
Cantika mengunci pintu Apartemennya lalu melangkah menuju lift apartemen di ikuti Arinda yang memakai tas ranselnya.
Mereka berdua keluar dari lift menuju parkiran apartement. Arinda dan Cantika masuk ke dalam mobil lalu menuju ke perusahaan Arebeon.
Mobil Cantika memasuki pelataran perusahaan Arebeon, Arinda turun dari mobil Cantika. Banyak pasang mata melihat Arinda tampil begitu modis dan elegan.
“Rin” panggil Cantika dari dalam mobil.
Sedikit membungkuk, melihat Cantika di dalam mobil.
“Ya mbak,”
“Kamu selesai survei langsung balik ke kantor kan?”
“Iya mbak, Arin mesti rapat ama team. Emang ada apa mbak?”
“Sebelum kamu ke kantor, kamu ke panti asuhan dulu ya buat ngasih ini. Mbak nggak sempat soalnya” Cantika memberikan amplop dengan cek berada di dalamnya.
“Oke mbak, ntar Arinda ke sana”
“Makasih ya Rin, mbak pergi dulu ya”
“be careful ya mbak” kata Arinda, amplop yang di berikan Cantika di masukkannya ke dalam tas.
Tampilan Arinda begitu memukau dengan high heels menghiasi kaki jenjangnya. Arinda memasuki perusahaan Arebeon lalu menuju ke meja resepaionis.
“Pagi mbak” sapa ramah Arinda.
“Selamat pagi nona, ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis pertama.
“Saya Arinda dari Pearl Stars ingin bertemu dengan tuan Ansel” kata Arinda.
“Mohon di tunggu sebentar ya mbak” salah satu resepsionis menghubungi Ansel.
Arinda berdiri di depan front desk menunggu info dari resepsionis. Sebuah mobil lamborghini memasuki pelataran perusahaan Arebeon. Turun seorang perempuan muda dari mobil mewah itu, memakai kemeja lengan pendek serta rok span sebatas paha. Dandanan yang sedikit berlebihan dengan menenteng tas hermes keluaran terbaru berjalan dengan angkuh menuju front desk.
Di belakang perempuan muda itu, tampak perempuan yang seumuran Arinda berpakaian layaknya sekretaris pada umumnya mengikuti dengan senantiasa.
“Selamat pagi nona, ada yang bisa kami bantu” sapa ramah resepsionis kedua.
“Gue mau ketemu CEO Daniel Arsenio, apa dia udah datang?” Tanya perempuan itu dengan angkuhnya.
“Maaf kalau boleh tahu dengan nona siapa? Apakah anda sudah membuat janji sebelumnya?” tanya resepsionis kedua dengan sopan.
“Dian lu bilang ama dua cewek rendahan ini siapa gue” kata perempuan itu dengan angkuh.
__ADS_1
“Maaf mbak, beliau ini nona Emma dari perusahaan zeqa dan saya sekretaris beliau Dian. Kami sudah membuat janji dengan tuan Daniel sebelumnya” jelas Dian sekretaris dari Emma.
Arinda berdiri di front desk bersebelahan dengan Dian, merasa iba melihat Dian harus bekerja dengan perempuan yang arogan.
“ngapain lu liat-liat? Iri lu dengan kecantikan dan kekayaan gue” hardik Emma pada Arinda.
“Maaf mbak, sepertinya mbak salah paham” kata Arinda dengan ramah.
“Mbak mbak emang gue pembokat lu apa? Panggil gue nona” hardiknya semakin keras pada Arinda.
“Maaf nona” kata Arinda dengan senyuman manisnya.
Arinda lalu melihat ke arah resepsionis pertama yang baru saja selesai menghubungi Ansel.
“maaf menunggu lama nona Arinda. Tuan Ansel dan tuan muda Daniel sedang dalam perjalanan menuju ke perusahaan. Anda bisa menunggu di sana sementara menunggu” kata resepsionis pertama
“Terima kasih ya mbak” kata Arinda melangkah menunju kursi di lobi Arebeon.
