
Sementara itu di kota SY, Arvin, Ansel dan Riko tengah berada di dalam mushalla milik pesantren, mereka akan melaksanakan sholat subuh berjamaah dengan para santri di sana. Tepat pukul satu dini hari mereka sampai di pesantren milik abinya Aisyah, abi dan umi Aisyah menyambut kepulangan putri mereka dengan tangisan haru.
Abinya Aisyah juga meminta maaf pada putrinya atas kesalahan dan kekeliruan yang sudah di perbuatnya. Aisyah sempat terkejut melihat abinya yang dengan tulus meminta maaf padanya,
“Bi....tangan abi ini bukan menangkup meminta maaf pada Aisyah. Tapi untuk mendoakan untuk kebahagiaan Aisyah, seharusnya yang meminta maaf adalah Aisyah bi, karena sudah membuat keluarga kita malu, mencoreng nama Abi” Aisyah menangis sedih.
“aisyah...” umi dan Abi Aisyah berhamburan memeluk erat putri mereka.
“Abi dan umi sudah memaafkanmu sayang” umi Aisyah menangis haru menatap putrinya, perlahan Abinya Aisyah melepaskan pelukan menatap ke arah Arvin, Ansel dan Riko.
“Nak Arvin terima kasih sudah mau mengantarkan Aisyah ke sini, hari sudah sangat malam. Sebaiknya kalian menginap saja di pesantren sebentar” Abinya Aisyah memanggil salah seorang ustad untuk mengantar Arvin cs ke pesantren.
Aisyah di ajak uminya untuk masuk ke rumah beristirahat sejenak, dia masih memeluk uminya yang sangat di rindukannya. Melepaskan rindu yang sudah di tahannya selama lima bulan ini, uminya Aisyah juga menanyakan bagaimana kabarnya Arinda.
Uminya Aisyah mengetahui tentang Arinda dari putrinya, walau belum pernah bertatap wajah uminya Aisyah merasa sudah sangat mengenal Arinda. Puas bercerita hampir setengah jam lamanya, umi Aisyah menyuruhnya untuk beristirahat. Perjalanan begitu jauh tentunya membuat lelah Aisyah, dia melangkahkan kakinya ke kamar miliknya.
Aisyah duduk di ranjang miliknya menatap ke sekeliling kamar miliknya, dia merasa sangat gelisah teringat dengan lamaran Arvin yang belum di jawab. Dia duduk sangat lama termenung memikirkan jawaban apa yang harus di berikannya, dia ragu krena tidak begitu mengenal siapa Arvin sebenarnya.
Sebaiknya aku sholat, meminta petunjuk pada-Nya... Aisyah melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk bersuci. Dia mengenakan mukena dan menggelar sajadah bermunajat pada sang Pencipta memohon petunjuk untuk memilih jawaban yang terbaik.
Aisyah khusyuk dengan ibadahnya, larut dalam setiap doa memohon petunjuk pada yang Maha Kuasa hingga matanya terasa sangat berat dia tertidur di atas sajadahnya.
Aisyah masuk ke dunia mimpi di mana di tengah melaksanakan ibadah sholat, di termenung saat melihat seorang pria yang membelakanginya mengimami sholat yang tengah mereka laksanakan. Lantunan ayat suci dari pria itu terdengar begitu nyata dan merdu, Aisyah mengikut setiap gerakan sholat dengan khusyuknya hingga mereka menyelesaikan sholat mereka.
Pria itu menghadap ke arah Aisyah yang langsung menyalami tangan si pria itu, saat menegakkan kepalanya Aisyah terkejut dan termenung dengan mata membulat sempurna. Wajah tampan terlihat bercahaya dan tidak asing bagi Aisyah, wajah pria yang sangat mirip dengan pria yang sudah melamarnya.
Aisyah terbangun dari tidurnya bertepatan dengan Azan subuh yang berkumandang, nafasnya terengah-engah bibirnya segera mengucapkan istigfar.
Ya Allah, apakah ini jawaban dari doa ku? Aisyah termenung sejenak, dia di sadarkan saat uminya mengetuk pintu kamar memanggil untuk mengajak sholat berjamaah.
__ADS_1
Ansel menyempatkan menghubungi istrinya membangunkannya agar tidak terlambat melaksanakan sholat subuh, tidak lupa pula dia melayangkan kecupan mesra untuk Cantika. Dia juga menceritakan tentang Daniel dan Arinda yang sudah berbaikan, tidak lupa pula Ansel memberi tahu jika secepatnya Arinda kembali ke kota J serta Arvin yang akan melepaskan masa lajangnya.
