
“Dan, kak Darren, semuanya sudah beres. Saatnya beraksi” Arvin memberi kode melalui spy listener di telinga Daniel dan juga Darren.
Marcus akan keluar dari gudang itu dengan file yang baru saja di tanda tanganinya. Kedua tangan kanan Marcus masih menodongkan senjata api pada Daniel juga Darren yang menghampiri adiknya dengan senyum penuh arti pada Daniel.
“tuan Marcus” panggil Daniel pada Marcus akan melangkah pergi. Dia membalikkan tubuhnya dan terkejut saat Darren dengan santai merangkul adiknya juga melihat kedua tangan kanannya sudah tergeletak tidak sadarkan diri dengan wajah lebam.
“wah Dan, kamu sudah membuat paman kita marah” Darren tersenyum remeh pada Marcus menatap heran pada Darren,
“kalian?” suara Marcus tercekat saat melihat pemandangan di depannya.
“ada apa paman? Apa paman berpikir dengan trick murahan dapat menghancurkan persaudaraan kami selama ini? Jangan naif paman” Daniel tersenyum smirk menatap Marcus.
“jadi... kalian?”
“benar tuan Marcus, sebelum anda datang padaku. Daniel sudah menceritakan niat anda mendekatiku, apa anda pikir aku tidak tahu jika Anda memanfaatkanku? Semua kebohongan anda sudah aku ketahui sebelumnya, aku pun ikut bekerja sama dengan adikku untuk menjebakmu”
“kurang ajar,” Marcus mengeluarkan senjata yang di simpannya di balik jas. “Vin, sekarang” Daniel mengode Arvin yang sudah bersama polisi di luar gudang. Dengan cepat polisi masuk dan menodongkan senjata pada Marcus,
“buang senjata” perintah polisi pada Marcus yang masih memegang senjata miliknya. Dia pun membuang senjatanya, memilih menyerah karena saat ini dia terpojok.
“hahaha, kalian pikir bisa menahanku yang kebal dengan hukum. Apa lagi dengan harta Arsenio di tangan ku dengan mudah aku bisa keluar dari penjara” Marcus masih percaya diri,
“anda yakin jika itu file harta kekayaan Arsenio?” Darren menatap Marcus yang langsung membuka file di tangannya. Ada beberapa lembar kertas kosong yang berisi tanda tangannya dan kertas yang berisi tulisan ada tanda tangan juga sidik jari darah miliknya.
Marcus semakin terkejut saat membaca kertas yang berisi tentang pernyataannya menyerahkan tampuk kekuasaan dunia bawah pada Vivi.
“vivi... wanita ja**ng dasar pengkhianat, jadi ini rencana dia. Breng**k” Marcus sangat emosi saat mengetahui jika vivi berkhianat dan merusak semua rencananya. Dia akan menghancurkan file pernyataan itu, dengan sigap Darren mengambil file itu dari tangan Marcus.
“eits.... anda tidak bisa menghancurkan surat pernyataan ini” Darren tersenyum penuh kemenangan.
“baji***n, berani-beraninya kalian menipuku. Aku akan membuat kalian menyesal” Marcus segera menelepon anak buahnya yang sudah di perintahkannya untuk membawa Arinda.
Namun telepon dari Marcus sama sekali tidak di angkat oleh anak buahnya. Dia semakin geram dan membanting ponsel miliknya, semua rencananya gagal. Polisi mengeluarkan borgol dan memborgol tangan Marcus yang terlihat semakin emosi.
“ini tidak akan berakhir, saat aku bebas nanti kalian semua akan ku buat menderita terutama kau Daniel” Marcus terlihat begitu marah, Arvin pun menimpali perkataan Marcus.
__ADS_1
“ntar aje lu balas dendam, sekarang lebih baik lu pergi dulu sama bapak polisi ini untuk mempertanggung jawabkan semua dosa- dosa elu” Arvin ikut menimpali perkataan Marcus.
Polisi langsung menggeret Marcus untuk di bawa ke kantor polisi, dia lalu di paksa naik ke dalam mobil polisi. Tanpa sengaja dia melihat supirnya yang bersembunyi agar tidak di tangkap polisi. Marcus merasa sangat emosi dan marah dia pun dengan nekat mendorong polisi hingga mendapat celah untuk melarikan diri menuju mobilnya.
