Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 288


__ADS_3

“Richard, kamu sudah gila. Kamu bukan ayah dari baby ku, lepaskan aku.... Biarkan aku pergi dari sini, aku mau kembali ke suamiku Daniel” Arinda mulai marah dan kesal dengan ucapan Richard.


Mendengar nama Daniel membuat wajah Richard berubah menjadi kesal, dia mencengkeram kedua lengan Arinda dengan begitu kuat hingga dia meringis kesakitan.


“Jangan pernah kamu menyebut nama baji***n itu di depan ku, kamu hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku” Richard menatap tajam ke arah mata indah Arinda yang tampak berkaca-kaca. Menahan rasa sakit teramat di kedua lengannya, Sebelah tangan Richard mencengkeram kedua pipi Arinda.


“aku bisa saja membunuh Baji***n itu sekarang atau aku bisa melenyapkan keturunannya sekarang juga” mata Richard mengarah ke arah perut Arinda membuatnya semakin ketakutan.


“kamuff sufah gilaf Richard” kedua tangan Arinda memegangi perutnya.


“untuk bisa mendapatkan mu , aku bisa melakukan apa pun termasuk...” Tangan Richard melepaskan cengkeram tangannya dari pipi Arinda, dia meraih pisau lipat yang tersimpan di kantong jacket miliknya.


Pisau itu ia arahkan ke perut Arinda sambil sedikit di permainkannya, mengelus-eluskan benda tajam itu ke perut Arinda. Dapat di rasakan olehnya dinginnya benda tajam itu yang masih berada bermain di sekitar perutnya,


“Jangan.... Jangan sakiti anakku” air mata menetes di kedua mata indah Arinda, kedua tangannya memeluk erat perutnya melindungi dari pisau yang di pegang Richard.


Senyuman hangat namun berkesan dingin tersungging di bibir Richard, membuat Arinda merinding ketakutan melihatnya.


“Sayang jangan takut, bagaimana mungkin aku akan menyakiti baby kita. Kamu jangan takut sayang, aku adalah papinya mana mungkin aku akan melenyapkan hasil cinta kita, ayo sekarang kita sarapan” Ajak Richard matanya menatap tajam ke arah Arinda, sebelah tangannya terulur mengajak Arinda untuk makan bersamanya.


Lebih baik aku mengikuti apa yang di suruh oleh dia, aku tidak ingin anak-anakku di celakai orang gila ini gumam Arinda dalam hati, tangannya gemetar menggapai uluran tangan Richard. Wajahnya tergambar ketakutan dan tertekan, dia juga merasakan rasa sakit di perutnya. Namun rasa sakit itu di tahannya agar Richard tidak sembarangan bertindak lagi.


“Ayo sayang, duduk di sini” Richard mengajak Arinda duduk berdampingan di sofa panjang. Mata indahnya terus mengawas Richard, tangannya membelai-belai perutnya untuk mengurangi rasa sakit yang mendera.


“Lihat sayang, aku membelikan makanan kesukaan kamu. Sini biar aku suapi” ujar Richard, kepala Arinda perlahan menggeleng-geleng saat Richard menyendok dan menyuapinya.


Raut wajah Richard mulai tampak tidak senang, dia sudah akan mengancam dengan cepat Arinda memberi tahu keinginannya.


“maaf Richard, tapi baby... baby... baby tidak ingin makan ini. Baby ingin makan makanan yang kamu masak sendiri” ujar Arinda takut-takut, mendengar hal itu perlahan senyuman hangat tergambar di wajahnya.


“jadi baby kita ingin papi yang masak ya, baiklah aku akan pergi berbelanja sekarang” ujar Richard berdiri akan melangkah pergi ke luar kamar.

__ADS_1


“tunggu....” panggil Arinda mencegah Richard pergi.


“ada apa sayang? Aku belum pergi kamu sudah merindukanku” ujar Richard membuat bulu kuduk Arinda bergidik mendengarnya.


