
Kali ini pertahanannya telah runtuh, dia sudah tidak dapat menahan hasratnya yang begitu menggebu. Satu persatu pakaian yang sudah basah kuyup di lepaskannya, Vivi mundur ke belakang di mana pintu kamar mandi terbuka saat dia akan keluar.
“cowok Psycho, kamu mau ngapain?” Vivi terlihat gugup, sudah berbulan-bulan sejak Marcus di tangkap polisi, Vivi tidak pernah tidur dengan siapa pun.
Arvin mengabaikan apa pertanyaan Vivi, dia melangkah maju mendekati Vivi yang terus mundur hingga kakinya terbentur dengan ranjang milik Arvin. Dia melihat Arvin yang sudah seperti bayi yang baru di lahirkan, tong sky siap bertempur.
Arvin segera memeluk tubuh Vivi dengan erat, mencium bibir dengan sangat ganas membuat Vivi gelagapan. Tangannya aktif membelai setiap jengkal tubuh seksi Vivi, pakaian yang di kenakannya entah kapan terlempar di lantai kamar Arvin. Kini tubuh Vivi tersisa dua pengaman yang menutupi dua aset miliknya. Mata Arvin sudah berkabut dengan hasrat yang menggebu-gebu akibat pengaruh obat.
Di saat bersamaan Yuda datang mampir ke apartemen Arvin untuk memberi laporan tentang restoran. Dia lalu membuka pintu apartemen Arvin dengan kunci yang di milikinya.
“Cowok Psycho, mau ngapain kamu” Terdengar oleh Yuda suara perempuan asing. Dia segera menghampiri kamar Arvin yang ternyata tidak terkunci.
Yuda terkejut saat melihat Arvin bersama perempuan yang tidak di kenalnya, dia termenung melihat Arvin yang bertindak sedikit terburu-buru.
Kenapa dengan Bang Arvin? Gua nggak pernah liat dia kacau seperti ini guman Yuda segera menghampiri Arvin yang sudah gelap mata.
Dengan cepat Yuda memukul tengkuk Arvin hingga dia tidak sadarkan diri, jatuh meni**ih Vivi. Hal itu sengaja dia lakukan karena Yuda tahu bagaimana karakter bosnya, sebejat-bejat sosok Arvin dia tidak akan pernah tidur dengan perempuan.
“lu siapa? Kenapa bang Arvin bisa seperti itu?” tanya Yuda menatap wajah Vivi yang masih shock.
Yuda mengangkat tubuh Arvin dari tubuh Vivi, meletakkan kepalanya ke atas bantal empuk milik. Dia meraih selimut tebal dan mulai menyelimuti tubuh Arvin, Yuda terkejut saat melihat tong sky milik Arvin masih aktif walaupun si tuan jatuh pingsan.
Vivi segera bangkit dari tempat tidur, mengambil bajunya yang tergeletak di lantai kamar Arvin. Dia bergegas memakai bajunya, Yuda menatap tajam penuh selidik perempuan di hadapannya.
“woi, lu belom jawab pertanyaan gua. Kenapa lu bisa ada di sini?” tanya Yuda sekali lagi mencoba mengingat di mana dia pernah melihat Vivi.
“aku... aku di bawa Arvin kemari, katanya dia akan mengantarku ke apartemen setelah menyelesaikan kepentingannya. Tidak tahunya dia malah seperti ini, dari yang aku lihat sepertinya di terkena obat perang**ng yang sangat kuat. Lebih baik sekarang kamu memanggil dokter sebelum semuanya terlambat” jelas Vivi, Yuda menatap tajam pada Vivi.
“Pasti lu kan yang ngasih obat ke abang Arvin. Ngaku aja lu” tuduh Yuda.
“apaaa?? Apa mata kamu buta? Kamu melihat sendiri bagaimana keadaanku saat kamu sampai tadi, Kalo aku mau celakain dia udah dari tadi aku tidur ama dia” ketus Vivi yang tidak terima di tuduh oleh Yuda.
Dia selesai mengenakan bajunya lalu melangkah keluar dari kamar Arvin yang masih tidak sadarkan diri, sebelum keluar dari kamar Arvin Vivi menatap tajam dengan wajah yang sangat kesal pada Yuda.
Benar juga kata ni cewek, kalo memang di mau bikin abang Arvin celaka. Sebelum gua datang tentunya mereka sudah melakukannya Yuda menatap Vivi melangkah pergi meninggalkan kamar Arvin.
