai toilet, Arinda terkejut saat melihat perempuan itu perempuan yang di kenalnya. Pisau yang di pegang perempuan itu terlepas dan jatuh, secepat kilat Arinda menendang jauh pisau itu.
“Sinta”
“ya...ini gue. Kenapa kaget?” Sinta tampak sudah sangat marah.
__ADS_1
“Sin, apa maksud lu? Kenapa lu jadi nekat kayak gini” arinda tidak habis pikir melihat kenekatan Sinta.
“salah lu udah banyak. Semenjak lu kerja di Pearl Stars semua pekerjaan gue lu rebut, klien-klien penting pun lu rebut juga. sekarang gue di skors ama mbak Cantika pasti hasutan dari lu kan?” Sinta sangat marah, dia sangat iri dan dengki dengan keberhasilan Arinda.
“Sin, lu di hukum mbak Cantika itu bukan urusan gue. Klien-klien penting make jasa Eo gue, itu pilihan mereka. Nggak ada sangkut pautnya ama gue” jelas Arinda memegangi tangannya yang masih mengeluarkan darah.
“Halah klien itu make jasa lu karena lu udah tidur kan ama tu klien” tuduh Sinta.
Merasa harga dirinya sudah di rendahkan tanpa ragu Arinda mengangkat tangannya yang berlumuran darah.
Plaaaak....
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Sinta.
“An***g lu. Berani lu tampar gue”
“Jaga omongan lu, selama ini gue diam lu rendahin gue. Tapi sekarang lu udah keterlaluan...”
Plaaakk....
Sebuah tamparan mendarat lagi di pipi kiri Sinta, pipi sinta memerah akibat tamparan yang di dapatnya. Sinta melihat orang yang menampar pipi kirinya.
“be***ng bre****k beraninya lu nampar gue” teriak Sinta tidak terima sambil memegangi wajahnya yang memerah karena tampara dari Maya dan Arinda.
“Dek...ada apa sih, kok pada ngumpul di depan toilet gini?” tanya Maya pada gadis itu.
“Itu mas...” belum selesai gadis itu berbicara, Maya langsung memotong pembicaraan gadis itu.
“Mas...emang akika mas-mas. Udah dandan cetar membahana kayak gini malah manggil mas” ketus Maya.
Gadis itu melihat Maya dari atas sampai bawah.
Tampan sih tapi sayang ngondek guman gadis itu dalam hati.
“Trus maunya di panggil apa?” tanya gadis itu lagi.
“Panggil kakak” kata Maya.
“Iya deh ma...eh kak. Itu ada yang tengkar di dalam. Kalo nggak salah dengar ada yang terluka”
“OMG, Arinda” pekik Maya yang menerobos kerumunan perempuan yang berkumpul di depan toilet.
Terdengar oleh Maya suara perempuan yang tidak asing di telinganya.
“Dek, cepet panggil security di sini. Suruh datang ke toilet cewek ya” perintah Maya pada gadis muda itu.
__ADS_1
“Iya kak” gadis itu segera menuju pintu depan mall, dia melihat beberapa security yang sedang bertugas.
“Pak...pak...tolong ada keributan di toilet cewek” panggil gadis itu pada security mall.
Maya lalu masuk kedalam toilet, dia mendengar perkataan perempuan itu yang menghina Arinda
“Halah klien itu make jasa lu karena lu udah tidur kan ama tu klien” tuduh perempuan itu.
Maya melihat Arinda yang langsung menampar keras perempuan itu,
Maya pun maju dan menampar kembali pipi sebelah kiri perempuan itu.
“be***ng bre****k beraninya lu nampar gue” teriak perempuan itu yang tidak lain adalah Sinta.
“ Iye akika emang brani. Mau ngapain lo dasar mak lampir, mulut lu nggak pernah di sekolahin ya pe**n, lu yang halalin segala cara buat dapetin klien malah lu nuduh Arinda”
“Jaga ba**t lu ya, ini bukan urusan lu. Be***ng bre****k”
“Hello ini udah jadi urusan akika, Arinda temen akika, urusan die juga urusan akika” tegas Maya berdiri di depan Sinta.
Pertengkaran Maya dan Sinta semakin mengundang banyak orang. Arinda tidak menyia-nyiakan kesempatannya, segera dia merogoh tas ranselnya mencari-cari sesuatu untuk membalut lukanya sementara. Darah masih menetes dari tangannya, Arinda hanya menemukan tisu di dalam tasnya.
Pake ini aja deh, dari pada nggak ada guman Arinda dalam hati.
Security datang mengamankan Sinta, Arinda dan Maya, mereka juga memungut pisau yang di gunakan Sinta untuk melukai Arinda.
Mereka bertiga di bawa ke kantor security untuk di mintai keterangan. Arinda orang pertama yang di mintai keterangan, dia menjelaskan kejadian yang terjadi di toilet perempuan.
“Baiklah, mbak dan mas. Saya akan membawa mbak sinta ini ke kantor polisi untuk selanjutnya di mintai keterangan oleh pihak berwajib” jelas security itu setelah mendengar penjelasan Arinda. Maya pun meminta kalau masalah yang di buat Sinta di bawa ke pihak berwajib.
“Jangan....saya mohon jangan pak. Jangan di laporkan ke polisi, saya mohon pak” sinta memohon untuk tidak di laporkan ke pihak berwajib.
“Rasain lu, tadi berani buat nyerang Arin, nah giliran di laporin takutnya setengah mati. Makanya jangan coba buat jadi penjahat" nyinyiran Maya pada Sinta.
“May...udahlah. Nggak usah di bahas lagi” kata Arinda menenangkan Maya yang kesal dengan ulah Sinta begitu berbahaya.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1