Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 165


__ADS_3

Ansel menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Arinda berwajah seperti itu. Sean sangat terkejut saat mendengar cerita Ansel di mana ada seseorang yang berusaha untuk mencelakai Arinda.


Daniel diam menatap istrinya yang terlihat sangat ketakutan. Dia menenangkan dengan memeluk dan mengusap lembut punggung istrinya.


Daniel larut dalam pikirannya dia merasakan ada kejanggalan. Sewaktu berjalan keluar bandara dia sempat melirik ke arah Jeni melihat ke arah kerumunan media dan fans.


Aku yakin jika ada yang salah dengan wanita ini. Entah kenapa saat melihat sorot matanya, aku merasa mengenalnya Daniel tenggelam dalam pikirannya.


Lampu ruang operasi telah mati, pintu yang semula tertutup terbuka saat para perawat mendorong bankar jeni menuju ruang perawatan. Arinda perlahan melepaskan pelukan Daniel dan segera menghampiri dokter yang baru saja mengoperasi Jeni.


“dokter, bagaimana dengan ke adaannya?” Arinda tampak sangat khawatir, Daniel merasa kesal saat Arinda lebih memperhatikan Jeni.


“alhamdulillah operasi nona itu berjalan lancar. Sekarang Kondisi nona itu baik-baik saja dalam beberapa hari ini dia sudah bisa pulang” jelas dokter itu yang terpesona dengan Arinda, dia bernafas lega mendengar penjelasan dokter itu.


Dokter itu menatap Arinda dan tersenyum manis padanya. Daniel menyaksikan semua itu mulai menunjukkan rasa cemburu, dia lalu menghampiri Arinda dengan memeluk pinggangnya.


“sayang, ayo kita ke ruang nona Jeni untuk berterima kasih” dengan posesif Daniel memeluk pinggang Arinda, membuat dokter yang terpesona dengan kecantikan Arinda menatap ke arah Daniel.


“iya sayang. Ayo kita ke sana. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya” Arinda menatap jke arah Daniel.


Tuan Daniel.... jadi perempuan ini istrinya tuan Daniel wajah dokter itu tampak pias saat mengetahui jika perempuan yang sempat membuatnya terpesona adalah perempuan milik Daniel.


“kalo begitu kami permisi dokter” pamit Arinda yang akan melangkahkan kakinya menuju ruangan Jeni alias Alexa. Daniel mengiringi langkah Arinda, menghampiri Ansel dan Sean yang berdiri tidak jauh.


“Sayang, kamu duluan saja ke ruangan Jeni. Aku akan ke ruangan Arvin sebentar” Daniel meminta Arinda pergi ke ruangan Jeni terlebih dahulu.


“Arvin di sini juga?” Tanya Arinda tidak mengetahui kondisi Arvin. Daniel memberi kode pada Sean untuk tidak mengatakan apa pun pada Arinda, dia tidak ingin membuat istrinya semakin khawatir.


“iya Rin, dua hari ini dia di rawat karena... karena usus buntu” Sean memberi alasan yang logis dengan luka pada Arvin,


“kalo begitu setelah aku menjenguk nona Jeni, aku akan menyusul ke ruangan Arvin” Kata Arinda yang di angguki langsung oleh suaminya.


“Sel, telepon body guard kemari untuk menemani Arin ke ruangan Jeni” perintah Daniel, membuat Arinda tidak setuju.


“sayang, aku hanya ke ruangan Jeni dan itu masih di rumah sakit ini, aku tidak mau harus di kawal oleh bodyguard” tolak Arinda.

__ADS_1


“sayang aku tidak mau kejadian seperti di bandara, jika body guard mengawalmu aku merasa tenang” Alasan Daniel tidak bisa di bantah oleh Arinda. Dia juga masih merasa sedikit takut saat ada orang yang menembakkan senjata ke arah mereka.


“baiklah...” Arinda mengalah dia tidak ingin membuat Daniel khawatir.


Ansel segera menyuruh body guard menemani Arinda menuju ruang perawatan Jeni.


Daniel, Ansel dan Sean menuju ruangan Arvin, Yuda masih asyik dengan laptop miliknya memeriksa latar belakang Lutfi yang mencari gara-gara dengan mereka.


Zico dan Reno berbicara serius dengan Arvin tentang peristiwa penyerangan markas mereka. Pintu kamar Arvin terbuka oleh Ansel, Daniel dan Sean.


