
Mata Arinda langsung terbuka, debaran jantungnya masih terasa begitu cepat
Yang di katakan Maya memang benar, setiap nama Daniel terucap jantung ini berdebar untuknya. apa aku benar-benar telah jatuh cinta pada tuan Daniel... kata Arinda dalam Hatinya yang begitu banyak keraguan.
Kembali Arinda teringat saat ibunya masih di rawat di rumah sakit, penghinaan yang di lakukan oleh orang tua sahabatnya. Fitnahan yang hampir membuatnya di DO oleh pihak kampus dan di bully oleh seluruh teman kampusnya. Hingga membuat ibunya yang seharusnya bisa pulang lebih cepat, harus di rawat lebih lama lagi.
Trauma yang membuatnya takut kehilangan ibu, dia sudah kehilangan ayahnya dan Arinda tidak ingin lagi kehilangan ibunya.
Nggak perasaan ini nggak seharusnya gue miliki. Gue nggak selevel dengan keluarga Arsenio yang memiliki nama baik dan terpandang. Jika mereka tahu masa lalu gue saat di fitnah itu, mereka pastinya tidak akan menerima gue lagi. Apa lagi hal itu dapat merusak nama baik keluarga mereka
kata Arinda dalam hati.
Maya melihat ke arah Arinda yang masih diam dan terlihat sedih.
“lu udah dapet jawabannya, trus apelagi sih yang bikin lu nggak menolak tuan Daniel?” tanya Maya.
Arinda diam, setitik bening bagaikan kristal menetes di pipinya.
“gue nggak bisa May, gue nggak mau nantinya gara-gara apa yang terjadi di masa lalu gue membuat semua jadi hancur. Udahlah May, nggak usah bahas ini lagi” kata Arinda mengalihkan perhatiannya ke pemandangan di luar jendela mobil Maya.
“ya udah, sekarang kita ambil semua barang lu di kosan. Hari ini lu musti kudu tinggal seterusnya di apartemen si tika” Kata Maya.
“nggak mau ah gue, kenapa musti gue tinggal di tempat mbak Tika? Nggak enaklah gue nya May” tolak Arinda.
Maya sudah tahu jika Arinda akan menolak, dia segera menelepon Cantika.
Tut...tut...tut...
“Halo, May kenapa?” sapa Cantika.
“Tika, akika kan udah bilang ama lu kalo ni pere sastra bakalan nggak mau. Bagusan lu aja gih yang jelasin” kata Maya.
“Jelasin yang mana May?” tanya Cantika.
“Astaga naga, yang kita bicarain sebelumnya Cantika” Maya mulai gemas pada Cantika
“o iya aku lupa May, soalnya tdi aku lagi bales emailnya cliet jadi kurang fokus” kata Cantika.
“kebiasaan deh, udah lu jelasin ama ni pere sastra sekarang” kata Maya.
“Rin, menurut mbak mulai sekarang kamu tinggal di Apartement mbak aja nggak boleh nolak” kata Cantika.
“Tapi mbak, nggak mungkin dong Arin numpang tinggal di tempat mbak. Nggak enaklah Arinnya mbak” kata Arinda.
“ Enak nggak enak, di enakin aja. Mbak nggak mau dengar penolakan dari kamu. Semua ada alasannya Rin, pertama job kita makin banyak. Semenjak kita sukses megang acara Arebeon Corp. Kita sekarang kebanjiran job. Dan alasan kedua mbak nggak ingin kamu kenapa-kenapa lagi. Sekarang kamu dan Maya balik ke kos-kosan kamu untuk ngambil semua barang kamu yang tertinggal” kata Cantika.
__ADS_1
“tapi mbak...” Arinda yang akan memberi alasan langsung di potong oleh Cantika.
“Nggak ada tapi-tapian. May jangan lupa bantu Arinda buat beres-beres pindahannya ke sini” kata Cantika yang langsung memutuskan sambungan telepon.
“Dah dengarkan kata lu punya bos. Jadi lu kudu musti denger apa kata akika” kata Maya.
“serah lu dah May” kata Arinda yang tidak ingin berdebat.
Mobil Maya melaju menuju ke kos-kosan Arinda, setelah sampai perlahan Maya memarkirkan mobil miliknya. Mereka ke kos-kosan Arinda untuk mengambil barang-barang milik Arinda.
Ibu pemilik kos-kosan menghampiri Arinda yang sedang beres-beres.
