
Ansel dan Diana baru saja kembali dari makan bakso, Ansel pergi menuju ruang rapat untuk bertemu klien. Diana kembali ke lantai atas ke meja kerjanya, dia bergegas menghampiri meja kerjanya untuk segera mengangkat telepon yang sedari tadi berbunyi.
“Iya tuan muda...” Diana sedikit tergesa-gesa.
“keruangan saya sekarang” Daniel meletakkan gagang telepon di tempatnya kembali.
Tok...tok...tok...
“masuk” Daniel memerintahkan masuk saat mendengar ketukan di pintu.
“tuan muda butuh sesuatu?” tanya Diana.
“belikan pakaian juga pakaian dalam untuk istriku,” Daniel menyerahkan kartu black card pada Diana.
“baik tuan muda” Diana mohon diri untuk melaksanakan perintah Daniel. Dia tidak menanyakan ukuran Arinda karena dia tahu jika ukuran mereka tidak jauh berbeda.
Daniel kembali melangkah masuk ke dalam kamar, mendapati istrinya sudah memakai mukena yang sengaja di letakkannya di kamar itu. kaki Arinda masih terlihat goyah, namun dia tetap menjalankan tugas dan kewajibannya.
Setelah selesai menunaikan ibadah sholat, Arinda melipat mukena dan sajadah mereka. Mata Daniel terpana dengan senyuman nackal tersungging di bibirnya, Arinda terlihat seksi dan menggairah mengenakan kemeja hitam miliknya. Dia mendekati istrinya dan memeluk dari belakang, Daniel dapat merasakan jika di balik kemeja itu tubuh Arinda tidak memakai apa pun.
“sayaaang...” Panggil Arinda mulai panik, kakinya masih belum sanggup berdiri akibat ulah suaminya. Dia membalikkan tubuhnya menatap Daniel dengan tatapan memohon, wajahnya terlihat menggemaskan bagi Daniel.
Kedua tangan kekar itu melingkar di pinggang ramping istrinya, menciumi lembut pipi istrinya.
“tenang saja sayang, aku tidak akan memakanmu sekarang” Daniel lalu mengajak istrinya duduk di sofa yang tersedia di kamar itu, dia duduk terlebih dahulu lalu Arinda yang duduk di antara kedua paha suaminya.
Daniel memeluk erat pinggang Arinda seakan tidak ingin berpisah barang sejenak pun. Arinda menyandarkan tubuhnya ke dada bidang suaminya, rambut panjang milinya di kesampingkan ke bahu sebelah kiri. Daniel meletakkan dagunya di pundak Arinda bersikap manja pada istrinya, matanya tertutup menikmati bau harum istrinya.
Tidak ada lagi rasa amarah dan kesal dalam hatinya, yang ada hanya perasaan hangat dan semakin mencintai perempuan yang kini bermanja di pelukannya.
“Sayang...”
“Hmmm” Daniel masih memeluk Arinda.
“baju untukku mana? Apa kamu mau aku pulang dengan begini?” tanya Arinda,
“sebentar lagi, Diana akan mengantarkannya sayang” Daniel semakin mempererat pelukannya,
“sayang....”
“hmmm...”
__ADS_1
“sayang..... “
Daniel membuka matanya menatap istrinya yang kini juga menatapnya dengan wajah menggemaskan.
“aku lapar.... “ Arinda bersikap manja, Daniel menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul setengah lima sore.
“baiklah sayang, kita makan di luar hari ini oke” dengan lembut Daniel mencubit hidung Arinda.
“Tuan muda... tuan muda” terdengar suara Diana yang mencari Daniel.
“sepertinya pakaian kamu sudah datang sayang, tunggu sebentar ya aku ambilkan” Daniel mencium kening Arinda yang memberi jalan padanya.
Daniel melangkahkan kakinya keluar dari kamar menemui Diana membawa paper bag berisi pakaian untuk Arinda, di sebelah tangannya yang lain Dian membawa beberapa laporan yang harus di periksanya.
“tuan muda ini pakaian nona dan ini beberapa file penting yang harus anda periksa saat ini juga” Diana meletakkan paper bag dan tumpukan file di meja Daniel.
“di mana Ansel, kenapa bukan dia yang mengurus file ini?” tanya Daniel.
“Tuan Ansel sedang menemui klien di ruang rapat tuan” jelas Diana
“Suruh Ansel menemuiku saat pertemuannya dengan klien selesai” ujar Daniel meraih paper bag yang berisi pakaian Arinda.
