
Racun langka yang bisa membunuh orang secara perlahan-lahan, Sean langsung berdiri dari kursi ruang kerjanya. Dengan membawa hasil laporan yang di dapatkannya dia segera menuju ke kantor perusahaan Daniel, saat membuka pintu ruangannya di saat bersamaan Arinda hendak mengetuk pintu ruang kerja Sean.
“Arinda”
“Dokter Sean” Arinda menatap wajah Sean yang terlihat cemas.
“ada apa dokter Sean?” Arinda menatap sebuah file di tangan Sean yang terlihat sedikit panik. Sean merasa dirinya sangat gagal tidak tahu jika saat ini keadaan oma Ayu sekarat.
“apa itu hasil laporan tes darah oma?” tebak Arinda.
“iya Rin, aduh maaf Rin. Aku harus menemui Daniel sekarang, ada yang salah dengan oma” Sean hendak pergi,
“dokter Sean sebentar, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Anda” Arinda terlihat serius,
“tapi...” Sean terlihat ragu-ragu.
“kak Arin?” Panggil Davira baru saja datang, dia bermaksud ingin bertemu dengan Sean setelah dirinya memeriksa pasien.
“kebetulan Vira ada di sini, aku ingin bicara dengan kalian berdua” Arinda menarik tangan Davira untuk masuk ke dalam ruang kerja Sean.
Sean mempersilahkan Arinda duduk di kursi depan meja kerja miliknya,
“ada apa kak? Sepertinya ini serius” Davira menatap wajah Arinda yang terlihat ragu-ragu.
“ begini, aku tadi ke Mansion untuk jenguk oma. Di saat akan masuk kamar oma, aku melihat Vivi sedang menyuntikkan ini pada oma” jelas Arinda sambil mengambil suntikan yang di dapatnya dan menyerahkannya pada Sean.
“apa ini?” Tanya Davira bingung. Sean pun menjelaskan hasil tes kondisi oma Ayu membuat Davira terkejut. Dia lalu menatap jarum suntik di atas meja kerja Sean.
“Apa menurut kakak, Vivi memiliki maksud lain?” tanya Davira.
“kakak nggak mau berprasangka buruk sama Vivi, jika kita gegabah malah kita yang akan terjebak dan membahayakan keluarga kita. Lebih baik kita selidiki dulu cairan yang ada dalam suntikan ini” pinta Arinda yang tidak ingin bertindak gegabah.
“Benar kata Arin, Vira. Kita harus hati-hati” Sean setuju dengan Arinda.
“Baiklah, aku harus balik ke kantor dulu. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan” pamit Arinda.
“Loh, kok buru-buru kak? Kita ngemil di kantin dulu yuk” ajak Davira.
“Nggak ah, masak kakak musti jadi obat nyamuk. Lebih baik kakak gangguin kakak kamu dari pada gangguin orang yang lagi kasmaran” canda Arinda tersenyum manis berdiri dari kursi yang di dudukinya.
“Ya udah deh, Vira antar ya sampai ke depan” Davira akan beranjak dari tempat duduknya.
“Nggak usah Vira, kayak anak sd aja. Sebaiknya ajakin aja tu yayangnya” Arinda membuka pintu ruang kerja Sean
__ADS_1
“Kakaaaak” panggil Davira manja pada Arinda yang sudah berlalu pergi.
Arinda melangkahkan kakinya melewati lobi rumah sakit, di saat bersamaan seorang pria tampak sibuk berbicara serius di ponselnya. Tanpa melihat ke depannya, pria itu langsung menabrak Arinda hingga dia hampir terjatuh.
“Aaaa...” pekik Arinda
Dengan sigap pria itu segera meraih tangan Arinda menolongnya agar tidak terjatuh. Pria itu termangu menatap perempuan yang di tolongnya, kecantikan Arinda mampu membuat pria itu tidak berhenti menatapnya.
Arinda menatap heran pria itu yang belum juga melepaskan tangannya,
“Tuan.... Tuan...” panggil Arinda pada pria itu.
Pria itu tersadar saat Arinda menjentikkan jarinya tepat di depan wajah pria itu dengan masih memegang erat tangannya.
“maaf nona, saya terburu-buru dan tidak sengaja menabrak anda” Pria itu dengan ramah meminta maaf pada Arinda.
