
Ada hubungan apa mbak tika ama tuan Ansel? Trus nama tuan Ansel di ponsel mbak Tika pake lambang hati. Apa mungkin? Ariiin....kenapa gue jadi kepo gini? Ini kan pivasinya mbak tika kata Arinda dalam hati sambil mengetuk kepalanya.
Setengah jam telah berlalu Arinda sudah menyelesaikan pekerjaanya,
Aduh lupa lagi ngasih tau tuan Ansel kalo konsep acara udah di perbaharui, besok aja deh... Guman Arinda sambil menyimpan file konsep acara di laptop miliknya.
Setelah mematikan laptopnya, Arinda membangunkan Cantika untuk pindah ke kamarnya. Mata Cantika masih setengah terbuka jadi tidak menyadari pintu kamarnya tertutup rapat.
Braak....
Terdengar benturan cukup keras di depan kamar Cantika. Arinda bergegas menghampiri Cantika dan melihatnya memegangi kepalanya.
“Mbaak..mbaak nggak apa-apa?” tanya Arinda melihat kening Cantika yang memerah.
“Nggak pa-pa rin, karena ngantuk banget nggak nyadar kalo pintu kamar tertutup” ucap Cantika sambil mengusap keningnya yang masih merah.
“ya udah mbak istirahat dulu, kamu juga istirahat ya” kata Cantika lagi membuka pintu kamarnya.
Arinda hanya tersenyum dia kembali ke kamarnya untuk beristirahat, setelah mengganti pakaian tidurnya Arinda merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk dan terlelap dalam buaian mimpi.
Mentari pagi perlahan lahan menyirami bumi dengan kehangatannya, seperti biasa Arinda bangun lebih dulu. Setelah bersih-bersih Arinda ke dapur Cantika untuk membuat sarapan, Arinda meraih wajan dengan tangan kirinya.
“Aww” luka Arinda terasa sangat ngilu saat mengangkat wajan,
Lupa gue kalo tangan lagi cedera, kata Arinda dalam hati mengganti tangan kanan untuk mengambil wajan.
Dengan hati-hati Arinda membuat sarapan untuknya dan Cantika, sesekali Arinda menggerakkan tangan kirinya yang terasa sangat ngilu.
Astagfirullah gue lupa ngasih kabar ke mama ama Ifan kalo ponsel gue rusak kata Arinda dalam hati.
Setelah menata sarapan pagi di piring, Arinda menghampiri kamar Cantika dan mengetuknya.
Tok...tok..
“ mbak” panggila Arinda. Cantika yang berada di kamar mandi tidak mendengar sama sekali,
“Mbak” Arinda mengetuk sekali lagi dan membuka pintu kamar Cantika. Arinda melihat tempat tidur Cantika yang kosong, terdengar gemericik air di dalam kamar mandi.
Arinda mengetuk kamar mandi Cantika,
“Mbak” panggil Arinda
“Iya Rin, ada apa?” tanya Cantika.
“Arin boleh minjem ponsel mbak nggak? Buat hubungi mama”
“Ya udah pake aja Rin, ambil aja di nakas samping tempat tidur”
“ oke mbak”
Arinda mengambil ponsel Cantika dan membukanya. Sudah menjadi kebiasaan Cantika tidak pernah mengunci ponselnya dengan kata sandi atau apapun untuk mempermudahnya membalas pesan atau e-mail dari client.
Arinda menghubungi keluarganya dan memberitahu jika untuk beberapa hari kedepan Arinda tidak bisa di hubungi karena ponselnya dalam perbaikan. Cantika keluar dari kamar mandi menuju walk in closet, memakai pakaian yang biasa di pakainya di rumah.
__ADS_1
Setelah menghubungi keluarganya Arinda meletakkan kembali ponsel Cantika.
“Mbak makasih ya”
“iya...o ya Rin. Perban di tangan kamu udah di ganti belum?” Cantika melihat perban Arinda yang masih sama seperti kemaren.
“Blom mbak, lupa karena ke asyikkan kerja kemaren, kita sarapan dulu yuk mbak” ajak Arinda saat Cantika telah selesai berpakaian.
“ kamu bikin sarapan?” tanya cantika, Arinda menganggukkan kepalanya.
“Aduuh Rin, tangan kamu kan lagi sakit. Kenapa kamu paksain buat bikin sarapan?” tanya Cantika yang khawatir mengikuti Arinda ke meja makan.
