
“berlebihan? akan aku tunjukkan bagaimana sikap berlebihan itu” Daniel mendekatkan wajahnya ke arah Arinda. Jantung Arinda berdebar- debar semakin tidak karuan.
“ tuan, apa yang anda lakukan?” tanya Arinda perlahan lahan dia menggeser duduknya ke samping dengan tubuh menghadap ke arah Daniel.
Arinda terus menarik tubuhnya mundur saat Daniel terus mendekatinya. Tubuh Arinda berhenti mundur karena terhalang oleh sandaran tangan kursi.
Jarak antara Daniel dan Arinda sangat dekat,
“ Kamu mengatakan jika sikap ku berlebihan, maka aku akan membuktikan sikap yang berlebihan itu” daniel menatap mata indah Arinda. Perlahan lahan daniel mendekatkan wajahnya dan mengecup pipi Arinda yang terkena tamparan.
Cup...
Ciuman hangat itu terasa berbeda, Daniel kembali menatap mata arinda setelah dia mengecup pipi Arinda.
Blush....
Kini kedua pipi Arinda berubah menjadi merah seperti kepiting rebus, bukan karena memakai blush on yang terlampau tebal tapi perlakuan Daniel.
“apa kamu mau melihat lagi sikap yang berlebihan dariku?” tanya Daniel mata elangnya menatap mata Arinda, begitu tajam seakan mampu melihat isi hati Arinda.
Arinda menggelengkan kepalanya perlahan-lahan,
“jika kamu tidak ingin melihat sesuatu yang berlebihan, mulai saat ini berhentilah memanggil ku tuan. Panggil aku dengan namaku”
“kenapa saya harus memanggil anda dengan nama anda? Tuan, adalah klien kantor kami. Bagaimana saya bisa lancang memanggil tuan dengan hanya memanggil nama?”
“aku tidak peduli, mulai saat ini jika kamu masih memanggil ku tuan, maka aku akan menghukummu”
Jarak wajah Daniel sangat dekat dengan Arinda, membuatnya semakin gugup hingga jantung berdebar-debar semakin kencang. Daniel menatap mata Arinda semakin dalam, matanya beralih pada bibir Arinda berwarna pink natural yang hanya di poles pelembab bibir. Arinda menggigiti lembut bibir bawahnya membuat Daniel semakin tidak fokus.
“Ta ta tapi tuan...” belum selesai Arinda berbicara dengan cepat Daniel kembali mencium Arinda,
Cup....
Kali ini Daniel dengan berani mengecup bibir Arinda yang membuat matanya semakin terbuka lebar.
Manis....sangat manis guman Daniel berhasil mengecup bibir Arinda yang selalu menggoda imannya.
“Apa kamu masih akan memanggil ku ‘Tuan’?” tanya Daniel menatap manik mata hazel Arinda.
Dengan cepat Arinda menggelengkan kepalanya,
Tok....tok....tok...
Terdengar ketukan pintu dari luar ruangan Daniel, dia langsung berdiri berjalan ke meja kerjanya.
“Masuk” daniel duduk di kursi kebesarannya meninggalkan Arinda yang masih duduk termenung di tempatnya.
Deguban jantungnya kini semakin tidak terkendali saat ingat Daniel mengecup pipi dan bibirnya.
Bodyguard mengantarkan barang barang milik Arinda yang tertinggal di lobby.
__ADS_1
“Tuan ini barang barang nona?” kata bodyguard
“Berikan pada dia langsung!” perintah Daniel memeriksa beberapa dokumen di meja kerjanya.
“Baik tuan” bodyguard jalan menghampiri Arinda yang melamun.
“Nona, Ini barang milik anda nona” kata bodyguard namun tidak di gubris Arinda.
“nona” panggil body guard itu lagi, tapi Arinda masih betah dalam lamunannya.
Dengan sedikit mengeraskan suaranya bodyguard itu berhasil menyadarkan Arinda dalam lamunannya.
“Nona”
“Iya....” Arinda melihat ke arah bodyguard
“ ini barang-barang anda”
“Oh ya, terima kasih” arinda mengucapkan terima kasih pada bodyguard yang mau mengantar barang barang milik Arinda.
Bodyguard itu undur diri setelah memberikan barang milik Arinda. Dia masih duduk di sofa melihat Daniel yang sibuk memeriksa dokumen dengan serius.
Apa yang barusan terjadi? Dimana gue? Apa yang gue lakuin? Kenapa gue mendadak jadi amnesia gini? Guman Arinda masih bingung dan tidak percaya dengan apa yang baru terjadi.
Yang tadi itu pasti mimpi.....ya pasti mimpi. Sebaiknya gue buka mata dari mimpi buruk gue ini guman Arinda lagi sambil mencubiti tangan kanannya.
“aww” arinda merasakan sakit di tangannya, Daniel sejak dari tadi melihat tingkah Arinda tersenyum senang. Kemudian dia kembali memeriksa dokumen pentingnya.
