Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 242


__ADS_3

“apa Arinda di sini?” Daniel langsung menanyakan perihal istrinya.


“ngapain si Arin kemindang? Bukannya hari ini harusnya dia ketemu sama klien bareng Cantika?my idol kemindang bukannya nyariin akika malah nyariin Arinda” ujar Maya. Daniel mengabaikan perkataan Maya memilih memaksa masuk ke apartemen Maya.


Maya heran lalu akan melakukan protes, tapi segera di halangi Arvin langsung menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


“OMG.... kenapa bisa begindang? Akika kagak menyangka jika my Idol punya niatan begitu. Wajar aja diana menghilang dari my idol, untuk pertama kalinya diana tulus mencintai dengan segenap hati malah di sakiti begitu ” Maya sedih mendengar apa yang terjadi pada sahabatnya. Dia juga merasa prihatin dengan Daniel yang terlihat sangat sangat kacau.


“semua hanya kesalah pahaman,, karena itu kami mencari Arinda di sini. Untuk menjelaskan kebenarannya” ujar Arvin kembali menjelaskan jika Daniel memang mencintainya tanpa ada niat untuk menyakitinya. Daniel keluar dari apartemen dengan wajah sedih, dia sama sekali tidak menemukan Arinda di mana pun.


Arin... kamu di mana sayang...maaf kan aku... seharusnya aku menjelaskan semua padamu guman Daniel sambil berjalan keluar apartemen Maya.


“jika kamu mendapat kabar tentang Arinda segera kabari aku” ujar Daniel yang pergi berlalu di ikuti Arvin meninggalkan Apartemen Maya.


“my idol.... mo kemindang? Akika ikut” Maya meraih kunci mobil miliknya segera mengikuti Daniel. Dia teringat dengan kalung berlian yang di hadiahkannya pada Arinda. Tanpa sepengetahuan Arinda di dalam kalung berlian itu di pasangi chip pelacak.


Daniel sengaja memasang alat pelacak di sana, dia tidak ingin kejadian saat Arinda salah culik terulang kembali.


Kini mereka di dalam lift, Daniel terlihat sangat gelisah. Dengan terburu-buru dia mengaktifkan aplikasi pelacak di ponselnya. Karena mereka di ruang tertutup, membuat signal dari pelacak sedikit terganggu.


“udah coba tele-tele ke ponsel my bunny?” tanya Maya yang langsung di jawab Arvin dengan mengangguk.


“ponsel dan tas Arinda berada di kamar Ansel. Dia pergi begitu saja meninggalkan semuanya” Arvin setengah berbisik pada Maya tidak ingin Daniel semakin terpuruk.


Pintu lift terbuka, lokasi kalung Arinda di temukan dengan cepat. Segera Daniel bergegas menuju lokasi sebelum Arinda bergerak dan mereka benar-bena kehilangan jejak.


Berita menghilangnya Arinda juga sampai ke telinga Aileen dan Michael. Mereka sangat marah pada Daniel yang mengatakan hal begitu menyakitkan bagi Arinda. Walaupun mereka tahu jika itu hanya salah paham, namun itu tidak mengurangi rasa amarah Aileen pada Daniel.


“mommy sangat senang jika Arin pergi dari kamu. Jika mommy menjadi Arin, mommy akan melakukan hal yang sama dengan apa yang di lakukan Arin. Silahkan kamu nikmati hukuman yang sangat pantas kamu dapatkan” bentak Aileen yang langsung menghubungi Daniel mengetahui kepergian Arinda, untuk pertama kalinya keluarga Arsenio melihat Aileen begitu marah.


Perempuan mana yang tidak akan marah, sakit hati dan patah hati saat perempuan itu dengan tulus mencintai, mendapati kenyataan di mana suami yang mereka cintai ternyata memiliki maksud dan tujuan lain. Daniel tidak membela diri, dia hanya diam terus menatapi map lokasi peta di ponselnya.


Daniel dan Arvin sampai di halaman sebuah toko tempat menggadaikan barang. Mereka berpisah dengan Maya di jalan karena dia harus ke rumah sakit untuk bertemu dengan Cantika.


“ada yang bisa saya bantu tuan?” tanya pelayan toko, mata elang daniel menangkap kalung berlian milik Arinda yang berada di estalase toko itu.


“berikan kalung ini” kata Daniel dingin. Pelayan itu segera mengambil kalung itu dan menyerahkannya pada Daniel.


“di mana lu dapat kalung ini?” tanya Arvin. Pelayan toko itu menatap Daniel dengan bingung,


“beberapa jam yang lalu ada dua orang perempuan datang kemari, bermaksud menjual kalung itu” tanya pelayan itu.


