Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 72


__ADS_3

Penjahat C langsung membuang barang barang yang ada di meja ke bawah lantai. Penjahat C membantu penjahat D membaringkan tubuh Arinda dengan kasar di atas meja.


Penjahat C mengeluarkan pisau belati yang di simpannya, memotong tali yang mengikat tangan Arinda.


Setelah terlepas dengan cepat Arinda melayangkan pukulan dengan tangan kanannya kearah penjahat D, namun tangannya dapat di tangkap penjahat D dan dicengkram kuat.


Penjahat C pun menahan tangan kiri Arinda yang sudah berlumuran darah.


“Hmmm hmmmm” arinda terus berusaha memberontak mempertahankan mahkota yang di jaganya agar tidak di nodai oleh para penjahat yang telah dibutakan oleh hawa nafsu. Kakinya masih terikat terus menerus menendang nendang berusaha melepaskan diri dari ikatan tali.


Kedua tangan Arinda di cengkeram kuat keatas kepala Arinda oleh penjahat C dan penjahat D. Penjahat B menatap liar lekuk tubuh Arinda yang menggoda,


“Tenang saja cantik, lu bakalan menikmati permainan hebat kite hingga lu bakalan minta lagi dan lagi hahahaha” kata penjahat B mulai mendekati Arinda. Penjahat A mengeluarkan ponsel, iabmulai merekam aksi mereka untuk koleksi pribadi miliknya.


Demi mempertahankan kehormatannya, Arinda sekuat tenaga menendang dengan kedua kakinya yang terikat ke benda pusaka milik penjahat B dengan tepat.


“Aaaakhhh” teriak Penjahat B kesakitan saat si entong miliknya mendapat tendangan telak dari Arinda.


“Hahahahahaha kasian bener lu bang. Belum mencicipi udah di aniaya duluan si entong” tawa penjahat C melihat Penjahat B memegangi si entong miliknya yang menangis kesakitan.


“bren***k lu pada, pegangin die yang bener” perintah penjahat B marah.


Penjahat B menahan kaki Arinda, lalu memposisikan tubuhnya di antara kedua kaki Arinda yang terikat.


“Hmmm hmmm hmmm” Arinda terus menerus memberontak.


Plaak.... Plak...


Dua tamparan mendarat keras di pipi mulus Arinda, meninggalkan bekas kemerahan di pipinya. Air bening sebening kristal menggenang dan menetes di kedua mata indah Arinda. Rasa perih dan sakit pada tangan juga pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, saat mahkota yang di jaganya di renggut paksa oleh penjahat.


“Ja***ng, beraninya lu nyerang si entong, sekarang lu rasain pembalasan si entong yang udah lu sakiti” kata penjahat B mulai gelap mata.

__ADS_1


Brrreet... Sreek...


Dengan tarikan begitu kuat, baju kemeja putih Arinda robek dan terbuka di bagian da**nya.


“Hmmmmm” Arinda memekik keras saat bajunya di robek paksa oleh penjahat itu. Perbukitan itu di lapisi dengan pengamanan berlapis dari baju tanktop berwarna sama dengan kemeja yang di robek paksa. Penjahat B semakin gelap mata dia menarik baju tanktop Arinda hingga kini menampakkan bukit yang masih tersimpan rapi dan aman di balik pengamanan berlapis.


Penjahat D bersiul saat menatap bukit yang masih asri belum terjam*h oleh siapa pun.


“Hahaha hari ini memang hari keberuntungan kite. Walaupun kite kagak dapet duit, kite masih di kasih penghangat top markotop” komentar penjahat C.


“Hmmm hmmm hmmm” Arinda bersuara memohon berurai air mata untuk di lepaskan, namun suaranya tetap tidak di dengar karena lakban senantiasa menutup mulutnya.


Penjahat B mulai menyusuri bukit dengan pemandangan yang menurut mereka indah. Penjahat itu terus menyusuri dan berpegangan erat hingga membuat Arinda meringis kesakitan.


Braaaak.....


Mobil Mercedes Benz-Maybach S 560 menabrak keras gudang yang sebagian berdindingkan kayu. Serpihan kayu bekas dinding yang ditabrak berserakan di lantai gudang markas penjahat. Lampu Mobil Mercedes Benz-Maybach menyoroti terang ke arah para penjahat yang mengerubungi Arinda.


