Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 96


__ADS_3

Ucapan Daniel memberikan jawaban atas pertanyaan dalam pikirannya, kaki Arinda mendadak lemas. Daniel dengan sigap menahan tubuh Arinda dengan memeluknya erat membelai lembut pipi Arinda dengan sebelah tangannya.


Di saat bersamaan Arvin dan Sean datang mengunjungi Daniel ke perusahaan Arebeon, untuk mengajaknya minum-minum di cafe tongkrongan mereka.


Sekretaris Daniel sedang pergi ke dapartemen pekerja sehingga mejanya kosong dan Ansel sedang mengantar maya ke mobil taksi online yang di pesan maya. Dia tadi sudah menyerahkan semua barang-barang milik Arinda pada Ansel yang memberitahu pada Maya jika nanti Daniel sendiri yang akan mengantar Arinda pulang.


Arvin dan Sean langsung menerobos masuk ke ruangan Daniel karena tidak ada yang menghalangi mereka,


“Woi CEO jangan kerja saja, kita nokrong di tempat bia” ucapan Arvim mendadak berhenti saat di dengan terburu-buru membuka pintu ruangan Daniel. Dia dan Sean melihat pemandangan penuh bunga-bunga cinta di mana-mana, Daniel sedang memeluk Arinda erat memalingkan wajahnya ke arah pintu. Menatap dingin dan tajam kedua sahabatnya yang berdiri termangu di depan pintu.


“Kayaknya kita salah masuk ruangan, permisi” kata Arvin segera menutup kembali pintu ruangan Daniel. Mereka berdua terlihat begitu terkejut melihat pemandangan yang hampir lima tahun tidak pernah mereka saksikan.


“Se, ini benaran ruangan Dan kan?” tanya Arvin tidak percaya, berkali-kali dia melihat papan nama di pintu ruang Daniel.


“iya Vin, sepertinya kita bakalan ketemu Raja iblis hari ini” kata Sean yang masih termenung di tempatnya. Ansel datang dengan membawa barang-barang milik Arinda, dia heran melihat Arvin dan Sean termenung di depan ruangan Daniel.


“Pada ngapain?” tanya Ansel.


“sel....” wajah Arvin tampak begitu menyedihkan, Ansel melihat ke arah Sean yang menampilkan wajah hampir sama membuatnya semakin heran.


“ kita ngeliat sesuatu yang seharusnya tidak pernah kita liat” kata Sean.


Ansel semakin bingung dibuat oleh Arvin dan Sean


“kali ini gue akan ketemu ama raja iblis” kata Arvin,


Akhirnya Ansel mengerti dengan apa yang terjadi dengan para sahabatnya ini.


"apa kalian masuk ke dalam ruangan tuan muda?" tanya Ansel di anggukkan oleh Sean dan Arvin. Kini Ansel merasakan rasa dingin dan mencekam,


“ bukan kalian saja, gue juga kena” kata Ansel.


“Lu bikin salah juga?” tanya Sean


“Iya” kata Ansel lemah.


“Apa kesalahan lu?” tanya Arvin


“gagal menghentikan lu berdua masuk ke ruangan tuan muda” kata Ansel menatap Sean dan Arvin.


Mereka bertiga kompak menghela nafas bersamaan, wajah mereka tampak begitu menyedihkan mengingat Daniel yang tidak pernah main-main memberikan hukuman.


“Sebaiknya lu pada ke ruangan sebelah sana, tunggu tuan muda di ruangan itu” kata Ansel menunjuk ruangan tepat disebelah ruangan Daniel.

__ADS_1


Arinda tampak sangat malu, dia lalu meraih tangan Daniel untuk melepaskannya.


“Tu...maksudku Dan” arinda segera mengganti panggilannya pada Daniel, saat mata dan senyuman nakal tersungging di bibir Daniel.


“hmmm” Daniel kembali menarik Arinda kedalam pelukannya,


“Daniel, tolong lepaskan. Aku sangat malu, teman-teman mu pasti berpikir yang tidak-tidak” kata Arinda dengan wajah seperti kepiting rebus.


Daniel mulai merenggangkan pelukannya, matanya menatap lembut pada Arinda.


“Aku sangat bahagia saat bibirmu ini mengucapkan namaku” tangan kanan Daniel membelai lembut pipi dan bibir mungil Arinda.


Arinda menundukkan wajahnya, rasa panas di wajahnya menjalar ke hatinya memberi kehangatan.


