
Taksi online yang di pesan Arinda melaju meninggalkan pelataran Pearl Stars, selama perjalanan pulang Arinda fokus dengan ponselnya. Email dan chattingan wa yang datang silih berganti, jari lentik Arinda dengan lincah menari di layar ponsel miliknya. Membalas satu persatu pesan yang masuk.
Daniel sudah sampai ke penthousenya, saat masuk ke dalam kamar mereka berdua ponsel milik Daniel berdering. Pada layar ponsel tertulis nama Arvin.
“woi bro, lu udah balik aja? Gua dan Sean di kantor lu sekarang” Arvin dengan gaya slengekkan nya menyapa Daniel
“ada apa?” Daniel menanggapi dengan dingin.
“gua mo bicara soal bisnis” Arvin menekankan kata bisnis yang langsung di mengerti Daniel.
“pergi ke ruang kerja bersama Ansel, buka laptop di ruanganku kita pakai skype saja” Daniel duduk di ranjang dengan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Daniel mulai sibuk dengan laptopnya, Arvin juga video call bersama yuda untuk memberi informasi yang baru mereka dapatkan. Dia memasang earphone yang sudah terhubung dengan laptop miliknya agar tidak terganggu dengan suara lain.
“jadi, kebanyakan kasus kejahatan yang di lakukan Lutfi di tangani oleh satu polisi ini?” Daniel menatap foto seorang polisi dengan pangkat tinggi.
“benar bang, dia kombes Wiriya bang. Sebentar bang, gua dapat info baru tentang Wiriya” Yuda segera memberi informasi pada Daniel dan lainnya.
“kombes Wiriya, gilaaaa. Mobil mewahnya hampir menyaingin lu Dan” Arvin tercengang saat melihat harta kekayaan seorang polisi. Mereka curiga dari mana asal harta dari polisi itu, jika hanya dari gaji miliknya tentu tidak akan mampu memiliki mobil semewah itu.
“sepertinya kombes polisi ini mendapat bayaran tinggi dari seseorang sehingga dia bisa memanipulasi kasus yang berkaitan dengan lutfi” Sean ikut berkomentar.
“dalang dari semua ini sangat berhati-hati. Siapa pun yang mengetahui tentangnya akan menemui malaikat maut, orang seperti ini sangat berbahaya” Arvin terlihat sangat serius. Daniel diam dalam pikirannya sendiri,
“Vin, kamu temui komandan Anton untuk meminta bantuannya mengawasi kombes Wiriya. Sel tingkatkan keamanan di Arebeon, jangan biarkan penyusup masuk. Tentunya orang di belakang lutfi berusaha untuk menyusup ke perusahaan. Periksa kembali setiap orang di Arebeon, jangan sampai antek-antek bajin*an itu mengambil kesempatan ” perintah Daniel,
“Baik tuan muda” Ansel menganggukkan kepalanya.
Mobil taksi online yang di naiki Arinda masuk ke pelataran apartemen mewah di kota J. Supir taksi online takjub dengan pengamanan serta gedung mewah kota J.
“mbak sudah sampai” supir taksi online dengan ramah memberitahu Arinda.
“oo, eh iya, sebentar” Arinda melihat ke samping kanan dan kiri mendapati dirinya suah sapai di penthouse mewahnya.
Arinda mengambil dompet dan membayar ongkos taksi online,
“terima kasih ya mas” Arinda turun dari taksi online. Dia melangkahkan kakinya menuju lobi penthouse. Satpam membukakan pintu untuk Arinda fokus dengan ponsel miliknya.
__ADS_1
Dia terlalu asyik membaca pesan-pesan dari teman-temannya. Dengan menunduk menatap layar ponsel Arinda tidak melihat ada orang di depannya.
Brugh...
Arinda menabrak tubuh orang itu dan hampir terjatuh, dengan sigap orang itu menangkap tangan lalu menarik hingga Arinda dalam pegangan orang itu.
“maaaf... saya minta maaf” Arinda mengucapkan kata maaf pada orang yang telah di tabraknya.
“tidak apa-apa nona, ada tidak sengaja. Sebaiknya anda jangan terlalu fokus dengan ponsel anda” orang itu tersenyum pada Arinda yang memberanikan diri menatapnya.
Seorang pria yang sudah berumur dengan badan atletis berdiri di depannya. Rambut panjang berwarna putih terikat ke belakang, wajah tampannya di hiasi dengan kumis dan jenggot berwarna putih tampak rapi.
“saya benar-benar minta maaf tuan, apakah anda terluka?” Arinda sedikit panik saat melihat orang yang di tabraknya sudah berumur.
