Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 237


__ADS_3

Kaca mobil Ansel bagian depan pecah, Sean naik ke atas kap mobil meminta perawat lain menyenteri ke arah dalam tepatnya ke arah Ansel.


“Ansel...” panggil Sean melihat bagian-bagian mana tubuhnya yang terluka.


Ansel menutupi matanya yang silau terkena cahaya lampu senter, tersenyum dengan bibir pucat ke arah Sean.


“breng**k, lu kagak sadar kondisi lu saat ini. Masih senyam senyum lu” kesal Sean melihat luka di tubuh serta di pelipis Ansel. Dia mencoba untuk bergerak, namun rasa sakit menghentikannya.


“Lu jangan gerak, luka lu bisa tambah parah” Sean mengingatkan Ansel wajahnya terlihat meringis menahan sakit.


“tahan, Sel. Sebentar lagi tim damkar akan datang” ujar Sean. Dia melirik ke jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua pagi.


Sean segera menelepon ke rumah sakit untuk mempersiapkan ruang operasi. Dia melihat kondisi Ansel, berusaha untuk melakukan pertolongan pertama.


Terdengar deringan telepon di ponsel Ansel yang di genggamnya, tertulis nama Cantika di layarnya. Sean menatap Ansel yang tampak kepayahan mengangkat telepon, dia lalu meraih ponsel Ansel dan menjawab telepon dari Cantika.


“Assalamualaikum Cantika”


“.............”


“Cantika, kamu sebaiknya menyusul ke rumah sakit sekarang”


“..............”


“Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon, kita bertemu di rumah sakit”


Sean melihat mobil damkar datang, para petugas pun segera melakukan pertolongan dengan memotong pohon kayu itu menjadi beberapa bagian.


Mereka bertindak sangat cepat dan hati-hati, Sean juga sudah menyuntikkan obat pereda rasa sakit agar Ansel tidak merasakan apa-apa saat saat di lakukan proses evakuasi. Sean kembali melihat ke layar ponselnya segera menghubungi Daniel,


Drrrt..... Drrrrttttt....


Ponsel Daniel bergetar di atas nakas berkali-kali, pemilik mata elang itu terbangun menatap ke arah istrinya yang tertidur dengan tenang dan nyaman dalam dekapannya. Dengan hati-hati sebelah tangannya meraih ponsel, menatap ke layar ponsel dengan nama Sean tertulis di sana.


“Assalamualaikum bro” sapa Sean dengan nada khawatir.


“Waalaikum salam” Daniel setengah berbisik agar tidak membangunkan Arinda.


“Sorry bro ganggu lu malam-malam, Ansel dia.... Ansel....”


“Kenapa dengan Ansel?” tanya Daniel dingin masih berbisik.


“Dia kecelakaan bro...” Sean menceritakan secara garis besar apa yang terjadi pada Daniel.


Perlahan-lahan Daniel meletakkan kepala istrinya di atas bantal, meraih bantal miliknya untuk di berikan pada Arinda yang sedang tidur memeluknya.


“Aku Segera ke sana” Daniel mematikan secara sepihak ponselnya, lalu menghubungi body guard untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Tidak lupa pula dia juga menyuruh body guard berjaga-jaga di pent house untuk menjaga Arinda, dia juga menelepon Tini Maid di mansion Arsenio dan juga Davira untuk menemani Arinda di pent house.


Davira memaksa membuka matanya menatap layar ponselnya yang bertulis nama Daniel. Dia yang akan menyapa segera di potong langsung oleh Daniel.


“Vira, kamu ke pent house kak Dan sekarang, sekalian ajak Tini”


“ha.... kak Daaaan ini masih jam tiga pagi”


“Ansel kecelakaan, kamu beri tahu juga pada pak Rahmad”


Davira seketika terbangun dari tidurnya saat mendengar kabar Anse yang kecelakaan.


“kapan kak?” tanya Davira segera turun dari ranjangnya.


“aku baru mendapatkan kabar dari Sean, aku harus ke rumah sakit, kamu dan Tini temani Arin di pent house. Jangan lupa beri tahu pada pak Rahmad untuk segera menyusul ke rumah sakit”


“apa kak Dan lupa, kalo pak Rahmad sedang di KO menemani oma untuk cek kesehatan di sana?”


Daniel teringat jika seminggu yang lalu oma Ayu pergi medical check up ke KO di temani Amanda dan Darren. Kehamilan Amanda menginjak usia lima bulan membuat Darren was-was membiarkan pergi. Namun Amanda terpaksa harus ke KO untuk mengatasi beberapa masalah di butik miliknya.