“Whaat, gue Emma musti nunggu Daniel di sini dengan cewek kampungan itu. Gue nona besar keluarga Anderson, siapa elu beraninya nyuruh gue menunggu di lobi tempat nggak berkelas begini?” Emma tampak kesal dengan resepsionis yang menyuruhnya menunggu di lobi, bukan ruangan khusus untuk tamu vvip.
Arinda duduk di sofa lobi melihat ke arah Emma dengan tatapan bersyukur.
Syukur alhamdulillah, gue di kasih bos sebaik mbak Cantika. Jadi prihatin gue ama sekretarisnya masih betah kerja ama tu cewek guman Arinda bersyukur dalam hati.
“Maaf nona, ini sudah sesuai standard prosedur perusahaan kami, saya harap nona mengerti” kata resepsionis itu.
“ nona sebaiknya kita tunggu saja di sini, saya dengar gosipnya CEO perusahaan ini orangnya sangat dingin dan tidak mentelorir pada perusahaan yang membuat ulah” kata Dian memperingati nonanya.
Emma lalu duduk di sofa seberang Arinda,
“Ambilin minum buat gue cepat” perintah Emma dengan nada tinggi pada Dian.
“Baik nona” Dian segera pergi ke parkiran untuk mengambil minuman Emma yang tertinggal di mobil.
Semua orang di lobby sedari tadi memperhatikan tingkah laku Emma yang angkuh.
“ih sombong banget tu cewek. Cantik si cantik tapi sombongnya nggak ketulungan” kata resepsionis kedua.
“Iya nggak seperti mbak Arinda itu, cantik wajah juga cantik hatinya” kata resepsionis pertama.
“Emang kamu kenal sama mbak yang satu itu?” tanya resepsionis kedua.
“nggak sih, tapi cara dia ngomong tadi udah kelihatan orangnya ramah” kata resepsionis pertama.
Beberapa pria masuk ke lobby perusahaan Arebeon. Mereka adalah eksekutif muda yang berkesempatan mendapat ilmu dari Daniel Arsenio, setelah mendapat informasi dari resepsionis. Para pria itu duduk di sofa yang berseberangan dengan sofa Arinda dan Emma.
__ADS_1
“Bro liat, ada cewek cakep”
“Gue kalo kerja di sini bakalan betah deh. Ada pemandangan indah”
Arinda mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu kaca lobby.
“eh... Eh... Liat dia ngeliat ke arah sini”
Para eksekutif muda itu memberikan senyuman terbaiknya ke Arah Arinda. Emma yang duduk di depan Arinda merasa senyuman para pria muda itu untuknya. Begitu juga Arinda, berpikir jika senyuman itu di berikan pada Emma wanita yang ada di depannya. Dia kembali melihat ke arah tablet miliknya,
“Dasar cowok, kalian tu nggak se level ama gue. Buat ngejar gue aja belum tentu bisa, yang bisa dapetin gue harus bisa seperti Daniel Arsenio” kata Emma menyindir para pria yang duduk di seberangnya.
Para pria itu sama sekali tidak menggubris apa yang di katakan oleh Emma, mereka lebih memilih diam dari pada melawan perempuan.
Dian sekretaris Emma datang dengan terburu buru, tanpa melihat tanda lantai licin. Dia terpeleset hingga air minum yang di bawanya tumpah mengenai dirinya.
“dasar beg*, tumpah semua air gue. Untuk ganti minum gue aja nggak akan cukup pake gaji lu” Emma sangat marah dan akan menampar Dian.
Arinda langsung memasang badannya di depan Dian,
Plaak....
Tamparan cukup keras hingga meninggalkan bekas kemerahan di pipi Arinda.
“Nona, nggak apa-apa?” tanya Dian pada Arinda yang memegangi pipinya.
“Saya nggak apa apa” kata Arinda pada Dian.
Peristiwa penamparan itu bertepatan dengan kedatangan Daniel Arsenio ke perusahaan Arebeon. Mata Daniel terbelalak melihat gadis yang membayangi setiap mimpinya di tampar di hadapannya.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1