
Evan mengetahui jika Arinda di culik juga berinisiatif ikut membantu Daniel mencari keberadaan istri sahabatnya. Dia sangat prihatin atas apa yang telah menimpa Daniel, dia menyusuri setiap jalan melihat ke sekelilingnya berharap ada harapan baru.
Oma Ayu dan Aileen berada di kamar oma Ayu sangat penasaran dengan apa yang terjadi, setiap mereka bertanya tidak ada siapa pun yang menjawab dengan jujur. Aileen semakin penasaran saat mendengar keributan di kamar Daniel,
“ma... Aileen semakin curiga dengan mereka, seperti ada yang mereka sembunyikan. Aileen akan ke kamar Daniel, entah kenapa Aileen merasa tidak tenang”
Oma Ayu hanya menganggukkan kepalanya, Aileen melangkah menuju pintu kamar oma. Saat akan membuka pintu Aileen terkejut saat Amanda akan masuk ke kamar oma Ayu,
“mommy... mommy mau ke mana?” tanya Amanda sambil menggendong putri kecilnya.
“Amanda, mommy mau ke kamar Dan. Kamu temani oma ya bersama Nufaira” ujar Aileen berlalu pergi.
“tapi my... my... “ Amanda akan mencegah Aileen pergi terhenti saat melihat pintu kamar oma sudah menutup.
Aileen mendengar suara begitu keras di kamar Daniel, dia masuk ke kamar Daniel mendapati Michael dan Darren berdiri di samping Daniel dengan tangan masih menempel di dinding. Di depan Daniel ada Arvin dengan keadaan kacau. Aileen semakin terkejut saat mendengar apa yang di sampaikan Arvin pada Daniel.
“Mencari Arin? Ke mana Arin?” Tanya Aileen membuat semua pria yang berada di kamar Daniel terdiam seribu bahasa.
“Daddy, ada apa ini sebenarnya? Apa yang kalian sembunyikan dari mommy” Aileen semakin tidak sabaran.
Mau tidak mau hal yang sengaja mereka tutupi dari Aileen dan oma Ayu, dengan sangat terpaksa Darren menceritakan semuanya.
“My, mommy duduk dulu Darren akan ceritakan semuanya pada mommy” Darren pun menjelaskan apa yang terjadi pada Aileen.
Michael memegangi pundak Daniel, mengajaknya untuk duduk di sofa begitu juga Arvin. Ansel segera mengambil kotak obat di lemari nakas samping ranjang, mengobati tangan Daniel di mana darahnya sudah mulai mengering.
“my, saat ini kami masih mencari tahu di mana keberadaan Arin. Kami sengaja tidak memberi tahu mommy, karena kami tidak ingin mommy panik dan shock” jelas Michael menenangkan istrinya. Aileen tampak sedih dan begitu mengkhawatirkan keberadaan menantunya.
Ansel selesai membalut luka Daniel, Aileen terlihat sangat cemas dan khawatir. Darren duduk di samping ibunya dan merangkul berusaha untuk menenangkan Aileen.
“mommy, jangan khawatir. kami akan berusaha keras menemukan Arin. Allah tidak tidur my, Dia akan selalu menjaga Arin dan keponakanku di mana pun berada” Darren mengusap-usap bahu Aileen.
"Gimana Mommy tidak khawatir Darren, kita sekarang sama sekali tidak tahu bagaimana keadaan Arin. apakah dia baik-baik saja?" Aileen panik dan cemas
“mommy, tenang ya. jangan panik. anak-anak sudah melakukan tindakan, sekarang kita sedang menunggu laporannya saja (michael ikut menenangkan istrinya) my, untuk saat ini jangan beri tahu mama tentang Arin” pinta Michael yang langsung di angguki oleh Aileen.
__ADS_1
“lalu, apakah kalian sudah tahu siapa dalang ini semua?” tanya Aileen.
“kami sedang menunggu laporan dari anak-anak tan...” perkataan Arvin terhenti saat ponselnya berdering dengan nama Sean tertera di sana.
“bagimana Se?” tanya Arvin dengan wajah serius, tangannya segera mengetuk tanda loud speker agar mereka yang ada di kamar Daniel dapat mendengar apa yang di bicarakan Sean.
“menurut hasil autopsi dari semua jenazah, semuanya mati karena keracunan dengan bahan racun yang sama. Racun ini hanya ada di jual di black market, gua suah memberi datanya pada Yuda” ujar Sean, tidak berapa lama ponsel Daniel bergetar di mana nama Yuda tertera di sana yang melakukan video call.
