
“Rin” panggil Aldo, Arinda membalikkan tubuhnya melihat ke arah Aldo yang langsung mengangkat tangan dengan kalung yang di pegangnya. Dia menggantungkan kalung itu tepat di depan Arinda yang menatapnya bingung.
“may, menurut lu bagus kagak?” tanya Aldo pada Maya, Daniel mendengar ucapan Aldo segera menatap ke arahnya. Api kecemburuan kembali terlihat di mata Daniel ingin rasanya dia menarik Arinda menjauhi Aldo,
“menurut akika sih, nggak cocok ama Arin, hmmmm” Maya kemudian melihat-lihat perhiasan yang lain dengan penuh berlian menghiasinya.
“kalo ini pasti cocok” Maya meminta pegawai toko untuk mengambil perhiasan yang menarik perhatiannya.
“terlalu rame, jadi nggak kelihatan bagus” Tasya ikut bergabung mengomentari perhiasan yang di pilih Maya. Dia juga ikut memilih kalung yang berada di dalam estalase meninggalkan Daniel sendirian.
Arinda melihat sebuah kalung rantai emas dengan mainan kalung berbentuk hati kecil di hiasi dengan berlian. Matanya menatap lama pada kalung itu, perhatiannya teralih saat Maya kembali mencoba kalung lainnya pada lehernya yang jenjang.
Daniel menatap tajam ke arah mereka berempat yang menjadikan Arinda patung manekin untuk mencoba perhiasan yang mereka suka. Dia sempat melihat Arinda menatap lama pada satu kalung yang menarik perhatian gadis pujaannya.
“Arinda, bisa bantu saya?” Daniel memanggil Arinda yang sudah terlihat lelah menjadi manekin hidup oleh Maya, Aldo dan Tasya.
Arinda sebenarnya tidak ingin mendekati Daniel agar semua orang tidak semakin salah paham padanya. Tapi menjadi manekin hidup untuk Maya, Aldo dan Tasya membuatnya lebih memilih menghampiri Daniel memilih cincin pernikahan.
“sebentar May, tuan Daniel manggil gue” Arinda segera menghampiri Daniel dan membantu memilihkan cincin bersamanya.
Maya dan Tasya mengambil kesempatan untuk berbicara pada Aldo yang sedari tadi mendekati Arinda. Mereka berdua menatap tajam pada Aldo dengan wajah tidak berdosanya,
“ada apa?” Aldo melihat ke arah keduanya.
“kenapa lu deket-deket Arinda? Apa lu masih naksir ama Arin?” Maya menatap tajam pada Aldo yang tersenyum manis membuat Tasya menjadi tidak fokus.
“nyantai may, gue emang sengaja deketin Arin buat ngetest seberapa seriusnya tuan Daniel pada Arin” Aldo menatap ke arah Arinda dan Daniel.
“maksud lu?” Maya terlihat bingung,
“gue pengen tahu seberapa besar rasa cinta dan sayangnya tuan Daniel pada Arin”
“kalo Daniel tidak serius, ngapain dia merencanakan pernikahan ini?” Tasya ikut berkomentar,
__ADS_1
“bisa aja kan kalo tuan Daniel hanya ingin memanfaatkan Arinda saja, sorry bukan maksud gue ngomong seperti ini. Tapi kebanyakan cowok yang berusaha mendekati Arin lebih banyak memanfaatkan dia” Aldo teringat ketika kuliah banyak pria yang mendekati Arinda dengan niat yang tidak baik.
“lu tenang aja, akika bisa menjamin kalo tuan Daniel serius dan sayang ama Arin” Maya yakin pada Daniel.
“gue percaya Arin bakalan bahagia dengan tuan Daniel. Gue bisa liat betapa sayang dan cintanya tuan Daniel pada Arin” Aldo menatap Daniel yang mencuri pandang ke arah Arinda.
“mereka terlihat sangat serasi” Tasya ikut menatap ke arah mereka berdua.
Arinda melihat sebuah cincin yang terlihat sangat cantik dan indah, Daniel yang akan memperlihatkan cincin pilihannya ikut melihat ke arah Arinda menatap.
“bisa melihat cincin ini?” tanya Daniel pada tante Mona.
“pilihan yang sangat bagus tuan Daniel, cincin ini limitide edition dan hanya sepasang di toko ini” tante mona memakai sarung tangan lalu mengambil cincin yang di lihat Arinda. Daniel mengambil cincin bertatahkan berlian, menatapnya sebentar,
“Arin, pinjam tangan kirimu sebentar” Daniel meraih tangan kiri Arinda dan memasangkan cincin yang di pegangnya ke jari manisnya. Arinda terkejut dan ingin segera membukanya,
“tuan..” Arinda menarik tangannya tapi di cegah oleh Daniel yang memegang erat tangannya.
