Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 37


__ADS_3

Cantika meraih cangkir minuman di atas meja, tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas minuman lain hingga menumpahkan isinya yang masih panas ke tangannya.


"aaaawwww sssshh.." pekik Cantika merasa kepanasan di tangannya.


“Mbak Cantika....”Arinda segera memegang tangan Cantika dan mengipasi dengan tangannya agar rasa panas di tangan Cantika berkurang.


"mbak nggak pa-pa?" tanya Arinda masih mengipasi tangan Cantika.


"perih" keluh Cantika yang merasa panas di tangannya.


Ansel segera bertindak menarik tangan Cantika membawanya ke kamar mandi di ruangan Daniel. Ansel menaikkan kenop keran hingga air dingin mengalir, tangan cantika yang tersiram air panas di raih Ansel meletakkannya di bawah guyuran air dingin.


Tangan Cantika yang semula putih berubah menjadi merah.


“Nona tidak apa-apa kan?” tanya Ansel, Cantika menatap Ansel yang membantunya mengurangi rasa panas di tangannya.


Tangan Ansel yang menyentuh lembut tangan Cantika memberi sentruman di hati Cantika. Rasa sakit di tangannya berubah menjadi debaran kuat di jantungnya.


Sepeninggal Ansel dan Cantika ke kamar mandi, Arinda mengambil tisu dan segera mengelap tumpahan air yang menggenang di atas meja.


Daniel masih menatap Arinda segera mengalihkan pandangannya ke smarthphone di tangannya membalas pesan dari temannya. Setelah selesai membersihkan tumpahan air di atas meja, Arinda kembali duduk di tempat duduknya.


“Tuan muda” panggil Arinda


Daniel masih fokus dengan smartphonenya.


“Tuan muda Daniel” Arinda kembali memanggil Daniel.


“Ada apa?” tanya Daniel dingin matanya masih menatap layar smartphonenya.


“bukannya anda mau menyelesaikan masalah di antara kita?!”


Daniel menatap Arinda


“Masalah?”


Sabar...sabar Arinda... orang sabar di sayang ama keluarga kata Arinda dalam hati.


“tadi anda bilang anda mau menyelesaikan masalah dengan saya, jika anda masih tidak terima saya menyiram anda dengan minuman. Anda bisa membalas saya sekarang” Arinda menggeser minuman di atas meja ke arah Daniel.


Daniel menatap Arinda dingin


Apa menurut gadis ini aku akan sekejam itu membalasnya? Gadis yang menarik kata Daniel dalam pikirannya.


“Ayo...anda tunggu apalagi” Arinda berdiri dari tempat duduknya.

__ADS_1


"kamu yakin?" tanya Daniel meyakinkan Arinda.


"jika dengan hal itu anda merasa puas, silahkan saja" kata Arinda


Daniel berdiri dan mendekat kearah Arinda, tangannya meraih minuman di atas meja.


Arinda menutup matanya menunggu Daniel membalas perbuatannya. Senyuman tersungging di wajah tampan Daniel, matanya menatap wajah Arinda yang nampak takut menunggu apa yang akan terjadi.


Mata Daniel menatap wajah Arinda yang cantik, bibirnya yang pink natural di hiasi dengan pelembab bibir membuat siapapun tergiur untuk mengecup dan merasakan rasa manis dari bibir itu. Perlahan–lahan daniel mendekatkan wajahnya ke wajah Arinda.


Cup...


Mata Arinda membuka sempurna saat merasakan sekilas kehangatan dan kelembutan di pipi kanannya.


Blush.....


Wajah Arinda merona merah seperti memakai blush on, tangan kanan Arinda memegangi pipinya yang baru saja di kecup oleh Daniel.


Merasa tidak bersalah, Daniel duduk kembali dan menikmati minuman yang di sediakan untuknya.


Cantika segera menarik tangannya dari tangan Ansel, di berusaha untuk meredam debaran jantungnya yang sudah tidak karuan.


“Sudah tuan Ansel...tangan saya sudah tidak apa-apa” cantika melangkah mundur kebelakang.


Ansel baru tersadar dirinya memegangi terus tangan Cantika.


“Tidak apa-apa tuan Ansel. Terima kasih anda sudah membantu saya” cantika meraih tisu di samping wastafel mengelap tangannya hingga kering.


Arinda menatap tajam Daniel dan ingin memarahinya karena telah lancang mencium pipinya.


