
Rekaman? Kenapa Evan mengirim rekaman ya? Apa mungkin dia mau mengubah sesuatu lagi? Guman Arinda menatap pesan berupa rekaman dari Evan. Tangannya segera mengetuk layar ponsel Cantika lalu mendengar secara Seksama.
“Daniel berniat untuk memberi pelajaran ke Arinda yang udah bikin dia di permalukan depan umum. Daniel berkata ‘dia bakalan hancurin Arinda dengan cara mendekatinya, membuat dia jatuh cinta dan lalu mencampakkannya begitu saja”
Arinda termenung mendengar rekaman yang di kirim Evan, dia kembali memutar kembali rekaman itu.
Nggak... itu pasti nggak mungkin. Gue pasti salah dengar guman Arinda dalam hati. Kembali dia memutar rekaman yang di kirim Evan terus berharap jika dia pasti sudah salah mendengar.
Arinda kemudian mengirim rekaman itu ke ponselnya, dia ingin mengetahui alasan di balik rekaman itu.
***
Evan perlahan-lahan membuka matanya terganggu oleh ponsel yang bergetar di atas nakas samping ranjangnya. Matanya setengah terbuka menatap layar ponselnya, melihat beberapa panggilan dan pesan yang masuk dari Cantika.
Kepala Evan terasa sangat pusing dan serasa ingin pecah, Dia mencoba untuk berkonsentrasi menatap layar ponsel miliknya. Tanpa di sadarinya rekaman pembicaraan antara Dirinya dan Arvin terkirim ke ponsel Cantika, Evan kembali memejamkan matanya tidak dapat menahan rasa sakit di kepala.
Arinda masih termangu dengan apa yang di dengarnya, dia tidak ingin mempercayai dengan apa yang di dengarnya. Dia bangkit dari tempat duduknya melangkah keluar dari ruang perawatan Ansel. Ponsel Cantika tergeletak begitu saja di samping ranjang di bawah kaki Ansel.
Cantika baru keluar dai toilet, heran melihat ponselnya di atas rajang samping kaki Ansel.
Arin ke mana? Guman Cantika sambil memeriksa ponselnya di mana rekaman Evan masih ada di sana.
Rekaman apa ini? Cantika memutar rekaman itu dan sangat terkejut mendengar isi rekaman itu. Dia akan mencari Arinda terhenti saat melihat Ansel yang sudah mulai sadarkan diri.
Arinda melihat Daniel dan Arvin duduk di taman rumah sakit, dia segera menghampiri Daniel dan Arvin. Langkahnya terhenti saat mendengar pembicaraan Arin dan Daniel.
“Lu bilang kalo lu bakalan balas perbuatan Arinda , membuat dia jatuh cinta dan menjebaknya dengan cinta palsu lu. Setelah itu lu bakalan akan ngebuang dia begitu aja” ujar Arvin.
Perkataan itu bagaikan tikaman tajam di hati Arinda, langkahnya terhenti saat mendengar perkataan yang persis sama dengan rekaman yang di kirim Evan.
“itu memang benar, aku sangat ingin membalas perbuatan dia yang sudah mempermalukan ku di depan umum....” Daniel membenarkan apa yaang di katakan oleh Arvin membuat Arinda perlahan-lahan mundur dan pergi meninggalkan taman itu. Matanya berkaca-kaca mendengar kenyataan yang begitu menyakitkan baginya.
Dia melangkahkan kakinya dalam keadaan linglung pergi entah ke mana. Pembicaraan Arvin dan Daniel terus berputar di benaknya, hatinya begitu sakit dan pedih. Arinda melangkahkan kakinya menjauh dari taman itu.
__ADS_1
***
“itu memang benar, aku sangat ingin membalas perbuatan dia yang sudah mempermalukan ku di depan umum. Namun, semenjak pertama kali aku bertemu dengannya, hatiku berdetak untuknya. Aku sangat mencintainya, hanya dia satu-satunya yang ada di hati ini..” kata Daniel yang langsung di potong oleh Cantika.