“bolehkah.... bolehkah aku aku ikut? (wajah Richard tampak tidak senang dengan keinginan Arinda. Dia segera memberikan alasan lain) maksudku kalau kamu pergi belanja sendiri, tentunya kamu tidak akan tahu baby menginginkan apa. Jadi boleh aku ikut, aku mohon” ujar Arinda,


Saat dia lengah nanti aku akan mencari cara untuk lepas dari dia gumam Arinda dalam hati. Jantungnya berdegup kencang berharap jika keinginannya di setujui oleh Richard yang tampak berpikir cukup lama.


Matanya menatap tajam ke arah mata Arinda, mencari apakah ada kebohongan di sana.


“baiklah, kamu boleh ikut sayang. Tapi jika kamu macam-macam, baby dan Baji***n itu akan mati di tanganku” ancam Richard menatap tajam pada Arinda, dia mengeluarkan senjata api yang di simpannya dalam jacket menodongkan ke arah perutnya.


Ketakutan kembali terpancar di wajah Arinda, Perlahan-lahan dia menganggukkan kepalanya, Arinda tidak ingin mengambil resiko yang membahayakan baby dan suaminya. Mereka pun keluar dari kamar melangkah menuju parkiran mobil, di bali jacketnya Richard menodongkan senjata di pinggang Arinda yang di sembunyikannya.


Richard membuka pintu mobil, mempersilahkan Arinda masuk dengan penuh kasih sayang. Orang-orang yang melihat mereka menyangka jika Arinda dan Richard adalah sepasang suami istri.


Ya Allah... berikan keselamatan untukku dan Amanah -Mu, lindungi kami dari orang yang berniat jahat. Daniel, sayang... aku sangat merindukanmu... doa Arinda dalam hati, dia melihat ke samping kemudi Richard mengendarai mobil keluar dari parkiran.


***


“Arinda” panggil Daniel, matanya menatap ke sekeliling ruangan. Menyadari jika dia sekarang berada di hotel tempat Davira dan Sean menggelar pesta. Dia turun dari ranjang, meraih ponselnya yang tergeletak di meja.


Ceklek...


Pintu terbuka dengan Arvin dan Ansel masuk ke dalam kamar Daniel. Dengan langkah kaki besar dia memegang kerah baju Arvin mendorong keras ke arah belakang hingga menimbulkan bunyi cukup keras.


BUGGGHHH...


“breng**k, kenapa kamu membuatku pingsan? Kamu sudah membuatku membuang-buang waktu dengan bersantai di sini, sedangkan Arin ketakutan di luaran sana” Daniel marah menekan tangannya ke arah leher Arvin membuatnya kesulitan berbicara dan bernafas.


Ansel bertindak cepat membantu Arvin, dia menarik dan melepaskan tangan Daniel dari kerah baju Arvin.

__ADS_1


“tuan muda, tolong tenanglah” ujar Ansel menarik paksa Daniel. Arvin terbatuk-batuk jatuh terduduk di lantai, punggungnya bersandar di dinding kamar hotel.


Darren dan Michael mendengar keributan di kamar Daniel segera masuk ke kamar itu, melihat Arvin yang masih terbatuk-batuk menahan sakit di lehernya. Darren membantu Arvin untuk berdiri, namun Arvin menolak dengan sebelah tangannya mengode untuk mereka tidak ikut campur.


Mata Arvin menatap tajam Daniel yang masih di kuasai dengan amarah, Ansel tampak kesusahan menahannya.


“sudah Sel, lepaskan saja ntu raja iblis. Gua kagak takut untuk hadapin dia ( Arvin dengan gentle dan berani berhadapan dengan Daniel) lu boleh mukulin gua sepuas lu kalo itu bisa bikin lu puas” ujar Arvin.


Daniel segera melayangkan tinjunya ke arah Arvin, membuat semua orang terkejut dan sangat cemas. Mereka terdiam menatap ke arah Arvin dan Daniel.


Pukulan Daniel mendarat tepat di dinding samping kepala Arvin, tampak darah segar mengalir di dinding itu.


“gua melakukan apa yang menurut gua benar, kalo gua ngebiarin lu nyari Arinda dengan kondisi lu kagak fokus dan labil trus lu celaka. Gua akan merasa sangat bersalah sama Arin, lu mau anak-anak lu besar tanpa keluarga yang lengkap?” tanya Arvin membuat Daniel terdiam, kemarahannya berangsur-angsur berkurang.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2