__ADS_1
Yuda segera menyusul Vivi yang sudah di depan pintu apartemen Arvin,
“sekarang dari pada kamu mencurigai ku terus lebih baik telepon dokter, sebelum semuanya terlambat. Nyawa dia dalam bahaya jika tidak segera di tangani” Ujar Vivi membuka pintu Apartemen Arvin. Dia segera pergi dari apartemen itu meninggalkan Yuda yang masih memikirkan di mana dia pernah bertemu dengan Vivi.
Rasanya gua pernah liat ni cewek, tapi di mana ya? Guman Yuda yang terus melihat Vivi melangkah cepat menuju lift.
Yuda segera menghubungi Sean dan menceritakan apa yang hampir di lakukan Arvin. Sean terkejut mendengar cerita Yuda segera memutar balik mobil milik Evan melaju menuju apartemen Arvin.
Di tengah jalan menuju apartemen Arvin, Sean mampir ke apotek terdekat untuk membeli obat-obatan yang dibutuhkannya. Dia kembali ke mobil lalu melajukan mobil milik Evan dengan kecepatan tinggi.
Yuda masuk ke kamar Arvin, dia mengambil pakaian Arvin lalu memakaikannya pada bosnya. Dia melihat wajah Arvin yang tidak sadar merona merah seperti tomat, nafasnya tidak beraturan dan seluruh tubuhnya terasa sangat panas.
Tidak berapa lama Sean datang, setelah memarkirkan mobilnya dia bergegas menuju lift menekan tombol ke lantai apartemen Arvin.
Pintu lift terbuka, Sean segera bergegas ke apartemen Arvin dengan paper bag di tangannya.
Tok...tok....tok...
Sean mengetuk pintu Arvin, lalu menunggu sebentar Yuda membuka pintu.
Yuda membuka pintu merasa lega karena Sean sudah datang,
“Alhamdulillah, abang udah datang” yuda segera mempersilahkan Sean masuk.
“Arvin di mana?” tanya Sean.
“Bang Arvin di kamarnya bang, dia kelihatan sangat kesakitan bang. Gua baru aja mengompres keningnya, keadaannya cukup mengenaskan” ucap Yuda mengikuti Sean di belakangnya.
Sean masuk ke kamar Arvin di mana dia sudah terjaga sambil memegangi dadanya, Arvin tampak sangat kesakitan.
Bulir-bulir keringat membasahi kening dan seluruh tubuh Arvin yang sudah sadar dari pingsannya. Arvin menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang berusaha mengatur nafas agar rasa panas dan sakit di tubuhnya bisa berkurang
Sean dan Yuda tampak sangat prihatin dengan kondisi Arvin yang mengenaskan.
“Sejak kapan dia seperti ini?” tanya Sean sambil berbisik kepada Yuda.
__ADS_1
“Gua datang dia udah seperti ini saat bersama cewek itu bang, lepas kontrol gitu. Tapi rasanya gua pernah liat tu cewek” bisik Yuda mengingat keadaan Arvin saat dia tiba.
“Cewek?” tanya Sean heran kembali menatap Arvin yang juga menatapnya dengan tatapan sayu.
Apa bocah ini bawa si Vivi ke sini? Sean mencoba memeriksa Arvin yang sudah sangat kesakitan, mengecek suhu tubuhnya dengan memegang kepalanya. Dia mengeluarkan obat-obatan dari paper bag, mengambil sebuah suntikan berharap bisa menenangkan kondisi Arvin.
“Vin, gi mana keadaan lu?” tanya Sean memeriksa nadi di pergelangan tangan Arvin.
“Badan.... hah.... hahh.... gua.... Rasanya... Panas.... Gua... Udah ... Coba berendam di air... Dingin... Tapi nggak ada.... Perubahan.... Badan gua... Dan si tong... Sky... Makin... Bandel....” dengan terbata-bata Arvin menjelaskan apa yang di rasakannya pada Sean, Jantungnya berdetak tidak karuan.
“Lu ya, masih sempat-sempatnya bercanda seperti ini” ujar Sean kesal juga panik.
“hah.... Hah.... Lu... Kira... Gua.... Bisa... Canda... seka..rang...” Arvin mengodekan matanya pada Sean ke arah bawahnya. Mata Sean membulat sempurna melihat alat tempur yang siap untuk perang.
Yuda begitu prihatin dengan kondisi Arvin, ingin dia menolong tapi tidak tahu harus bagaimana.
“selanjutnya gi mana bang?” tanya Yuda. Sean menyuntikkan suntikan yang berisi cairan obat penenang dan obat penawar untuk obat perang**ng yang sudah di minum Arvin.
*************
dear para readers...
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1