Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 152


__ADS_3

Daniel tidak menanggapi perkataan Arinda, dia langsung membuka kemeja yang di kenakan hingga memperlihatkan bukit yang terpampang indah dengan hasil karya abstrak Daniel menghiasi dada dan perbukitan itu.


“Danieeel” pekik Arinda yang langsung menyilangi tangannya di area perbukitan itu,


“untuk apa di tutupi lagi, aku sudah melihat semuanya” Daniel membopong Arinda dan menurunkan pelan-pelan di dalam jacuzzi dengan air herbal. Wajah arinda merona, jujur saat ini dia sangat malu,


“kenapa kamu mesti malu padaku? Kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu, jadi kamu tidak perlu lagi malu di depanku. Atau.... memang ada bagian yang belum sama sekali aku lihat?” Daniel melihat ke bagian tubuh Arinda yang tertutup ramuan herbal,


Byur..


Arinda menyiramkan jacuzzi ke arah Daniel hingga dia basah kuyup, Dia tertawa melihat istrinya yang tampak kesal.


“kamu ingin aku ikut berendam bersamamu?” Daniel menyisiri rambutnya ke arah belakang dengan jari jemarinya.


Byuur.....


Lagi-lagi Arinda menyirami Daniel dengan Air jacuzzi, membuat Daniel semakin basah kuyup.


“baiklah aku akan mandi di sana saja. Sayang, kamu yakin tidak ingin aku temani” Daniel kembali menggoda arinda yang melirik tajam dengan aura kegelapan di sekitarnya. Dia tersenyum nackal segera memasuki ruangan shower dan melaksanakan mandi besar, setelahnya dia bersiap untuk melaksanakan kewajibannya pada sang Pencipta.


Arinda sudah tidak merasa sakit di bagian sensitifnya, dia mencoba berdiri dari jacuzzi dan melangkah ke ruangan shower dengan perlahan. Rasa sakit sudah mulai berkurang, Arinda memulai ritual mandi besar dan melaksanakan kewajibannya segera. Dengan melangkah pelan-pelan Arinda menuju walk in closet untuk mengambil pakaiannya dan memakai mukenanya.


Setelah shalat berjamaah, Arinda merapikan alat shalat dan menyimpannya rapi di tempatnya. Daniel berada di balkon kamar sedang menerima telepon dari Ansel, Arinda tidak ingin mengganggu Daniel yang tampak bicara serius. Dia melihat ranjang arena pertempurannya semalam, terlihat bersih dan tidak ada sisa bekas pertempuran mereka. Ternyata saat Arinda mandi, Daniel telah membersihkan ranjang mereka dan menggantikan sprei yang lama dengan sprei yang baru.


Arinda kembali ke kamar mandi untuk mengambil ponselnya yang tertinggal semalam di sana dengan layar ponselnya yang sudah mati. Dia keluar dari kamar mandi untuk mengambil charger di dalam tas ransel dan mencharger ponsel miliknya.


Setelah mencharger ponselnya, Arinda turun ke dapur. Dia melihat chef Rani dan para maid sudah berkutat di pekerjaan mereka masing-masing.


“selamat pagi nona” sapa para maid dan cheff Rani.

__ADS_1


“selamat pagi” Arinda membalas sapaan mereka dengan ramah.


“sedang membuat apa?” Arinda melihat cheff Rani sedang mengaduk cream sup jamur di panci keramik atas kompor listrik. Bau harum tercium dan menggugah selera.


“sebentar lagi akan masak nona. Apa nona ingin makanan yang lain?” tanya cheff Rani pada Arinda yang sedang memakai celemek.


“sebenarnya, aku ingin memasak sesuatu untuk Daniel” Arinda malu-malu mengatakan keiginannya.


Maid yang ikut membantu chef Rani mengerti jika Arinda ingin memasakan makanan untuk tuan muda mereka, dia lalu mengode untuk membiarkan Arinda memasak di dapur. Mereka pun mohon diri meninggalkan Arinda sendiri di dapur, memasak makanan buatannya sendiri.


Walau bagian sana masih terasa sedikit ngilu, Arinda tetap bersemangat membuat makanan untuk suaminya. Dengan terampil dia mengolah bahan yang ada membuat masakannya sendiri, berharap suaminya akan menyukai masakannya.


