Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 294


__ADS_3

Davira menghampiri kakaknya, dia tahu jika kakaknya saat ini sangat lelah.


“Kak Dan, Vira akan memulai operasi untuk mengangkat peluru kak Arin. Sebaiknya kakak....”


“tidak Vira, kakak akan di sini bersama dengan Arin” Daniel tetap berada di posisinya.


Davira hanya bisa menghela nafas dengan sifat keras kepala kakaknya, dia pun segera memulai operasi untuk mengangkat peluru di bahu Arinda.


“Sudah tidak banyak waktu lagi, kita mulai operasinya” ujar Davira pada perawat serta dokter yang akan membantunya.


“Tapi dokter Vira, kita masih menunggu kantung....” belum selesai perawat lain berbicara, perawat yang bertugas mengambil darah untuk Arinda kembali.


“dokter ini darahnya” perawat itu segera menyerahkan darah yang di bawanya, Davira segera bertindak dengan cepat. Mereka berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Arinda.


***


Sean menatap hasil foto ronsen, terdengar bunyi dari alat-alat untuk mendukung hidup Evan.


“Dokter, pelurunya...” dokter yang membantu Sean merasa sangat ragu dengan operasi yang akan di lakukan Sean. Peluru itu tepat mengenai bagian vital organ dalam Evan, Sean masih menatapi hasil ronsen itu.


“walaupun kemungkinan itu kecil, selalu ada harapan” Sean bersiap memulai operasi. Perawat yang memantau monitor pergerakan denyut jantung Evan, melihat denyut dan tekanan darahnya semakin menurun.


“dokter, denyut dan tekanan darah semakin menurun” lapor perawat itu. Sean semakin bertindak dengan cepat, namun peluru itu bersarang sangat dalam.


"Dokter, denyut jantung pasien semakin melemah” perawat memberi tahu Sean kondisi Evan semakin melemah.


“van, lu harus bertahan” teriak Sean terus berusaha untuk mencapai peluru itu.


Tiiit... tiiit... tiiit... tiit...


Bunyi alat itu semakin cepat dengan keadaan Evan yang semakin melemah. Sean terus berupaya tanpa mengenal lelah, titik-titik keringat mulai terlihat di keningnya. Perawat lain segera menyeka keringat itu, tangan Sean terus berusaha dengan di bantu dokter lainnya.


TIIIIIIIIIIIIIIIIIT.......


Terdengar panjang suara mesin yang mendukung kehidupan Evan, semua garis yang semula naik turun kini menjadi garis lurus.


“Evan... van.... ( panggil Sean cemas) segera siapkan defibrilator” perintah Sean pada perawat, Alat pun telah siap sedia Sean segera menggunakan alat itu untuk membuat jantung Evan kembali stabil.

__ADS_1


“naikkan volumenya... clear” Sean menggesekkan kedua alat kejut jantung yang sudah di beri gel khusus. Dia menempelkan alat itu ke dada bidang Evan, sekali dua kali hingga ketiga kalinya Evan sama sekali tidak memberi respon.


“dokter Sean” dokter lain yang ikut membantu Sean melihat monitor sama sekali tidak berubah.


“breng**k bangun lu pecundang” Sean kesal, kedua matanya tampak berkaca-kaca. Bahkan air mata yang sudah di tahannya akhirnya menetes,


“Van, kalo lu kagak bangun gua bakalan bikin perusahaan lu bangkrut, bakalan gua bongkar tingkah laku lu saat kita masih sekolah dulu ke anak-anak lainnya termasuk ke Bonyok lu. Bangun kagak lu... ” Sean mengancam Evan untuk segera bangun, matanya tidak henti-hentinya mengeluarkan air mata kesedihan.


“Bajin**n bangun gua bilang, banguuuun... Vaaaaaaaaaan” Sean sangat sedih, semua perawat dan dokter yang ikut membantu merasa sangat prihatin.


“ pukul empat belas waktu setempat, pasien Evan Sanders telah meninggal dunia” Dokter itu mengumumkan jam kematian di mana Evan sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Sean merasa sangat sedih, di tatapnya wajah sahabatnya yang tampak tersenyum bahagia.


