
Arinda segera membenahi dirinya, menaikkan tali bajunya kembali dan segera turun dari ranjang. Dia melangkah ke kamar mandi sambil menutupi wajahnya dengan sebelah tangan yang memerah karena malu.
“oooopsss... sorry Dan sayang. Mommy masuk tanpa izin, tapi salah kamu juga kenapa nggak kunci pintu” Aileen masuk ke kamar Daniel dengan wajah tanpa dosa, sebelah tangannya masih menutupi mata Davira.
“my, kenapa mata Vira di tutupi gini...” protesnya yang berusaha membuka tangan Aileen,
“Sayang, kita datang di waktu yang kurang tepat. Sebaiknya kita segera menyingkir dari sini sebelum kakak kamu marah” bisik Aileen, niat hatinya yang ingin mengajak Arinda bergosip bersama harus di batalkannya.
Davira sudah sangat kesal karena Aileen masih menutupi matanya, segera dia melepas tangan ibunya menatap heran pada Daniel. Kemejanya masih terpasang namun semua buah bajunya sudah terbuka memperlihatkan Dada bidang yang mengilat basah oleh titik-titik keringat, nafasnya yang sempat tersengal-sengal mulai normal kembali.
Di balik selimut tebal itu, Daniel menaikkan kembali celananya yang sempat turun. Dia terlihat sangat kesal dan marah, kegiatan yang seharusnya berakhir indah harus berhenti akibat ulah Aileen.
“ya udah mommy dan Davira keluar dulu ya” ujar Aileen mengambil jurus langkah seribu sebelum putranya mengeluarkan lahar panas.
Mata elang Daniel menatap pintu kamar yang tertutup, dia benar-benar lupa jika pintu kamarnya belum terkunci. Mata itu kini beralih ke pintu kamar mandi yang tertutup rapat, dia tahu jika Arinda pasti sangat malu.
Kaki panjang milik Daniel turun dari ranjang, melangkah menuju pintu kamar mandi. Sebelumnya dia melangkah ke pintu kamar untuk menguncinya terlebih dahulu. Dia menghela nafas panjang berharap mengurangi rasa kesal di hatinya,
Tok... tok... tok...
Daniel mengetuk pintu kamar mandi, dapat terdengar olehnya suara air shower yang menyala.
“sayang...” panggil Daniel pada Arinda yang sedang melaksanakan mandi ritualnya. Masih terasa oleh Arinda rasa panas di pipinya, dia merasa sangat malu teringat dengan kejadian beberapa menit yang lalu,
Ya ampuun... gue malu banget. Gi mana besok ketemu ama mommy dan yang lainnya guman Arinda dalam hati, dia baru saja menyelesaikan ritual mandinya mendengar panggilan dari suaminya.
“sayang...” panggil Daniel kembali khawatir karena merasa Arinda terlalu lama di kamar mandi.
“ iya...” Arinda berdiri di depan cermin wastafel sambil mencolokkan hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
“kamu tidak apa-apa kan sayang?” tanya Daniel,
“hmm hmmm” Arinda hanya berguman menjawab pertanyaan Daniel. Dia benar-benar malu, jika ada lubang hitam ingin rasanya dia masuk ke dalamnya dan tidak akan keluar dari sana.
Daniel membersihkan ranjang dan bekas pertempuran mereka segera, dia tidak ingin Arinda semakin merasa malu dan terus bersembunyi di kamar mandi. Setelahnya, dia duduk menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, meraih ponsel sambil melihat beberapa file pekerjaan.
__ADS_1
***
Arvin masih berada di posisinya menatap bingung pada Aisyah, apakah di harus melanjutkan apa yang sempat terhenti tadi atau berhenti begitu saja dengan rasa tidak puas di hatinya.
“bang...” panggil Aisyah pada Arvin yang terlihat bingung, dia ingin berhenti saja dari permainan mereka.
“iya dek” Arvin menatap mata Aisyah,
“ lebih baik kita.... itu .... kita... lanjut... ” ujar Aisyah hati-hati memberi kode untuk tidur. Dia tidak ingin membuat Arvin kesal atau tersinggung dengan apa yang di ucapkannya.
Namun tidak bagi Arvin yang menafsirkan ucapan Aisyah dengan arti yang berbeda. Dia mengira jika Aisyah ingin melanjutkan pekerjaan mereka yang tertunda. Ular Arvin masih berada di sarangnya kembali bersemangat saat mendapat lampu hijau dari sang pemilik sarang.
