Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 300


__ADS_3

“ kemungkinan siang ini anda sudah bisa bertemu, karena anda masih dalam masa pemulihan sebaiknya banyak beristirahat. Sebentar lagi kami akan memindahkan anda ke ruang perawatan” jelas dokter Yuki.


“terima kasih dokter” ujar Arinda, dia melihat ke arah Maya yang baru selesai menghubungi Cantika.


“may, tolong hubungi Idol lu. Bilang kalo gue udah di pindahkan ke ruang perawatan” pinta Arinda.


“oce my bunny” Maya segera menghubungi Daniel, namun tidak ada jawaban.


Mungkin para lekong masih sholat, kirim WA aja buat my idol gumam Maya dalam hati sambil mengetik pesan untuk Daniel, Tidak lupa Maya juga memberitahu di kamar berapa Arinda berada. Beberapa Perawat laki-laki masuk ke ruang ICU lalu mendorong bankar Arinda menuju lift khusus.


***


Daniel masih duduk bersila di atas sejadah mushalla rumah sakit Arsen medical. Setelah melakukan sholat subuh berjamaah dengan Ifan, dia duduk sambil berzikir kepada yang Maha Kuasa. Tangannya yang kekar menengadah sempurna kepada sang khalik.


Terima kasih ya Allah, Engkau masih membangunkan istriku dari tidurnya yang panjang. Terima kasih atas Amanah yang engkau titipkan kepada kami untuk kami rawat, jaga dan tuntun mereka ke jalan-Mu. Tidak putus-putusnya aku mengucapkan rasa syukur ke pada-Mu Ya Allah yang memberi kehidupan baru untuk kami.... dengan begitu khusyuk Daniel berdoa dalam hati mengucapkan syukur atas kenikmatan dan pertolongan yang maha Kuasa.


Sambil melangkah keluar mushalla, Daniel merasakan getar ponsel di saku celananya. Dia menatap layar ponsel, membaca pesan Wa dari Maya memberitahu jika Arinda sudh di pindahkan ke ruang perwatan.


Ifan sedang menunggu Daniel di pelataran mushalla, setelah memakai sepatunya dia duduk di sana meraih ponselnya ntuk memberi kabar juga meminta izin pada atasannya di berikan tambahan cuti. Dia juga memberikan alasan penambahan cuti dan berharap jika atasannya memberikan izin.


“Fan, kita ke kamar Arin. Maya sudah memberi tahu jika Arin sudah di pindahkan ke ruang perawatan” Daniel selesai memakai sepatunya lalu menghampiri adik iparnya.


“Oke bang,” ujar Ifan baru saja selesai menghubungi atasannya. Ifan dan Daniel berjalan beriringan masuk ke lobi rumah sakit Arsen Medical, Daniel baru mengingat dengan para baby twins. Dia juga baru teringat belum melakukan kewajibannya sebagai ayah untuk mengazani bayi kembarnya. Perhatian Daniel terlalu terfokus pada Arinda yang kritis sehingga dia tidak terlalu memperhatikan anak-anaknya yang baru lahir.


“Fan, kamu duluan saja ke kamar perawatan Arin. Aku mau ke ruang bayi sebentar” ujar Daniel menuju ruang perawatan bayi.


“Ifan juga ikut bang” Ifan mengikuti Daniel, dia ingin melihat para ponakan kembarnya sambil mengambil foto mereka.


Para bayi kembar masih dalam kotak inkubator, mereka terlihat begitu nyenyak di alam mimpi mereka. Mengetahui Daniel akan ke ruang perawatan anak, dokter anak segera menunggu di station perawat begitu juga para perawat di sana.


Dokter anak segera menghampiri Daniel yang baru saja sampai.


“Selamat pagi tuan Daniel” sapa dokter anak.

__ADS_1


“Pagi, tidak usah terlalu formal. Aku ke sini hanya ingin melihat anak-anakku” ujar Daniel, mata elangnya melihat ke arah ruang bayi di mana para bayi tampak tidur dengan nyaman dalam boks bayi mereka.


“Baik Tuan Daniel, tapi sebelumnya anda harus memakai pakaian steril” dokter anak menyuruh perawat untuk mengambil pakaian khusus untuk Daniel dan Ifan.


