Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 161


__ADS_3

Arinda keluar dari rumah lalu berjalan menuju pantai, beberapa body guard melihat Arinda yang berjalan sendirian menuju pantai.


“nona, anda mau ke mana?” tanya salah satu body guard pada Arinda,


“aku hanya berjalan-jalan di pantai, kalian tidak usah mengikutiku” Arinda meminta para bodyguard untuk tidak mengikutinya.


“maaf nona, tapi tuan muda sudah memerintahkan kami untuk selalu menjaga nona dan mengikuti ke mana pun nona pergi” bodyguard yang lain ikut berbicara.


haadeuh ni para body guard nggak ngerti apa kalo gue juga butuh waktu sendirian Arinda menatap para bodyguard dengan kesal.


“aku hanya berjalan-jalan di sekitar sini, kalian bisa memantauku dari sini. Apa lagi di sini tidak ada orang selain kita” Arinda melangkahkan kakinya menuju pantai.


“tapi... nona...” body guard yang satu tampak kuatir,


“kalian tidak usah khawatir oke” Arinda melangkah menjauh dari para bodyguard dengan cepat.


Para bodyguard ragu mengikuti Arinda yang sudah menjauh dari mereka saling berpandangan kebingungan,


“gi mana kita ikuti?” tanya bodyguard itu pada temannya,


“kita lihat dari sini saja, jika kita ikuti yang ada nona akan marah, dan tuan muda akan...” mereka bergidik ngeri saat membayangkan kemarahan Daniel.


Arinda bermain-main di tepi pantai, membiarkan air laut menyentuh kaki indahnya. Dia menatap dan mengagumi keindahan pulau Arda, menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu melepaskan nafas dengan perlahan. Rambut panjangnya tergerai indah bergerak saat angin memainkan mereka.


Daniel melihat Arinda dari balkon kamarnya sambil menerima telepon dari Ansel, dari kejauhan Dia melihat Arinda yang berjalan mendekati sebuah speed boat yang terdampar di tepi pantai tidak jauh dari kediaman mereka.


“assalamualaikum tuan muda, maaf saya mengganggu karena ada hal yang sangat penting yang harus di laporkan”


“waalaikum salam, sebelum kamu melaporkan apa yang terjadi, pinta Arvin mencek video CCTV yang aku kirimkan sekarang” Daniel mengirimkan beberapa video CCTV ke Ansel.


“maaf tuan muda, sepertinya Arvin tidak bisa bekerja untuk beberapa minggu ke depan”


“kenapa?”


“kemarin markas Arvin di serang oleh beberapa orang terlatih yang bertugas untuk melenyapkan Yoga tuan muda. Arvin terluka dan Yoga berhasil di bunuh oleh orang-orang itu”


Daniel tampak sangat geram dan marah, wajahnya kini tampak dingin saat Ansel mengarahkan kameranya ke Arvin yang duduk bersandar di kepala ranjang.


“wiih bro apa kabar lu? gi mana honey moonnya bro? Udah belah duren lu ya” canda Arvin melihat Daniel menatapnya dingin.

__ADS_1


“siapa yang melakukannya?” tanya Daniel dingin tidak menghiraukan candaan Arvin.


“nyantai bro, sebaiknya lu balik ke IN secepatnya. Karena....” perkataan Arvin terpotong saat Daniel terlihat terkejut dan menghilang dari kamera.


AAAAAAAAAAAAAA.....


Perhatian Daniel teralihkan saat dia mendengar teriakan dari Arinda, dari tempatnya berdiri Dia melihat istrinya jatuh terduduk saat melihat sesuatu di dalam speed boat itu.


Dengan cepat Daniel melompat dari balkon kamarnya ke kolam renang yang cukup dalam di bawah balkon kamarnya, segera dia menaiki tepian kolam renang berlari menuju pantai di mana Arinda berada.


Para bodyguard ikut berlari menuju ke arah Arinda yang memekik ketakutan, mereka takjub saat melihat aksi Daniel yang langsung saja melompat dari balkon kamar tanpa memikirkan keselamatan dirinya.


Arinda terkejut saat melihat apa yang ada di dalam speedboat, dia langsung menutup matanya saat melihat mayat di dalam perahu itu.