“sayang, bagaimana menurutmu dengan cincin yang ini” Daniel menatap Tasya sedang memilih-milih perhiasan kalung. Tasya segera menghampiri mereka berdua dan melihat ke jari manis Arinda,
“loh jadi, tunangannya tuan Daniel bukan kamu Rin?” tante Mona menatap Arinda yang tersenyum paksa ke arahnya. Para pegawai mulai berbisik-bisik membicarakan Arinda, ada yang prihatin dan yang mulai menghujatnya.
“iiiis cantik-cantik mau jadi pelakor” pegawai yang iri dengan Arinda,
“husss jangan sembarang nuduh kammu, kan tadi si mbaknya juga udah ngomong kalo bukan dia yang merit”
“bilang aja lu syirik ama tu mbak”
Berbagai komentar terlontar dari mulut para pegawai toko, ada yang menyudutkannya ada pula yang membela Arinda. Tante Mona yang salah sangka segera meminta maaf pada Arinda karena telah salah sangka padanya.
“maaf ya Arin, tante kira kamu yang merit ama tuan Daniel” tante Mona meminta maaf pada Arinda.
“nggak apa-apa ko tan (Arinda menarik tangannya dari genggaman Daniel, dia lalu melepaskan cincin yang tersematkan di jarinya dan memberikannya ke Tasya) ini nona Tasya, cincin ini sangat cocok untuk anda. Karena sudah mendapat cincin yang cocok saya permisi dulu” Arinda melangkah pergi menghampiri Aldo dan Maya,
__ADS_1
“Do, kita berangkat sekarang aja” Arinda mengajak Aldo untuk pergi ke panti Asuhan sesuai dengan rencana mereka.
“eh akika juga ikut” Maya segera menyusul Arinda yang sudah berjalan mendahuluinya. Daniel hanya diam dan menatap datar kepergian Arinda, dia melihat ke arah kalung yang sempat di lihat Arinda,
“saya ambil kalung ini” Daniel menunjuk kalung yang menarik perhatian Arinda,
“Dan, Arin pasti sangat sedih dengan apa yang barusan lu lakuin” Tasya khawatir melihat Arinda yang langsung pergi begitu saja.
“aku tahu, tapi jika dia tidak pergi dari sini. Orang-orang akan semakin berkata buruk padanya” Daninel menatap dingin pada beberapa pegawai toko yang sempat menilai buruk Arinda. Tante Mona tampak kebingungan, dia ingin bertanya kepada Daniel apa yang terjadi sebenarnya. Namun pertanyaan itu tidak bisa terlontar saat melihat wajah Daniel yang berubah dingin dengan tatapan yang tajam ke arah pegawai toko yang berbicara buruk tentang Arinda.
Dalam mobil Aldo, Arinda banyak diam membuat suasana menjadi hening seperti di kuburan. Ada perasaan sedih saat melihat sikap Daniel saat di toko perhiasan tadi.
“rin, lu kenapa?” Maya khawatir dengan sahabatnya.
“hmmm, apa May?” Arinda menatap ke arah Maya.
“kamu nggak apa-apa?” Maya dapat melihat kesedihan di mata Arinda.
“tenang aja May, ini kan udah keputusan aku. Jadi aku harus siap mental dengan apa yang terjadi di kedepannya”Arinda berusaha untuk tegar. Dia tersenyum manis pada Maya dan Aldo yang melihatnya dari kaca spion, mereka tahu jika saat ini hati Arinda terluka dengan apa yang di lakukan Daniel.
***
Hari H pernikahan, Arinda tampak makin cantik dan tampak sempurna. Beberapa hari sebelum hari H, Maya memaksa Arinda untuk menemaninya luluran dan spa bersama Davira. Awalnya Arinda curiga karena paket lulurannya berbeda dengan Maya dan Davira, dengan berbagai alasan yang di utarakan Davira dan Maya dia percaya begitu saja.
Arinda memakai pakaian kerjanya dan mulai bersiap-siap untuk menuju lokasi akad nikah di mesjid Jahan. Cantika sudah bersiap-siap dan tampil sangat memukau dengan kebaya seragaman dengan warna yang sama dengan keluarga Arsenio. Awalnya Arinda merasa ada yang aneh dengan penampilan Cantika, namun dengan alasan kalo Tasya tidak ada keluarga yang menemaninya Arinda percaya begitu saja.
************
tetap terus dukung Author
dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊
jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss
🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