
Daniel dapat melihat wajah Arinda yang terkejut dan sangat sedih, dia melihat jam pada rekaman itu. Sudah hampir setengah jam Arinda pergi menghilang tanpa jejak,
“Vin, kerahkan seluruh anak buah kamu untuk mencari Arin saat ini juga” ujar Daniel panik dan cemas, dia melangkahkan kakinya menuju mobil sport yang terparkir di halaman rumah sakit Arsen medical.
“tenang Dan, gua udah sebar anak buah gua. Arinda nggak akan kenapa-kenapa” ujar Arvin mengikuti Daniel.
“tuan Daniel, aku akan ikut mencari Arinda” ujar Cantika mengkhawatirkan Arinda.
“sebaiknya lu kagak usah ikut nyari Cantika, Ansel lebih membutuhkan lu sekarang. Biar gua dan Daniel yang mencarinya” Ujar Arvin. Daniel masuk ke dalam mobil sportnya, begitu juga Arvin yang duduk di sampingnya.
“tuan Daniel aku minta maaf karena sudh salah paham pada anda, kabari ku secepatnya jika anda bertemu dengan Arinda” ujar Cantika yang berdiri di samping pintu mobil Daniel. Dia hanya mengangguki kepalanya menjawab perkataan Cantika, dalam hatinya kini dia sangat mengkhawatirkan Arinda.
Sepanjang perjalanan Daniel memperhatikan ke sekelilingnya, jalan trotoar dan setiap perempuan yang berambut sama juga memiliki tinggi yang sama. Arvin dapat melihat bagaimana Daniel begitu mencintai Arinda,
“Dan.... sorry gua udah bikin masalah buat lu dan Arin” ujar Arvin penuh penyesalan.
“itu bukan kesalahan kamu sendiri, aku juga bersalah. Kamu mungkin tidak menyadari jika Arinda sudah berdiri cukup lama di belakang kita dan mendengar semua pembicaraan”
Arvin kembali terdiam dan menatap ke sepanjang jalan berharap dapat bertemu dengan istri Daniel. Dia merasa sangat tidak pada enak Daniel karena perkataannya membuat Arinda menghilang bagai di telan bumi.
Ponsel Daniel bergetar, dia langsung mengangkat dengan menekan salah satu tombol di setir mobilnya. Terdengar oleh Daniel suara Cantika yang memberi tahu jika Arinda kemungkinan ke apartemen Maya. Tidak lupa juga Cantika memberikan alamat Maya, Daniel segera mengarahkan mobilnya menuju apartemen Maya.
***
Arinda melangkahkan kakinya tanpa tujuan, hingga dia tersadar saat melihat ada seorang gadis di depannya yang akan bersiap-siap melompat dari jembatan penyebrangan ke bawah jalanan di mana mobil berlalu lalang dengan kecepatan yang sangat cepat. Wajah gadis itu basah dengan air mata, hijabnya bergerak ke sana ke mari mengikuti arah angin.
Gadis itu sudah akan melompat, dengan cepat Arinda memegang tangannya menariknya kembali ke posisi yang aman.
“apa yang kamu lakukan? Apa yang di pikirkan orang tuamu jika kamu melakukan hal ini” bentak Arinda pada Gadis itu. Matanya yang merah dan sembab menatap nanar ke arah Arinda.
“tahu apa mbak dengan masalah ku, lebih baik saya mati dari pada harus menanggung malu dan dosa” tangis gadis itu.
__ADS_1
“apa dengan kamu mati akan menyelesaikan semua masalah yang ada? Apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan orang tua mu, orang-orang yang menyayangimu mengetahui kematianmu? Mereka akan lebih sedih dan hancur dari pada kamu” Arinda lalu memaksa gadis itu untuk tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan di sesali oleh gadis itu.
Gadis itu kembali berdiri di tempat yang aman, menangis sejadi-jadinya di pelukan Arinda yang lupa dengan masalahnya sendiri. Mereka berdua lalu meninggalkan jembatan penyeberangan memilih untuk duduk di sebuah taman di dekat sana. Arinda merogoh saku celana yang di kenakannya, dia melupakan tasnya yang tertinggal di kamar rawat Ansel. Dia melangkah pergi begitu saja tanpa membawa apa-apa.
Dengan sisa uang yang ada, Arinda membeli minuman untuk di berikannya pada gadis itu agar tenang.
“Aku Arinda” Arinda memperkenalkan dirinya pada Gadis itu. Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan
“Aisyah... Aisyah Hanifah. Mbak bisa manggil aku Aisyah” ujar Gadis itu bernama Aisyah.