Dor...dor...dor....
Terdengar suara tembakan berkali-kali ke arah Marcus yang mencoba lari dari polisi, Daniel, Darren , Arvin dan Ansel berlari ke arah luar gudang dan melihat mobil polisi yang mengejar mobil Marcus.
Braak...
“breng**k dia berhasil melarikan diri,” Darren emosi menggebrak kap mobil miliknya.
“tenang aja kak Darren, dia bakalan nggak akan bisa kabur” Arvin lalu memanggil Yuda untuk segera mengakses GPS yang diam-diam mereka pasang di mobil Marcus.
“bagus” Daniel memuji kerja Arvin, yuda duduk di dalam mobil Arvin dengan lihat jari jemarinya mengetik tombol keyboard laptop mencari keberadaan Marcus.
“bang, sepertinya dia menuju ke perusahaan milik dia” lapor Yuda yang masih fokus pada laptopnya.
“Sel, beri tahu polisi keberadaan Marcus”
***
Mobil itu bergerak dengan cepat melintasi jalanan beraspal meninggalkan jauh mobil polisi yang masih senantiasa mengejarnya. Marcus memegangi punggung bawah sebelah kanannya, rupanya timah panas milik polisi berhasil bersarang di tubuhnya. Dia sedikit kepayahan menutupi sementara lukanya.
“serahkan kotak obat cepat” perintah Marcus pada supir mobilnya mengubah metode mobilnya mengendarai sendiri. Supir Marcus dengan sebelah tangan mengambil kotak P3k di dalam laci dash board mobil.
“i i ini tuan” supir itu tampak ketakutan melihat wajah Marcus yang penuh amarah. Marcus mengambil kotak obat itu dengan kedua tangannya secara kasar,
“tu tu tu tuan apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?” tanya supir yang mengambil alih mobil pintar itu.
“kita ke perusahaan sekarang, luka seperti ini tidak berarti bagi ku” Marcus mengikat lukanya dengan pembalut luka dan menutupi pendarahannya secara sembarangan.
Mobil Marcus sampai di pelataran perusahaannya, dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju lift ke lantai CEO. Beberapa satpam akan menghentikannya, namun mereka tidak berani saat Marcus mengancam mereka dengan senjata cadangannya di dalam mobilnya. Kedua tangan Marcus terikat membuatnya memegang senjata dengan kedua tangannya.
***
__ADS_1
Yuda mendapatkan informasi di mana Marcus segera memberi tahu Daniel dan yang lainnya,
“ bang, gua udah dapat info di mana dia sekarang” Yuda memberikan alamat pada Daniel.
“sel, serahkan alamat ini pada kepolisian, dia sudah tidak akan bisa melarikan diri lagi” Daniel menatap Darren yang berdiri di sampingnya. Mereka saling melemparkan senyum dan berpelukan sebentar.
“berkat rencanamu, kita berhasil menangkap orang yang ingin menghancurkan keluarga kita” Darren merangkul pundak adiknya.
“semua berkatmu kak” daniel tersenyum melihat kakaknya.
Wajah Darren tiba-tiba berubah sendu teringat dengan kejadian saat sarpan bersama keluarga mereka. Daniel mengerti dengan ke galauan kakaknya.
“tenang saja kak, Daddy dan mommy pasti akan mengerti dengan niat kita. Aku akan membantumu memberi tahu pada mommy dan daddy kebenarannya”
“thanks Dan, kamu masih mau menganggapku saudara padahal kamu sendiri tahu jika aku...”
“sudahlah kak, walau bagaimana pun lu putra tertua di Arsenio dan selamanya lu kakak gue” Daniel menghibur Darren mereka berpelukan.
wajah Marcus meringis menahan luka tembak di punggung bagian bawahnya, dia berjalan menuju ruangan Vivi yang kebetulan saat itu dia sedang membahas proyek baru dengan client barunya.
Sekretaris yang berada di luar ruang kerja Vivi segera menghalangi Marcus untuk masuk ke dalam ruangan.
*************
secepatnya author akan up lagi tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
❤️❤️❤️❤️❤️ all...