Mereka kini duduk di meja makan,
“Nggak pa-pa kok mbak, dari pada di manja ntar nggak sembuh-sembuh tangan Arinda”
“Kamu ya, ngeyel mulu kerjaannya?”
cantika gemes melihat Arinda, mereka menikmati sarapan pagi itu dengan tenang.
“O ya mbak, semalam tuan Ansel telepon mbak dan.....” ucapan Arinda terhenti saat Cantika menyemburkan minumannya ke wajah Arinda yang baru saja diteguknya.
“eh sorry...sorry Rin” Cantika segera mengucapkan maaf pada Arinda yang menyeka air yang di semburnya.
Arinda berjalan ke wastafel untuk memebersihkan muka dan mengelapnya dengan handuk.
“mbak kenapa kaget ampe nyemburin air sih? Emang Arin kerasukan apa pake acara sembur-semburan” kata Arinda memanyunkan bibirnya.
“Hehehe, maaf Rin. Mbak beneran nggak sengaja, tadi kamu bilang apa?”
Terdengar bunyi Nada dering dari grup idol korea BTS kesukaan Cantika
Oh my my my, oh my my my
I've waited all my life
네 전부를 함께하고 싶어 (Aku ingin bersama kalian semua )
Oh my my my, oh my my my
Looking for something right
이제 조금은 나 알겠어 (Sekarang saya mengerti sedikit)
“Panjang umur tuh tuan Ansel, baru aja di omongin udah telepon mbak” goda Arinda dengan menaik turunkan alisnya.
“Apaan si Rin!!” Cantika langsung mengangkat telepon dari Ansel.
Cantika melangkahkan kakinya menuju kamarnya, tepat di depan kamar langkahnya terhenti saat Arinda memanggilnya.
“Mbak bentar” panggil Arinda
Cantika sedikit menjauhkan ponselnya
__ADS_1
“apa?”
“Tolong sampein ama tuan Ansel kalo konsep acaranya udah di perbarui, tanyakan kapan bisa konsep ini kita perlihatkan ke tuan Daniel” kata Arinda ingat jika hari ini weeken. Mayoritas perusahaan banyak yang tutup.
“oke ntar mbak tanyain. Coba kamu periksa lagi konsepnya ya”
“Oce mbak”
Arinda duduk di ruang tv, menyalakan laptopnya. Kembali ia memeriksa konsep yang dibuatnya bersama Cantika semalam.
“Oke semua udah beres” kata Arinda setelah memastikan semua konsep sudah bagus.
Ting tong....ting tong
Terdengar bel berbunyi, Arinda berdiri dan melangkah ke pintu apartemen Cantika. Arinda melihat tamu yang datang melalui intercom doorbell, lalu di membukakan pintu.
“Lama amir sih cin. Gerah akika nungguin” Maya menyelonong masuk duduk di sofa depan TV.
“Dari mana May, tumben pagi udah muncul di sini”
“setan kali akika, dibilangin muncul begitu”
“Ya lu kan sebangsanya, datang tak di jemput pulang tak di antar” canda Arinda.
Dengan cepat Maya melayangkan cubitan gemas ke pipi Arinda.
“Aduh aduh sakit Maya, ntar pipi gue chubby. Trus lu malah malah bilang gue kegemukkan” protes Arinda memegang pipinya.
“Abis akika makin gemes ama yey, btw bussway Cantika mana?”
“Gemes sih gemes tapi jangan pipi juga keules. Mbak tika lagi di kamar, lagi trima telepon”
“ooo” Maya ber o ria
“Ntar gue ambilin minum dulu” Arinda berdiri melangkah menuju dapur mengambilkan minuman untuk Maya.
Arinda meletakkan minuman di atas meja yang langsung di sambar oleh Maya yang sudah sangat kehausan.
“pelan-pelan mak. Lu kayak abis lari keliling stadion”
“emang iya, akika abis lari tadi tapi nggak ampe keliling stadion. Gimana ama tangan lu?” tanya Maya.
“ Aduuh....untung lu ingetin may, gue lupa buat ganti perban”
“Udah cepat ambil sana obat ama perban barunya. Biar akika yang pasangin”
Arinda masuk ke kamarnya untuk mengambil perban baru dan obat salep untuk lukanya.
*************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