“apa ini perempuannya?” Daniel memperlihatkan foto Arinda yang menjadi wallpaper di ponselnya.


“iya... benar. Dia perempuan yang menjual kalung ini dengan perempuan memakai jilbab” ujar pelayan toko.


“ sekarang di mana perempuan ini?” tanya Daniel semakin tidak sabaran.


“dia sudah pergi ke arah terminal beberapa jam yang lalu” kata pelayan toko itu.


Daniel mengeluarkan black card miliknya menyerahkan pada pelayan toko itu,

__ADS_1


“aku membeli kalung ini, berapa pun harganya” ujar Daniel. Pelayan itu sangat senang dan segera melakukan transaksi.


Daniel dan Arvin keluar dari toko itu melanjutkan pencarian menuju ke terminal. namun, usaha mereka sia-sia, terminal saat itu sangat sepi hanya beberapa mobil bus dalam keadaan kosong.


***


Perjalanan yang begitu melelahkan dalam beberapa hari, Arinda dan Aisyah sampai di kota TY. Mereka melakukan peregangan melemaskan otot-otot mereka yang lelah sepanjang perjalanan.


“mbak... kita makan dulu ya. Beberapa hari ini Aisyah perhatikan mbak nggak makan dengan teratur dan hanya sedikit. Wajah mbak juga terlihat sangat pucat” ujar Aisyah yang merasa sangat khawatir dengan Arinda.


“baiklah, ayo kit...” ucapan Arinda terhenti saat dia merasakan rasa pusing yang teramat. Mendadak pandangannya gelap dan dia pun tidak sadarkan diri.


“Mbak... Mbak Arin.... Tolong.... Tolong...” Aisyah panik meminta bantuan orang-orang sekitar. Dengan sigap beberapa pemuda dan bapak-bapak membawa Arinda ke puskesmas terdekat di luar terminal bus.


Aisyah mengucapkan terima kasih pada orang-orang yang sudah menolong mereka lalu masuk ke ruang dokter untuk menemani Arinda. Dokter perempuan di puskesmas itu segera bertindak memeriksa dengan cermat kondisi Arinda. Dia juga mengolesi minyak angin untuk membuat pasien segera sadar.


“bagaimana dengan mbak saya dokter?” tanya Aisyah yang senantiasa duduk di samping ranjang Arinda.


“sebentar ya mbak...” ujar dokter itu memeriksa perut Arinda.


Perlahan-lahan pemilik mata cantik itu terbuka memperhatikan ke sekeliling ruangan.


“nona sudah sadar?” tanya dokter itu. Arinda merasakan pusing yang teramat di kepalanya,


“saya... saya ada di mana?”


“anda ada di puskesmas. Nona pingsan dan di bawa kesini” jelas dokter. Arinda mencoba bangun dari tidur lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.


“sebaiknya anda istirahat saja terlebih dahulu. Tidak baik ibu hamil memaksakan diri” ujar Dokter membuat Arinda termenung mendengarnya.


“loh... nona tidak tahu jika saat ini nona sedang hamil?" ujar dokter itu kembali. Arinda menggelengkan kepalanya menatap lama ke arah dokter itu.


Aisyah hanya melongo diam terkejut mendengar berita tentang kehamilan Arinda.


“ja...ja...jadi saya hamil dok? benarkaah dok” mata Arinda berkaca-kaca bahagia.


"benar nona, tapi jika nona tidak yakin nona bisa memeriksa di rumah sakit dengan fasilitas yang lengkap" ujar dokter itu. Arinda sangat bahagia, dia memegangi perutnya yang masih datar.


Penantiannya selama ini terbayar sudah, dia begitu bahagia namun sedetik kemudian wajahnya kembali murung. Dokter itu heran melihat perubahan Arinda yang signifikan.


Aisyah mengerti dengan keadaan Arinda, dia tahu jika Arinda memiliki malah dengan suaminya.


“dokter apakah ada obat yang harus saya tebus?” tanya Aisyah yang mengalihkan pembicaraan. Arinda terlihat sangat sedih dan bingung, dia sangat ingin memberitahu tentang kehamilannya. Namun ego dan rasa sakit di hatinya mengurungkan niatnya.


“ada beberapa obat yang dapat anda tebus, tapi sebelumnya saya ingin tahu apakah anda ada riwayat penyakit lain atau ada alergi terhadap obat?” tanya dokter itu


“saya pernah keguguran dokter karena kecelakaan dan saya tidak ada alergi pada obat apa pun” ujar Arinda dengan wajah tertunduk dan sendu.


