Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 97


__ADS_3

Ansel kembali ke ruangan kerja Daniel dengan membawa mukena untuk Arinda. Dia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, lalu dia meletakkan mukena di samping tas milik Arinda.


Ansel lalu keluar dari ruangan Daniel menuju kamar mandi karyawan. Setelah mensucikan diri, dia kembali keruangan di mana Daniel dan sahabat-sahabatnya menunaikan kewajiban. Diapun ikut bergabung melaksanakan kewajibannya berjamaah bersama Daniel dan Sahabatnya.


Arinda baru saja menyelesaikan ibadah sholat, dia membuka laptopnya dan mulai mengerjakan menyusun konsep pernikahan Darren dan Amanda. Dia tampak begitu serius menatap layar laptopnya, kertas-kertas yang ada di dalam tas laptopnya kini sudah bertebaran di meja dekat sofa yang didudukinya.


Di ruangan lain, Daniel menatap tajam dan dingin ke arah Sean, Arvin dan Ansel yang diam sedari tadi. Daniel duduk di sofa single tepat di hadapan sofa panjang yang di duduki Ansel, Sean dan Arvin. Semuanya hanya diam seperti bocah yang sedang di marahi emaknya, mereka tidak berani menatap Daniel.


“Sean, apa hasil otopsi dari jenazah para penjahat itu sudah menunjukkan jenis racun dan asalnya?” Tanya Daniel pada Sean.


“itu....masih kami selidiki. Racun ini bukan hanya campuran kimia saja tapi ada racun bisa ular juga yang belum kami tahu jenisnya” jelas Sean.


“Gue kira lu di sini untuk melaporkan hasil penelitian lu” sindir Daniel datar, Sean hanya diam dan meneguk kasar air liurnya.


Gue juga manusia Dan, butuh refreshing. Ini salahnya si Arvin langsung main buka pintu aja, kena dah gue kata Sean kesal dalam hati.


“Ini sudah dua minggu apakah sudah ada perkembangan, Vin?” tanya Daniel.


“ hehehe masih belum Dan, sekarang yuda ama gue sedang nyari di database polisi daftar penjahat dari buron ampe tertangkap” kata Arvin cengengesan, Dia langsung terdiam saat Daniel menatap tajam padanya.


“Sel kamu kerjakan berkas proyek kerja sama kita dengan perusahaan Jepang” perintah Daniel.


“baik tuan muda” kata Ansel, dia langsung pamit undur diri untuk segera mengerjakan berkas proyek kerja sama yang di perintahkan Daniel.


Dalam perjalanan ke meja kerjanya Ansel menghela nafas panjang, berkas proyek kerja sama dengan perusahaan jepang tidaklah sedikit.


Alamat lembur dah malam ni, gagal gue mo teleponan ama yayang. Kata Ansel sedih dalam hati.


“karena gue sedang senang, lu pada bisa istirahat hari ini” kata Daniel membuat kelegaan di hati sahabat-sahabatnya.


“tapi...” Daniel diam sejenak menatap sahabatnya.


Tapi... Tapi apa nih. Kenapa perasaan gue nggak enak? kata Arvin dan Sean dalam hati menatap ke arah Daniel.


“ Gue kasih waktu lima hari semua laporan sudah ada di meja gue” kata Daniel menatap dingin pada Sean dan Arvin.


Lima hari, beneran Raja iblis ni. Waktu segitu mana cukup kata Arvin dalam hatinya.


Ini mah bukan senang namanya gerutu Sean dalam hati.


Seakan tahu dengan apa yang di pikirkan Arvin dan Sean, Daniel menatap ke arah mereka,

__ADS_1


“apa waktu lima hari terlalu lama? Kalo gitu” belum selesai Daniel berbicara Arvin dan Sean segera berdiri dari tempat duduk mereka.


“Gue baru ingat ada kerjaan” kata Arvin bergegas pergi


“ kita nokrongnya lain kali aja Dan” kata Sean mengikuti Arvin.


Mereka berdua bergegas meninggalkan ruangan , melangkahkan kaki mereka menuju lift.


“emang cocok dah panggilan raja Iblis buat si Dan. Rasa mau copot jantung gue” kata Arvin masuk ke dalam lift.


“lu sih, main buka pintu aja” kata Sean sewot.


“Ya mana gue tau kalo dia lagi ama Arinda di ruangan. Kita juga biasanya langsung masuk aja nggak masalah” kata Arvin membela diri.


