
Maya ikut membantu Arinda untuk melakukan persiapan heran melihat dia berdiri mematung di tempatnya.
“Woi... Kalo mau jadi manekin di tempat akika aja. Sekalian akika bisa dandani lu pake baju macem-macem” kata Maya menyadarkan Arinda dari lamunannya dengan sedikit berteriak di telinganya.
“Astagfirullah May, lu nggak bisa ya lembut dikit. Budeg kuping gue jadinya”
“Ya elu bengang bengong, jangan salahkan akika dong nyadarin lu yang pikirannya entah kemana. Tu anak buah lu dari tadi manggilin lu nggak di gubris sama sekali”
Arinda menatap ke arah salah satu anggota teamnya,
“oopsss sorry, nggak fokus. Ada apa?” tanya Arinda pada anggota teamnya.
“Makanya jujur aja, kalo hati lu udah kecantol ama...” ucapan Maya terhenti saat mendapat tatapan tajam dari Arinda.
Maya mengangkat dua jarinya dengan mengatakan peace. Arinda menghela nafasnya, dia kembali fokus mendengar ide anggota teamnya.
***
Mobil mewah terpakir di pelataran rumah Sakit Arsen Medical,
“Pak Yanto balik aja ke Mansion. Ntar Davira minta di antar kak Sean balik ke Mansion”
“ Baik nona muda” kata pak Yanto lalu melajukan mobil mewah itu kembalk ke Mansion.
Davira masuk ke dalam Rumah sakit Arsen Medical, melangkahkan kakinya ke ruangan Sean.
Davira melihat seorang pearawat di luar ruangan Dr. Sean,
“Pagi menjelang siang suster” sapa ramah Davira.
“Pagi juga nona, ada yang bisa saya bantu?”
“Dr. Sean nya ada?”
“ada nona, Tapi maaf beliau masih memeriksa pasien di bangsal pasien, apa nona ini nona Davira?”
“Iya, saya Davira”
“ kata Dokter Sean anda bisa menunggu di dalam ruangannya”
“Oke, terima kasih ya suster”
Davira membuka pintu ruangan kerja milik Sean, lalu duduk di bangku yang tersedia.
Tidak selang berapa lama, Sean kembali ke ruangannya setelah selesai memeriksa pasien.
“Dok, nona Davira sudah menunggu anda di dalam” kata perawat pada Sean.
“oke, terima kasih” dokter Sean melemparkan senyuman mautnya membuat pipi perawat bersemu merah.
Senang deh gue bisa kerja sama dokter Sean, udah ganteng banget baik pula. Tapi nona tadi ada hubungan apa ya sama dokter Sean, kok gue jadi kepo ya guman perawat senang dalam hati.
Ceklek....
Pintu ruangan Sean dibuka olehnya. Davira tersenyum manis pada dokter Sean yang baru masuk.
“hai kak sean” sapa Davira
__ADS_1
“hi vira, kapan sampai dari KO?” sean duduk di kursi kerjanya.
“Baru tadi pagi kak, ada yang mau vira tanyakan ke kak Sean”
“Tanya apa,Vir?”
Davira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang di pakainya, lalu membuka foto yang diambilnya tadi.
“kakak kenal dengan perempuan yang di foto ini?” Davira memberikan ponselnya pada Sean.
Sean tertegun melihat foto seorang perempuan di ponsel Davira.
“Ini kan!!! Ini kan foto Arinda”
“Arinda?”
“Kamu ingat kan kejadian saat Daniel pulang dengan milkshake di wajahnya?”
Davira mengingat saat Daniel pulang dengan keadaan yang mengenaskan.
“Iya aku ingat, trus apa hubungannya dengan cewek ini?”
“Nah, cewek inilah pelakunya”
“Whaaat? Trus cewek ini keadaannya gi mana kak? Trus keluarga bagaimana? Apa keluarganya udah di beri santunan?” pertanyaan demi pertanyaan keluar beruntun dari Davira yang mengenal sosok Kakaknya. Dia tahu kakaknya tidak akan tinggal diam jika ada yang menyinggungnya.
