Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 215


__ADS_3

“ulang dari awal yang, aku ingin melihat film edukasi apa yang di putar istriku ini” Daniel menatap Arinda dengan penuh maksud.


“a... a.. aku mau ke dapur dulu” Arinda akan bangkit namun di cegah Daniel dengan menarik pinggangnya hingga dia jatuh terduduk di pangkuan Daniel.


“kamu mau kabur?” Daniel menatap nackal pada Arinda.


“nggak... siapa yang kabur. Ayo kita nonton” Arinda bermaksud untuk pindah duduk ke samping Daniel, namun Daniel mempererat pelukan tangannya yang memeluk Arinda dari belakang.


“sayang... kalau begini, bagaimana aku mau menontonnya” Arinda mencoba berpindah ke samping Daniel,


“tetap seperti ini saja” Daniel menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, mengatur sofa menjadi tempat rebahan yang sempurna.


Arinda terpaksa mengikuti kemauan suaminya, dia menyandarkan tubuhnya ke dada bidang suaminya. Mereka menonton film korea itu dari awal, Daniel semakin mempererat pelukannya menarik tubuh istrinya untuk lebih dekat dengannya.


Tangan Arinda memegang semangkuk popcorn yang akan mereka nikmati bersama.


“Sayang..” mata Arinda masih menatap layar tv.


“hm...” Daniel membelai lembut kepala istrinya.


“ tadi aku ke mansion menjenguk oma” Arinda menceritakan apa yang di lihatnya saat Vivi menyuntikkan sesuatu pada oma Ayu. Dia juga mengatakan hasil laporan tes darah oma Ayu yang di terima Sean menunjukkan adanya senyawa racun di dalam darah oma.


Daniel bangkit membuat Arinda terduduk, dia menatap wajah suaminya yang terlihat marah.


“apa benar dia menyuntikkan sesuatu pada oma?” Daniel menatap tajam Arinda yang langsung menganggukkan kepalanya. Dia segera meraih ponselnya, namun di cegah Arinda


“Sayang... kamu tenang dulu. Jangan gegabah”


“bagaimana aku bisa tenang jika dia berani bermain dengan nyawa oma”


“dengarkan aku dulu, sewaktu Vivi selesai menyuntikkan cairan itu, aku melihat kondisi oma yang berangsur membaik. Kita tidak bisa mengambil kesimpulan kalau dia mau menyakiti oma, jika kita salah bertindak itu akan menjadi bomerang bagi kita. Kamu tenang saja, aku sudah memberikan jarum suntik itu pada dokter Sean untuk di selidiki” jelas Arinda menenangkan suaminya yang masih terlihat kesal dan marah.


Daniel meraih ponselnya, mencari nomor kontak Sean dan segera menghubunginya. Arinda menatap Daniel yang terlihat sangat marah,


Dan, sangat marah sekarang, gimana cara aku menenangkannya Arinda menatap Daniel yang terlihat ingin membunuh seseorang.


Nggak selamanya harus lekong yang memulai dengan memberikan service ke perenya, malahan mereka paling senang jika pere memulai dengan memberikan service terlebih dulu Arinda teringat dengan wejangan dari emak Maya.


Demi perdamaian, gue harus lakukan. Untung gua masih ingat dengan adegan film korea itu Arinda menelan ludahnya sendiri saat melihat Daniel sudah mengeluarkan aura kegelapan dalam dirinya.


Ponsel Sean berdering dia atas meja cafe, Sean yang saat itu sedang ke toilet meninggalkan ponselnya d atas meja. Ansel, Arvin dan Evan menatap ke arah ponsel Sean yang berbunyi sedari tadi


“si Daniel telepon” Evan meraih ponsel Sean.

__ADS_1


“angkat aja dan loud speker” Arvin menyuruh Evan untuk mengangkat telepon dari Daniel.


“Assalamualaikum bro” sapa Evan membuat kening Daniel berkerut.


“Evan!!! Di mana Sean? Kenapa kamu yang angkat?”


“sorry bro, si Sean sedang ke toilet, nah itu orangnya udah datang” Evan memberikan ponsel Sean yang baru kembali dari toilet.


“kakak ipar lu telepon tu” sindir Arvin.


“Calon” terdengar suara bentakan Daniel di ponsel Sean yang masih di loud speker.


Mereka berempat terkesiap mendengar bentakan Daniel, Sean langsung mematikan pengeras suara menutup ponselnya dengan sebelah tangannya.