“tidak apa-apa tuan. Maaf... bisakah saya mendapatkan tangan ku kembali?” Arinda mengode kepada pria itu ke arah tangan yang masih di pegangnya.
“oh... maaf... “ pria itu segera melepaskan tangannya.
“sekali lagi tidak apa-apa, tuan. Kalo begitu saya permisi” Arinda akan melangkah pergi keluar dari lobi Arsen Medical. Langkahnya terhenti sejenak saat pria itu memanggil Arinda kembali.
“nona...” panggil pria itu.
“kalo boleh saya ingin berkenalan dengan anda, nama saya Evans” pria itu mengulurkan tangannya pada Arinda yang tampak sangat terburu-buru.
“maaf tuan, tapi saya sudah harus pergi” Arinda melangkah pergi meninggalkan pria itu.
“setidaknya saya bisa tahu nama anda” kata pria bernama Evans pada Arinda yang sudah menjauh.
“Anindira” Arinda hanya memberi tahu namanya Anindira pada Evans.
Evans pria tampan itu menatap kepergian Arinda yang sudah masuk ke dalam sebuah mobil mewah. Senyumannya begitu meneduhkan dan terasa hangat, beberapa kaum hawa tidak berpaling menatapnya.
“ya Allah, begitu sempurna ciptaanmu”
“sepertinya rumah sakit ini tempat berkumpulnya para cowok keren dan ganteng”
“tapi cakepnya masih kalah dari tuan muda Daniel... tapi sayang tuan Daniel udah merit. Dia juga merit ama cewek yang cantiknya kebangetan”
Begitu banyak komentar yang di layangkan dari kaum hawa yang membanding-bandingkan ketenaran Daniel Arsenio dengan pria yang masih berdiri di depan mereka. Evans sangat tidak menyukai mereka yang berbicara di belakangnya membandingkan dirinya dengan Daniel Arsenio.
Jadi Daniel sudah menikah? Karena kesibukan, aku jadi tidak tau jika Daniel sudah menikah Evans mendengar setiap gosip dari para kaum hawa yang masih membicarakan dan membandingkan dirinya dengan Daniel.
__ADS_1
Evans melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Dokter Sean, masih terbayang olehnya wajah cantik perempuan yang tidak sengaja di tabraknya tadi.
“Anindira.... nama yang cantik secantik orangnya. Aku berharap bisa bertemu dengannya kembali” Evans berkata pada dirinya sendiri sambil tersenyum membuat para hawa susah untuk berkonsentrasi.
Arinda sedang memperhatikan pemandangan di luar jendela mobilnya, lamunannya buyar saat ponselnya berdering. Tertulis nama Cantika pada layar ponselnya,
“assalamualaikum mbak, maaf sebentar lagi Arin akan sampai di kantor” Sapa Arin pada Cantika,
“nggak usah Rin, kliennya batal buat ketemuan hari ini. Katanya beliau ada sedikit urusan jadi meetingnya di undur besok siang. Jadi kamu bisa balik cepat hari ini”
“oke deh mbak kalo gitu. Ya udh Arin balik dulu ya mbak, tolong sampein ke Maya kalo Arin balik ke pent house”
“emang kamu ama Maya janjian?”
“sebenarnya setelah pertemuan dengan client Arin sama maya mo hunting beberapa. Pernak pernik buat di pent house, tapi mumpung pulang cepat Arin mo rebahan aja di rumah”
“oke deh ntar mbak sampein ama dia”
“makasih ya mbak, assalamualaikum mbak” Arinda mengakhiri telepon dari Cantika, lalu meminta supirnya untuk mengantar ke pent house.
Setelah sampai di pent house, Arinda di sambut oleh maid bernama Tini yang bekerja di mansion Arsenio, setiap hari dia di suruh Aileen untuk ke pent house membersihkan dan mengirim pakaian Arinda dan Daniel ke laundry.
“selamat datang nona Arinda” sapa Tini ramah,
“makasih ya Tini, kamu udah mau balik ke mansion?” tanya Arinda menatap Tini yang sudah tampak rapi.
*************
secepatnya author akan usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
sambil menunggu up, bolehlah mampir ke karya author judulnya "Cinta Sabrina"
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...