“Loh, nak Arinda sedang apa?” tanya ibu pemilik kos
“Eh bu Yuni, Arin sedang beres-beres bu. Karena bos Arin nyuruh buat tinggal di apartemen miliknya, bu” jelas Arin sambil menyalami dan mencium tangan bu Yuni pemilik kos-kosan.
“ jadi nak Arin mau pindah?” tanya bu Yuni.
“Iya bu, maafin Arin jika selama Arin tinggal disini ada berbuat salah ato nyinggung perasaan ibu dan penghuni kos lainnya” kata Arinda.
“ sama-sama nak, ibu jadi sedih nak Arinda pindah. Padahal ibu senang banget nak Arinda ada di sini” kata Bu yuni, tampak rasa sedih di raut wajahnya.
“ Maafin Arin ya bu” kata Arin sambil memeluk bu Yuni.
"insya Allah bu" kata Arinda,
"ya udah silahkan, kamu teruskan. Pa perlu ibj bantuin?" tanya bu Yuni.
"nggak usah buk, sebentar lagi juga udah selesai kok" kata Arinda menolak secara halus.
"ya udah, ibu tinggal dulu ya" kata bu Yuni kembali ke rumahnya. Aribda dan Maya kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda.
Hari telah beranjak mulai petang, Arinda dan Maya sudah menyusun semua barang miliknya dalam mobil Maya. Dia berpamitan dengan pemilik kosan sekali lagi setelah itu Maya dan Arinda pergi menuju apartemen milik Cantika.
“Eh sebelum ke tempat Cantika, kita beli pizza dulu yuk. Sekalian kita pesta pizza di sana” kata Maya.
“ Terserah lu aja May, gue ngikut aja” kata Arinda, mereka lalu menuju cafe pizza langganan Maya.
Maya memarkirkan mobilnya di parkiran Cafe, dia melihat Arinda yang menutup matanya sejenak.
“ Lu napa Rin, sakit?” tanya Maya.
“Nggak May, Cuma capek aja abis beberes tadi. Gue mau tiduran bentar ya” kata Arinda.
“Ya udah Akika mo pesan pizza dulu ya” kata Maya lalu keluar dari mobilnya dengan membiarkan mesin mobil masih menyala.
__ADS_1
Maya memasuki cafe dan melihat-lihat daftar menu pizza kesukaan Arinda, Cantika dan dirinya. Setelah memesan pesanannya maya duduk di meja kosong seraya menunggu pesanannya masak.
Maya melihat sekumpulan muda-mudi yang sedang kumpul di cafe itu. Salah satu dari muda mudi itu ada yang di kenal Maya, merasa ada yang memperhatikannya salah satu dari mereka melihat ke arah maya.
“Kak Maya” kata Davira yang ternyata sedang ngumpul dengan teman-temannya.
“eh bentar ya guys, gue ke situ bentar” kata Davira menghampiri maya.
“Eh siapanya Davira tu? Ganteng pake banget lagi”
“Gantengnya sebelas dua belas ama kakaknya Davira”
“ cowoknya ganteng banget, gue mau kok jadi cadangan”
Berbagai komentar pemuda dan pemudi itu mereka layangkan untuk Maya. Davira menghampiri maya tersenyum padanya, Mereka lalu cipika cipiki dengan gaya Maya yang centil dan gemulai. Melihat hal itu teman-teman Davira terkejut sontak tertawa keras.
“Anj*ng gue kira normal rupanya, ngondek juga. Rupanya tampang nggak jamin”
“lu katanya mo jadi cadangan dia. Udah sana sambar”
“ Ih najis gue mo ama ben***ng gitu”
“Biar di bayar berapapun gue, nggak bakalan gue mau ama ben***ng kaya dia”
Maya dapat mendengar bullyan dari teman teman Davira. Sebenarnya Maya sudah sangat kesal mendengat kata-kata kasar mereka, tapi karena menghargai Davira Maya tidak menanggapinya.
“Kak Maya, kesini sendirian aja?” tanya Davira.
“Nggak cin, ama Arin tuh dia lagi di mobil. Diana kecapekan abis beberes” kata Maya.
“Beberes gimana maksudnya kak?” tanya Davira,
“beberes di kosan diana. Karena kejadian kemaren, Akika dan Cantika kuatir jadi nyuruh diana buat tinggal di apartemen Cantika” jelas Maya.
************
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1