Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep.119


__ADS_3

“Tuan muda, saya akan mengobati luka anda” kata Ansel, namun Daniel menolak.


“tidak usah, hanya luka kecil. Bagaimana keadaan Arin?” tanya Daniel menatap ke arah Maya.


“Arin masih tidur, demamnya masih belum turun” kata Maya. Aldo menghampiri Daniel mengulurkan tangannya,


“sangat senang bisa bertemu dengan anda tuan Daniel. Saya Aldo” kata Aldo, Daniel menatap uluran tangan Aldo lalu mata elangnya yang dingin beralih ke mata Aldo. Menatapnya dengan tajam,


“saya juga senang bisa berkenalan dengan Anda, tuan Aldo” kata Daniel, menjabat tangan Aldo dengan sedikit menguatkan genggaman tangannya hingga Aldo sedikit meringis kesakitan. Daniel memberi tatapan tajam yang mengintimidasi Aldo, tatapan yang dapat di artikan


Jangan pernah coba-coba untuk mendekati Arin, karena dia hanya milikku


Daniel tersenyum puas saat melihat Aldo memegang tangannya yang sedikit kesakitan karena genggaman kuat darinya. Dia pergi begitu saja meninggalkan Aldo lalu masuk ke dalam kamar Arinda,


Apa aku sudah menyinggungnya? Kata Aldo dalam hati melihat ke arah kamar Arinda. Ifan merasa sedikit bersalah karena ucapannya saat berkelahi tadi sudah membuat Daniel salah paham pada Aldo.


Aldo menatap jam di dinding rumah Ifan yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam,


“Fan, sudah malam abang balik dulu. Insya Allah besok abang akan ke sini lagi” pamit Aldo pada Ifan.


“oke bang. Mari aku antar abang sampai ke mobil” kata Ifan mengiringi langkah Aldo menuju mobil miliknya. Dia lalu mengucapkan maaf pada Aldo karena sudah membuat Daniel salah paham padanya. Aldo baru mengerti mengapa Daniel menatap tajam dirinya dan dia pun tidak mempermasalahkan hal itu, sebagai sahabat dia senang ada pria begitu tulus mencintai Arinda.


Setelah menunaikan kewajibannya, Daniel duduk di samping tempat tidur Arinda. Dia melihat wajah Arinda berubah sedih dan mengigau memanggil-manggil ibunya. Daniel khawatir dengan keadaan Arinda, di belai lembutnya pucuk kepala Arinda dengan penuh kasih sayang.


Dalam tidur Arinda, dia bermimpi sedang tidur dalam pangkuan ibunya. Belaian hangat ibunya membuat hatinya tenang dan damai, Arinda membuka mata dan tersenyum manis pada ibunya.


“mama.... “ panggil Arinda pada ibunya yang di balas hanya dengan senyuman.


“ma... Arin bermimpi jika mama ninggalin Arin untuk selama-lamanya. Tapi ternyata itu semua Cuma mimpi ma” kata Arinda menatap wajah ibunya. Lagi dan lagi ibunya hanya diam tersenyum manis pada Arinda.


“ma...kenapa mama diam aja? Mama sakit?” tanya Arinda. Ibunya membelai lembut wajah Arinda, matanya terpejam saat merasa kehangatan lembut belaian ibunya. Namun belaian itu tidak lagi di rasakannya, dia pun membuka mata dan tidak menemukan ibunya lagi.

__ADS_1


“ma...mama....mama...mama” panggil Arinda dalam mimpinya. Daniel menyempatkan memejamkan matanya sebentar kembali membuka mata, melihat Arinda mengigau memanggil ibunya.


“Arin...sayang... sayang...” panggil Daniel sambil menepuk-nepuk lembut pipi Arinda. Pemilik mata indah itu terbangun dari mimpinya, dia bangkit dari tidur dan duduk di ranjang melihat ke sekeliling mencari keberadaan ibunya. Maya, Cantika, Ansel dan Ifan datang melihat keadaan Arinda, raut wajah Arinda kembali sendu menyadari jika tadi dia hanya bermimpi. Cantika duduk di hadapan Arinda, mata indah itu berkaca-kaca arinda segera memeluk Cantika menangis di bahunya.