Mata Aisyah membulat sempurna saat merasa sesuatu yang terbangun di bawah sana.
“bang... kok itu..” Aisyah tidak dapat melanjutkan ucapannya saat ular Arvin bertindak semaunya di bawah sana. Bibirnya kembali di bungkam dengan bibir Arvin yang lihai mempermainkan dan memancing sesuatu yang sempat terhenti.
Mendapat serangan dadakan membuat Aisyah menjadi kalang kabut, nafasnya kembali tidak beraturan dengan di iringi suara nyanyian yang merdu bagi Arvin.
Di saat bersamaan, Sean kembali ke apartemen miliknya. Dia berusaha mengontrol diri dan melupakan apa yang sempat di dengarnya.
Bergegas dia masuk ke dalam kamar mandi menghidupkan air dingin pada shower. Kepala dan pipinya terasa sangat panas, adegan yang di dengarnya tadi membuat pikirannya melayang jauh. Dia jadi mengkhayal jika Davira dan Dirinya melakukan adegan yang sama dengan Arvin saat ini.
Air dingin membasahi seluruh tubuhnya dari kepala hingga kaki, dia terus berdiri di bawah shower mendingin kepalanya yang masih saja membayangkan Davira.
“Tongsky jangan bangun napa? Kasian Vira kalo kagak ngerasa kehebatan lu, jadi lu bobok ya” ujar Sean pada sesuatu yang terbangun di bawah sana. Dalam hati dia terus berharap jika benda pusaka miliknya kembali ke masa hibernasinya, sampai di mana saat benda pusaka akan menikmati yang menjadi hak miliknya.
seorang perempuan setengah baya termenung menatap apartemen Sean, perempuan setengah baya yang tidak lain adalah ibunda Sean yang datang berkunjung ke apartemennya.
Dia terkejut melihat pakaian serta barang-barang Sean yang berserakan di lantai. Ibunda Sean baru saja kembali dari luar negeri rindu dengan putra semata wayangnya, dia pun berinisiatif ke apartement Sean untuk melepas rindu.
***
Arinda menyelesaikan ritual mandinya, dia keluar dari kamar mandi sambil melihat ke kanan dan ke kiri. Mata indahnya hanya melihat Daniel yang duduk di ranjang dengan wajah cemberut sambil memeriksa ponsel miliknya.
Arinda keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuhnya, rambutnya tergerai menambah kecantikannya. Mata elang Daniel menatap istrinya yang keluar dari kamar mandi melangkah masuk ke walk in closet.
__ADS_1
Daniel bangkit dari ranjang melangkahkan kakinya menuju ke tempat istrinya,
“Sayang” Daniel memeluk Arinda dari belakang yang sudah mengenakan piama, menciumi pipinya dan membelai lembut perut istriny. Dia membalikkan tubuhnya menatap ke arah Daniel dengan wajah masih merona.
“ ini salah kamu sayang, kenapa tidak mengunci pintu kamar? Aku benar-benar malu sekarang, bagaimana besok aku akan menghadapi mommy dan Davira” ujar Arinda sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Daniel yang terbuka.
“Sudahlah sayang, lupakan saja. Mommy tidak akan mengungkit hal itu, lebih baik sekarang kita istirahat. Kasihan baby mungkin mereka juga ke capekan sekarang, ayo” ajak Daniel pada Arinda yang masih menyembunyikan wajah cantiknya.
Daniel terlihat sangat seksi dengan mengenakan kemeja yang tidak terkancing memperlihatkan dada dan perut sixs pack. Celana jeans hitam yang di kenakan terbuka pada bagian kancingnya, tangan kekarnya mengangkat tubuh Arinda. Dia terlihat sangat gagah saat membopong tubuh istrinya untuk di baringkan pada ranjang tempat tidur.
“sayang, sekarang kamu istirahat. Oke” ujar Daniel seraya mengecup pucuk kepalanya.
“sayang, aku benar-benar tidak dapat tidur. Aku sungguh malu dan tidak berani bertemu dengan mommy,” ujar Arinda.
Daniel lalu naik ke ranjang tidur tepat di samping Arinda, dia memeluk dengan membelai lembut pundak putihnya.
************
dear para reader yang baik hati dan rajin menabung,
mohon maaf karena baru up🙏🏻🙏🏻🙏🏻 begitu banyak kendala dan kondisi Author yang semakin drop 🤒🤒🤒.
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 😷😷😷
tetap terus dukung Author 😷😷😷
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 💪🏻💪🏻💪🏻
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1