Setelah mendapat persetujuan dari dokter kandungan, Amanda di temani oma Ayu, Darren dan pak Rahmad asisten pribadi keluarga Arsenio. Walaupun Ansel putra dari pak Rahmad seorang asisten pribadi, keluarga Arsenio sudah menganggap mereka bagian keluarga.


Michael dan Aileen sudah mengaggap Ansel sebagai putra mereka, Michael menyekolahkan dan memberi fasilitas yang tidak berbeda dengan anak-anak kandung mereka. keluarga Arsenio memperlakukan Ansel dan Pak Rahmad begitu baik juga hangat.


“Beritahu mommy dan Daddy kalau Ansel di bawa ke Arsen medical” ujar Daniel masuk ke ruang walk in closet.


Daniel mengganti pakaiannya dengan pakaian kasualnya tidak lupa dia memakai jaket kulit memanbah kesan macho di dirinya.


Daniel segera menghampiri Arinda yang masih tampak mengantuk, dia duduk di samping ranjang


“Sayang... Aku akan ke rumah Sakit”


Mendengar kata rumah sakit mata Arinda segera terbuka lebar.


“kamu sakit sayang” tangan Arinda segera memegang dahi Daniel yang langsung menggenggam tangan istrinya.


“tidak sayang aku tidak apa-apa, tadi aku baru dapat kabar jika Ansel kecelakaan. Jadi sekarang...” perkataan Daniel terhenti melihat Arinda yang langsung turun dari ranjang.


Dia bergegas ke walk in closet mengganti piyamanya dengan pakaian biasa, tidak lupa Arinda memakai jaket miliknya.


“Ayo Sayang” ajak Arinda yang sudah siap.


“Sayang, kamu mau ke mana?”


“Kita ke rumah sakit sekarang, ayo”


“Tapi sayang aku baru saja meminta Davira dan Tini untuk datang ke pent house”

__ADS_1


“Aku ikut denganmu, tidak mungkin aku berdiam diri di sini menunggu kabar saat sahabat kita tertimpa musibah. Sudah ayo” Arinda meraih tangan Daniel.


Sebelah tangan Daniel meraih kunci mobil Koenigsegg CCXR Trevita miliknya lalu bergegas pergi ke rumah sakit Arsen Medical. Mereka berdua naik ke dalam mobil sport mewah itu, Daniel meraih ponselnya lalu menghubungi body guardnya untuk membatalkan perintahnya.


Hujan sudah berhenti sedari tadi menyisakan rintik gerimis yang turun seperti salju. Mesin mobil koenigsegg CCXR Trevita menyala mereka segera melesat menuju Arsen medical.


***


Petugas Damkar berhasil menyelamatkan Ansel, mereka segera melarikan Ansel ke rumah Sakit. Ansel mulai merasa pusing dan hampir tertidur,


“Sel, lu jangan tidur” bentak Sean, dia terlihat sangat khawatir dengan kondisi Ansel yang sudah banyak kehilangan Darah.


Tidak berapa lama mereka sampai di rumah Sakit, Ansel segera dia bawa masuk ke dalam ruang IGD. Cantika melihat kedatangan Sean dan Ansel segera menghampirinya,


“Ansel” panggil Cantika segera menggenggam tangan Ansel dengan erat. Dia sama sekali tidak beranjak dari sisi Ansel hingga kini mereka berada di ruang IGD.


Sean segera memeriksa kondisi dan menyuruh seorang perawat untuk mengambil stock darah bergolong sama dengan Ansel.


“Apa ruang operasi sudah siap?” tanya Sean pada salah seorang perawat.


“Sudah dokter”


“segera persiapkan pasien” ujar Sean,


"baik Dokter" perawat segera mendorong bankar Ansel menuju ruang operasi. Cantika yang ingin ikut mendampingi Ansel langsung di cegah oleh Sean.


“bagaimana Sean?” tanya Cantika panik dan sedih. Air mata menetes dari mata Cantika yang sangat khawatir dengan keadaan tunangannya,


“Kamu tenang saja, kami akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Ansel” Sean akan melangkah menuju ruang loker terhenti saat melihat Daniel datang bersama Arinda.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


mohon maaf 🙏🏻🙏🏻🙏🏻 jika hanya up Satu episode...


karena Author masih dalam masa pemulihan jadi sedikit kurang fokus...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2