“Aisyah... maaf sebelumnya, kenapa kamu bertindak seperti itu? Bukankah kamu tahu jika tindakan yang kamu lakukan perbuatan yang sangat di benci Allah” ujar Arinda. Aisyah merapikan hijab yang di kenakannya, dia menatap Arinda yang juga menatapnya.
Perlahan-lahan di mulai menceritakan apa yang terjadi padanya, entah mengapa Aisyah merasa sangat nyaman berbicara dengan Arinda. Dia juga menceritakan saat pria asing yang menodainya, orang tuanya yang tahu akan hal apa yang terjadi padanya hingga dia di usir. Aisyah selama ini tidak menyadari jika Abinya sudah mengutus beberapa orang untuk memantau keberadaannya.
Aisyah menceritakan status dirinya yang seorang putri dari seorang ulama yang memegang pondok pesantren terbaik di kota J. Saat abinya Aisyah tahu apa yang menimpa putrinya, dia langsung menelepon dan memutuskan hubungan dengan putri semata wayangnya. Terdengar juga isak tangis umi Aisyah yang sangat sedih saat suaminya mengusir dan memutuskan semua hubungan.
Aisyah hancur, dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Air matanya kembali jatuh, Arinda tersentuh merangkul pundak Aisyah untuk menenangkannya. Setelah cukup tenang Aisyah menatap wajah Arinda yang juga tampak terlihat sangat sedih.
“mbak... maafkan aku curhat pada mbak tanpa tahu jika mbak sendiri juga memiliki masalah. Jika boleh tahu apa yang membuat mbak terlihat sangat sedih?” Aisyah menatap Arinda yang murung, setetes air bening jatuh dari mata indahnya. Teringat olehnya kata-kata yang begitu menyakitkan baginya.
“maaf Aisyah, bukan maksud mbak untuk nggak mau cerita dengan mu. Tapi... “ jari lentik Arinda memainkan cincin di jari manisnya. Aisyah menyadari jika Arinda sudah menikah dan permasalahan yang di hadapinya pasti ada sangkut pautnya dengan suami.
“nggak apa-apa jika mbak nggak bisa cerita, Aisyah mengerti mbak” Aisyah ikut memaksakan tersenyum.
“ sekarang kamu mau ke mana?” tanya Arinda pada Aisyah, mendadak Arinda merasakan tubuhnya melayang dan terasa sangat ringan. Kepalanya juga terasa sangat pusing namun di tahannya.
“Aisyah nggak tahu mbak, sudah tidak ada tempat untuk Aisyah pulang, kalau mbak bagaimana?” ujar Aisyah memandangi pemandangan kota.
“mbak sangat ingin pergi dari kota ini, pergi jauh dari sini ke tempat siapa pun yang tidak mengenali mbak” Arinda merasa sangat sedih.
Sepertinya permasalahan yang di hadapi mbak Arinda sangat berat guman Aisyah dalam hati.
__ADS_1
“bagaimana jika kita pergi bersama, ke tempat yang sangat jauh. Kamu mau?” tanya Arinda pada Aisyah yang langsung di anggukinya dengan semangat.
Mereka mulai melangkah pergi meninggalkan taman itu dengan menggunakan motor milik Aisyah. Untuk mendapat modal Aisyah menjual motor kesayangannya, begitu juga Arinda dia merasa sangat berat menjual kalung hadiah pernikahan dari Daniel. namun demi modal untuk memulai hidup baru Arinda terpaksa menjual kalung berlian itu.
Mereka membeli tiket menuju kota TY meninggalkan semua kenangan yang begitu menyakitkan bagi mereka, berharap kelak mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan di kota asing.
Dalam bus yang di tumpanginya, Arinda menatap pemandangan di luar jendela. Hatinya merasa sakit dan pedih teringat dengan ucapan yang di lontarkan oleh Daniel. Air matanya menetes dengan cepat di seka, berharap Aisyah tidak menyadarinya.
***
Daniel melanjutkan mencari Arinda kembali selepas pergi dari apartemen Maya yang terkejut dengan kedatangan Daniel dan Arvin.
“aha... senang banget dech my Idol datang berkunjung” gaya centil Maya. Daniel pun melihat ke dalam apartemen Maya berharap ada istrinya sana.
Maya menatap heran Daniel yang celingak celinguk ke dalam apartementnya.
“issshhh, my idol. Akika ada di sindang. Kok malah liat ke dalam” Maya memasang wajah cemberut karena di abaikan oleh Daniel.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...