
“lu benar Vin, aku kuatir dengan nona Arin” Ansel melihat ke arah Arinda yang terbakar api cemburu.
“waduuh gaswat.. arinda terlihat marah sel” Arvin dapat melihat aura kemarahan dan kecemburuan. Mereka menatap horor saat Arinda menghampiri Daniel,
“bakalan ada perang dunia Sel” Arvin melihat Arinda di samping Daniel.
“sayang,” sapa Arinda pada Daniel,
“sayang, o ya perkenalkan sayang dia nona Vivi, dia CEO di perusahaan RVJ” Daniel memperkenalkan Vivi, entah dengan tidak di sengaja atau di sengaja oleh Daniel memperkenalkan Vivi dengan jabatan yang di pegangnya.
Sakit hal itu yang di rasakan Arinda saat tanpa sengaja Daniel memberitahu sesuatu yang membuat Arinda merasa semakin rendah diri.
“hai, aku Vivi” Sapa Vivi sambil mengulurkan tangannya ke arah Arinda, demi menjaga citra Daniel Arinda menyambut uluran tangan Vivi berusaha tersenyum hangat.
“Arinda, istri Daniel” Arinda memeluk lengan Daniel sengaja mengatakan statusnya, membuat Vivi merasa kurang nyaman. Ansel dan Arvin menahan senyum melihat keberanian Arinda, Daniel merasa kurang nyaman dengan sikap Arinda, perlahan dia melepaskan tangan Arinda membuatnya menatap heran.
“sel, mata gua kagak salah lihat kan?” Arvin terkejut dengan sikap Daniel yang berbeda dari biasanya.
Ada apa dengan tuan muda, tidak biasanya beliau bersikap dingin seperti ini guman Ansel heran melihat perubahan sikap Daniel pada Arinda.
Sama-samar sebuah senyuman tergambar di wajah Vivi melihat sikap Daniel yang berbeda dari biasanya bagi Arinda.
“sayang sebaiknya kamu ke kamar oma, kamu terlihat lelah” Daniel meminta Arinda menemui Oma Ayu, Arinda dapat merasakan sikap Daniel yang berubah dingin.
“ma maaf sepertinya aku menggangu kalian. Aku akan ke atas menemani oma” Arinda melangkah akan meninggalkan pesta.
“sayang” Daniel memanggil Arinda, terbesit harapan di hatinya berharap Daniel mengantarnya ke lantai atas.
“biar Ansel yang mengantarmu, aku masih ada hal yang perlu di bicarakan” Daniel berlalu mengajak Vivi untuk bertemu dengan kolega bisnis Daniel lainnya.
Perih, itu yang di rasakan Arinda kali ini, dia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada suaminya.
“tidak usah, aku bisa ke atas sendirian, tentuunya kamu lebih membutuhkan Ansel di sini” Arinda melangkahkan kakinya dengan cepat. Meninggalkan lokasi pesta menuju kamar oma Ayu.
Arinda menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar,
Apa yang terjadi pada Daniel? Semuanya masih berjalan dengan baik, tapi kenapa sikap Dan begitu berubah guman Arinda sedih.
__ADS_1
Arinda menanti lift yang masih berada di lantai Atas, saat menunggu tanpa sengaja dia melihat beberapa pria berpakaian serba hitam memapah dua orang yang di kenal Arinda.
Arinda dapat mengenal siapa yang di papah oleh beberapa pria asing.
“Davira.... oma” Panggil Arinda yang langsung mengejar, di lupa jika saat ini sedang hamil.
“lepaskan dia” teriak Arinda yang mengundang perhatian beberapa orang di sana. Semula mereka menyangka jika orang yang di papah itu sedang sakit dan di bawa ke rumah sakit.
“ada apa nona?” tanya salah seorang pria di sana.
“oma dan adik saya di bawa pergi oleh penjahat” Arinda meminta beberapa pria yang berpapasan dengannya. Segera mereka mengikuti Arinda yang mengejar beberapa pria penjahat membawa oma Ayu dan Davira dalam keadaan setengah sadar.
Mereka membuka pintu menuju tangga darurat, Arinda bertindak dengan cepat meraih tangan Davira dan mencoba menariknya namun gagal. Penjahat itu memegang Davira dengan kuat dan menodongkan senjata api ke arah beberapa pria mencoba membantu Arinda juga Davira.