“Kamu...” kata Arinda terhenti saat pintu kamar mandi terbuka, Cantika keluar sambil membersihkan tangannya.


Arinda menelan kembali kata-kata yang akan ia lontarkan kepada Daniel. Seperti memenangkan perlombaan Daniel tersenyum sambil menikmati minuman di tangannya.


“Kamu kenapa Rin? Kok berdiri terus ( memperhatikan wajah Arinda yang merona) muka kamu kok merah. Kamu sakit?” tanya Cantika berdiri di sampingnya.


“Nggak apa-apa mbak, tadi ada semut rang-rang gede banget gigitin pipiku mbak” sindir Arinda kesal pada Daniel.


Daniel hanya memasang wajah dingin dan datar tidak menghiraukan sindiran dari Arinda, Ansel keluar dari kamar mandi setelah Cantika.


“Baiklah nona Cantika, konsep acara yang di jelaskan nona Arinda, sudah sangat baik. Aku menyetujui konsep ini,” Daniel mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


“Terima kasih tuan muda Daniel. Anda tidak akan kecewa, Arinda event manager yang berbakat di bidangnya” Cantika menyambut uluran tangan Daniel.


Arinda menyimpan laptopnya kedalam tas laptop miliknya, lalu berdiri di samping Cantika menatap penuh kekesalan pada Daniel.

__ADS_1


“Aku percayakan pesta ini pada Eo Pearl Stars” Daniel mengulurkan tangannya pada Arinda untuk berjabat tangan.


Mata Arinda menatap uluran tangan Daniel, dengan ragu-ragu Arinda menjabat tangan Daniel. Arinda hanya diam, dia masih merasa sangat kesal dengan ulah Daniel yang berani mengambil kesempatan mencium pipinya.


“Kalau begitu kami undur diri dulu tuan, kami akan segera mempersiapkan pesta sesuai konsep yang anda setujui” kata Cantika melangkah pergi di iringi Daniel yang mengantar sampai pintu ruangannya.


Arinda dan Ansel mengikuti dari belakang, masih tampak raut kesal di wajah Arinda.


“Ansel tolong antar mereka sampai bawah” perintah Daniel


“Baik tuan muda, mari nona-nona” Ansel melangkah terlebih dahulu menyusul Cantika dan Arinda. Daniel kembali duduk di kursi kebesarannya membuka kembali dokumen yang harus di tanda tanganinya.


Daniel menjadi tidak fokus karena terus terbayang wajah cantik dan bibir Arinda yang menggoda. Daniel berdiri dan mendekati kaca jendela ruangannya menatap langit yang mulai berubah warna menjadi orange menandakan hari sudah mulai sore.


deg...deg...deg...


Debaran jantungnya masih berdetak dengan keras, Daniel memegangi dadanya. Ada rasa yang tidak Daniel mengerti telah tumbuh di hatinya.


Ansel menekan tombol lift, debaran jantung Cantika semakin tidak karuan saat dia berdiri di sebelah Ansel. Cantika memegangi dadanya,


Ada apa denganku? Kenapa berdebar-debar seperti ini? Guman Cantika yang memegangi dadanya.


“Mbak...mbak kenapa? Mbak sakit?” tanya Arinda melihat Cantika memegangi dadanya.


“Nggak....nggak kok rin. Nggak da apa-apa” elak Cantika.


Tidak hanya Cantika saja yang merasakan debaran di jantungnya, Ansel pun demikian. Namun, Ansel sangat pintar menyembunyikan perasaannya dan berusaha bersikap wajar.


Ting....


Pintu lift terbuka, Ansel, Cantika dan Arinda memasuki lift, kemudian pintu lift menutup dan meluncur kembali ke lantai dasar.


Suasana dalam lift terasa sangat canggung, mereka hening tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.


Ting.....


Pintu lift terbuka Ansel, Cantika dan Arinda keluar dari dalam lift.


“Sampai di sini saja tuan Ansel. Terima kasih sudah mengantar kami” kata Cantika menganggukkan kepalanya pada Ansel. Belum sempat Ansel berbicara, cantika segera melangkah pergi meninggalkan Ansel yang terus melihat punggung Cantika.


Arinda tersenyum pada Ansel, lalu berlari mengejar Cantika yang sudah menunggunya di pintu masuk loby.


*************


terus dukung Author

__ADS_1


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


( Π_Π )


__ADS_2