“sudah tidak apa-apa nona. Anda bisa lihat sendiri jika saya baik-baik saja. O ya perkenalkan saya Marcus, penghuni baru di apartemen ini” pria itu menunjukkan dirinya dalam keadaan baik dan memperkenalkan dirinya. Dia mengulurkan tangannya menjabat tangan Arinda,
“nama saya Arinda, tuan bisa memanggil saya Arin”
Marcus, dalang dari semua peristiwa yang di alami Daniel kini berada di hadapan Arinda. Mereka tampak asyik mengobrol di depan lift yang kini pintunya telah terbuka, mereka lalu masuk ke dalam lift. Marcus menekan tombol lift menuju lantai apartementnya.
“benar, baru beberapa hari ini saya tinggal di kota J. Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan di sini. Dan itu membutuhkan waktu yang lama. O ya anda mau ke lantai berapa?”
“lantai 11”
“ternyata anda tinggal dua lantai di atas saya”
Mereka asyik mengobrol tentang hunian yang mereka tempati. Tidak terasa lift berhenti di lantai apartemen miliknya,
“baiklah Arin, saya duluan” Marcus melangkahkan kaikinya keluar dari lift meninggalkan Arinda sendiri dalam lift. Pintu lift akan segera tertutup, Arinda tersenyum manis pada Marcus.
Arinda... aku tidak menyangka jika kebetulan kita di Apartemen yang sama. Tentunya kelak Kamu akan menjadi bidak catur dengan langkah bagus untukku. Dengan bantuanmu aku akan mendapatkan apa yang menjadi milikku guman Marcus dengan senyuman smirk menuju Apartement miliknya.
Ting....
Pintu lift kini terbuka di lantai penthouse milik Arinda dan Daniel. Dia keluar lalu merogoh tas ransel miliknya mencari kartu kunci.
Ponsel Arinda kembali bergetar, di tatapnya ponsel dengan begitu banyak pesan yang belum terbaca olehnya. Jari lentiknya menggeser layar ponselnya dengan sebelah tangan membuka pintu penthouse. Matanya kembali fokus pada ponsel miliknya, dia masuk ke dalam penthouse .
__ADS_1
Arinda tidak menyadari jika Daniel juga sudah pulang ke rumah sedari tadi. Dia masih sibuk dengan skype dengan Arvin lainnya. Arinda meletakkan tas ransel miliknya di meja, matanya masih fokus dengan ponsel. Sesekali di tersenyum membaca pesan dari teman-temannya dengan lelucon mereka.
Arinda masuk ke kamar tanpa melihat ke atas ranjang mereka, Daniel melihat istrinya yang datang bermaksud akan menyapa. Namun dia mengurungkan niatnya saat Arinda dengan tangan sebelah kanan membuka satu persatu kancing baju kemeja yang di pakainya.
Arinda tidak menyadari Daniel yang duduk di ranjang mereka menatap dirinya. Pesan-pesan dari temannya yang berisi lelucon sukses mengukir senyum di bibir pink Arinda. Matanya tidak teralihkan dari ponsel yang di pegangnya, satu persatu dia melepaskan pakaiannya dengan menyisakan dua lapis pengamanan terakhir di tubuh indahnya.
Mendapat pemandangan indah dan sempurna membuat jakun Daniel naik turun. Arvin dan sahabat Daniel yang lainnya menatap heran Daniel yang fokus menatap ke arah lain.
“Dan, woi... napa lu?” Arvin memanggil Daniel tapi tidak di tanggapi olehnya.
Arinda yang melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi dengan ponsel di tangannya. Dia yang merasa sendiri di rumah dengan santai tidak mengunci pintu kamar mandi.
Setelah memastikan Arinda masuk ke dalam kamar mandi, Daniel kembali menatap layar laptopnya melihat ke arah teman-temannya yang bertanya-tanya sedari tadi padanya.
“Dan, lu kenapa? Apa lu ke sambet jin iprit?” Arvin menatap Daniel dengan lekat. Mata elang itu menatap tajam pada Arvin membuat nyalinya menciut.
“segera laksanakan rencana yang sudah kita buat” perintah Daniel yang segera memutuskan video call mereka.
“Dan... Dan... yaaaaa mati. Kebiasaan banget tu cecunguk. Gua belum selesai ngomong dia udah main matiin aja” gerutu Arvin dengan kesal.
“lu kagak tau ama sifat Daniel, anak ntu kan dari dulu ampe sekarang emang begitu” Sean duduk di sofa ruang kerja Daniel.
Mereka hanya menghela nafas panjang dengan sikap Daniel yang suka seenaknya.
************
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1