Daniel merasakan pedih di hatinya saat melihat Arinda yang begitu terpukul,


“tuan muda, sebaiknya kita biarkan nona Arinda bersama dengan Cantika. Saat ini nona Arinda lebih membutuhkan cantika” kata Ansel membawa Daniel keluar dari kamar Arinda.


Daniel menatap Arinda yang membelakanginya, lalu dia berdiri melangkahkan kakinya keluar dari kamar Arinda. Dia duduk di ruang tamu bersama Maya dan Ansel, ifan yang terakhir keluar mengintip sebentar ke arah Arinda yang menangis tersedu di pelukan Cantika.


Cantika menenangkan Arinda yang terlihat sangat rapuh


“menangislah Rin, keluarkan semua kesedihanmu” kata Cantika membelai lembut punggung Arinda yang menangis tersedu-sedu. Dia dapat merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Arinda. Daniel tampak khawatir dan terus menerus menatap pintu kamar Arinda.


“tuan muda sebaiknya anda beristirahat, saya sudah menyiapkan makan malam untuk kita semua” kata Ansel pada Daniel yang masih menatap pintu kamar Arinda.


Tangis Arinda sudah mulai berkurang, Cantika membantu Arinda menyandarkan tubuhnya ke headboard ranjangnya. Sesekali Arinda menyeka Air matanya yang menetes ke pipinya, Cantika menggenggam tangan Arinda.


“ iya Arin berusaha untuk sabar dan ikhlas, makasih ya mbak sudah datang kemari” kata Arinda menundukkan wajahnya.


“kamu ini adik mbak, tentunya mbak akan datang ke sini saat kamu mengalami kesedihan seperti ini”


“makasih ya mbak” kata Arinda menyunggingkan senyuman manis di bibirnya.


“o ya mbak lupa cerita sama kamu. Soal tante Aileen...” Cantika belm selesai berbicara langsung di potong oleh Arinda.


“mbak... Arin saat ini nggak ingin membahas soal kejadian tadi pagi. Arin mohon mbak”


“ tapi Rin...”


“ mbak... Arin mohon” kata Arinda menatap penuh harap pada Cantika yang akhirnya hanya menghela nafas kasar.

__ADS_1


“baiklah Rin,” kata Cantika,


“mbak... Ada hal penting yang ingin Arin bicarakan dengan tuan Daniel” kata Arinda masih menundukkan wajahnya. Cantika tersenyum senang mendengar keinginan Arinda berbicara dengan Daniel.


“baiklah, mbak akan memanggil tuan Daniel kemari” kata Cantika berdiri lalu melangkah keluar kamar Arinda.


Daniel langsung berdiri saat Cantika keluar dari kamar Arinda dan menghampirinya.


“tuan Daniel, Arin ingin menyampaikan sesuatu pada anda” kata Cantika, Daniel segera masuk ke kamar Arinda dan menghampirinya.


Dia menggenggam kedua tangan Arinda, namun perlahan-lahan Arinda melepaskan genggaman tangan Daniel yang membuatnya bingung.


“Ada apa sayang?” tanya Daniel, tangannya akan membelai wajah Arinda namun dengan cepat Arinda memalingkan wajahnya. Daniel semakin bingung dengan tindakan Arinda, hatinya terasa sakit saat mendapat penolakkan dari Arinda.


“maaf tuan muda Daniel, aku menyadari perbedaan kita yang terlalu jauh. Aku tidak bisa membahagiakanmu, menjadi bagian terpenting dalam hidupmu, aku tidak bisa menerima ke hadiranmu dalam hidupku karena aku menyadari tidak ada cinta di hatiku untuk mu. Aku mohon untuk kamu melupakanku karena kita tidak akan pernah bisa bersama” kata Arinda dengan wajah tertunduk, Daniel tidak bisa menerima perkataan Arinda begitu saja. Di pegangnya kedua lengan Arinda memaksanya untuk menatap dirinya,


“tatap aku Arin, katakan apa yang baru saja kamu ucapkan adalah bohong” daniel menatap tajam dan dingin mata Arinda.


“semua itu bukan kebohongan, aku mengatakan yang sebenarnya padamu” kata Arinda, Daniel menatap mata Arinda dalam-dalam.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2