Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 157


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ruangannya Sean meraih ponselnya segera menghubungi Ansel untuk datang ke Arsen Medical.


Tuuut... tuuuut...


“Assalamualaikum, ada apa Se?” Ansel mengangkat telepon Sean dan langsung ke inti pembicaraannya.


“waalaikum salam Sel, gua tunggu lu di Arsen Medical sekarang. Urgent, kalo bisa lu secepatnya ke sini” Sean segera mematikan teleponnya menyuruh masuk Yuda.


Ansel berencana untuk beristirahat melepas lelah setelah bekerja seharian, menatap layar ponsel dengan Kening berkerut setelah Sean mengakhiri telepon secara sepihak begitu saja.


Tumben si dokter telepon gua malam-malam gini, kedengarannya ada hal yang serius guman Ansel yang bangkit dari ranjangnya. Dia memakai baju kaus menutupi badan kekar dengan perut sixpack idaman para kaum hawa.


Dia meraih kunci mobil yang terletak di meja ruang tengah apartemen miliknya. Ansel melangkahkan kakinya menuju lift menuju basement mengendarai mobilnya menuju Arsen Medical.


Sean membuka pintu ruangannya, mempersilahkan Yuda


“masuk Yud” ujar Sean


“makasih bang” Yuda masuk lalu duduk di sofa ruangan Sean.


“lu mau minum kagak, gua akan ambil minuman di mesin penjual minuman” Sean kembali akan melangkah keluar ruangannya menuju mesin otomatis yang tidak jauh dari ruangannya.


“terserah saja bang” kata Yuda.


Sean segera melangkahkan kakinya ke mesin minuman otomatis, memilih softdrink untuk Yuda dan teh hijau kalengan untuknya. Dia kembali ke ruangannya menyerahkan minuman dingin pada Yuda.


“bang, sebenarnya ada apa abang manggil gua kemari?” Yuda penasaran Sean meminta menemuinya di ruangan menjauhi Zico dan Reno.


“tunggu sebentar Yud, kita tunggu Ansel di sini” Sean melihat ke arah jam di dinding ruangannya.


Tidak berapa lama, Ansel datang dan mengetuk pintu ruangan Sean,


Tok..tok...tok...


“jmasuk” terdengar suara Sean yang menyuruhnya masuk.


Ansel membuka pintu, masuk ke ruangan Sean dan menutup pintu kembali.


“gua harap ini sesuatu yang penting. Kalo tidak gua pergi dari sini?” Ansel melangkahkan kakinya menuju sofa single yang tersedia.


“kalo nggak penting, gua nggak bakalan minta lu datang malam-malam begini” ujar Sean.


“oke bang, ban Ansel udah di sini. Sebenarnya ada apa bang?” yuda mulai tidak sabaran. Kening Ansel berkerut melihat dua orang di sampingnya tampak serius.

__ADS_1


“Sel, Arvin sekarang di rawat di sini” San memberitahu Ansel.


“Appaaa... apa yang sebenarnya terjadi? Gimana keadaannya sekarang?” Ansel terkejut mendengar perkataan Sean.


“sebelumnya, kondisi Arvin sudah melewati masa kritis. Dia sempat kehilangan banyak darah dan untungnya stock darah yang sama dengan Arvin tersedia” jelas Sean,


“trus, gimana bisa tu bocah di rawat di sini” Ansel semakin penasaran, Sean menceritakan kembali yang di degarnya dari Zico. Wajah Ansel mulai tampak serius,


“gua harus hubungi tuan muda sekarang” Ansel akan menghubungi Daniel tapi di cegah oleh Sean.


“tunggu Sel, sebaiknya kita jangan ganggu dulu Daniel sampai Arvin sadar” cegah Sean,


“ini tidak bisa di biarkan Se, tuan muda musti tahu kejadian ini” Ansel meraih ponsel di kantong jaketnya.


“dia sedang bulan madu, lu mau di gantung di pohon cabe saat lu ganggu mereka bermesraan?” Sean mengingatkan akibat saat kebersamaan Daniel dan Arindda terganggu.


Ansel merinding takut merasakan bayang hitam bertanduk dengan wajah Daniel yang kesal saat kebersamaannya terganggu. Masih ingat dia kemarahan Daniel malam kemarin saat dia memberitahu kelanjutan proyek mereka.


Masih terasa bagi Ansel, betapa dingin dan ketusnya Daniel saat berbicara padanya.