Segera Daniel mengangkat video call itu berharap ada kabar baik,
“bang gua udah menyelidiki dan memastikan semuanya. Dari hasil penyelidikan gua, hanya satu cowok ini yang membeli racun dalam jumlah banyak jenisnya sama persis dengan di temukan bang Sean” Yuda memperlihatkan foto seorang pria yang terasa tidak begitu asing bagi Daniel.
“dia... sepertinya aku pernah bertemu dengannya” ujar Daniel menatap foto wajah pria itu. Mata elangnya menatap tajam ke foto pria itu
“Dia Richard tuan muda, pria ini pernah bertemu dengan tuan muda saat dia mencoba melamar nona Arinda. Saat itu anda langsung mengakuisisi perusahaan miliknya” jelas Ansel.
Kilasan balik langsung tergambar di benak Daniel saat Richard meminta Arinda untuk bercerai dengannya.
“Breng**k, Yuda sudah kamu lacak keberadaan baji***n ini?” tanya Daniel.
“bang Dan, gua dapat informasi dari kepolisian tentang cowok ini” ujar Yuda. Daniel melangkah menuju pintu, Arvin dan Ansel mengikutinya masih ikut mendengar informasi yang di berikan Yuda.
“teruskan” sebelah tangan Daniel memegang handle pintu kamar.
“informasi yang gua dapat, cowok ini di curigai menyebabkan kecelakaan tragis yang merenggut nyawa kedua orang tuanya. Menurut riwayat kesehatannya, dia pernah di rawat salah satu tempat rehab akibat depresi berat” jelas Yuda semakin membuat Daniel khawatir dengan kondisi Arinda.
***
Evan masih melajukan mobilnya di pinggiran kota J, mencari kemungkinan Arinda di bawa ke sana. Dia juga sempat menanyakan kepada beberapa orang di sekitar trotoar, namun hasilnya nihil. Dia lalu menaiki kendaraannya lagi melaju ke jalanan besar, mobilnya perlahan berhenti saat lampu rambu lalu lintas warna merah menyala.
Evan meraih ponselnya menatap layar ponsel bergambar wallpaper foto Arinda, diam-diam dia mengambil foto Arinda saat acara pesta pernikahan Sean.
Walaupun aku tidak bisa memilikimu, izinkan aku untuk mengagumi mu walau hanya melalui foto saja gumam Evan dalam hati. Ponselnya di letakkan kembali ke kotak kecil, matanya melihat ke arah lampu rambu lalu lintas yang masih berwarna merah.
Evan melihat pemandangan di samping kaca pintu mobilnya, ada yang menarik perhatiannya. Sebuah mobil yang hanya berjarak satu mobil di depannya, dia melihat seorang perempuan yang begitu mirip dengan Arinda.
__ADS_1
“Arinda.... Tidak salah lagi, itu Arinda” Evan mengenali sosok perempuan yang sangat di kenalnya.
Arinda mengalihkan pandangannya ke arah pemandangan di luar kaca samping tempat dia duduk. Dia merasa sangat tertekan dan khawatir dengan Richard yang bisa sewaktu-waktu berbuat nekat. Lampu rambu lalu lintas berubah warna menjadi hijau, mobil Richard berjalan lebih dulu. Dengan sigap Evan membuntuti mobil milik Richard dengan hati-hati, tidak lupa dia menghubungi Daniel.
Daniel, Arvin dan Ansel tengah menuju ke lokasi terakhir di mana Richard menyewa kamar, di ikuti oleh body guard Daniel.
Sementara itu Michael dan Darren mengurusi perusahaan Arebeon karena di tinggal sementara oleh Daniel yang fokus mencari Arinda. Ponselnya yang di letakkan di tempat khusus berdering, mata elangnya menatap layar ponsel di mana tertulis nama Evan di sana.
Daniel hanya menatap ponselnya, membuat Arvin dan Ansel bertanya-tanya.
“woi Dan, ni si Evan telepon lu. Napa kagak lu angkat” tanya Arvin.
“menemukan Arin lebih penting dari pada berbicara dengannya” ujar Daniel mengabaikan panggilan Evan.
Ponsel Daniel berhenti berdering, dia fokus kembali ke tujuan awalnya mencari keberadaan istrinya. Tidak beberapa menit kembali ponsel Daniel berdering dengan nama Evan di layar ponselnya.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1