
Melihat pakaian Nadira yang super minim membuat Daniel semakin sulit menahan gejolak yang sudah bangkit sedari tadi. Matanya dapat melihat jelas dua perbukitan yang sengaja terbuka agar dan nyaris keluar dari pagar pengaman yang terlihat kekecilan. Daniel meneguk kasar air liurnya, dia sudah tidak bisa menahan lagi hasrat ke laki-lakiannya.
Daniel berdiri dari tempat duduknya, mendekati Nadira dengan tatapan mata sayu, dibalas dengan senyuman senang saat melihat Daniel menghampirinya. Daniel segera meraih pinggang Nadira dan akan melayangkan ciuman pada bibirnya yang di hiasi lipstik merah menyala.
“sebentar sayang” Nadira menahan bibir Daniel dengan menempelkan jarinya di sana.
“ayolah, aku sudah tidak tahan. Rasanya sangat sakit dan panas” Daniel kembali berusaha untuk mencium Nadira, namun di cegahnya kembali.
“sebentar sayangku, aku akan menutup pintu dulu” Nadira membalikkan tubuhnya dan menutup pintu ruang kerja Daniel. Setelah itu dia menghampiri Daniel yang langsung di gendong Daniel lalu mendudukkannya di meja.
Saat akan mencium Nadira, Daniel meraih sebuah jarum suntik di kantong celana sedari tadi sudah di persiapkannya. Nadira menutup matanya saat akan di cium oleh Daniel,
“aaawww” Nadira terpekik saat merasakan sakit di lehernya, pandangannya seketika mengabur menatap Daniel. Tangannya berusaha menjangkau Daniel yang terlihat ada di hadapannya.
Nadira jatuh tersungkur di lantai ruang kerja Daniel, mata elang Daniel seketika berubah menjadi dingin. Diambilnya tisu untuknya mengelap tangan, dengan senyum smirk tersungging di bibirnya dia membuang tisu itu tepat ke wajah Nadira.
Tangannya meraih ponsel di atas meja, dia lalu menghubungi nomor Ansel.
“ke ruang kerjaku sekarang” kata Daniel masih menatap Nadira yang sudah tidak sadarkan diri. Belum sempat Ansel menjawab sambungan telepon langsung di putus Daniel.
Kebiasaan sultan, belum ngomong udah main mati aja kata Ansel yang kini berada di kamar Nadira sedang memeriksa barang-barang miliknya.
Dia menemukan ponsel milik Nadira yang sedang di charger dan beberapa bungkusan yang terlihat aneh baginya.
Daniel mengganti bajunya yang sudah di persiapkan, dia melihat ke arah tanaman di ruang kerjanya dengan tanah basah terkena siraman air minum. Ansel masuk ke ruang kerja Daniel, matanya melihat Nadira yang tergeletak tidak sadarkan diri.
“bakar ini” Daniel menyerahkan pakaian yang di kenakannya tadi pada Ansel menganggukkan kepalanya.
“Arvin sudah di hubungi?” tanya Daniel, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
“sudah tuan muda, mereka sudah dalam perjalanan kemari” Ansel segera memasukkan pakaian yang di perintahkan Daniel untuk di bakar ke dalam paper bag.
“tuan muda, saya menemukan ini di kamar perempuan ini dengan ponsel miliknya. Tapi ponsel ini pakai kode kunci” Ansel menyerahkan semua temuannya pada Daniel.
“berikan pada Arvin biar Yuda mengaksesnya nanti” perintah Daniel lalu memeriksa beberapa kantong hasil temuan Ansel hanya berisi bunga dan beberapa benda yang terlihat aneh.
“bakar ini semua” Daniel melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja menuju kamarnya di lantai dua. Dia menyerahkan semua urusan Nadira pada Ansel,
Kerja lembur gara-gara cewek nggak tau malu ini, Ansel hanya bisa menghela nafas panjang.
Tidak berapa lama Arvin datang bersama rekan-rekannya yang di sambut langsung oleh Ansel. Mereka beruntung jika keluarga Arsenio sudah berada di kamar masing-masing dan terlelap dalam mimpi indah mereka.
Arvin dan beberapa Anak buahnya langsung ke ruang kerja Daniel, mereka terpana melihat seorang perempuan yang tidak lain adalah Nadira berpakaian super mini tergeletak di lantai tidak sadarkan diri.
“Sel, mana Daniel?” Arvin melihat ke sekeliling ruang kerja dan tidak melihat Daniel, anak buah Arvin segera mengikat kedua tangan Nadira yang pingsan lalu mengangkatnya.