Daniel baru selesai berbicara dengan Ansel di telepon, seluruh pekerjaan sementara Ansel yang menghandle sampai dia dan Arinda kembali ke negara IN. Dia kembali masuk ke kamarnya dan tidak mendapati Arinda di kamar,


Arin, kemana? Daniel mencari ke sekeliling lantai dua tapi tidak menemukan keberadaan istri tercintanya.


Menuruni tangga, Daniel mencium bau harum dari dapur lalu melangkahkan kakinya ke sana. Dia mendapati istrinya sedang memasak membelakanginya, ada perasaan bahagia di hatinya melihat Arinda berkutat di dapur menyiapkan sarapan untuknya.


Arinda masih asyik dengan pekerjaannya, dia tidak menyadari saat suaminya terus memperhatikannya. Keringat tampak membasahi leher putihnya yang tertutup kerah tinggi dari dress lengan panjang yang di pakainya. Dia terpaksa memakai dress itu untuk menutupi hasil karya Daniel yang tercetak di kulit putih mulusnya.


Para maid dan chef Rani tersenyum senang melihat Daniel yang senantiasa berdiri tidak jauh dari dapur menatap istri menyiapkan sarapan untuknya. Daniel dengan perlahan mendekat ke arah maid dan cheff Rani, dia sengaja memberikan libur untuk mereka hari itu.


Dia ingin berduaan saja bersama Arinda tanpa ada gangguan dari siapa pun, para maid mengerti dan kembali ke mess mereka di samping rumah Daniel.


Arinda mematikan kompor listrik itu, mengangkat masakkan yang baru saja selesai di masaknya. Dia lalu menyajikannya di atas piring cantik dan meletakkan di atas meja makan.


Arinda tidak menyadari sama sekali keberadaan Daniel yang berdiri tidak jauh dari dapur, setelah meletakkan masakkannya. Arinda akan melangkah untuk memanggil Daniel, tersenyum saat melihat suaminya berdiri dengan tangan terlipat di dada dan bahu kiri yang menyandar di dinding.


“Sayang, sejak kapan kamu di sana?” Arinda keceplosan memanggil Daniel “sayang” segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Daniel menghampiri Arinda menarik pinggangnya untuk berdiri lebih dekat dengannya.

__ADS_1


“aku sangat bahagia saat kamu memanggil ku dengan kata “sayang”. Aku ingin kamu selalu memanggilku begitu, bolehkah?” pinta Daniel pada Arinda yang terlihat ragu-ragu, dengan terbata-bata Arinda memenuhi keingian Daniel.


“sa sa sayang, a a a ayo kita makan, se se selagi masih hangat” Arinda gugup,


Daniel langsung mengecup pipi Arinda yang merona, dia lalu duduk di kursi meja makan begitu juga Arinda. Mereka menikmati sarapan pagi dengan sesekali bercanda,


“aku tidak menyangka selain pintar mengelola pekerjaan di Pearl Stars nyonya Arsenio juga pintar memasak” puji Daniel pada Arinda yang membalasnya dengan tersenyum manis pada suaminya.


Dia lalu membereskan peralatan makanan yang kotor mulai mencucinya, Daniel menatap punggung istrinya yang sedang asyik mencuci peralatan yang kotor. Dia lalu berdiri dari tempat duduknya, menghampiri Arinda dengan memeluknya dari elakang,


“sa sa sayang, aku sedang mencuci piring. Kalo kamu begini bagaimana aku akan menyelesaikan pekerjaanku” Arinda membilas piring dari busa sabun cuci piring. Daniel mempererat pelukannya dengan meletakkan dagunya di bahu kanan Arinda,


“tidak selesai juga tidak masalah” Daniel mulai menciumi pundak Arinda,


Merasa sangat terganggu, Arinda mematikan sebentar keran air lalu mengarahkan semprotan air ke arah Daniel yang masih mengganggu Arinda. Kran air kembali dihidupkannya hingga air memancar dan mengenai Daniel hingga wajahnya basah kuyup, Arinda tertawa melihat Daniel.


“kamu sudah mulai nakal ya” Daniel segera mengarahkan pancuran air ke arah Arinda, namun dengan cepat dia menghindarinya. Daniel mematikan air kran, kini wajah dan bajunya sudah basah kuyup. Matanya menatap Arinda ternyata sudah melarikan diri terlebih dahulu.


Rasa ngilu dan sakit di area sensitifnya tidak di pedulikannya, dia harus pergi secepatnya sebelum Daniel membalas perbuatannya.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2