Terjebak Cinta CEO Dingin

Terjebak Cinta CEO Dingin
Ep. 73


__ADS_3

“Hei elu elu pada mau kemana, lebih baik lu temenin kita main” kata Arvin menunjuk penjahat – penjahat itu, lalu dia mengkretekan jari tangan dan kepala, wajahnya di hiasi dengan seringaian jahat tersungging di bibirnya. Ansel melonggarkan dasinya dan siap memasang kuda kuda.


Penjahat A langsung melayangkan tinju ke arah Arvin dengan mudah di tangkis olehnya. Tangan penjahat itu langsung di pelintirnya


Kreeek....


Terdengar bunyi tulang seperti bergeser dari tempatnya.


“Aaaaakhhhh” teriak kesakitan penjahat A membuat penjahat B sedikit lengah.


Daniel tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia melangkah cepat mencengkram kuat tangan penjahat yang memegang senjata api. Dia lalu memelintir pergelangan tangan hingga senjata api itu terjatuh.


Kreeek...


Terdengar bunyi seperti patahan tulang


“Aaaaakhhh....aaakhhhh” teriak penjahat B kesakitan dia langsung berguling-guling kesakitan di lantai gudang. Daniel meraih senjata api yang terlepas dari tangan penjahat, mengarahkannya ke penjahat B.


Penjahat C dan penjahat D mengeluarkan belati dari punggung mereka dan bersiap akan menyerang Ansel dan Arvin.


“berhenti” teriak polisi dengan menodongkan senjata api ke arah penjahat yang akan menyerang Arvin dan Ansel.


“Buang senjata kalian” perintah polisi,


Penjahat C dan Penjahat D membuang senjatanya dan mengangkat tangan mereka.


Beberapa polisi masuk ke dalam gudang langsung meringkus penjahat C dan D, lalu polisi membantu penjahat A untuk berdiri membawanya ke rumah sakit terdekat.


Daniel menatap Arinda baju yang di kenakannya sudah tidak berbentuk lagi. Hanya menyisakan baju tanktop yang longgar memperlihatkan perbukitan. Dengan segera Daniel melepas jas tuxedonya dan memasangkannya ke Arinda yang masih menutup matanya. Dia begitu ketakutan dan tidak berani untuk membuka matanya.


Polisi mendekati Daniel bermaksud membawa penjahat B yang masih tergeletak kesakitan.


Polisi membantu penjahat B untuk berdiri,


“Tunggu sebentar pak polisi” kata Daniel,


“Ada apa tuan Daniel?” tanya polisi.


Pertanyaan polisi tidak di jawab Daniel, dia menghampiri penjahat B menatap tajam hingga penjahat itu tidak bisa berkutik.


“aku ingat, tangan sebelah ini sudah berani menyentuh wanita milik Daniel Arsenio” kata Daniel menyeringai kejam.

__ADS_1


Senjata api yang Daniel pegang di arahkannya ke tangan penjahat B yang telah menyentuh Arinda.


Dooorrr


“Aaaaaakh.... Aaakh.... anj**g, baj****n, ba***at, ba**, ta**, kep***t aaakhh... aaakhh” teriakan penjahat B menyebutkan segala jenis nama binatang untuk menahan rasa sakit karena luka tembakan di tangannya. Darah mengucur deras dari tangan penjahat B.


Daniel menyerahkan senjata api itu pada polisi, lalu menghampiri Arinda. Polisi hanya bisa diam dan berpura-pura tidak tahu menahu. Daniel sosok yang sangat berpengaruh di negara IN, jadi tindakannya saat ini melukai penjahat hanya di anggap sebagai kecelakaan kecil bagi polisi.


Teriakan dari penjahat B, membuat Arinda membuka matanya menatap Daniel yang kini berdiri tepat di hadapannya. Tangan Daniel merapikan jas untuk menutupi tubuh bagian depannya. Daniel lalu menunduk mengangkat kaki Arinda meletakkannya di kaki paha sebelah kiri. Dia membuka ikatan kaki Arinda.


Sementara itu, polisi yang akan membawa penjahat C dan penjahat D di hentikan oleh Arvin.


“sebentar pak polisi, kami ada sedikit urusan ama dua orang ini. Bapak polisi bisa menunggu sebentar, ada beberapa hal yang musti kami bicarakan dengan mereka” kata Arvin.


“ Baiklah, kami akan menunggu di sini” kata polisi seraya membuka borgol penjahat C dan penjahat D.


“Sel, ayo kita selesaikan permainan yang tadi. Tangan gue udah gatel banget, udah lama nggak main main ama mereka yang nyari masalah ama kita” kata Arvin.