“Baik tuan muda dan ini tuan black card anda” Diana mengembalikan kartu milik Daniel.
Nona Arinda memang hebat, berhasil membuat raja iblis tunduk. Padahal kalo udah keluar raja iblis bakalan susah baiknya, emang top cer nona Arinda guman Diana sambil berlalu pergi menuju mejanya.
Daniel masuk kembali ke kamar, menatap istrinya yang sedang menelepon berdiri di dekat jendela kamar itu. Dia menatap istrinya dari ujung kepala hingga kaki, Arinda benar-benar terlihat sangat seksi dan meng**irahkan.
Paper bag di letakkannya di atas ranjang, mendekati istrinya dengan memeluk dari belakang.
“Sayang...” Daniel menyapa Arinda yang masih menelepon.
“Rin kamu lagi bareng tuan Daniel?” terdengar oleh Daniel suara Cantika di seberang telepon sana.
“Iya mbak, hehehe.... Arin lagi kangen banget ama beruang kutub satu ini” goda Arinda tanpa melihat ekspresi Daniel.
Senyuman nackal kembali tersungging di wajah tampannya,
Ooo jadi nona Daniel Arsenio memanggil ku beruang kutub, baiklah saatnya nona untuk di hukum guman Daniel akan mengerjai Arinda yang masih menerima telepon dari Cantika.
“Rin, besok jangan lupa cek lokasi sama persiapan dekorasinya” Cantika dan Arinda tampak serius dengan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Tangan Daniel mengesampingkan Rambut panjang Arinda ke samping bahu kanannya. Dia mulai menciumi pipi bergerak lembut menuju leher dengan tangan yang sudah lihai membuka kancing kemeja yang di pakai Arinda. Dia menciumi pundak mulus itu memberikan sensasi geli pada Arinda,
“Sayaaaang” bisik Arinda menatap Daniel yang mengganggunya.
Daniel menatapnya dengan tatapan tanpa dosa, Arinda memperingati Daniel tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia hanya tersenyum nackal pada istri yang menatap sedikit kesal padanya, Daniel mengambil pakaian dalam dan pakaian yang di beli Diana.
Tangan Daniel melepaskan kemeja milik Arinda hingga kini perempuan itu seperti bayi baru di lahirkan. Dia berusaha menutupi setiap bagian yang terekspos, namun Daniel melarangnya dengan menahan tangannya. Arinda menatap Daniel dengan penuh tanya sambil terus mendengar apa yang di bicarakan Cantika.
“seperti itu sebenarnya juga sudah oke kok mbak” ujar Arinda di sela-sela Daniel memasangkan satu persatu pakaian yang sudah di beli Diana.
Sesekali Daniel menggoda Arinda dengan menciumi punggungnya saat memasang pengait di belakang punggung Arinda, membelai lembut kaki jenjang Arinda saat menaiki celana memberi sensasi yang berbeda bagi Arinda.
Kembali mata Arinda membesar memberi peringatan pada Daniel untuk tidak macam-macam. Suaminya hanya tersenyum kembali meraih pakaian dress berwarna biru langit tampak pas dan cantik di tubuh Arinda.
“sayang, ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan, tidak apa-apakan” Daniel menyelesaikan menarik resleting dress Arinda di belakang punggung. Dia mencium lembut kepala istrinya yang masih sibuk, Arinda menganggukkan kepalanya.
Sebuah ciuman manis mendarat di bibir indah Arinda, memberi sedikit gigitan lembut di bibir bawahnya. Daniel kemudian melangkahkan kakinya keluar kamar menuju meja kerjanya. Dia kembali fokus menatap file-file di meja kerjanya, menyelesaikan secepat mungkin agar bisa pergi makan malan bersama istrinya.
***
Di restoran milik Arvin....
Evan duduk sambil menikmati jus dan makanan kecil yang di pesannya. Hari itu dia sengaja mengajak Arvin dan Sean untuk kumpul bersama, mereka sudah sangat jarang berkumpul di cafe tempat biasa mereka nongkrong.
“mana tu si kutu kupret lama kali datangnya. Gua yakin nih, dia pasti lagi indehoy ama calon tunangannya” gerutu Arvin sambil sesekali melihat jam mewah miliknya.
“ dia pasti bakalan datang kok vin. Tenang aja” kata Evan santai masih menikmati makanannya.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...