Arinda melihat Daniel yang fokus melihat dokumennya, hal itu sengaja di lakukannya untuk menenangkan gemuruh debaran jantung bergejolak sedari tadi.
“Tu....”Arinda langsung menggelengkan kepalanya cepat dan segera mengganti panggilannya pada Daniel.
Lebih baik gue manggil namanya dari pada gue dapet hukuman lagi....guman Arinda dengan wajah merona merah hingga ke telinganya.
“Dan...daniel” panggil Arinda di sambut baik oleh Daniel dengan senyuman manis darinya.
Daniel meraih paperbag kecil di laci meja kerjanya, dia bangkit dari kursi kebesarannya menghampiri Arinda dan duduk kembali di samping Arinda.
“Ini milikmu,” Daniel memberikan paper bag kecil itu pada Arinda dengan pandangan kebingungan.
“Bukalah” kata Daniel lembut, Arinda membuka paper bag di tangannya dan mengeluarkan isinya
Sebuah Smartphone terbaru yang segelnya sudah terbuka. Arinda menatap ke arah Daniel dengan tatapan penuh tanda tanya.
“mengapa anda memberikan saya ponsel ini? Saya masih memiliki ponsel dan masih dalam perbaikan” kata Arinda gugup.
“Semua data penting dan seluruh nomor client sudah di simpan di ponsel ini. Juga... kenangan terakhir papamu, semuanya sudah ada dalam ponsel ini” jelas Daniel pada Arinda
“ja...ja...jadi ponsel lama ku bagaimana?”
“Ponsel lamamu sudah rusak, jadi Sean menitipkan ponsel ini untukmu” bohong Daniel.
__ADS_1
“Sean?” Arinda menatap ponsel di tangannya,
“Kenapa bukan dia yang memberikannya padaku langsung? Kenapa anda yang harus memberikan ini padaku” kata Arinda lagi
“dia... Dia sedikit sibuk, ada banyak pansien pagi ini” Daniel membuat alasan sengaja mengatakan jika ponsel itu di berikan oleh Sean. Dia tidak ingin pemberiannya di tolak oleh wanita yang telah mencuri hati dan perhatiannya.
“Kamu tunggu saja disini, sebentar aku akan kembali” daniel berdiri dari duduk lalu melangkah ke meja kerjanya.
“kenapa?” begitu banyak pertanyaan yang berputar putar di benak Arinda
“Ansel akan sibuk hari ini, aku yang akan pergi survei lokasi pesta bersamamu” kata Daniel sambil menyelesaikan menandatangani dokumen yang ada di mejanya.
“Apa???” Arinda terkejut saat mendengar Daniel yang akan pergi bersamanya. Arinda langsung berdiri dan menghampiri meja kerja Daniel. Dia berdiri tepat di hadapan Daniel hanya di batasi dengan meja kerja Daniel yang besar.
“Tu...tuan Daniel, kenapa harus anda yang turun tangan? Jika tuan Ansel tidak bisa pergi, saya bisa pergi sendiri. Semua hasil survei Akan saya kirim melalui wa dan tuan bisa memilih di mana tempat yang anda inginkan” kata Arinda
Mana mungkin gue mau ni cowok ikut survei bareng gue. Cowok yang senang banget bikin masalah ama gue. Pertama ngehina gue, kedua nyuri kesempatan nyium pipi gue dan sekarang udah berani ngambil ciuman pertama gue. Maunya apa sih ni orang, guman Arinda dalam hati.
“Aku mau, kamu selalu berada di sisiku” bisik Daniel seolah-olah menjawab pertanyaan di hati arinda. Daniel berdiri di belakang Arinda wajahnya berada di samping telinga Arinda.
Arinda membalikkan badannya menatap Daniel berhadapan dengannya. Daniel meletakkan kedua Tangannya di meja, di kedua sisi samping tubuh langsing Arinda mengungkungnya dengan kedua tangan kekar miliknya.
“sepertinya kamu harus di hukum untuk terus mengingat setiap ucapan ku” Daniel perlahan-lahan mendekatkan tubuh dan wajahnya pada Arinda.
Kedua tangan Arinda berada di dada bidang Daniel, menahannya untuk tidak mendekatinya.
“Apakah anda begitu senang mempermainkan perempuan?” tanya Arinda
“Apa maksud mu?” Daniel menatap lekat Arinda.
“apakah anda sudah puas mempermainkan saya? Atau anda belum puas membalas dendam dan ingin menghancurkan saya?” tanya Arinda.
Daniel diam, raut wajahnya mulai terlihat kesal.
“Saya bukan perempuan murahan yang sering anda perlakukan seperti ini. Saya bukan mainan yang bisa anda permainkan dengan sesuka hati anda” kata Arinda begitu menusuk membuat Daniel tersinggung.
*************
Sambil menunggu up, boleh mampir ke karya terbaru ku " Cinta Sabrina"
terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1