Penjahat C dan penjahat D tertegun,


Kami sudah salah mencari musuh kata para penjahat dalam hati.


Ansel dan Arvin langsung menyerang membabi buta, memukul dan menendang hingga dua penjahat itu babak belur.


Ketakutan masih sangat jelas di raut wajah Arinda, tanpa di sadarinya dia berhamburan memeluk erat tubuh Daniel hingga jas tuxedo yang menutupinya jatuh ke lantai. Seluruh badan hingga tangan Arinda bergetar hebat, hati Daniel terasa pedih dia membalas pelukan Arinda. Perlahan lahan Daniel melepaskan pelukannya, lalu meraih jas tuxedo yang jatuh ke lantai.


Setelah memasangkan tuxedonya pada Arinda, dia langsung membopongnya berjalan melewati Ansel dan Sean yang masih asyik menghajar penjahat C dan Penjahat D.


Sean membantu Daniel membuka pintu belakang, dia langsung duduk dengan terus memangku Arinda.


“Se, balik ke mansion sekarang” kata Daniel, saat ini Arinda hanya bisa diam dan begitu menurut padanya.


“Ok Dan, bentar gua panggil Arvin dan Ansel” kata Sean menutup pintu mobil Daniel.


Arinda masih duduk di pangkuan Daniel, sebelah tangan Daniel menuntun kepala Arinda untuk bersandar di bahunya.


“hiksss....hikssss....” Arinda kembali terisak dalam pangkuan Daniel. Dengan kelembutan dan kasih sayang, Daniel membelai lembut rambut Arinda.


Sean menghampiri Ansel dan Arvin yang baru saja selesai bermain. Terlihat kedua penjahat babak belur dan nyaris pingsan,


“Sel, Vin Daniel minta kita balik ke mansion sekarang” kata Sean,

__ADS_1


“Oke, bentar” kata Arvin mendekati penjahat itu.


Arvin meraih tangan kedua penjahat yang sudah tidak sadarkan diri. Dia langsung menyeret kedua penjahat itu keluar gudang lalu menyerahkan pada polisi yang masih menunggu.


“Hehehehe, maaf bapak polisi, kelamaan. Nih saya kembalikan mereka pada anda” kata Arvin dengan santai.


Polisi itu menghela nafas berat saat melihat keadaan kedua penjahat yang sudah terkapar tidak sadarkan diri.


Arvin dengan santai duduk di samping kemudi mobil Sean. Ansel juga menaiki mobil tuan mudanya, sebelum menjalankan mobil Ansel mengelap tangannya yang terkena cipratan darah penjahat itu dengan tisu dan membuangnya keluar tepat mengenai wajah penjahat yang pingsan.


Ansel melihat ke kaca spion di depan, raut wajah Daniel terpantul di kaca spion itu. Tampak begitu khawatir dan merasakan sakit yang di rasakan Arinda.


Ansel lalu menjalankan mobil Daniel menuju ke Mansion Arsenio,


“Suruh polisi untuk menyelidiki dalang sebenarnya. Dan pastikan semua penjahat itu mendapatkan hadiah yang layak” perintah Daniel pada Ansel, matanya menatap Arinda yang masih menangis menyandarkan kepalanya di bahu Daniel.


“baik tuan muda” kata Ansel melajukan mobil menuju Mansion.


Kasihan nona Arinda... guman Ansel melihat Arinda yang masih tampak ketakutan.


Perlahan-lahan mata Arinda terasa berat oleh kantuk yang menyerang. Rasa lelah menyerang seluruh tubuhnya, Dia menyandarkan kepalanya ke pundak Daniel masih terdengar sesekali isakan tangisnya.


Sean menghidupkan mobilnya lalu melaju mengikuti mobil Daniel menuju Mansion Arsenio.


“ah...leganya. Bisa tidur nyenyak gue malam ini” kata Arvin menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil Sean.


“masih untung tu penjahat kalian berdua yang ngajak main. Kalo sama Daniel alamat udah ke alam baka mereka semua” kata Sean.


“Gue rasa, ada yang coba nyari gara-gara ama Daniel. Nggak akan mungkin penjahat pe’a kayak mereka dengan sukarela cari gara gara ama Arsenio” tebak arvin.


“hanya orang – orang yang nyari mati mau buat masalah dengan Daniel Arsenio. Sebaiknya Mulai sekarang kita musti waspada dan hati-hati” kata Sean.


************


terus dukung Author


dengan cara like, vote dan tipnya.....😊😊😊


jangan lupa juga kasih rate nya ya....😊😊😊


( Π_Π )

__ADS_1


makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗


__ADS_2