Perawat perempuan menyerahkan pakaian steril pada Daniel dan Ifan, segera mereka memakai pakaian itu lalu keluar menuju ruang perawatan bayi. Seperti biasanya perawat perempuan terpesona dengan kedua pria tampan dan gagah itu, mereka memandang begitu lama bahkan mereka rela berdiri di depan kaca tempat melihat bayi agar bisa menatap kedua pria tampan itu.


Dokter anak mempersilahkan Daniel melihat para kembar dan juga menggendongnya. Mata elang itu terpesona saat menatap kedua jagoannya terlihat perpaduan wajah Arinda dan dirinya, lalu dia menatap putri bungsunya yang menyalin semua kecantikan Arinda. Dari bentuk bibir yang mungil, hidung mancung, dan pipi chubby membuat siapa saja melihatnya menjadi sangat gemas.


Daniel melakukan tugasnya sebagai seorang Daddy, dengan penuh kasih sayang juga kehangatan dia mengazani dan iqamah di kedua telinga para si kembar. Lantunan merdu suara azan dari Daniel menghipnotis ketiga si kembar, mereka begitu tenang dan damai dalam gendongan Daddy mereka.


Seperti biasanya sikap Daniel di dukung dengan parasnya dan kehangatan membuat siapa pun yang melihatnya terpesona. Ruang perawatan bayi menjadi agak ramai karena suara para netijen yang saling memberi komentar perihal Daniel juga Ifan.


“kapan bayi kami akan di antar ke ruangan istri ku?” tanya Daniel menggendong bayi perempuannya yang tertidur lelap.


“setelah semua pemeriksaan selesai juga pemberian imunisasi, para kembar segera di antar ke ruang perawatan nyonya Arin” jelas dokter membantu Ifan mengajarinya bagaimana cara menggendong bayi dengan benar.


“assalamualaikum kedua jagoan om” sapa Ifan senang dengan ketiga ponakan kembarnya. Sesekali dia mengajak bercanda para baby twins.


“dokter, saatnya pemeriksaan bayi nyonya Arinda” seorang perawat datang memberi tahu jadwal pemeriksaan.


“baiklah...” Dokter anak mengangguk dan meminta perawat untuk mempersiapkan hal-hal yang di perlukan saat pemeriksaan nanti.


“tunggu sebentar, bolehkah aku mengambil foto ketiga ponakan ku?” tanya Ifan mempersiapkan ponselnya untuk memotret keponakannya.


“boleh saja tuan, tapi jangan menggunakan lampu flash. Bisa mengakibatkan tidak baik untuk mata bayi yang baru lahir” jelas dokter anak itu.


Ifan menganggukkan kepalanya, dia langsung mematikan lampu flash kamera ponselnya memotret dengan begitu semangatnya. Dia mengambil dari berbagai sudut hingga menghasilkan potret yang bagus.


“Fan kirimkan juga ke ponsel ku” ujar Daniel sambil meletakkan baby girls ke boks baby.


“beres bang” Ifan mengacungkan ibu jarinya. Setelah cukup lama bersama baby twinsnya, Daniel dan Ifan kembali ke kamar perawatan Arinda.


***

__ADS_1


Arinda di bantu Maya juga perawat perempuan untuk berbaring dengan hati-hati di atas ranjang rumah sakit. Setelah berbaring dengan nyaman, dokter Yuki mulai memeriksa bekas jahitan sesar juga luka tembak di bahu Arinda.


Dokter Yuki memberi instruksi pada perawat tentang obat serta cairan infus yang di berikan pada Arinda. Setelah memberi instruksinya, mereka undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka.


Arinda masih tampak lemah dan lelah, Maya sudah berkonsultasi pada dokter Yuki hal apa saja yang boleh dan tidak di konsumsi oleh Arinda.


Setelah semuanya pergi meninggalkan kamar Arinda, mata cantik itu menatap ke arah Maya membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Tangannya masih


“napose wak... ngeliat akika segitunya”


“May, Gi mana keadaan Evan? Apakah operasinya berhasil atau dia di ruang ICU?” Arinda penasaran dengan keberadaan Evan. Sewaktu akan di pindahkan mata cantik itu tidak menemukan sosok Evan di ruang ICU yang sudah kosong.


Maya terdiam sejenak, dia bingung harus berkata apa. Dia tahu bagaimana sifat Arinda yang akan terus berusaha mengorek informasi darinya.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2