
Dokter Hana dengan telaten mengobati kembali tangan Arinda, dia meminta maid mengisi wadah kaca dengan air hangat untuk membersihkan luka di tangan Arinda.
Dokter Hana menyuntikkan bius lokal agar Arinda tidak merasakan kesakitan saat tangannya di jahit kembali. Davira beranjak turun dari tempat tidur memberi ruang untuk dokter Hana melakukan pekerjaannya.
Setengah jam berlalu, dokter Hana selesai dengan pekerjaannya.
“Nyonya, ini obat yang harus di minum nona ini. Ini salep untuk memarnya, jangan lupa untuk mengompresnya jika nona ini demam. Usahakan tangan yang terluka tidak terkena air" pesan Dokter Hana
"baik dok, saya mengerti" kata Aileen
"karena sudah larut malam baiknya saya permisi dulu, jika ada apa apa hubungi saya atau dokter Sean” kata dokter Hana melihat jam dinding sudah pukul sebelas tiga puluh malam, hampir satu jam dia memeriksa dan mengobati Arinda.
“terima kasih banyak dokter Hana” Aileen menjabat tangan Dokter hana,
“ Vira, tolong kamu antarkan Dokter Hana keluar ya” kata Aileen menghampiri Arinda dan menyelimutinya hingga dada.
“ Baik mom, mari dok” Davira membuka pintu dan melihat Daniel masih senantiasa berdiri di depan pintu begitu juga Sean. Daniel menatap ke arah Dokter Hana
“bagaimana keadaannya?” tanya Daniel.
“Alhamdulillah dia sudah baik-baik saja. Saya sudah merawat lukanya dan sudah meninggalkan beberapa obat pada nyonya” jelas Dokter Hana.
“Terima kasih” Daniel menjabat tangan dokter Hana, lalu ia masuk kedalam kamar duduk kembali di kursi samping tempat tidur.
Hatinya merasa damai melihat Arinda tertidur pulas, Aileen terus memperhatikan tingkah laku Daniel. Ini pertama kalinya Aileen melihat Daniel yang begitu mengkhawatirkan seseorang terlebih seorang perempuan.
Sean ikut mengantar Hana ke depan mansion
“Sekarang gue ngerti kenapa lu manggil gue” kata Hana tersenyum
Sean dan Davira melihat ke arah Hana dengan tatapan penuh tanda tanya
“cowok akan posesif saat cewek yang di sukainya di lihat atau di lirik cowok lain” kata Hana
Sean dan Davira tertawa mengingat prilaku Daniel yang berlebihan.
“Han, sekali lagi makasih ya, malam malam gini lu mau datang kemari” kata Sean.
“Iya, tapi ini nggak gratis. Besok lu musti bawain kue favorit gue dari toko kue Asri” kata Hana.
“Beres itu, ntar gue suruh laki lu buat beliin” kata sean langsung dapat pukulan di lengan oleh Hana.
__ADS_1
“enak di elu dong. Tapi kali ini gue kasih gratis buat lu” kata Hana berdiri di samping mobil suaminya.
“Tumben lu baik, ngasih gratisan ke gue” kata Sean.
“Iya gue kan orangnya dermawan, jadi musti sering beramal ke orang yang nggak mampu kayak lu” canda Hana membuka pintu mobil dan duduk di samping suaminya.
“hah....perempuan selalu benar” kata sean di angguki setuju oleh suami Hana.
Tatapan tajam dari Hana membuat suaminya dan Sean terdiam.
“dokter Hana, sekali lagi terima kasih” kata Davira.
“jangan sungkan nona, Sean udah seperti sodara saya. Selagi saya bisa membantu, pasti saya bantu. Sudah terlalu malam kami permisi dulu nona, Assalamualaikum” pamit Hana.
“waalaikum salam “ Sean dan Davira menjawab salam bersamaan.
Mobil dokter Hana melaju meninggalkan mansion Arsenio. Sean dan Davira jalan beriringan masuk ke dalam mansion.
Aileen menghampiri Daniel yang senantiasa berada di samping Arinda, tangannya terus menggenggam tangan kanannya.
