
"iya, saya ingin bertemu dengannya jika di perkenankan" kata Aldo menatap ke arah para bodyguard.
"Mari silahkan masuk tuan,” ajak Ansel menuju rumah sederhana itu, Aldo di persilahkan duduk di ruang tamu sementara dia menemui Cantika di depan kamar Arinda untuk menyerahkan obat. Ansel bingung saat dia masuk ke dalam rumah dia tidak melihat Ifan dan Daniel, dia heran melihat Cantika yang ada di kamar Arinda.
Kemana tuan muda, kenapa Cantika yang menemani nona Arinda? Kata Ansel melihat ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan tuannya,
“ kenapa?” tanya Cantika yang heran melihat Ansel.
“kemana tuan muda? Tadi bukannya beliau sendiri yang menjaga nona Arinda?” tanya Ansel.
“my idol sedang pergi sama adiknya Arin, si Ifan. Katanya sih mau bicara gitu, tapi kelihatannya seperti pembicaraan yang serius” kata Maya baru kembali dari dapur mengambil minuman, lalu menghampiri Cantika dan Ansel.
Ansel hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti, Cantika dan Maya menatap pria yang sedang duduk di ruang Tamu.
“loh cowok itu bukannya anak si emak-emak tukang gibah itu. Kok ada di sini?” tanya Maya pada Ansel.
“tadi aku ketemu di depan, katanya dia mau ketemu dengan nona Arinda” jelas Ansel.
“biar akika yang temuin” kata Maya berlalu menghampiri Aldo. Cantika menatap Arinda yang masih tidur dengan lelap akibat demamnya, dia duduk di samping tempat tidur Arinda menatap wajahnya dengan perasaan iba.
Arin, mbak tahu kamu sangat terluka saat ini. Mbak yakin kamu bisa melewati semua ini kata Cantika dalam hati. Dia keluar sejenak ikut bergabung dengan Maya, Ansel dan Aldo di ruang tamu.
Ifan dan Daniel berdiri berhadapan, Ifan terlihat mengenakan perban strap wrap yang di gunakan untuk melindungi tangan saat berlatih bela diri. Begitu pun Daniel, mereka tampak serius dan menatap tajam satu sama lain,
“aku pinta abang untuk meninggalkan mbak Arin dan jangan pernah lagi untuk menemui mbak Arin”
“hal itu tidak akan pernah terjadi, atas dasar apa kamu melarangku untuk mendekati Arin?”
“kalian terlalu berbeda, aku tidak ingin nantinya keluarga Abang menghina dan menyakitinya mbak Arin karena status kami yang bukan siapa-siapa”
__ADS_1
“hal itu tidak akan pernah terjadi, maaf tapi itu bukanlah alasan yang cukup bagi mu untuk menolakku bukan?”
“ternyata abang cukup jeli juga, aku memang tidak suka ada pria seperti abang yang mendekati mbak Arin. Kebanyakan pria seperti abang hanya mengambil keuntungan dan kesempatan lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Aku sudah melihat begitu banyak pria yang berusaha untuk mendekati mbak Arin memiliki tujuan yang jahat, kecuali bang Aldo yang memang tulus pada mbak Arin”
Daniel merasa kesal saat dirinya di bandingkan dengan pria lain oleh calon adik iparnya. Ifan dalam hati tersenyum senang, dia sengaja memancing kekesalan Daniel dengan menyinggung nama Aldo sahabat Arinda.
“hal itu tidak akan berpengaruh bagiku, jika menurutmu aku tidak serius mari kita buktikan saja bagaimana dengan keseriusan yang ku miliki” kata Daniel mulai terpancing emosi,
Ifan mulai memasang kuda-kuda di depan Daniel yang masih diam menatapnya tajam, dengan cepat Ifan melayangkan tinjunya ke wajah tampan Daniel yang langsung di tepisnya. Perkelahian di antara mereka terjadi, dapat terlihat jelas jika pertarungan itu tidak seimbang.