Di ruang operasi Arinda dalam kondisi kritis, tekanan darahnya semakin menurun. Davira melakukan segala upaya untuk menyelamatkan kakak iparnya, namun karena kehilangan banyak darah membuat Arinda semakin lama semakin melemah.


“dokter Vira, tekanan darah pasien terus menurun” perawat melihat pergerakan tekanan darah dan denyut jantung Arinda yang tidak stabil.


“Arin sayang, aku mohon... jangan tinggalkan aku. Ya Allah selamatkanlah istri ku ” ujar Daniel menatap istrinya yang sedang di tangani Davira. Dia sengaja memberi ruang untuk Davira melakukan pertolongan pada istrinya,


“Davira....” Daniel menatap adiknya yang mengabaikannya.


“segera siapkan defibrilator” perintah Davira, alah itu pun di persiapkan. Setelah kedua alat itu di beri gel khusus, Davira menempelkan alat itu di atas dada Arinda.


Sekali....


Dua kali...


Ketiga kali....


Sama sekali tidak ada respon dari Arinda, Davira menatap kakaknya lalu menggelengkan kepalanya perlahan. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, dia benar-benar tidak kuasa memberi tahu kakaknya jika Arinda sudah tiada.


“Tidak....tidak.... Arin masih hidup” Daniel menyangkal itu semua, dia segera menghampiri istrinya yang menutup matanya rapat.


“ Ariiin.... saaayang... aku mohon jangan tinggalkan aku dan anak-anak kita. Kami masih sangat membutuhkanmu, kamu adalah separuh nafas dan jiwaku. Jika kamu tidak ada di sisiku, bagaimana aku akan menjalankan hidup” Daniel menitikkan air mata, semua yang hadir di sana juga ikut bersedih. Para perawat perempuan tidak kuasa menahan tangis melihat betapa besar dan kuatnya cinta seorang Daniel pada istrinya.


“kak...” Davira memegang pundak Daniel, sungguh dia benar-benar tidak kuasa melihat kakaknya saat ini. Dia juga merasa sangat sedih karena gagal menyelamatkan kakak iparnya, air matanya menetes ke pipi dia menangis sedih.

__ADS_1


“pasien Arinda Anindira, tepat pukul...” ucapan Dokter Yuki yang akan mengumumkan jam kematian Arinda terhenti saat Daniel melayangkan pukulan tepat di pipinya.


"kak Daaaan" Davira memegangi tangan Daniel akan kembali memukul dokter Yuki.


Para perawat pria dan Davira menahan Daniel agar tidak kembali menyerang Dokter Yuki. Tangan Daniel masih mencengkeram baju khusus operasi Dokter Yuki, amarahnya tampak jelas di mata elang itu.


“Kak Dan, Vira mohon kak Dan tenang. Jika kak Dan lepas kendali seperti ini hanya akan membuat kak Arin semakin sedih” bentak Davira membuat Daniel terdiam. Perlahan-lahan tangan Daniel melepaskan cengkeramannya, matanya menatap Arinda yang tampak seperti tertidur.


“nggak... nggak, Arin masih hidup” Daniel menolak kenyataan.


“kak Dan... Kak Arin... (Davira menggelengkan kepalanya perlahan dengan air mata menetes di pipinya)” Davira menatap Arinda, dia sudah benar-benar tidak kuasa menahan tangisnya.


Daniel di sadarkan dengan kenyataan di mana istrinya saat ini sudah kembali kepangkuan Ilahi. dia begitu sangat kehilangan, wajahnya tergambar kesedihan yang teramat sangat. Daniel sangat kehilangan melangkahkan kakinya mendekat ke arah tubuh istrinya.


“Ariin ... aku mencintaimu... semakin mencintaimu... tanpa batas. aku akan selalu mencintaimu sampai akhir... hikss” Daniel menempelkan keningnya pada kening istrinya, memegangi kedua pipi Arinda. sesekali jari jemari Daniel membelai lembut pipi Arinda Air matanya menetes, jatuh tepat di atas pipi lembut itu.


Tiiit.... Tiiit.... Tiiit...


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


maaf pada semua reader🙏🏻


🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ for all...

__ADS_1


__ADS_2