“kak Arin, to...long...” dengan lemah Davira meminta tolong, dia sudah mulai sedikit menguasai diri walaupun masih dalam pengaruh obat seperti orang linglung
“jangan ikut campur kalian” ancam penjahat yang menahan Davira, senjata api itu di arahkan pada pria yang mencoba membantu mereka. Penjahat itu lengah dan tidak menyadari jika Arinda berdiri dekat dengan lengannya yang memegang senjata api. Dengan cepat Arinda menggigit tangan penjahat itu dengan kuat hingga senjata yang di pegangnya terjatuh.
“aaakh... dasar wanita sia**n” hardik penjahat itu yang langsung melayangkan tamparan keras ke wajah Arinda.
Plaaaak....
Salah satu dari mereka segera memberitahu pada pihak hotel untuk segera memanggil polisi dan ambulans.
***
Di tempat lain Aileen dan Michael tampak edang berbicara dan bersenda gurau dengan pemilik acara,
“selamat tuan Rendra, acara amal ini berjalan dengan sukses” terdengar suara pria yang bertahun-tahun sudah tidak pernah mereka dengar. Gelas yang di pegang Aileen terlepas dari pegangannya, matanya membulat sempurna mengenali suara pria yang sangat tidak dia temui.
“nyonya Aileen anda tidak apa-apa?” tuan Rendra terkejut saat melihat tingkah Aileen yang berbeda, wajahnya terlihat sangat pucat seperti mayat.
Kilasan bayangan masa lalu mulai menghantui dan memproyeksi di benaknya. Tubuhnya bergetar hebat melihat pria itu, pria yang sudah merenggut paksa hak milik suaminya hingga menghasilkan anak yang tidak berdosa.
Michael pun bertingkah sama dengan Aileen, tangannya menggenggam erat dan wajahnya menunjukkan rasa benci yang teramat pada Pria itu. Masih teringat dalam benaknya bagaimana depresinya Aileen hingga membuatnya berulang-ulang kali melakukan percobaan bunuh diri.
Rendra menatap ke arah Marcus yang datang menghampiri mereka, dia lalu mengode salah seorang pelayan untuk membersihkan pecahan kaca lalu menghampiri Marcus.
__ADS_1
“aaa tuan Marcus, anda datang tepat waktu. Mari saya perkenalkan anda dengan kolega bisnis saya” rendra mengajak Marcus untuk bertemu dengan Michael.
Wajah Michael terlihat sangat marah dan kesal.
“tuan Michael perkenalkan...” ucapan Rendra terpotong oleh Michael yang memanggil nama Marcus.
“MARCUS” rahang Michael menggertak keras saat melihat Marcus dengan santai tersenyum tanpa merasa ada beban rasa bersalah.
“apa kabar KAKAK DAN KAKAK IPAR KU TERSAYANG” Marcus tersenyum smirk menatap ke arah Michael.
"oo jadi anda saudaranya tuan Michael?" Rendra terkejut saat mengetahui jika Marcus adalah adik dari Michael.
Kedua tangan Michael mengepal kuat, ingin sekali dia menghajar Marcus yang tidak lain adalah Adiknya. Menghajar dengan babak belur melampiaskan setiap rasa sakit yang di derita Aileen.
Aileen memeluk kuat tangan suaminya mencegahnya untuk tidak bertindak, dia tahu saat ini mereka masih dalam acara milik tuan Rendra yang begitu menghormati keluara Arsenio.
Pertemuan Marcus dengan Aileen dan Michael tidak luput dari perhatian Daniel. Dia dapat melihat dengan jelas betapa marahnya Michael dan rasa takut yang tergambar di wajah Aileen. Ansel dan Arvin ingin menghampiri kedua orang tua Daniel, namun langkah mereka terhenti saat melihat beberapa orang sibuk berlalu lalang dengan wajah cemas.
Mereka berdua keluar dari ruang pesta menghampiri orang-orang yang bergaduh. Arvin lalu bertanya pada salah satu pegawai hotel yang terlihat panik.
“permisi, ada kegaduhan apa di sana?” Tanyanya menatap ke pintu tangga darurat pada pegawai itu.
“itu...itu tuan, ada perempuan yang di dorong jatuh dari tangga dan seorang perempuan yang seperti orang linglung” jelas pegawai, mata Ansel membulat sempurna saat melihat Davira di bawa dengan bankar ambulans.
“Vin... Davira” Ansel segera menghampiri Davira yang sedang di bawa oleh petugas medis. Begitu juga Arvin yang mengikuti dari belakang,
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...