
Virus dalam sistem dapat di basmi dan data yang di dapat peretas itu dapat di ambil kembali, tidak hanya itu Daniel pun menyerang balik dengan meretas data si peretas yang berani mencari gara-gara.
Si peretas yang di serang balik terkejut dan marah besar saat serangan balik itu membuatnya kehilangan data dan merusak sistem miliknya.
“breng**k , dia berhasil mengatasinya. No... no.... no.... datanya...” si peretas itu panik saat satu persatu datanya di ambil dan sistem miliknya di tanami virus yang sangat susah di hilangkan.
Daniel tersenyum smirk melihat keberhasilannya menghancurkan pekerjaan si peretas, mata tajam dan dingin menatap layar laptopnya saat dia berhasil mengambil data itu.
Mata tajam itu memancarkan api kemarahan, saat membuka data yang berhasil di ambilnya. Ansel kembali masuk ke ruangan Daniel untuk memberi tahu jika sistem sudah di perbaiki, dia bingung dan takut saat melihat tuan mudanya di kelilingi aura kegelapan.
Wajahnya terlihat begitu marah dan kesal saat melihat data yang ternyata berisi foto-foto Arinda yang di ambil secara diam-diam. Foto itu memperlihatkan apa saja yang di lakukan Arinda, hingga ke mana dan dengan siapa saja istrinya bepergian.
Amarahnya memuncak saat sebuah foto di mana wajah Daniel di coret dengan tinta merah, di samping foto itu tertulis “ MUST DIE”. Tangan Daniel terkepal kuat membaca tulisan di samping foto Arinda “KAMU HANYA MILIKKU, SECEPATNYA AKU AKAN MENGAMBIL MU”
“tuan muda” sapa Ansel pada Danie yang terlihat sangat emosi dan marah.
“hubungi body guard Arin sekarang” perintah Daniel, dia tidak tenang melihat pesan yang ada di samping foto Arinda.
Ansel menghubungi body guard Arinda, dalam hatinya dia bertanya-tanya gerangan apa yang membuat Daniel begitu marah dan kesal.
“tuan muda sudah terhubung” Ansel menyerahkan ponselnya pada Daniel,
“Hallo tuan” sapa Body guard Arinda.
“Kalian jaga ketat istriku, jika ada sesuatu yang mencurigakan atau sesuatu berbahaya segera bertindak” perintah Daniel.
“Baik tuan muda”
Daniel memutuskan hubungan telepon secara sepihak, matanya masih memancarkan amarah.
“Tuan muda, apakah ada sesuatu yang mengganggu anda?” tanya Ansel menyadari jika suasana hati Daniel semakin buruk.
“hubungi Arvin untuk meringkus dia, suruh dia menanyakan pada Yuda lokasi pastinya. Arvin tentunya tahu apa yang harus di lakukannya” perintah Daniel berdiri dari kursi kebesaran melangkah masuk ke kamar mandi yang ada di ruangannya.
Ansel melaksanakan perintah Daniel, dia sekilas melihat ke arah laptop milik bosnya. Matanya menatap nanar dan dingin saat tahu apa yang membuat Daniel marah besar, ada yang ingin berniat jahat pada Arinda dan menginginkan kematiannya.
__ADS_1
Dia segera menyampaikan perintah Daniel pada Arvin, Ansel juga memberi tahu alasan dari balik perintah itu.
“Waaaah ada yang mau silaturrahmi dengan malaikat maut” Arvin tersenyum smirk melihat data yang di dapat Yuda.
“tuan muda juga menyampaikan pesan untuk segera membereskan masalah ini secepatnya” Ansel melihat Daniel yang baru keluar dari kamar mandi. Wajah dan rambutnya terlihat basah, Daniel sengaja melakukan hal itu untuk menenangkan emosinya yang sudah hampir meledak.
Dalam sehari ini, Daniel mendapat serangan bertubi-tubi dari musuh-musuhnya. Sekarang emosinya sudah sangat tidak terkontrol, Ansel membungkuk sedikit memberi hormat melangkah keluar dari ruangan Daniel. Dia dapat merasakan tekanan yang mengintimidasi membuat siapa pun takut untuk mendekati Daniel.
