Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep.146


__ADS_3

“ini adalah hadiah kejutan untuk mu, jadi nikmati saja perjalanan kita” Daniel sengaja merahasiakan tujuan bulan madu mereka. Dia ingin membuat bulan madu ini berkesan bagi Arinda yang tampak cemberut.


“apa kamu sengaja menggodaku?” tanya Daniel pada Arinda yang cemberut.


“siapa yang menggodamu, sudah lepaskan tanganmu” Arinda memalingkan wajahnya menatap pemandangan di luar mobil. Dia berusaha melepaskan tangan Daniel yang merangkul pinggang Arinda dengan begitu posesif,


“aku tidak bisa menahan diri melihatmu marah seperti ini” Daniel mengecup pipi Arinda dengan lembut.


ponsel Daniel berdering, dia mengangkat dan menerima laporan jika bandara dalam keadaan steril. Awak media dan fans sudah di atasi dengan baik oleh Ansel dan para bodyguard daniel.


Mobil Daniel berhenti tepat di pelataran Bandara, Daniel mengajak Arinda untuk turun dan berjalan memasuki bandara yang sudah sepi dengan pengunjung. Setelah serangkaian pemeriksaan, Arinda dan Daniel menuju pesawat jetset miliknya.


Mereka langsung di sambut oleh pilot dan beberapa pramugari,


“selamat datang tuan muda dan nona muda, selamat atas pernikahan anda berdua” sapa ramah pilot pada pasangan itu.


“kita berangkat sekarang” perintah Daniel, setelah Sakti meminta pramugari untuk membawa dan menyimpan barang milik Arinda dan Daniel.


“sayang kita duduk di sini” Daniel mendudukkan Arinda di kursi samping jendela, Arinda semakin penasaran lalu menatap Daniel dengan berjuta pertanyaan di benaknya.


“nanti kamu akan tahu kita akan ke mana, sebaiknya sekarang kamu istirahat tentunya kamu letih dengan acara pesta tadi kan?” Daniel menyuruh Arinda untuk beristirahat.


Pilot Pesawat jet Daniel meminta izin untuk lepas landas, setelah mendapatkan izin pesawt langsung take off menuju suatu tempat. Setelah pesawat mengudara di langit Daniel membuka safety belt dia melihat ke arah Arinda yang ternyata sudah terbang menuju ke alam mimpi.


Arinda sangat kelelahan karena acara pesta tadi hanya beberapa menit dia sudah jatuh tertidur, Daniel tersenyum menatap istrinya,


“siapkan kamar tidur’ perintah Daniel pada pramugari pertama,


“baik tuan muda” pramugari pertama segera melaksanakan perintah Daniel masuk berjalan menuju kamar di pesawat jet. Daniel membelai sayang wajah Arinda dengan punggung tangannya, dia merasa sangat bahagia menatap perempuan yang telah mengaduk-aduk perasaannya.


Akhirnya, kita bersatu sayangku. Aku berjanji tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu Daniel mengecup kening Arinda dengan penuh kasih sayang.


Pramugari pertama menghampiri Daniel dan memberi tahu jika kamar telah di persiapkan, dengan hati-hati Daniel membuka safety belt milik Arinda membopongnya menuju kamar yang tersedia. Perlahan dia merebahkan tubuh Arinda di ranjang, tangannya melepaskan sepatu high heels yang di gunakan Arinda. Daniel kemudian ikut merebahkan dirinya di samping Arinda, menjadikan lengannya bantal untuk Arinda menyelimutinya dengan penuh kasih sayang.


“selamat tidur kekasih hati, bidadariku” bisik Daniel di telinga Arinda. Dia pun ikut tertidur di samping Arinda, ikut terbang menuju alam mimpi bersama Arinda.

__ADS_1


Para pramugari juga ikut beristirahat dengan duduk di kursi mereka,


'kamu liat tadi nggak, tuan Daniel kelihatan banget sayang ma istrinya'


"iya, dia malah nggak tega bangunin istrinya. oooo romantis banget, kamu liat nggak waktu akad nikah yang di tayangkan di televisi"


"iya aku juga liat, oooo aku jadi baper, pastinya nona muda bahagia banget"


Kedua pramugari membicarakan Daniel dan Arinda, dari sisi romanti Daniel hingga keberuntungan Arinda yang berhasil meluluhkan hati dingin Daniel.