“cinta apa yang anda bicarakan? Cinta yang penuh dengan kepalsuan? Aku tidak pernah menyangka jika dendam anda terhadap Arin begitu dalam sehingga anda tega menyakitinya seperti ini” Cantika terlihat sangat marah dan emosi. Daniel dan Arvin saling bertatapan lalu kembali menatap ke arah Cantika dengan bingung.
“maaf, apa maksud anda?” Tanya Daniel.
“anda jangan berpura-pura bodoh, saya dan Arinda sudah tahu tujuan dari anda yang menikahi Arinda” Cantika kemudian memutarkan rekaman pembicaraan Arvin yang di kirim Evan.
Arvin terkejut saat mendengar rekaman di tangan Cantika,
“kenapa bisa ada rekaman itu?” Arvin terlihat bingung, Daniel tampak dingin dan berusaha untuk menahan emosinya.
“dari mana anda mendapat rekaman itu?” tanya Daniel berusaha untuk tenang,
“tidak masalah dari mana aku mendapatkan rekaman ini, aku tidak pernah menyangka jika anda adalah orang paling yang paling breng**k dan Baji***n....” Cantika yang belum menyelesaikan ucapannya langsung di potong oleh Daniel merasa kesal.
“menuduh... aku tidak akan menuduh anda tanpa bukti yang jelas. Sudah sangat jelas anda mempermainkan Arin, menjebaknya dengan cinta palsu dan setelah itu di saat yang tepat tentunya anda akan membuangnya bukan?” Cantika sangat marah. Arvin merasa sangat bersalah pada Daniel, karena rekaman itu adalah suaranya yang sedang berbicara dengan Evan.
“sorry Cantika, terlepas gua dari sahabatnya Daniel. Rekaman dari yang lu dengar itu kagak lengkap, jika lu mau gua bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi” Arvin segera menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan perasaan Daniel yang memang tulus pada Arinda. Cantika termangu mendengar apa yang di bicarakan Daniel,
“jadi.... anda benar-benar tidak seperti yang ada di rekaman ini?” tanya Cantika merasa sedikit malu karena sudah salah paham.
“jika aku memang ingin membalas dendam, aku akan melakukannya sejak awal pernikahan meninggalkannya begitu saja. Aku tidak akan mengucapkan janji ku pada Ivan saat itu” ujar Daniel pada Cantika.
“jadi.... jadi Arinda salah paham?” ujar Cantika membuat Daniel terkejut segera menghampiri Cantika meminta penjelasannya. Dia memegang kuat kedua lengan Cantika hingga meringis kesakitan sambil memberi tahu jika Arinda membuka pesan itu.
Daniel terkejut dan mulai mencari-cari Arinda, Arvin merasa bersalah ikut membantu sahabatnya untuk mencari dengan menelepon Yuda. Dengan cepat Yuda mengakses CCTV di setiap sudut rumah sakit, segera melapor semua hasil temuannya.
Daniel setengah berlari mencari-cari Arinda di setiap lantai dan kamar Ansel namun tidak menjumpai belahan jiwanya. Dia lalu berlari menuju Kantin berharap jika Arinda bersama Davira sedang memesan makanan.
“Kak Dan” Davira menyapa Daniel yang menghampirinya.
__ADS_1
“apa Arinda di sini?” tanya Daniel cemas.
“nggak kak, bukannya kak Arin ada di kamarnya kak Ansel?" tanya Vira yang langsung di jawab Daniel dengan menggelengkan kepalanya.
Ponsel Daniel bergetar dia berharap jika Arinda yang meneleponnya, namun wajahnya terlihat lesu saat melihat nama Arvin yang tertulis di layar ponsel miliknya. Daniel segera mengangkatnya,
“ada apa?” tanya Daniel dingin.
“temui gua di depan pintu masuk lobi, sekarang” ujar Arvin, Daniel memutuskan sambungan teleponnya bergegas lari menuju lobi.
Arvin dan Cantika berdiri di depan pintu lobi, Daniel segera berlari menuju mereka.
“bagaimana?” tanya Daniel tidak sabaran.
“Dan, sebaiknya lu tenang dan liat video ini!!” ujar Arvin menyerahkan ponsel miliknya yang sedang memutar video CCTV di taman. Mata Daniel terbelalak saat melihat Arinda yang tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1