Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 279


__ADS_3

“Hapus” perintah Daniel segera mematikan sambungan telepon dari Arvin. Dia meraih ponsel itu langsung membantingnya ke tembok ruang kerja sampai hancur.


Ponsel ku.... Mana semua data ada di sana lagi Tangis Ansel dalam hati. (Sabar ya babang Ansel, ntar Author gantiin deh ama ponsel yang tahan banting, yang harganya bikin jiwa miskuin para reader meronta-ronta).


Daniel terlihat sangat kesal dan emosi tingkat dewa, menebak-nebak siapa dalang dari semua masalah yang di hadapinya kini. Dia menatap nanar almarhum ponsel Ansel yang hancur tanpa berbentuk, sebelah tangan meraih dompet miliknya mengeluarkan black card lalu memberikan pada Ansel.


“beli ponsel baru untuk mu sekarang” perintah Daniel.


“Baik tuan muda” ujar Ansel senang, dia segera mengambil black card milik Daniel sebelum tuan mudanya itu berubah pikiran.


Ansel mengambil ponselnya yang hancur, lalu melangkah keluar dari ruangan Daniel. Setelah menutup pintu ruangan tuan mudanya, dia menghirup dan membuang nafas lega. Diana heran melihat apa yang terjadi pada Ansel,


“Kenapa pak Ansel?” tanyanya.


“Nggak ada apa-apa, sementara ini jangan temui tuan muda dulu. Siaga merah” ujar Ansel.


Diana hanya menganggukkan kepalanya mengerti, dia merasa merinding dan dingin melihat ke arah pintu ruang kerja yang tertutup. Dia semakin gugup saat melihat ponsel Ansel yang menjadi korban dari Daniel.


Ansel segera menuju lantai bawah untuk pergi ke konter ponsel mewah yang menjual berbagai ponsel mahal. Dengan menggunakan mobil miliknya Ansel menuju konter ponsel untuk membeli yang baru.


Yuda baru saja kembali dari kantor polisi bermaksud akan kembali ke markas Arvin. Terdengar olehnya deringan ponsel dengan nama bang Arvin tertulis di layarnya,


“Ya bang” sapa Yuda langsung to the point.


“ lu di mana sekarang?”


“ gua mau balik ke markas bang”


“lu langsung ke Arebeon” perintah Arvin langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.


Lama-lama si bang Arvin semakin mirip ama bang Daniel. Main matiin telepon seenaknya gerutu Yuda dalam hati, dia segera melaksanakan perintah Arvin pergi menuju perusahaan Arebeon.


Ansel sudah berada di konter dan memilih ponsel, di menyerahkan black card Daniel pada kasir untuk di gesek pada mesinnya. Sekali dua kali gesekan pada black card Daniel tidak berhasil membuat kasir kebingunga,


“tuan sepertinya kartu anda bermasalah. Apakah anda ada kartu lain?” tanya kasir.


“bermasalah?! Coba pakai yang ini” ujar Ansel mengeluarkan kartu miliknya yang langsung berhasil melakukan transaksi pembayaran.


Black card tuan muda selama ini tidak pernah bermasalah, apa mungkin.... Sebaiknya sekarang aku kembali ke kantor guman Ansel dalam hati, setelah menyelesaikan transaksinya dengan terburu-buru dia melangkah menuju mobilnya. Menyalakan mesin mobil dan melaju kembali ke perusahaan Arebeon.


Arvin memakirkan mobil miliknya di parkiran depan halaman Arebeon, dia membuka pintu mobil lalu turun di ikuti Riko yang berada di samping mobil. Mereka berdua akan melangkah masuk ke perusahaan berhenti sejenak saat melihat Yuda yang baru saja datang,

__ADS_1


“Lu baru datang?” tanya Arvin pada Yuda.


“Iya bang, mobil taxi yang gua tumpangi mogok di jalan. Jadinya gua nunggu bentaran” alasan Yuda.


Arvin akan kembali bertanya berhenti sebentar saat melihat mobil Ansel baru datang, setelah mobil terparkir cantik di parkiran Ansel turun dengan wajah mendung.


“Lu kenapa? Wajah udah kayak baju belum di setrika gitu”


“Gara-gara kamu, ponsel milikku sekarang sudah tamat. Terpaksa aku membeli yang baru” ujar Ansel kesal, Arvin hanya cengengesan mendengarnya. Mereka berempat melangkah segera masuk ke perusahaan Arebeon, melangkah cepat menuju lift khusus Daniel.


Pintu lift terbuka mereka berempat segera masuk ke dalam lift, Ansel menekan tombol menuju lantai paling atas.


