Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 304


__ADS_3

“hal apa yang memicu dia melakukan bunuh diri?” tanya Michael.


“Dari keterangan kepolisian, Richard sempat mendengar kabar kalo Arinda kritis dan dia sangat yakin jika nyawa Arinda tidak akan tertolong. Akibat dari keyakinan itu dia mengatakan menyusul Arinda ke alam sana” ujar Arvin lagi, Darren dan Ansel bergidik ngeri mendengar kenekatan Richard yang begitu terobsesi dengan Arinda.


Arvin memperlihatkan beberapa foto pada Daniel, tulisan Darah segar di dinding sel tahanan dari Richard. Dia sengaja melukai dirinya sendiri lalu menulis pesan membuat Daniel begitu geram.


Arinda hanya milikku... Selamanya dia akan tetap menjadi milikku...


“breng**k, mati pun dia masih tidak melepaskan mbak Arin” Ifan tampak sangat geram saat melihat tulisan di dinding sel tahanan Richard.


“Apa yang di lakukan pihak polisi pada jenazahnya?” Tanya Daniel menahan amarahnya.


“Pihak polisi sudah mencoba mengabari pihak keluarga, namun tidak ada satu pun pihak keluarga pun yang mengambil jenazahnya. Sepertinya keluarga besar dari Richard sudah mengetahui jika dialah penyebab kematian dari orang tua Richard sendiri hingga membuat mereka marah besar. Pihak kepolisian tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa menyimpan jenazah Richard sementara di ruang jenazah rumah sakit” jelas Arvin.


Daniel dan lainnya terdiam mendengar nasib tragis Richard, mereka tidak menduga jika dia akan berbuat nekat. Terbesit rasa kasihan di hati Daniel di saat dia mendengar jika jenazah Richard di biarkan begitu saja tanpa ada yang mengurusnya.


Begitu juga Ifan, di hatinya ada perasaan lega dan tenang karena tidak akan ada yang mengganggu kakaknya lagi. Dia juga merasa kasihan pada jenazah Richard yang di buang begitu saja oleh pihak keluarganya.


“Sel, minta polisi untuk mengurus jenazah Richard dan menguburnya dengan layak. Soal biaya pemakamannya Arebeon yang akan menanggung semuanya” perintah Daniel membuat Michael, Darren, Ifan, Arvin dan Ansel terkejut.


“Kagak salah dengar gua?” Arvin mengucek-ngucek sebelah telinganya dengan jari.


“kagak salah bang” sahut Ifan menatap serius Daniel mulai tersenyum memahami maksud dan keinginan Daniel.


"lurus amat lu, kayak penggarisan" cela Arvin pada Ifan namun diabaikan begitu saja.


“kamu yakin Dan?” tanya Michael.


“Daniel yakin Dad, memang Dan sangat geram dengan tindakan bajing*n itu pada Arin. Tapi... nabi kita mengajarkan untuk saling toleransi dengan sesama, memaafkan segala kesalahan almarhum walaupun sebenarnya itu sangat berat bagi Dan. Ini semua demi Arin, jika Arin mendengar hal ini dia pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang Dan lakukan” Daniel menatap ke arah pintu kamar rawat Arinda.

__ADS_1


Ansel, Arvin, Michael dan Darren menatap kagum pada Daniel, mereka tidak menyangka jika pemilik hati juga sikap dingin itu akan bersikap berbanding terbalik. Ifan tersenyum menatap ke arah Daniel, keputusannya menyerahkan Arinda pada Daniel adalah keputusan yang sangat tepat.


Ma.... pa.... Mbak menemukan suami yang baik juga benar-benar tulus mencintainya... semoga mama dan papa tenang di sana... gumam Ifan dalam hati.


Arinda sedang mengobrol dengan Maya dan lainnya mendadak terdiam, hatinya terasa hangat dan damai. Mata indahnya menatap ke arah pintu kamar rawat itu, merasakan jika pemilik hatinya menatap kembali ke arahnya dengan penuh cinta di balik pintu itu.


“kenapa Rin?” tanya Cantika yang ikut menatap ke arah Arinda juga menatap.