“tenang dulu vir, kalo kamu nanya kayak gini bagaimana kakak mau menjawabnya”
Davira kembali duduk dengan tenang menunggu jawaban dari Sean.
“tadi vira ke kamar kak Dan, buat minjam charger ponsel. Trus nemu ponsel di sana, dari tampilan ponselnya terlihat feminim. Trus vira coba hidupkan, muncul foto cewek bernama Arinda ini”
“Ooo begitu”
“Jangan Cuma oo aja kak, kakak belum jawab pertanyaan vira yang tadi”
“Arinda baik-baik saja, kakakmu tidak bertindak apapun. Malahan kakakmu yang sepertinya...” sean menggantungkan ucapannya, ragu untuk menceritakan pada Davira
“Kak Dan seperti apa kak? Kok gantung gini ceritanya”
“Ini hanya dugaan kami saja”
“Kami?”
“Sebenarnya kak Sean, Ansel dan Arvin, menduga kalo Daniel udah jatuh hati ama Arinda”
Mata Davira langsung berbinar-binar saat mendengar cerita sean. Dia begitu senang ada perempuan yang berhasil mencuri hati kakaknya.
“ Beneran kak?”
“Kami masih belum yakin, kamu tahu bagaimana sifat Daniel jika mengenai soal hatinya. Lebih baik kamu jadi penonton saja ”
Davira mengangguk setuju dengan ucapan Sean,
“o ya kak, kak Arinda ini kerjanya di mana?”
“ Pearl Stars”
__ADS_1
“apaaa? Ciyus kak?”
“ Ciyus lagi vira, Arinda ini event managernya di Pearl Stars. Pesta ulang tahun perusahaan dan pertunangan Darren dia yang mengaturnya”
“Aaaa....” Davira heboh mendengar cerita Sean berdiri dari tempat duduknya melompat lompat ke girangan.
“Vira... Vira... Tenang. Kamu jangan teriak seperti ini nanti..” belum selelsai Sean berbicara pintu ruang kerja langsung terbuka.
“Ada apa dok?” tanya perawat yang mendengar teriakan Davira.
Davira tertawa canggung dan kembali duduk di kursi hadapan Sean.
“Tidak apa apa suster. Kamu bisa kembali ke meja lagi”
“Baik dokter”
Perawat itu kembali ke mejanya dan mengerjakan tugas yang di berikan Sean.
“Maaf kak Sean, vira terlalu bersemangat, nggak sabar nunggu hari H. Setiap acara yang di pegang ama Pearl Stars pasti akan booming di medsos”
“semangat sih semangat, tapi ingat tempat juga. Kalo kamu teriak seperti tadi pasti orang orang akan berpikir yang tidak tidak tentang ku”
“Hehehehe maap ya kak sean”
Sean melihat jam di ruangannya sudah menunjukkan jam makan siang.
“Vir, kita makan siang dulu. Pulang nanti kakak akan antar kamu ke mansion”
“Wah....kebetulan sekali. Pantesan aja cacing cacing di perut vira udah pada demo”
“Kamu mau makan di mana? Di kantin rumah sakit ato salah satu restonya Arvin?”
“restonya kak Arvin aja gi mana kak, udah lama juga vira nggak makan di sana”
“Ya udah yuk”
Sean dan Davira keluar dari ruangan kerja Sean, sebelum pergi dia menitipkan pesan pada perawatnya terlebih dahulu. Setelah urusannya selesai, Sean dan Davira berjaln keluar rumah sakit menuju parkiran mobil Sean.
Mereka berdua menaiki mobil dan pergi menuju ke restoran milik Arvin. Saat melajukan mobilnya Sean melihat ke arah kaca spion mobilnya, dia merasa aneh dengan sebuah mobil hitam yang sepertinya terus mengikuti mobilnya. Davira masih asyik dengan ponselnya dan tidak menghiraukan sekitarnya, Sean pun mencoba mengambil jalan lain. Mobil hitam itu tetap mengikuti mobilnya.
Mobil siapa itu? Sepertinya dari tadi mengikuti kami, aku merasa tidak punya musuh. Jika bukan mengikutiku apa mungkin? Guman Sean dalam hati melihat ke arah Davira.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1