“lu pada ngomong apaan ama ni raja iblis?” Sean bertanya menyelidik temannya satu persatu.


“kita juga baru angkat ponsel lu, belon ngomong apa-apa” Arvin kebingungan mendengar Daniel terdengar marah dan terasa aura mencekam dari ponsel Sean.


“ya Dan?” Sean memberanikan diri untuk berbicara.


“apa benar yang di sampaikan Arin?” Daniel menatap tajam dan dingin ke arah Arinda.


Sepertinya Arinda sudah memberitahu Daniel apa yang terjadi dengan Oma guman Sean dalam hati.


Masa bodoh deh, lebih baik sekarang menenangkan Dan dulu. Ato malam ini bakalan dingin kayak di antartika, untung gue make dress sedikit mini guman Arinda yang berinisiatif terlebih dahulu.


“apa yang di sampaikan kakak ipar emang benar Dan, terus suntikan itu sedang di teliti sekarang ama pihak lab. Lu tenang aja, gua akan ngasih laporannya langsung ke elu”


Kening Daniel berkerut saat Arinda mendekatinya,


“kenapa laporan tes darah oooomaaa aah...” kening Sean kini berkerut saat mendengar suara Daniel yang berbeda.


Daniel terkejut saat Arinda kini duduk di pangkuannya, memberanikan dirinya menciumi bagian lehernya memberikan sensasi geli baginya.


“ARIIIN” Daniel menutup teleponnya saat dia terganggu dengan apa yang di lakukan Arinda.


“hmmm...” Arinda menatap Daniel dengan wajah tanpa dosa.


Daniel mengabaikan dan lanjut berbicara pada Sean.


“lu nggak apa-apa Dan?” tanya Sean bingung saat mendengar suara aneh Daniel.


“nggak apa-apa. Bagaimana haaaasill laporaaan tes daaaraaaah omaaa” suara Daniel semakin terdengar aneh oleh Sean.

__ADS_1


“Dan... lu nggak apa-apa?” Tanya Sean,


Daniel memegangi sebelah tangan Arinda dengan sebelah tangannya, dia menatap tajam Arinda yang sudah membuatnya bersuara aneh.


Baju kemeja yang di kenakannya sudah terbuka menampakkan dada bidang dan perut bak roti sobek, tangan Arinda membelai lembut dada bidang hingga perut Daniel membuatnya kembali mengeluarkan suara aneh.


“Ariin, aku peringatkan jangan memulai sesuatu yang akan kamu sesali nanti” bisik Daniel memperingatkan Arinda untuk tidak mengganggunya.


“baiklah aku tidak akan mengganggumu,” bisik Arinda yang masih duduk di atas pangkuan Daniel.


“sorry ada sedikit gangguan, bagaimana dengan kondisi oma?” tanya Daniel dengan wajah serius dan dingin.


“dari hasil tes darah oma, ada senyawa racun yang akan membunuh orang yang terkena racun dengan perlahan-lahan. Kemungkinan racun itu di dapat oma saat masih di sekap oleh Markus” jelas Sean,


Daniel semakin tampak geram dan marah, Dia yakin jika cairan yang di suntikkan oleh Vivi adalah cairan berbahaya.


Arinda tahu jika Daniel sedang sangat marah saat ini, dia bisa melihat aura kegelapan dan keinginan untuk membunuh di sekeliling Daniel.


Sean juga dapat merasakan jika saat ini Daniel sangat marah,


“Dan, kita jangan gegabah dulu, jika sesuatu terjadi pada oma pasti saat ini di Mansion akan ribut. Gua juga udah memeriksa keadaan oma sebelum ke cafe dan semuanya stabil. Saat ini oma terlihat bugar juga sudah mau makan, Vira juga terus memantau dan melaporkannya ke gua” jelas Sean menenangkan Daniel.


“ apa omaaaaaa” suara Daniel terdengar aneh saat king kobra mendapat sentuhan lembut juga pijatan yang membangkitkannya.


“aaahhh” suara itu lolos dari mulut Daniel membuat Sean untuk ke sekian kalinya kebingungan. Arvin, Ansel dan Evan ikut kebingungan menatap Sean.


*************


secepatnya author akan usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya...🤗🤗🤗🤗


sambil menunggu up, bolehlah mampir ke karya author judulnya "Cinta Sabrina"



tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2