
"Van..." panggil Daniel menatap sahabatnya yang kesakitan. Evan menatap Daniel dengan menampilkan senyuman khas di bibirnya.
"cepat... lu.... selamatin Arinda.... aku... tidak... apa-apa... ada.... para ... cecunguk... ini yang... menja...gaku..." ujar Evan terbata-bata berusaha menahan rasa sakit di punggungnya.
"Tapi..." Daniel tampak ragu, dia sama sekali tidak menyangka jika Evan akan menyelamatkannya.
Polisi langsung bertindak dengan segera menembak tepat ke arah lengan Richard.
Dooorrr...
“AAAAGGGHHH” terdengar teriakan Richard saat peluru polisi mengenai lengannya. Pistol yang di pegangnya terjatuh, sebuah kesempatan yang tidak di sia-siakan Arinda.
Arvin dan Ansel segera memegangi Evan membiarkan Daniel menyelamatkan Arinda.
“cepat Dan, biar Evan kita yang jaga” ujar Arvin, Daniel segera berdiri melihat ke arah Arinda.
Rasa sakit di perutnya kini tidak di rasakan, segera Arinda berlari ke arah Daniel yang juga berlari ke arahnya. Tergambar jelas rasa bahagia di wajah Arinda saat akhirnya dia bisa bertemu dengan suaminya kembali, saat sudah hampir dekat terdengar kembali suara tembakan.
DOOORRR...
Richard kembali menembak dengan sebelah tangan lainnya, dia tersenyum senang saat tembakannya ternyata mengarah ke Arinda. Mata Elang Daniel membuka sempurna saat tembakan Richard ternyata mengenai bahu kanan bagian punggung istrinya.
"AAriiiiiin" Teriak Daniel memeluk erat istrinya.
Polisi pun tidak tinggal diam, mereka pun melepaskan tembakan saat Richard bermaksud untuk mengakhiri hidupnya. Polisi menembak tepat di tangan Richard, membuat senjata yang di pegangnya terjatuh kembali. Senyuman kemenangan terukir di wajah Richard,
“Arin sayang, kamu tenang saja. Secepatnya aku akan menyusulmu” ujar Richard.
Arinda jatuh dalam pelukan suaminya, Daniel dapat merasakan darah segar mengalir di punggung bahu kanan. Dia menatap penuh amarah ke arah Richard, mata elangnya menatap mata Arinda yang terlihat sayu.
Daniel segera membopong Arinda, melangkah maju ke arah Richard yang duduk bersandar ke badan mobil. Kedua tangannya mengalir darah segar sudah tidak bisa di gerakan, sebuah tendangan begitu kuat di layangkan oleh Daniel mengenai tepat dada Richard. Membuatnya jatuh terbaring di aspal jalanan, dapat di rasakan oleh Richard rasa sakit yang teramat tepat di bagian dadanya.
Kaki panjang Daniel menekan kuat di dada yang perlahan-lahan mengarah ke arah leher Richard, Wajah Richard menjadi merah merasa tercekik dengan cepat polisi bertindak melerai Daniel. Richard terbatuk-batuk saat kaki Daniel terangkat dari batang lehernya.
“uhuk... uhuk.. uhukk” darah segar keluar dari mulut Richard.
“jika sampai terjadi sesuatu pada Arinda dan juga Evan, aku akan mencarimu dan kamu tahu akan apa yang akan aku lakukan padamu” kilatan kemarahan dan kebencian terlihat jelas di mata Daniel.
“Hahahaha... Huk... Uhuk... Uhuk... Kamu tidak akan pernah bisa bersama Arinda, karena dia adalah milikku, selamanya akan menjadi milikku hahahahah” Richard tertawa lantang.
Daniel akan segera mengambil tindakan kembali tapi langsung di cegah oleh Ansel. Para body guard segera mengambil tindakan, mereka membantu membawa Evan yang terluka di bagian punggung menuju rumah sakit Arsen Medical.
__ADS_1
“tuan muda, nona Arin sudah sangat kesakitan” ujar Ansel melihat Arinda meringis menahan sakit di bahu belakangnya. Ansel mengambil baju kemeja Daniel yang selalu tersimpan di mobil untuk keadaan darurat, dia melipat sedemikian rupa membantu membalut luka untuk menghentikan pendarahan sementara di bahu kanan Arinda.
“Dan... Sebaiknya kita sekarang bawa Arinda ke rumah sakit” Arvin melihat Arinda sudah sangat pucat.
Daniel menatap istrinya yang membalas menatap dengan mata sayu, dia segera melangkahkan kakinya ke mobil. Meninggalkan Richard yang di urus oleh pihak kepolisian.
Arvin mengambil alih kemudi dengan Ansel yang duduk di sampingnya, Daniel tampak begitu mencemaskan Arinda. Kepolisian juga ikut membantu membukakan jalan agar Arinda dan Evan dapat segera di tangani. Daniel terus memangku Arinda memberi kehangatan kepada tubuh istrinya yang terasa dingin akibat kejadian di alaminya.