Cantika sangat terkejut mendengar apa yang di sampaikan oleh suaminya, begitu banyak kabar bahagia yang di dapatkannya pagi itu. Sebelah tangannya memegang alat uji kehamilan dengan dua garis yang tertera di sana, Cantika ingin memberi kabar baik itu pada suaminya namun dia tahan sampai Ansel kembali ke kota J.
Dia ingin memberikan kejutan pada suaminya, tidak lupa pula dia mengucapkan rasa syukur pada sang Pencipta atas anugerah dan amanah terindah yang tengah hidup di dalam rahimnya.
Setelah menghubungi Cantika, Ansel segera bergabung dengan Arvin dan Riko untuk melaksanakan sholat berjamaah bersama santri yang sudah meramaikan mushalla.
***
Arinda menyiapkan sarapan untuk mereka nikamti berdua, tidak lupa pula dia menyiapkan sarapan untuk para body guard yang semalaman berjaga di luar rumahnya. Daniel begitu merindukan masakan istrinya menghabiskan semua tanpa tersisa. Setelah mereka sarapan, Arinda merapikan piring di meja namun tangannya di raih oleh Daniel menariknya duduk di pangkuan.
“sayang...” Arinda hendak turun dari pangkuan Daniel, dia tidak ingin suaminya merasa berat karena dia tengah mengandung saat ini. Daniel tidak mengizinkan Arinda turun, dia malah melingkarkan tangannya di pinggang istri.
“sayang.... biarkan Aku turun. nanti kakimu akan terasa sakit karena aku sangat berat saat ini” ujar Arinda berusaha untuk turun dari pangkuan Daniel.
“tidak sayang, kamu tidaklah berat. Namun aku yang merasa sangat keberatan”
“ sayang.... aku ini keberatan dengan rasa cinta dan sayangku pada mu. Bukan karena dirimu” Daniel menoel hidung mancung Arinda membuat pipi istrinya merona merah.
“kamu semakin hari semakin pandai bicara gombal” ujar Arinda tersenyum manis pada suaminya.
“Sayang, setelah kita menghadiri akad nikah dan pestanya Arvin. Kita kembali ke kota J ya, keluarga kita begitu merindukanmu terlebih oma dan mommy. Bagaimana menurutmu sayang?” Daniel menatap mata Arinda dengan penuh kasih sayang. Kedua tangan Arinda memegang pipi Daniel, dia mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibir suami tercinta.
“Sayang.... Aku mencintaimu, aku akan ikut ke mana pun kamu membawaku. Aku juga ingin kembali ke kota J bertemu dengan keluarga dan lainnya” ujar Arinda setelah mengecup mesra bibir suaminya.
Tersungging senyuman manis di bibir Daniel, dia begitu bahagia. Tidak lupa pula Dia juga memberi solusi dengan usaha Arinda yang di rintisnya bersama Aisyah, dia telah menceritakan tentang butik miliknya.
“Baiklah, sekarang kita bersiap-siap karena sebentar lagi penerbangan kita ke kota SY” ajak Arinda akan turun dari pangkuan Daniel. Tangan kekar suaminya masih melingkar di pinggang tidak mengizinkannya untuk turun.
__ADS_1
“sebentar lagi sayang.... Aku masih ingin seperti ini dulu” Daniel menyandarkan kepalanya di bahu Arinda, rambut panjang Arinda tersanggul berantakan menambah kecantikannya. Dia sama sekali tidak masalah dengan keringat Arinda yang membasahi lehernya setelah membuatkan sarapan.
Arinda membiarkan Daniel bermanja-manja sebentar dengannya, setelah itu mereka pun bersiap-siap berangkat menuju kota SY. Kecantikan Arinda semakin terpancar saat mengenakan hijab dan baju syar’i dengan motif bunga mawar berwarna biru tua.
Mobil mereka tumpangi memasuki pelataran Bandara, para body guard membuka pintu mobil mempersilahkan tua dan nona mereka untuk turun. segera saja Daniel dan Arinda menjadi pusat perhatian, para fans Daniel menatap ke arah mereka dan termenung saat melihat seorang perempuan yang tidak asing bagi mereka.
“eh... eh... siapa tu yang di sebelahnya tuan Daniel, rasanya pernah liat gitu”
“apa tuan Daniel nikah lagi, ya? ke mana nona Arinda”
Para Fans menatap lekat Arinda yang berjalan berdampingan dengan Daniel sambil berpegangan tangan. Fans itu pun menyadari jika itu adalah Arinda tampil dengan penampilan yang berbeda.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
Author minta maaf terlambat up 🙏🙏🙏
karena demam dan flu membuat Author kurang berkonsentrasi.
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...