“Sebaiknya aku menemui mereka, kamu duduklah di sofa itu.” Kata Daniel.


“A a a aku sebaiknya, kembali saja sekarang” kata Arinda melangkah pergi. Tangan Arinda di tarik kembali oleh Daniel, tangannya kembali memeluk tubuh Arinda


“kamu akan aku antar pulang hari ini, aku tidak mau kejadian yang lalu terulang” Daniel teringat dengan penculikan Arinda yang hampir membuatnya celaka.


“Tap tap tapi...” Ucapan Arinda terhenti saat jari telunjuk Daniel ada di depan bibirnya.


“Aku tidak mau mendengar bantahan lagi, atau kamu lebih menyukai hukuman yang kuberikan” Daniel tersenyum nakal.


Arinda dengan cepat menggelengkan kepalanya, Daniel tersenyum lalu berdiri mengecup pipi Arinda


Mata Arinda melihat ke arah ponsel Daniel yang persis sama dengan miliknya.


Ponsel itu, mirip ama ponsel punya gue kata Arinda dalam hati.


“tunggu sebentar, aku akan menemui mereka sebentar” kata Daniel seraya mengecup kening Arinda, dia melangkah keluar menemui Arvin dan Sean.


Arinda masih memikirkan ponsel milik Daniel yang persis sama dengan miliknya.


Aduuh Rin, bukan lu aja yang punya ponsel sama dengan tu cowok. Semua orang tentunya juga memiliki kata Arinda pada dirinya sendiri.


Raut wajah Daniel kembali tampak dingin dan Datar membuat siapa pun pasti tidak akan berani menatapnya.


Arinda duduk di sofa ruangan Daniel, tangannya memegangi kedua pipinya yang terasa panas.


Ya aampuuuun Rin, lu **** banget sih. Udah berkali-kali ni cowok ngambil kesempatan dari lu dan lu malah menyukainya kata Arinda dalam hati seraya menutupi wajahnya.


Arinda memegangi jantungnya yang masih berdebar-debar,

__ADS_1


Apa sebaiknya gue ngasih kesempatan? Guman Arinda masih merenung sehingga dia tidak menyadari kedatangan Ansel.


“nona Arinda” panggil Ansel namu Arinda masih termenung larut dalam pikirannya.


“Nona Arinda” panggil Ansel lagi dengan jentikan tangan tepat di hadapan wajahnya.


“Iya” kata Arinda yang tersadar dari lamunannya.


“anda melamun?”


“Ti ti tidak, ada beberapa hal yang sedang aku pikirkan. O ya Ada apa tuan Ansel memanggil saya”


“Ini barang anda yang di titipkan oleh Maya tadi” Ansel memberikan tas ransel dan tas berisi laptop miliknya.


“ oh iya, terima kasih”


“Sebaiknya anda jangan melamun seperti tadi, ini sudah waktunya magrib”


“ah iya, terima kasih tuan Ansel”


“Baiklah kalau begitu saya permisi” Ansel akan melangkah pergi keluar ruangan Daniel.


“Sebentar tuan Ansel, bisakah saya tahu musholla terdekat?”


“ jika anda ingin sholat saya akan mengambilkan mukenanya untuk anda bisa sholat di sini. Anda bisa memakai kamar mandi di sana”


“Baiklah, terima kasih” Kata Arinda. Ansel melangkah keluar ruangan Daniel untuk mengambil mukena yang sengaja di sediakan perusahaan.


Daniel akan berbicara dengan sahabatnya terpaksa menundanya terlebih dahulu. Dia menuju salah satu ruangan yang di jadikan tempat ibadah bagi karyawannya, begitu juga Sean dan Arvin mereka memasuki ruangan itu untuk menunaikan kewajiban mereka.


Ansel kembali ke ruangan kerja Daniel dengan membawa mukena untuk Arinda. Dia mendengar suara air dari dalam kamar mandi, lalu dia meletakkan mukena di samping tas milik Arinda.


Ansel lalu keluar dari ruangan Daniel menuju kamar mandi karyawan. Setelah mensucikan diri, dia kembali keruangan di mana Daniel dan sahabat-sahabatnya menunaikan kewajiban. Diapun ikut bergabung melaksanakan kewajibannya berjamaah bersama Daniel dan Sahabatnya.


************


tetap terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya.... plisss


🙏🏻🙏🏻🙏🏻

__ADS_1


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2