Tergambar rasa lega di wajah Daniel melihat perempuan yang selalu hadir di dalam mimpinya, berada di sampingnya tanpa kurang suatu apapun.Tangan Aileen menyentuh pundak Daniel,
“Dan, sebaiknya kamu istirahat. Kamu terlihat sangat lelah, biar Arinda mommy dan Davira yang menjaganya” kata Aileen
“Baiklah, mommy tinggal dulu ya sayang. o ya mommy hampir lupa, dokter Hana tadi pesan jika Arinda demam beri obat ini dan di kompres” kata Aileen menunjuk obat yang ada di nakas samping tempat tidur.
Aileen lalu melangkah keluar dari kamar tamu, kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Hatinya bersyukur Davira masih selamat dan masih berkumpul bersama mereka, Aileen merasa bahagia melihat perhatian dan Kasih sayang Daniel pada Arinda.
Malam semakin larut, Sean, Ansel dan Arvin memutuskan untuk menginap di Mansion Arsenio. Karena terlalu lelah, mereka langsung tertidur ketika mereka merebahkan tubuhnya ke tempat tidur.
***
Rumah sakit Cipta Jaya
Empat pasien IGD di rawat intensif di ruang perawatan, pasien yang baru saja di bawa polisi datang dalam keadaan yang begitu mengenaskan.
Para dokter jaga harus bekerja keras untuk membuat mereka sembuh hingga bisa di interogasi oleh pihak kepolisian. Pasien – pasien itu adalah penjahat yang berniat menyakiti Arinda dan di hajar hingga babak belur oleh Daniel serta sahabatnya.
Penjahat itu tampak menahan rasa sakit yang teramat,
Bren***k, anj**ng, ba****an tunggu pembalasan dari gua....aaaakhhh rasa sakit ini akan lu terima bekali kali lipat...kata penjahat B dalam hati penuh dendam.
__ADS_1
“Aaaaaa..... Sakiiit..... Sakiiit” rintihan penjahat A.
“Diem lu, bikin gua kagak bisa tidur” omelan dari penjahat D.
Komandan polisi datang melihat penjahat yang sudah menyinggung keluarga ternama dan sangat berpengaruh di negara IN.
Polisi membuka pintu kamar perawatan, komandan polisi masuk dengan beberapa anak buahnya menatap penjahat yang merintih kesakitan.
Komandan polisi menghela nafas berat melihat kondisi penjahat ,
Mereka sangat bod*h mencari gara gara dengan keluarga Arsenio, masih beruntung nyawa mereka bisa di selamatkan kata komandan polisi dalam hati.
“Terus pantau mereka, setelah mereka membaik. Kita akan menginterogasi atas dasar apa mereka berani menyinggung keluarga Arsenio” perintah komandan polisi berlalu pergi menuju markas kepolisian.
“Siap komandan” kata polisi yang berjaga di depan kamar penjahat.
Malam semakin larut, tampak seorang perawat pria mendorong tolley berisi alat medis dan beberapa obat. Perawat pria itu memakai masker berjalan santai menuju kamar penjahat.
Polisi menghadang perawat pria yang akan masuk ke kamar perawatan, mereka lalu memeriksa secara teliti trolley yang di bawanya. Polisi memperbolehkan perawat pria itu masuk setelah memeriksa tidak ada sesuatu yang mencurigakan.
“Silahkan masuk” kata polisi membantu perawat pria itu dengan membukakan pintu.
Perawat pria itu mendorong trolley ke depan ranjang perawatan penjahat penjahat itu.
Penjahat B yang masih terjaga menatap ke arah perawat pria itu.
Sekilas penjahat B menatap mata perawat itu, ada perasaan mencekam dan dingin dari mata perawat pria itu.
Tatapan membunuh. Siapa perawat ini? Guman penjahat B menatap ke arah perawat pria itu.
Perawat pria itu mengambil suntikan di atas trolley, satu persatu obat dalam suntikan itu di suntikkan ke infus para penjahat.
“Siapa lu?” tanya penjahat B saat perawat pria itu menyuntikkan cairan obat dalam suntikkan yang di pegangnya.
************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