“Nggak ada apa-apa mbak” ujar Arinda tersenyum hangat.


“isssh... pere sastra ni, suka bingits ya bikin akika dan lainnya pesanaran” ujar Maya kepo, Arinda hanya tertawa lemah melihat Maya dengan kekepoannya.


***


Daniel dan anggota pria lainnya baru saja selesai menunaikan sholat zuhur berjamaah, mereka berjalan bersama-sama melewati lobi rumah sakit yang saat itu sangat ramai dengan pengunjung.


Semua mata tertuju pada pria-pria tampan yang tengah asyik berbicara, bagaikan selebriti beberapa pengunjung mengambil foto bahkan ada yang berani meminta untuk berkenalan langsung. Walaupun Michael sudah berumur dan memiliki cucu, tapi fisiknya seperti pria yang berumur empat puluhan. Banyak para gadis muda yang mengincarnya berharap bisa di jadikan sugar daddy.


“selamat siang tuan Daniel dan tuan-tuan sekalian” sapa ramah dokter itu. Daniel menatap boks bayi yang ternyata adalah baby twins yang akan di antar dokter menuju kamar Arinda.


“wah... ponakan om Ifan ternyata... hai sayang, kalian bertiga mau ketemu dengan bunda ya?” Ifan menyapa ponakan berbicara pada mereka seolah mereka mengerti dengan ucapan Ifan.


“waaah.... cucu-cucu jagoan opa... dan ini princess opa... pastinya kakak Nufaira akan sangat senang bertemu dengan kalian” Michael menatap bahagia cucu-cucunya yang terlihat sehat.


Pintu lift terbuka, mereka bersama-sama membantu para perawat mendorong boks bayi masuk ke dalam lift. Raut wajah bahagia dari masing-masing mereka sangat tergambar jelas.


“wah dua jagoan ini mirip banget ama lu Dan, liat aja muka betenya mirip banget lu saat marah” cela Arvin, mata Elang itu langsung menatap tajam pada Arvin yang cengengesan.


“baby cantik ini sangat mirip dengan Arinda,” ujar Michael menggendong cucu perempuannya. Darren tidak mau kalah, dia menggendong salah satu baby boy twins itu.

__ADS_1


“semoga kalian semua menjadi anak yang sholeh dan sholehah, menjadi kebanggaan keluarga tentunya bagi daddy dan mommy kalian” doa tulus Darren.


“aamiin” semua dalam lift itu ikut mengaminkan doa dari Darren. Baby boy twins yang lainnya di gendong oleh Daniel, sebelah tangannya membelai lembut pipi mungil, tembam dan lembut itu.


Pintu lift terbuka, mereka semua keluar dari lift melangkahkan kaki menuju kamar Arinda. pintu ruangan VVIP itu di buka oleh Ansel, semua perempuan yang di ruangan itu kecuali Arinda menatap ke arah pria yang baru saja datang.


Aileen mengodekan untuk tidak berisik, karena Arinda tengah terlelap. Dia merasa sangat lelah dan ingin tidur sebentar. Wajah Aileen sangat senang saat melihat ketiga malaikat kecil datang berkunjung.


Daniel menatap istrinya yang terlelap, dia menyuruh para perawat untuk meletakkan boks bayinya di samping tempat tidur Arinda. Dokter anak pun tidak lupa memberi tahu informasi seputar baby, dia memberi tahu jika baby twins sudah mendapatkan imunisasi pertama.


Setelah cukup memberikan penjelasan, dokter anak dan perawat undur diri untuk melanjutkan pekerjaan mereka. Aileen begitu senang bisa bertemu dengan baby twins.


“Darren, sini... mommy ingin gendong juga” Aileen setengah berbisik mendekat ke arah Darren yang menggendong salah satu baby twins.


“sorry mom, kali ini Darren ingin Manda menggendongnya. Siapa tahu kelak kami di percayakan memiliki baby boy” Darren berkata perlahan, dia lalu memberikan baby twins yang di gendongnya pada Amanda duduk persis di samping Oma Ayu. Nufaira kini di pangkuan Darren yang duduk di samping Amanda, mereka memperhatikan salah satu baby boy twins tengah terlelap.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...


__ADS_2