“Yuda, bisa kamu menyalin semua data di ponsel yang hancur ke ponsel ini?” Ansel menatap Yuda penuh harap.


“Seberapa persen hancurnya bang?”


“ Tujuh puluh lima persen, kira-kira bisa kamu selamatkan datanya?”


“Akan gua usahakan bang” Ujar Yuda.


“emang ponsel lu di apain ama si raja iblis?” tanya Arvin penasaran.


“Di paksa cium tembok gara-gara ucapan kamu yang menghubungi nona” Ansel menatap dingin pada Arvin yang tertawa terbahak-bahak, begitu juga Riko dan Yuda yang tidak dapat menahan tawanya.


Ting....


Pintu lift terbuka, mereka berempat keluar dari lift lalu melangkah menuju ruangan Daniel, Diana terlihat gugup dan was-was. Arvin menatap heran pada Diana yang tidak fokus dengan pekerjaannya,


“Neng Diana, kenapa kok kayak ketakutan ama gugup gitu?” tanya Arvin.


Diana tidak mampu menjawab pertanyaan Arvin, dia hanya melihat ke arah pintu ruangan Daniel. Arvin melihat ke arah pintu di mana seorang OB baru keluar dari sana, serempak mereka berlima membuang nafas lega. Membuat OB itu kebingungan,


“Kenapa tuan?” tanya OB itu polos.


“bagaimana situasi di dalam?” Ansel menatap OB itu.


“Maksudnya tuan?” OB itu terlihat kebingungan.


“Maksudnya si raja iblis eh salah Tuan muda sedang apa?” Arvin keceplosan memanggil Daniel dengan panggilan sayang mereka.


“maaf tuan, tapi sewaktu saya mengantar minuman Tuan muda kagak ada di ruangan” ujar OB itu mengingat jika ruang kerja Daniel dalam keadaan kosong.

__ADS_1


“Ah masak...” Arvin melangkah membuka pintu dan masuk ke ruang kerja Daniel, di ikuti oleh Ansel, Riko dan Yuda. Mereka berempat termenung di depan pintu saat melihat Daniel akan duduk di kursi kebesarannya.


“Kalian mau masuk atau tetap berdiri saja di sana?” Daniel kembali fokus pada laptopnya, Arvin dan Yuda masuk ke ruangan Daniel.


Ansel kembali ke mejanya mengambil ponsel miliknya yang rusak, Riko memilih menunggu di ruang tunggu. Kaki Ansel kembali melangkah masuk ke ruangan Daniel sambil membawa black card milik Daniel.


Sebelah tangannya membuka pintu ruangan Daniel, dia pun masuk ke ruangan itu dan menutup pintunya. Setelah Ansel masuk, Arvin pun menceritakan tentang apa saja yang di temukannya di lokasi hacker itu. Dia menceritakan tentang penemuan mayat dan memory card micro, Yuda menerima memory card itu lalu memasangkannya ke alat untuk melihat data apa yang ada dalam memory itu.


Laptop dan IPhone milik Yuda berada di atas meja tamu di ruangan Daniel, dia duduk bersila di lantai sambil memeriksa memory card. Dia kembali membuka tablet miliknya,


“Bang Ansel, mana ponsel yang akan gua selamatin?” tanya Yuda menatap laptop yang sedang membaca memory card temuan Arvin.


Daniel mengambil laptopnya duduk di sofa tepat di samping Yuda, di ikuti Arvin dan Ansel duduk di sofa berbeda.


“Tuan muda, maaf saya tidak jadi memakai black card anda” Ansel memberikan kembali Black card milik Daniel.


“Kenapa?” Daniel menatap Ansel.


“akun bank tuan muda sudah di bekukan. Saya sudah menyelidiki semuanya, dari pihak bank menyatakan jika beberapa ari sebelumnya anda sempat menelepon pihak bank untuk membekukan semua akun bank” jelas Ansel, sebelum kembali ke Arebeon dia menyelidiki apa yang terjadi pada akun Bank milik Daniel.


Mendengar penjelasan Ansel membuat Daniel semakin marah, terlihat awan gelap hitam mengelilinginya.


“Ini nomor ponsel seseorang yang sempat menghubungi pihak akun bank. Dia mengatakan kalo black card anda sudah di curi dan meminta untuk membekukan semua akun anda, pihak bank sudah mencoba menghubungi anda namun tidak terhubung karena saat itu anda sedang berada di dalam pesawat” jelas Ansel lagi memberikan nomor ponsel yang di dapatnya pada Daniel.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, karena beberapa hari ini author harus istirahat total jadi semua karya Author harus terlambat up. 😷😷😷


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2