Daniel harus menahan diri untuk tidak terlalu menyelakai calon adik iparnya, Ifan melayangkan pukulan dan tendangan yang di tangkis Daniel dengan baik. Ifan melihat sebuah celah dan berhasil memukul dan menendang Daniel, bibir Daniel terluka dan mengeluarkan darah.
“hanya segitu kemampuan abang? Sungguh mengecewakan” cemooh Ifan
Daniel hanya tersenyum smirk menanggapi cemoohan Ifan, sudah saatnya bagi dia untuk serius sekarang. Ifan kembali menyerang Daniel dengan gesit, namun Daniel dapat mengimbangi pergerakan Ifan. Dia melihat celah dan segera mengunci pergerakan Ifan hingga dia tersudut.
Ifan tidak ingin menyerah namun dia mengakui jika Daniel memang memiliki ilmu bela diri yang lebih baik darinya. Mereka sudah terlihat kelelahan, namun belum ada di antara mereka yang mau mengalah. Ifan yang tersudut kembali menyerang Daniel, namun serangan itu dengan mudah di balikkan oleh Daniel.
Ini pertama kalinya ada pria yang sungguh-sungguh mencintai mbak Arin, aku sangat senang akhirnya mbak Arin meraih kebahagiaannya kata Ifan tersenyum senang, matanya berkaca-kaca bahagia untuk Arinda.
Daniel menyingkir dari atas tubuh Ifan dan duduk di sampingnya. Sambil membuka perban yang membalut tangannya dia menatap calon adik iparnya menutup matanya dengan lengan kanannya. Daniel tahu jika saat ini Ifan menangis
“menangislah” kata Daniel membelakangi Ifan, dia tahu Ifan tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun. Daniel tahu jika Ifan sangat menyayangi Arinda, dia pun akan bertindak sama seperti Ifan jika nantinya Davira memiliki seseorang yang berarti baginya.
“aku sangat senang akhirnya mbak Arin bertemu dengan abang, aku sekarang bisa tenang karena ada abang yang akan menjaga mbak” kata Ifan masih menutup matanya dengan lengannya.
“kamu tenang saja, mulai saat ini aku akan menjaga Arin. Tidak akan aku biarkan siapa pun menyakitinya” janji Daniel pada Ifan
“aku percaya hal itu, sebaiknya kita kembali sekarang” kata Ifan bangkit dari tidurnya lalu berjalan menyimpan kembali perban strap wrap miliknya dan Daniel ke tempatnya semula.
__ADS_1
Terlihat beberapa lebam di wajah Daniel dan Ifan, sudut bibir Daniel mengeluarkan sedikit darah. Tapi itu semua tidak menjadi masalah karena dia sudah mendapat pengakuan dari keluarga Arinda satu-satunya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah Arinda, saat memasuki pekarangan rumah Arinda sebuah mobil yang tidak di kenal Daniel terparkir cantik di samping mobilnya. Ifan telah dulu masuk ke dalam rumah, Daniel penasaran dengan siapa yang bertamu saat ini.
“Bang Aldo?!” panggil Ifan pada Aldo tengah asyik berbincang dengan Ansel dan Maya. Aldo menghampiri Ifan dan menyalami dan memeluk Ifan.
“sorry Fan, abang baru datang sekarang” kata Aldo melepaskan pelukannya dengan Ifan. Matanya menatap heran wajah Aldo yang nampak lebam.
“wajah kamu kenapa?” tanya Aldo heran, Ansel dan Maya terkejut saat melihat penampilan Daniel tidak jauh berbeda dengan Ifan. begitu juga Aldo yang terkejut melihat Daniel
Jadi dia Aldo, kata Daniel dengan wajah dingin menatap Aldo.
Ansel segera menghampiri Daniel, dia tahu jika saat ini Daniel dalam keadaan kesal. Hal itu terlihat saat wajahnya tampak kesal saat melihat Aldo,
“biasalah bang, laki-laki” kata Ifan santai.
“Tuan muda, saya akan mengobati luka anda” kata Ansel, namun Daniel menolak.
“tidak usah, hanya luka kecil. Bagaimana keadaan Arin?” tanya Daniel menatap ke arah Maya.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