“Hei bang**t, brani braninya lu nyerang daerah kite. Keluar lu” penjahat A menggebrak keras mobil milik Daniel.


Mobil milik Sean berhenti tepat di belakang mobil Daniel, Sean dan Arvin menatap nanar saat salah seorang penjahat meletakkan tangan ke Arinda. Daniel dengan kasar membuka pintu mobil miliknya diikuti Ansel, Sean dan Arvin.


Penjahat A, penjahat C dan Penjahat D berdiri berhadapan dengan Daniel dan teman-temannya. Penjahat B menarik paksa Arinda hingga ia terduduk, lalu memposisikan dirinya di belakang Arinda dengan mengalungkan tangan kirinya ke leher jenjang Arinda.


Tangan kanannya meraih senjata api yang tersimpan di belakang punggungnya, menodongkan ke kepala Arinda.


“Hahahaha kagak gue sangka seorang Daniel Arsenio bakalan datang ke gubuk kite, selamat datang tuan Daniel Arsenio. Silahkan bergabung dengan pesta yang kami buat bersama gadis cantik ini” kata penjahat itu yang kembali berpegangan kuat pada bukit yang sama sekali belum di jamah oleh Daniel.


Tangan Daniel mengepal kuat hingga jari jarinya memutih, matanya menatap dengan kilatan merah ke arah penjahat menyandera Arinda.


“bang rupanya demi cewek itu Daniel Arsenio berani datang menantang maut, boleh kagak kite habisi mereka? tangan gua udah gatel pengen matiin mereka satu persatu” kata penjahat D melihat Daniel menatap tajam ke arah penjahat di belakang Arinda.

__ADS_1


Kedua tangan Arinda memegang tangan penjahat B dengan wajah meringis kesakitan. Air matanya menetes seperti tetesan hujan membasahi kedua pipi Arinda yang masih merah menyala, kemarahan Daniel sudah tidak terbendung lagi. Arinda berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan.


“Nyari mati ni penjahat” kata Arvin melihat penjahat B yang memprovokasi Daniel. Ansel, Sean dan Arvin memilih mundur beberapa langkah, mereka tidak harus turun tangan karena Daniel bisa bela diri. Dia sudah memiliki sabuk hitam karate dan menguasai jujutsu.


“hehehe lu lu pada habisi mereka. Biar kite bisa nge lanjutin permainan kite yang tertunda” dengan seringaian jahat penjahat B memerintahkan para penjahat yang lain untuk mulai bertindak.


Mata Daniel terfokus pada penjahat yang menyandera gadis pemilik hatinya, tidak sedikit pun matanya beralih. Dia menatap tajam pada penjahat B yang terus berusaha memprovokasinya.


Para penjahat yang berhadapan dengan Daniel mulai menyerang, mereka menyerang dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi tapi tidak satupun tendangan dan pukulan mengenai Daniel.


Dengan gerakan yang lincah, Daniel berhasil kini berada tepat di depan Arinda dan penjahat menyanderanya. Air mata Arinda terus menetes, sorotan matanya sangat ketakutan membuat Daniel semakin beringas.


“Berani lu melangkah satu langkah saja. Ni kepala cewek bakalan hancur” ancam penjahat B yang mulai menarik pelatuk senjata api di pegangnya.


Daniel masih menatap tajam ke arah penjahat itu lalu beralih ke Arinda.


“Arin, kamu jangan takut. Sekarang tutup matamu” perintah Daniel, jantung Arinda berdegup kencang saat Daniel memanggil namanya, memberikan kehangatan dan kenyamanan di hatinya yang tadinya di liputi rasa takut.


Perlahan mata indah Arinda menutup mengikuti perintah Daniel. Penjahat penjahat lain akan menyerang Daniel kembali langsung di hadang oleh Arvin dan Ansel. Sean bersandar duduk di mobil kap depan.


“Hei elu elu pada mau kemana, lebih baik lu temenin kita main” kata Arvin menunjuk penjahat – penjahat itu, lalu dia mengkretekan jari tangan dan kepala, wajahnya di hiasi dengan seringaian jahat tersungging di bibirnya. Ansel melonggarkan dasinya dan siap memasang kuda kuda.


************


terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2