“sepertinya kemampuan kamu sudah menurun, untuk masalah sekecil itu kamu mengganggu acara bulan maduku. Semua aku serahkan padamu karena aku percaya kamu bisa mengatasinya dengan mudah. Tapi sepertinya aku salah” ucapan Daniel dingin dan datar.


“maafkan saya tuan muda Daniel, mengganggu acara Anda tapi klien kita terus mendesak ingin bertemu dengan tuan muda. Sehingga proyek yang seharusnya berjalan dari minggu lalu tertunda karena sikap klien ini” Ansel memberi alasan pada Daniel, jujur saja saat itu di sudah sangat kewalahan menghadapi klien mereka terus memaksa ingin bertemu Daniel.


Ansel tersadar dari lamunannya saat Sean menepuk pundaknya,


“woi... malah bengong” ujar sean.


“sorry (menatap layar ponselnya lalu kembali menyimpannya ke kantong jaket) sebaiknya kita tunggu arvin bangun saja baru melapor pada tuan muda” Ansel menatap Sean mengerti dengan maksudnya.


“o ya sewaktu gua akan operasi Arvin, di bagian luka dia yang terbuka gua menemukan ini” Sean memperlihatkan sebuah microchip berukuran mini yang masih tersisa darah di sana.


Yuda menerima benda yang menyerupai microchip, dia memperhatikan benda itu dengan seksama.


“bisa lu selidiki ini?” tanya Sean.


“akan gua selidiki bang, gua balik ke resto buat ngambil peralatan gua. Tadi gua nggak sempat bawa apa-apa saat mendengar bang Arvin terluka. Abang pegang saja dulu benda ini” Yuda menyerahkan kembali benda itu pada Sean, dia bangkit dari tempat duduknya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Sean.


“dimana kamar Arvin?” Ansel bangkit dari tempat duduknya,


“ayo, gua antar lu ke sana” Sean melangkahkan kakinya keluar menuju ruangan Arvin.


***

__ADS_1


Sore hari di Pulau Arda


Daniel dan Arinda sedang menikmati jalan sore di tepi pantai dekat rumah mereka, Arinda dan Daniel duduk di pasir pantai menikmati matahari yang akan terbenam tidak berapa lama lagi,


“indah sekali” Mata Arinda berbinar-binar menatap matahari terbenam dengan keindahan senja yang menenangkan hati.


“ kamu menyukainya?” Tanya Daniel yang memeluk tubuh istrinya dari belakang. Dagunya di sandarkan ke bahu Arinda sambil menghirup wangi harum tubuhnya,


“hmm hmmm, begitu indah membuatku ingin terus berada di sini” Arinda menatap ke indahan alam yang terlukis sempurna di langit.


“jika kamu suka, kita bisa pindah ke pulau ini dan tinggal di sini selama kamu mau” Daniel ikut memandang pemandangan sore itu.


Arinda terkejut mendengar perkataan Daniel langsung menatapnya dari samping,


“nggak mau” Arinda masih menatap Daniel.


“kenapa? Tadi bukannya sayangku ini sangat senang di sini” Daniel menatap mata indah Daniel sambil mencubit pipi Arinda lembut.


“aku senang dengan pemandangan di sini, tapi untuk tinggal di sini selamanya aku nggak mau” Arinda kembali menatap pemandangan di hadapannya.


Kenapa kok perut aku di bagian bawah terasa nyeri ya? Rasanya juga berat, apa jangan-jangan... sebaiknya nanti saja gue cek di rumah Arinda bermonolog dalam hati merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana.


“kenapa kamu tidak ingin tinggal di sini, sayang?” Daniel membelai lembut lengan arinda.


“jika kita di sini, bagaimana pekerjaanku dan pekerjaanmu. Ingat kamu mempunyai tanggung jawab pada keluarga dan kesejahteraan para karyawan Arebeon” Arinda mengingatkan Suaminya jika ada ribuan karyawan yang berkerja di Arebeon.


"iya sayang, aku bahagia memilikimu yang selalu peduli dengan keluarga dan orang lain"


Daniel mencium pipi kanan Arinda, matahari sudah terbenam sepenuhnya,


“ayo kita masuk sayang, aku tidak mau kamu sampai masuk angin dan sakit nantinya” Ajak Daniel yang bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya pada Arinda. Tangan Daniel di genggam erat Arinda, mereka berdua berjalan kembali ke rumah mereka untuk menunaikan kewajiban mereka.


************


tetap terus dukung Author😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan commetnya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2