__ADS_1
“tuan muda udah istirahat, tadi beliau menyuruh ku memberikan ini pada mu. Beliau minta untuk Yuda segera mengakses ponsel ini, kemungkinan besar ini cewek kerja sama dengan Yoga pembunuh bayaran yang kita cari” Ansel memberikan ponsel Nadira pada Arvin.
“bos langsung di bawa ke markas?” tanya salah satu anak buah Arvin.
“hmm, setelah sadar kita akan interogasi dia. Siapa yang berani main-main ama kita?” Arvin menatap tajam pada perempuan yang masih pingsan, tidak sengaja dia melihat sebuah tato kupu-kupu dengan mawar hitam di belakang lehernya.
“bentar?!” Arvin menyibak rambut Nadira yang pingsan, dia menatap ke arah tato itu.
“kenapa?” Ansel menatap heran pada Arvin,
“gue merasa pernah liat ni tato. Tapi di mana ya?” Arvin terus menatap tato di belakang leher Nadira. Ansel memperhatikan lambang tatto di belakang leher Nadira
“gua akan selidiki ini lebih dalam, bilang ama Daniel setelah mendapat info akan gua hubungi”
“oke”
Anak buah Arvin lebih dulu keluar dari kediaman Arsenio dan membawa Nadira masih terlelap karena pengaruh obat bius. Ansel mengantar Arvin sampai ke pintu depan kediaman Arsenio,
“ o ya gimana hubungan Daniel ama Arinda?” Arvin sangat kepo dengan hubungan sahabatnya dan perempuan pujaan hatinya.
Ansel menceritakan segala yang di ketahuinya termasuk rencana oma Ayu. Arvin tersenyum senang saat mendengar Tasya sekarang ada di IN tepatnya menginap di kediaman Arsenio.
“jadi Tasya ada di sini sekarang?”
“mau kemana?” Ansel menghalangi Arvin.
“mau ketemu dengan calon ibu dari anak-anak gue” Arvin mencari jalan lain untuk bisa masuk ke Mansion.
“siapa?” tanya Ansel,
“ya Tasyalah”
“maksud ku siapa yang nyuruh kamu balik lagi? Segera kerjakan yang di suruh tuan muda” cegah Ansel, dia sudah merasa sangat lelah dan ingin pergi ke dunia mimpi. Syukur-syukur Ansel bisa melihat Cantika dalam mimpinya.
“bentaran doang Sel, sekedar ngintip juga nggak apa-apa” Arvin kembali mencari jalan untuk masuk mansion.
“kamu mau kerja rodi lagi?” kini Ansel mengingatkan Arvin jika Daniel bisa memberikannya pekerjaan yang banyak.
“iya iya gua balik sekarang (Arvin cemberut karena Ansel) selamat tidur rembulanku, mimpikan yayangmu ini” Arvin beranonim ria berharap Tasya mendengar. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju mobil miliknya dan melaju menuju Apartemennya.
Sebelumnya dia sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi dengan ketat Nadira dan menghubunginya dengan segera saat dia bangun dari pengaruh obat bius yang di suntikkan Daniel.
***
Tepat pukul tiga sore, Arinda menyelesaikan semua pekerjaannya, dia sudah menyusun beberapa contoh Wo yang akan di tunjukkannya pada klien Pearl Stars besok. Ponsel Arinda bergetar saat sebuah pesan masuk ke ponselnya ternyata wa dari Aldo.
__ADS_1
Dreeting...
📱
Rin, kita ketemuan di M J restoran ya. Ntar gua share lokasinya.
Arinda dengan cepat membalas pesan dari Aldo,
“aloha ciiin....” sapa Maya menatap Arinda yang sudah beres-beres akan pergi.
“jadi, lu ketemuan ama Aldo?” Maya duduk di kursi depan meja kerja Arinda,
“iya, tapi nggak jadi di cafe dekat sini” Arinda sedikit memperbaiki riasannya.
“ trus, janjiannya kemana?” Maya semakin kepo pada Arinda.
“di M J restoran, tadi dia wa aku buat ketemuan di sana” Arinda memakai tas Ranselnya.
“ya udah yuk capcus” maya berdiri dari tempat duduknya.
“capcus kemana?” tanya Arinda bingung,
“lah kan tadi lu sendirikan bilang mo ke temuan ama Aldo, kok malah nanya balik?”
“maksud gue itu, lu nya mau ke mana kok bilang capcus?”
“akika musti ikut lah, nggak mungkin akika biarin anak perawan jalan sendirian trus ke temuan ama cowok. Ntar lu di culik lagi, no no no”
“aduh Mayaaaaa, Aldo kan sahabat gua lagian siapa juga yang mau nyulik gua. Secara bukan siapa-siapa gini, sultan bukan, anak sultan juga bukan”
Lu emang bukan sultan Rin, tapi lu segera jadi nyonyanya sultan kata Maya dalam hati.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1