***


Tepat pukul lima subuh Arinda terbangun dari tidurnya, matanya terbuka dan melihat Wajah Daniel berada tepat di depan wajahnya. Arinda sangat terkejut dan segera bangun, matanya menatap ke sekeliling ruangan. Jantungnya berdetak kencang melihat karya Tuhan yang begitu tampan tidur tepat di sampingnya. Dia baru tersadar jika saat ini statusnya sudah berganti, matanya menatap jari manis yang tersemat cincin pernikahan.


O ya, gue lupa kalo udah nikah ama Daniel Arinda mendudukkan tubuhnya, sebelah tangannya perlahan mengangkat tangan Daniel yang memeluk tubuhnya dan


meletakkan ke atas ranjang.


Arinda bangkit, tangannya dengan cekatan menyanggul rambutnya yang terurai. Dia kembali menyelimuti Daniel dan pergi keluar kamar menemui pramugari untuk meminjam mukena.


“iya nona, ada yang bisa kami bantu?” tanya pramugari kedua.


“saya boleh meminjam mukena?” tanya Arinda,


“di kamar anda sudah tersedia mukena di sana nona, anda bisa memeriksanya di nakas samping tempat tidur” pramugari pertama memberiyahu Arinda,


“o ya, terima kasih kalau begitu” Arinda akan kembali melangkahkan kakinya kembali berbalik ke arah pramugari.


“masih ada yang bisa kami bantu lagi nona?” tanya pramugari pertama,


“itu, bisakan anda membuatkan teh untuk saya dan suami saya?” wajah Arinda merona saat memanggil Daniel suaminya.


“baik nona sebentar lagi akan kami hidangkan” kata pramugari pertama yang mulai membuatkan teh untuk Arinda dan Daniel.


"terima kasih"

__ADS_1


Arinda kembali kekamar memeriksa nakas yang di katakan pramugari tadi, dan benar saja ada prangkat sholat di dalamnya. Sebelum mengambil bersuci, arinda membangunkan Daniel,


“Dan, sudah subuh, ayo kita sholat berjamaah” ajak Arinda sambil mencolek-colek lengan Daniel. Namun Daniel malah semakin lelap dalam tidurnya, tidak habis akal Arinda kembali membangunkan Daniel dengan membelai pipi kanan Daniel. Matanya masih tertutup dengan rapat, upaya terakhir Arinda mengecup pipi Daniel yang membuat mata Daniel terbuka sempurna.


Ternyata saat Arinda meminta membuatkan teh untuk mereka, Daniel telah terbangun dan berpura-pura tetap tidur hingga Arinda berulang-ulang membangunkannya. Saat Arinda menggunakan upaya terakhir sukses membuatnya terbangun lalu menatap Arinda, dapat di lihatnya wajah Arinda tertunduk malu dan membelakanginya.


Daniel duduk meletakkan wajah tampannya di pundak kanan Arinda,


“kenapa kamu memalingkan wajahmu? Hmm” Daniel duduk di belakang Arinda dan memeluknya. Arinda semakin salah tingkah dan semakin menundukkan wajahnya, dia sangat malu dengan apa yang telah di lakukannya. Wajahnya merona semakin membuat Daniel gemas dan ingin menggodanya,


“aku ingin, setiap pagi sayangku ini membangunkan ku dengan mengecupku seperti ini” Daniel mengecup pipi yang merona merah, jantung Arinda berdetak tidak karuan,


“itu... anu... itu ayo kita sholat subuh dulu, nanti keburu waktunya habis” Arinda mengajak suaminya untuk sholat berjamaah.


“baiklah, ayo kita bersuci dulu” ajak Daniel, mereka bertayamum dan mulai melaksanakan ibadah subuh.


Setelah melaksanakan sholat subuh, Arinda mencium punggung tangan suaminya dengan khusyuk. Daniel membelai lembut kepala istrinya yang tertutup mukena, Arinda lalu mengangkat wajahnya Daniel lalu mengecup kening Arinda. Setelah itu mereka keluar dari kamar dan duduk di tempat duduk yang telah di sediakan.


Pramugari datang menghampiri dengan membawa teh dan sarapan pagi untuk mereka, pramugari itu juga memberi info jika sebentar lagi pesawat akan segera mendarat. Arinda begitu antusias dan penasaran di mana mereka saat ini, lampu safety belt hidup menandakan mereka harus memakai sabuk pengaman.


Pesawat mendarat dengan mulus di bandara sebuah pulau, Arinda menatap ke luar jendela pesawat. Pesawat jet Daniel perlahan-lahan berhenti, mereka berdua membuka safety belt. Daniel bangkit dari tempat duduk dan mengulurkan tangannya menggandeng tangan Arinda turun dari pesawat, Arinda menatap ke sekeliling bandara. Dia begitu sangat penasaran dimana mereka saat ini.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2