“Nasi udah jadi bubur, ya terima masib aja sekarang” kata Sean pasrah.


"tapi dari yang gue liat tadi, sepertinya mereka berdua sangat dekat. trus kenapa Davira minta bantuan kita buat deketin Arinda dengan Daniel?" tanya Arvin bingung teringat saat Davira menghubunginya meminta bantuan untuk mendekatkan Daniel dan Arinda.


"mungkin mereka belum sedekat yang kita pikirkan" kata Sean.


"trus pemandangan yang kita liat tadi itu apa?" tanya Arvin.


" kita ikuti saja permintaan Davira dan tante Aileen. siapa tahu setelah makan malam besok mereka akan menyusul Darren dan Amanda " kata Sean lagi.


Pintu lift terbuka, Arvin dan Sean melangkah keluar perusahaan Arebeon saat langit sudah mulai di taburi bintang-bintang dan juga bulan menemani. Mereka menuju mobil masing -masing untuk kembali ke rumah dan mengerjakan tugas di berikan Daniel.


Daniel berdiri dari kursinya, melangkahkan kaki menuju ruangan miliknya. Sebelumnya dia meminta Ansel untuk menyediakan makan malam untuknya dan Arinda. Dia ingat dari data pribadi milik Arinda yang menyukai pizza dan milkshake coklat.


“Sel, pesankan pizza ukuran besar, milkshake coklat dan japanese ice coffe di JK sekarang. Sekalian makan malam buatmu dan Diana” kata Daniel.


“Baik tuan muda” kata Ansel segera menelepon JK International hotel.


Daniel masuk ke ruangannya, dia melihat Arinda tampak serius dan fokus memperhatikan layar laptop miliknya. Tidak ingin mengganggu, Daniel kembali duduk di meja kebesarannya melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sesekali dia memperhatikan Arinda yang masih tampak fokus dengan lembaran kertas dan laptopnya. Arinda sama sekali tidak menyadari jika Daniel sudah kembali ke ruangannnya. Dia membuka sepatu high hellsnya dan duduk bersila di dekat sofa tepat di hadapan laptop miliknya.


Daniel hanya tersenyum melihat Arinda yang duduk di bawah dekat sofa,


Dia memang berbeda dengan perempuan mana pun, jarang ada yang mau bersikap apa adanya seperti Arinda... Kata Daniel dalam hati.


Daniel kembali melanjutkan pekerjaannya membaca file-file di atas mejanya.

__ADS_1


Tok tok tok


Terdengar ketukan di pintu ruangan Daniel,


“Masuk” kata Daniel membuat Arinda baru menyadari jika Daniel sudah ada di ruangannya sedari tadi.


Ansel masuk dengan membawa sekotak besar pizza dan minuman kesukaannya.


Pizza , milkshake. Makanan favorit gue waktu sibuk seperti ini. Dari mana ni tuan muda tahu makanan favorit gue? Kata Arinda dalam hati.


“letakkan saja di sana” perintah Daniel pada Ansel untuk meletakkan di meja dekat Arinda bekerja.


“Baik tuan muda” kata Ansel melangkah ke meja tempat Arinda bekerja meletakkan pizza dan minuman di atas meja yang kosong.


Setelah itu Ansel pamit keluar dari ruangan Daniel menuju meja kerjanya.


Daniel berdiri dan melangkah menuju sofa dekat Arinda dengan membawa beberapa file yang di bacanya. Arinda menatap ke arah Daniel yang duduk di sofa dekat dengannya. Daniel meletakkan file di atas meja, lalu meraih tangan Arinda untuk duduk di sampingnya.


“Sebaiknya kamu makan dulu” kata Daniel membuka pizza ke sukaan Arinda.


“Kamu tahu dari mana kalo ini makanan ke sukaanku?” tanya Arinda.


Daniel mengambil sepotong pizza yang masih hangat, lalu menyuapi Arinda yang masih menutup mulutnya menunggu jawaban dari Daniel.


“apakah penting dari mana aku mengetahui apa yang kamu suka atau tidak?” tanya Daniel mulai menyuapi Arinda. Perlahan-lahan Arinda membuka mulutnya, belum pizza itu mendekat ke mulutnya Arinda langsung meraih tangan Daniel untuk mengambil pizza di tangannya.


“aku makan sendiri saja” kata Arinda mencoba mengambil pizza di tangan Daniel.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2