Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 114


__ADS_3

“Ya kakak bilang saja, kalo Daniel sedang ke kota CH menjemput calon istrinya. Trus wajahnya saat tahu berubah kaget dan panik” kata Amanda tersenyum nakal. Dia tahu jika Daniel berangkat ke kota CH, dia sempat mendengar pembicaraan Aileen, oma Ayu dan Davira soal kepergian Daniel ke kota CH.


“hahaha kak Manda emang the best. Vira yakin tu maid berpikir berulang kali buat bisa mengambil hatinya kak Dan” kata Davira sambil tertawa dia lalu ikut mengintip di balik kamar oma Ayu bersama Amanda.


Nadira masih tampak terkejut saat mendengar penjelasan dari Amanda,


Selama tuan Daniel belum mengucapkan ijab kabul. Aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan tuan Daniel, dengan cara apapun kata Nadira dalam hati, wajahnya tampak kesal dan penasaran dengan calon istri yang di bicarakan oleh Amanda.


***


Rumah Arinda...


Teman-teman Ifan dalam kesatuan militer berdatangan ke rumah untuk membantu memasang tenda dan menyusun kursi-kursi para pelayat. Kabar meninggalnya ibu Arinda telah di siarkan di musholla komplek rumahnya, mobil ambulance milik militer memasuki halaman rumah sederhana Arinda.


Para teman-teman Ifan membantu mengangkat keranda jenazah ibunya, Ifan tidak ikut mengangkat keranda jenazah ibunya karena dia harus memapah Arinda yang sudah tampak lelah. Ifan memapahnya dengan hati-hati masuk ke dalam rumahnya, para tetangga dan ibu-ibu pengajian sudah duduk mengelilingi jenazah ibu Arinda.


Lantunan ayat-ayat suci yang di baca oleh para pelayat menggema di rumah sederhana itu, para ibu-ibu pengajian tampak menyemangati dan membesarkan hati Arinda yang terlihat sangat sedih. Teman -teman Ifan duduk di luar menyambut kedatangan para pentakziah,


“nggak nyangka gua kalo ternyata kakaknya si Ifan cantik banget” kata salah satu teman Ifan.


“hussss orang lagi kemalangan masih sempat-sempatnya kamu memuji dan kagum sama kakak teman kesatuanmu” sela teman Ifan yang lain.


“ya maaf, bukan maksud gua berlaku nggak sopan. Hanya keceplosan aja” kata teman Ifan itu kembali.


Ifan menatap Arinda yang terlihat hancur, baju kebaya yang di pakainya kini berganti menjadi pakaian serba hitam. Rambut indahnya tertutupi selendang menatap keranda ibunya yang akan segera di sholatkan. Ifan mendekati Arinda, ibu-ibu pengajian sedikit bergeser memberi ruang untuk Ifan duduk di samping kakaknya.


“mbak....” panggil Ifan lalu merangkul pundak Arinda,

__ADS_1


“mbak nggak apa-apa Fan, Insyaallah mbak kuat. Ayo sekarang kita sholatkan mama” ajak Arinda, matanya masih merah dan bengkak karena menangis seharian.


“mbak yakin?” tanya Ifan khawatir melihat Arinda yang tampak pucat, Tubuhnya terasa sangat lemah dan tidak bertenaga.


“iya... mbak yakin” kata Arinda dengan menguatkan tekadnya. Ifan membantu Arinda berdiri dan memapahnya untuk mengambil Air wudhu,


Pesawat jet pribadi Daniel mendarat mulus di bandara kota CH. Daniel, Cantika, Maya dan Ansel segera turun dari pesawat menuju mobil yang sudah di siapkan. Ansel sudah mengatur beberapa bodyguard yang akan menjaga mereka selama berada di kota CH. Mereka berempat naik ke dalam mobil mewah yang terparkir di pelataran bandara,


“Maya, di mana alamat rumah Arinda?” tanya Daniel.


“sebentar akika liat dulu” kata Maya sambil membuka ponselnya dan mencari pesan wa berisi alamat rumah Arinda.


Maya memberikan ponselnya pada Daniel yang lalu di berikannya ke sopir yang akan mengantar mereka ke alamat rumah Arinda. Iringan mobil Daniel melaju dengan cepat meninggalkan pelataran bandara menuju rumah Arinda.