Setelah keluar dari ruangan Daniel, Ansel terkejut saat melihat beberapa staff sudah berdiri berjejer di depan pintu ruangan Daniel. Mereka membawa laporan yang akan di periksa oleh Daniel,
Gaswat ini, tuan muda sedang sangat emosi. Jika dia menemukan sesuatu yang salah dalam laporan ini, alamat seluruh karyawan akan lembur sampai pagi ini guman Ansel dalam hati.
“Kalian benar-benar sudah mengecek semua laporan ini?” tanya Ansel berkali-kali memastikan agar tidak ada kesalahan.
“Sudah tuan Ansel, kami sudah berkali-kali mengecek semuanya” jawab salah satu staff.
“Baiklah kalau begitu,” wajah Ansel terlihat khawatir dan takut, membuat para staff menatap bingung padanya.
Salah satu staff pun memberanikan diri untuk bertanya pada Ansel,
“Tuan Ansel, apa saat ini siaga merah?” tanya Staff dengan kode di mengerti para karyawan Arebeon.
Masalah kecil saja bisa menjadi besar saat tingkat emosi Daniel sudah tidak terkontrol.
“Saat ini sedang siaga merah... “ ujar Ansel, telepon di mejanya berbunyi menandakan Daniel membutuhkannya.
Ansel segera mengangkat telepon dari Daniel,
“di mana laporannya” Daniel langsung bertanya pada Ansel yang belum mengatakan apa pun.
“Sudah ada di sini tuan muda” Kata Ansel ,
“jika sudah ada kenapa belum ada di meja ku?” tanya Daniel dingin dan datar.
“maafkan saya, tuan muda” Ansel segera meletakkan gagang telepon dan menyuruh para staff untuk masuk ke dalam ruangan Daniel. Mereka menelan ludah secara kasar berharap nantinya mereka bisa keluar hidup-hidup.
__ADS_1
Ansel membuka pintu ruang kerja Daniel, mereka bisa melihat aura dingin, gelap dan mencekam ada di sekeliling bosnya. Mata elang Daniel menatap dingin pada para staff, mereka terlihat seperti anak sekolah yang ketahuan cabut oleh guru yang terkenal galak dan akan menerima sanksi yang sangat berat.
“Apa aku harus menunggu berjam-jam untuk laporan yang kalian buat?” terdengar suara Daniel yang terkesan dingin seperti es. Kilatan matanya telah mengintimidasi mereka hingga membuat seluruh tubuh mereka merinding.
Lebih baik ketemu ama miss kunti dari pada ama bos
Sepertinya hawa kali ini nggak baik. Sekarang kalo ada yang mo nawarin sekandang ama singa gua mau dah dari pada ama bos yang lagi pms
Masing-masing dari staff itu berguman dalam hati berharap waktu berlalu dengan cepat. Ansel yang di antara mereka juga menarik nafas berat karena dia juga akan terkena imbasnya.
Hanya sebuah keajaiban yang bisa nyelamatin kita saat ini keluh Ansel menangis dalam hati.
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore, semua poin acara pesta untuk perusahaan Evan telah selesai Arinda sampaikan. Evan tidak ingin kehilangan moment dan kesempatannya untuk lebih dekat dengan Arinda.
Berbagai alasan dan cara Evan lancarkan untuk menahan Cantika dan Arinda, bahkan dia mengundang mereka untuk makan bersama.
“Maaf Van, tapi sepertinya saya dan Arinda harus kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan “ tolak Cantika secara halus.
“Wah sayang sekali kalo begitu, maaf aku sudah menahan kalian terlalu lama. Jika tidak keberatan bolehkah aku meminta nomor ponsel kamu Arinda? Supaya aku bisa memberi tahu kamu apabila ada beberapa acara tambahan nantinya” Evan memberanikan meminta nomor ponsel Arinda.
“ maaf tuan Evan, maksud saya Evan. Segala sesuatu perubahan acara nantinya anda bisa membicarakannya dengan mbak Cantika” Arinda sengaja menolak memberikan nomor ponselnya, karena dia lebih menghargai Daniel suaminya.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
__ADS_1
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...