“kalau begitu saya akan meresepkan obat untuk penguat kandungan” dokter itu segera menulis beberapa obat pada kertas resep.


Setelah menerima resep, Aisyah dan Arinda keluar dari ruangan dokter menuju apotek yang berada di satu tempat dengan puskesmas itu. Arinda masih tampak begitu pusing, Aisyah menyerahkan kertas resep pada apoteker yang segera mengambil obatnya.

__ADS_1


Tampak beberapa pengunjung di sana yang memandangi Arinda dengan teliti, sesekali mereka melihat ponsel mereka lalu menatap ke arah Arinda.


Tidak lama ada sebuah iklan yang menampilkan pencarian untuk Arinda.


“bagi siapa saja yang bertemu dan mengetahui keberadaan perempuan ini segera hubungi nomor ponsel di bawah ini. Kami akan memberikan hadiah besar kepada siapa saja yang memberi informasi terkait perempuan ini”


Mata Arinda termangu menatap iklan yang di siarkan di televisi dan medsos. Para pengunjung itu mulai berbisik-bisik dan ada pula yang mencoba menghubungi nomor ponsel itu.


Arinda segera menghampiri Aisyah, lalu menarik tangan Aisyah untuk segera keluar dari apotek itu. Mereka segera menaiki sebuah angkot, Arinda lalu memasang masker yang sempat di belinya di apotek itu.


“mbak.... maaf jika Aisyah terlalu kepo. Apa mbak istrinya tuan Daniel Arsenio? Arinda Anindira?” tanya Aisyah berhati-hati agar tidak terdengar oleh penumpang yang lain.


Arinda menatap Aisyah, dia hanya diam dengan mata berkaca-kaca. Dia mengalihkan pandangannya ke pemandangan di luar jendela angkot yang di tumpangi mereka.


Aisyah terkejut sekaligus senang dalam hati, semenjak pertama kali dia melihat Arinda di acara pernikahan yang di siarkan di televisi. Dia sudah sangat mengagumi Arinda, sosoknya yang sederhana dan elegan menjadi panutan baginya.


Aku nggak menyangka jika penolongku adalah mbak Arinda yang aku kagumi Aisyah tampak begitu senang namun di tutupinya dengan bersikap biasa saja.


Mereka berdua turun di pusat kota TY, Arinda dan Aisyah lalu melangkah menuju sebuah gang kecil menuju sebuah perumahan minimalis yang sempat mereka lihat posternya di sepanjang jalan. Dengan uang hasil penjualan kalung Arinda, mereka berdua mengontrak di salah satu rumah yang tersisa.


Arinda menutupi identitas aslinya, mengganti namanya agar tidak terlacak oleh Daniel dan keluarga Arsenio lainnya. Dia begitu kecewa dan sakit hati pada Daniel. Dia juga merubah penampilannya dengan menggunakan hijab sama seperti Aisyah.


***


Daniel dan keluarga Arsenio lainnya terus berusaha mencari keberadaan Arinda. Berbagai hadiah pun di tawari bagi mereka yang bisa menemukan keberadaan Arinda. Begitu banyak telepon yang berdatangan namun tidak semuanya ada yang benar. Kebanyakan mereka hanya ingin memanfaatkan keadaan dan mendapatkan hadiah yang di janjikan.


mata elang mempesona itu menatap pemandangan di luar jendela kantornya, termenung memikirkan keberadaan Arinda. dia menghela nafas berat, mendadak Daniel merasa sangat ingin makan bakso urat di pinggir jalan.


dia berusaha untuk mengabaikan, namun keinginannya memakan bakso semakin besar. daniel lalu berdiri dari kursi kebesarannya melangkah keluar kantor. Ansel sudah kembali bekerja seperti biasa, berkat perawatan dari Cantika Ansel sembuh dengan cepat. Sean juga mewanti-wanti Ansel untuk tidak bekerja terlalu berat.


"tuan muda. anda mau ke mana?" tanya Ansel melihat Daniel.


"apakah sudah ada perkembangan?" tanya Daniel balik.


"maaf tuan muda, tapi sejauh ini kebanyakan semua info palsu" Ansel menyerahkan map yang berisi info palsu.


Daniel kembali teringat dengan keinginannya, dia kembali meletakkan map di atas meja Ansel. Dia melangkahkan kakinya menuju lift khusus, Ansel segera mengikuti Daniel.


*************


dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...


secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗


tetap terus dukung Author 😊😊😊


dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻


jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


❤️❤️❤️❤️❤️ all...


__ADS_2