Merek berempat yang berada di ruangan itu melihat ke arah Daniel dan yang lain masuk dengan wajah sangat serius.


“wiiidiiih... bos besar udah pulang honey moon, gi mana bro malam pertamanya?” Arvin langsung menggoda Daniel di balas dengan tatapan tajam olehnya.


“sepertinya kamu sudah sembuh, tentunya sudah bisa melakukan pekerjaan yang akan kita diskusikan sekarang” Daniel menatap Arvin semual tersenyum berubah sedih bin merana mendengar perkataan Daniel,


Apes banget dah...maksud hati ingin menggoda cecunguk ini, malah di kasih kerjaan, raja iblis bin raja tega umpat Arvin dalam hati.


“kenapa diam? Kamu tidak senang? Kalo begitu Sel!!!” Daniel mengancam Arvin dengan membatalkan kontrak kerja sama mereka.


“Sean, kenapa otak dia tidak kamu operasi langsung biar dia bisa pintar dalam mencari wanita yang tidak akan memanfaatin dia” Daniel memukul telak Arvin, dia tahu jika Arvin yang menjadi playboy sering di manfaatkan oleh perempuan.


Mereka langsung tersenyum senang dan bersalaman sambil memeluk, wajah Daniel kembali serius saat dia melepaskan pelukannya. Dia sangat geram melihat kondisi Arvin sahabatnya,


Kurang Ajar Lutfi, akan ku buat kamu dan wanita lacknat itu membayar semuanya Daniel terlihat serius dan dingin. Sean mulai bertanya perihal peristiwa di bandara yang di ceritakan Ansel.


“Dan, sebaiknya kita langsung ke inti permasalahan. Sebenarnya kenapa lu tiba-tiba di serang di bandara? Kagak ada yang akan mengambil resiko dengan melakukan penembakkan di depan umum” Sean juga merasakan ada kejanggalan dari peristiwa yang terjadi di Bandara.


“siapa yang berani nyerang lu Dan?” Arvin terkejut mendengar cerita Sean.


“kita tidak tahu siapa yang menyerang. Saat itu kondisi bandara sangat ramai dan semuanya terjadi begitu cepat” jelas Ansel. Daniel melihat ke arah Yuda dan duduk di sampingnya.


“Yud, kamu hack CCTV bandara sekarang, aku mau lihat rekaman CCTV saat kejadian tadi” pinta Daniel pada Yuda, dia lalu menatap ke arah Arvin yang sedang duduk menyandar ke kepala ranjangnya.


“Vin kerahkan anak buah kamu menuju bandara sekarang, saat kami meninggalkan bandara polisi sudah mengepung tempat itu. Cari informasi sedetail mungkin, bila perlu tanyakan juga pada polisi” pinta daniel pada Arvin.

__ADS_1


“kalian dengar, segera laksanakan. Jangan lupa cari juga info kasus yang pernah menyeret Lutfi pada pihak polisi” Arvin memberi perintah pada Zico dan Reno.


“baik bos” mereka berdua segera meninggalkan ruangan Arvin untuk menjalankan perintahnya. Daniel menatap Arvin dengan tanda tanya di benaknya.


Arvin tahu jika Daniel penasaran, menjelaskan maksudnya menyelidiki Lutfi.


"gue ingin tahu kasus apa saja yang pernah membuat lutfi Berurusan dengan kepolisian dan siapa yang menjaminnya?" kata Arvin pada sahabat-sahabatnya


Tidak berapa lama Yuda berhasil mendapatkan video CCTV bandara saat terjadinya penembakkan. Mereka berempat kecuali Arvin melihat rekaman video yang di putar, terllihhat beberapa orang menyusup dan mulai mengarahkan senjata api pada Arinda.


Daniel memperhatikan gerak-gerik Jeni yang berjalan di belakang mereka, tidak ada tindakan yang berarti dan mencurigakan darinya.


***


Arinda duduk di kursi samping ranjang Jeni, dia menatap pramugari itu yang masih terlelap dalam tidurnya. Perlahan-lahan mata Jeni, dia mulai memperhatikan di sekelilingnya, dia melihat Arinda yang tersenyum manis padanya.


“kamu sudah sadar?” Arinda menatap senang Jeni.


“nona, anda di sini?!” Jeni terkejut saat melihat Arinda.


“aku kemari sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih padamu yang sudah menyelamatkanku dari peristiwa tadi” kata Arinda dengan tulus pada Jeni.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...

__ADS_1


__ADS_2