Setelah jenazah ibunya di sholatkan di mushola kompleks rumahnya, Arinda di bantu dengan beberapa ibu-ibu pengajian menaiki mobil ambulance untuk pergi menuju pemakaman umum.


Saat Aileen meminta Arinda memanggilnya Mommy, saat itu dia sudah menganggap Aileen sebagai ibu kandungnya. Namun karena kesalahpahaman Aileen membencinya, saat dia butuh pelukan hangat dan belaian lembut ibunya dia harus kehilangan itu semua.


Air mata kembali menghiasi wajah cantiknya, Ifan senantiasa berada di samping Arinda merangkul pundak dan memeluk erat kakaknya. Ifan juga merasakan kepedihan yang sama, tapi dia harus kuat dan menjadi sandaran bagi Arinda.


Mobil ambulance melaju meninggalkan rumah sederhana Arinda menuju tempat pemakaman umum, hujan kembali mengguyur kota CH. Sesaat mobil Ambulance meninggalkan rumah Arinda, iringan mobil mewah terparkir di halaman rumah yang telah terpasang bendera kuning di pagar rumah. Supir mobil mewah itu melihat mobil Ambulance yang telah menjauh,


“tuan, sepertinya mereka sudah berangkat ke TPU” kata si supir sudah tahu tujuan daniel datang ke kota CH. (Keluarga Arsenio memiliki kediaman pribadi di kota CH, hanya saja sangat jarang di tempati. Kediaman itu lebih sering disewakan)


“ikuti mobil ambulance itu” perintah Daniel.


“ baik tuan muda” kata si supir.

__ADS_1


Iringan mobil mewah segera mengikuti mobil Ambulance menuju ke Tempat Pemakanan Umum, Daniel terlihat sangat khawatir pada Arinda. Setelah kejadian yang terjadi di kediaman Arsenio, Daniel dapat merasakan jika saat ini Arinda sangat terpukul dan terpuruk. Dia sangat ingin berada di samping Arinda, menghibur dan memeluknya. Cantika, Maya dan Ansel dapat melihat ke khawatiran pada Daniel untuk Arinda.


Rin, kalo lu liat perjuangan tuan Daniel, apa lu masih mau menolak dan membohongi diri lu lagi kata Maya dalam hati,


Arin, mbak tahu saat ini kamu terluka. Tapi melihat ke sungguhan tuan Daniel mbak yakin kamu akan bahagia jika bersamanya ujar Cantika dalam hati.


Mobil Ambulance memasuki parkiran tempat pemakaman umum, satu persatu orang-orang turun dari mobil dengan payung hitam terkembang. Teman-teman Ifan termasuk Ifan sendiri mengangkat keranda jenazah ibu Arinda, mereka rela basah kuyup terkena hujan yang mengguyur. Arinda melangkahkan kakinya mengiringi keranda jenazah ibunya ke tempat peristirahatan terakhir. Tubuhnya basah kuyup terkena hujan yang turun, wajah cantiknya terlihat pucat.


Keranda jenazah di turunkan dekat liang Lahat, di bawah payung hitam Arinda menatap jenazah ibunya. Ifan turun ke liang Lahat untuk menyambut tubuh ibunya, sekuat-kuatnya pria saat ini Ifan benar-benar tidak bisa menahan air matanya lagi tatkala ia mengazani ibunya.


Arinda pun menitikkan air matanya lagi dan lagi, tatkala untuk terakhir kali ia melihat ibunya. Setelah menyelesaikan kewajibannya, Ifan naik kembali dan berdiri di samping kakaknya. Memeluk erat Arinda dari samping untuk mereka saling menguatkan diri. Kuburan ibu Arinda sudah di penuhi ditutup dengan tanah, bertaburan bunga dan basah karena hujan.


Ustaz selesai memberikan sedikit ceramah dan membacakan doa, satu persatu para pelayat mengucapkan rasa belasungkawa pada Arinda dan Ifan. Mobil Daniel telah terparkir di samping mobil ambulance, dia segera turun dan melangkah cepat menuju tempat ibu Arinda di kuburkan. Daniel tidak peduli dengan hujan yang sudah membasahi tubuhnya, dia melihat sekumpulan orang yang mengitari kuburan dan segera di hampirinya. Saat ini hanya Arinda, Ifan dan teman-teman Ifan di kesatuan militer,


“mbak....kita pulang ya” ajak Ifan untuk kembali ke rumah.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2