Darah berceceran di lantai perahu, mata mayat itu terbuka dengan darah yang keluar dari mata, hidung dan mulutnya. Tubuh Arinda bergetar saat melihat mayat itu, Dia menutup matanya dengan tangan yang bergetar hebat.


“sayang” Daniel dengan basah kuyup duduk di samping Arinda yang gemetar ketakutan. Perlahan Arinda melihat Daniel dari sela-sela jarinya, dia sangat ketakutan langsung memeluk Daniel dengan erat.


“sayang ada apa?” tanya Daniel panik melihat keadaan istrinya.


“di di di di di dalam perahu i i i i i tu” tangan Arinda tampak bergetar menunjuk ke arah perahu yang tidak jauh dari mereka.


Para boyguard sudah berada di dekat mereka dan memeriksa di dalam perahu itu. Mereka terkejut saat melihat mayat itu, salah satu dari bodyguard mengenali mayat itu.


“tenang sayang, aku ada di sini” Daniel melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Dari kejauhan tampak seseorang mengambil foto secara diam-diam ke arah Daniel dan Arinda.


Orang itu tampak kecewa karena tidak dapat memotret wajah wanita Daniel, dia berdiri sangat jauh dari rumah itu.


Daniel menurunkan Arinda di ranjang mereka, tangannya masih bergetar hebat. Para maid melihat iba pada Arinda terlihat sangat pucat dan gemetar, Daniel menyuruh maid untuk mengambil segelas air putih.


“Sayang, minumlah” Daniel menyerahkan gelas yang berisi air putih pada Arinda.


“tenang sayang, minumlah dengan perlahan sayang” Daniel memegang tangan Arinda yang gemetar memegang gelas. Dengan perlahan-lahan dia meminum air yang di terimanya dari Daniel, ketakutan tampak sangat jelas di wajahnya.


“da da daniel.... ma... ma... mayat i i i i tu....” mata Arinda berkaca-kaca, dia lalu memeluk erat Daniel.


“tenang sayang, semuanya akan baik-baik saja. Tenang” Daniel membelai lembut rambut Arinda menenangkan wanitanya terlihat sangat shock.


Para maid turun kembali ke lantai satu berkumpul di meja makan, mereka sangat prihatin dengan kondisi Arinda yang terlihat sangat ketakutan. Mereka juga ketakutan saat mendengar pengakuan Arinda yang melihat mayat,

__ADS_1


Salah seorang body guard mengetuk pintu rumah daniel yang langsung di buka oleh maid ketiga.


“tuan muda Daniel di mana?” tanya body gurd itu.


“beliau di atas sedang menemani nona, apa benar nona melihat mayat?” maid ketiga sangat penasaran langsung bertanya perihal mayat yang dii temukan mereka.


Body guard itu menganggukkan kepalanya dengan wajah serius, maid ketiga menutup mulutnya dengan kedua tangan terkejut dengan pernyataan dari bodyguard.


“lalu di mana mayat itu?” maid ketiga semakin penasaran.


“mayat itu sudah di bawa ke kantor polisi untuk pemeriksaan selanjutnya. Panggilkan tuan muda, ada beberapa hal yang harus aku laporkan pada beliau” Body guard itu tampak sangat serius.


“baiklah, masuk dan duduklah di sana. Aku akan memanggil tuan muda” maid mempersilahkan bodyguard itu duduk di sofa ruang tamu.


Daniel membelai lembut Rambut Arinda yang sudah mulai tenang,


“sayang” Daniel menatap Arinda, matanya tampak berkaca-kaca.


“tenang ada aku di sini”


“a a a aku takut Dan, apa ada pembunuh di pulau ini?” wajah Arinda terlihat ketakutan,


“tidak sayang, kamu jangan takut. Aku akan menjaga dan melindungimu” Daniel memeluk Arinda yang merasa sangat nyaman dan tenang dalam pelukan suaminya.


Daniel teringat dengan VCnya dengan Ansel,


“sayang sebentar, aku ke balkon mengambil ponselku” Daniel melepaskan pelukannya perlahan, Arinda mengangguk dan duduk dengan memeluk kedua kakinya.


Daniel melangkahkan kakinya, menatap layar ponsel yang kini sudah mati. Dia langsung menghubungi Ansel, bertepatan saat itu pintu kamar di ketuk dari luar.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2