“sayang.... Maafkan aku tidak bisa menjagamu” Daniel membelai wajah Arinda, senyuman perlahan-lahan tersungging di bibir pucat itu.
“Ka... Kamu selalu... Menja...ga... Ku dengan.... Sangat baik.... Ka... Mu ... Tahu aku... Adalah .... Istri..... Yang... Paling beruntung.... Memilikimu.... Di sisi ku....” ujar Arinda dengan terbata-bata menahan rasa sakit, Daniel dapat melihat hijab Arinda ternodai dengan darah.
“Vin, cepat Vin” ujar Daniel, wajahnya tergambar ke khawatiran. Matanya termenung saat merasakan rasa hangat merembes ke celana yang di kenakannya.
“Cairan apa ini?” Daniel termenung saat meraba samping celananya yang basah.
Ansel melihat ke arah Daniel dan mengecek ke bagian bawah kaki Daniel. Semenjak tahu Cantika hamil, Ansel rajin membaca buku tentang kehamilan dan sedikitnya dia tahu jika saat ini ketuban Arinda sudah pecah.
“Tuan muda, ketuban nona Arinda sudah pecah. Sepertinya nona akan melahirkan saat ini” ujar Ansel.
“Aaaagghhh....” Pekik Arinda merasa sangat sakit di bagian perutnya. Daniel sontak panik dan menyuruh Arvin untuk melajukan mobilnya lebih cepat.
“Vin, cepat” ujar Daniel, Arinda menggenggam erat tangannya ke tangan Daniel saat merasakan dahsyat kontraksi di perutnya. Arvin melihat dan mendengar Arinda mulai panik,
Plaaak...
Ansel segera menggeplak tangan Arvin, hal ini bertujuan untuk Arvin tidak panik karena saat ini dia mengendarai mobil.
“kamu jangan ikutan panik, malah menyuruh nona nyebut but but!!!” hardik Ansel.
“Panik gua Sel, lu liat tu keadaan Arin. Jadi sesak nafas guanya” Arvin melihat Arinda dari kaca spion yang menahan rasa sakit.
Arinda Merasa begitu lemah akibat luka tembak di bahunya,
“ Sel, segera hubungi Sean untuk menyiapkan segalanya” perintah Daniel yang langsung di laksanakan Ansel.
***
Sean baru saja bisa duduk di meja kantin di temani Davira yang baru beberapa jam menjadi istrinya. Tampak raut wajah kelelahan dari sepasang pengantin baru ini.
“Loh dokter Sean dan dokter Davira malah ada di sini? Bukan seharusnya udah berangkat honey moon” ujar salah satu teman sejawat Sean. Dokter pria berparas tampan merupakan dokter kandungan baru dari JP di Arsen Medical, dokter Yuki sudah sangat fasih dan begitu mencintai negara IN sehingga menerima tawaran bekerja yang di tawarkan oleh Sean.
__ADS_1
“Ada kasus urgent, jadi honeymoom di pending dulu” ujar Sean merebahkan kepalanya di atas meja kantin. Davira membelai kepala suaminya dengan penuh kasih sayang,
“memang ada kasus apa?” tanya Dokter Yuki penasaran.
“Ada pasien urgent dengan luka berat dan trauma di kepala, juga ada beberapa jenazah harus di autopsi” jelas Davira.
Ponsel Sean yang tergeletak di atas meja bergetar, dengan malas-malasan Sean menatap layar ponselnya. Tertulis nama Ansel di layar itu membuatnya menghela nafas panjang,
“Kenapa kak?” tanya Davira, langsung Sean mengarahkan layar ponselnya ke arah istrinya. Davira tersenyum melihat penyebab suaminya menghela nafas panjang.
“angkat saja kak, siapa tahu penting?!!” ujar Davira. Jari jempol Sean segera memindahkan icon tombol hijau di layar ponselnya dan menaruh di telinganya. Kepalanya masih senantiasa berbaring cantik di atas meja, dia langsung mengubah ponsel menjadi loud speker atas permintaan Davira.
“Assalam...” belum selesai Sean mengucapkan salam Ansel segera memberondongnya dengan ucapannya.
“Sean, segera bersiap-siap. Ada dua pasien yang harus di tangani, Evan menderita luka tembak di punggung bagian bawah dan nona Arin terkena tembakan di bahu bagian kanan. Kondisi nona Arin semakin melemah karena air ketuban nona Arin sudah keluar” ujar Ansel to the point. Mendengar hal itu membuat Sean langsung duduk dengan sikap baik.
“sayang... Sayang...” terdengar oleh Sean suara Daniel memanggil-manggil Arinda.
“Ada apa dengan Arinda?” tanya Sean.
“nona Arin mulai tidak sadarkan diri” ujar Ansel melihat Arinda seperti orang di bawah pengaruh minuman keras.
“Jangan biarkan pasien tertidur, usahakan agar dia tetap terjaga atau pasien dan juga bayinya tidak bisa di selamatkan” ujar Yuki berdiri dari kursinya di ikuti Davira dan Sean.
“kami akan mempersiapkan segalanya di sini. Berapa lama lagi kalian akan sampai?” tanya Sean melihat jam di pergelangan tangan.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...