
Tepat tengah malam pesawat jet pribadi milik Daniel mendarat dengan mulus di bandara kota SY, Arvin mencoba membangunkan Aisyah kembali.
“Syah... Aisyah.... Aisyah... Bangun, bangun. Kita dah nyampe” Arvin sedikit mengguncang bahu Aisyah membangunkannya. Perlahan mata Aisyah terbuka menatap ke sekelilingnya, dia terkejut saat mendapati dirinya di dalam kabin pesawat jet milik Daniel.
“kenapa aku bisa ada dalam pesawatnya tuan Daniel? Kenapa di luar masih sangat gelap, kamu bawa aku ke mana?” tanya Aisyah sedikit ketakutan menatap ke arah Arvin.
“kamu tenang saja, kita di tempat yang seharusnya. Ayo kita turun, mobil sudah menunggu kita” ujar Arvin mempersilahkan Aisya untuk berjalan terlebih dahulu di ikuti Arvin dan Ansel. Mereka melewati lobi kedatangan di bandara lalu melangkah menuju mobil yang sudah terparkir di pelataran bandara.
“bos” sapa Riko menyalami ala pria pada Arvin dan Ansel. Aisyah semakin ketakutan saat melihat Riko tangan kanan Arvin,
“tenang saja, walau tampangnya menakutkan hatinya itu hello kitty. Ayo naik” ajak Arvin membuka pintu mobil bagian bangku penumpang di belakang.
Riko yang mendengar apa yang di katakan Arvin menaikkan sebelah alis menatap ke arah bosnya.
Ajim... Muke gile si bos, bilang gua hati hello kitty. Emang gua kayak yang di taman LW gerutu Riko dalam hati.
Aisyah masih berdiri di tempatnya, dia tidak mau mengikuti kemauan Arvin. Matanya menatap ke sekeliling bandara terdapat nama kota SY di plank tulisan bangunan bandara.
“kenapa kamu bawa aku ke sini?” tanya Aisyah menatap tajam Arvin. Ansel tahu jika saat ini waktunya Aisyah dan Arvin untuk berbicara. Dia mengajak Riko untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu, agar urusan di antara mereka selesai dan Aisyah memberi lampu hijau untuk Arvin.
Aisyah masih menanti jawaban dari Arvin, dia menyadari jika saat ini dia berada di kota kelahirannya.
“aku tahu kamu benci dan sangat ingin membunuhku saat ini, tapi aku harus menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Malam itu saat kamu datang ke apartemen, aku terkena jebakan obat pera**ng dosis tinggi, saat itu aku sudah berusaha untuk meredam hasrat di hatiku karena aku tidak ingin menyakiti mu. Tapi aku benar-benar sudah tidak sanggup lagi dan melakukan hal itu padamu. Aku benar-benar minta maaf padamu dan menyesali semua perbuatanku padamu. Dengan janjiku pada Allah aku membawamu ke sini untuk menghalalkan hubungan kita dalam ikatan suci pernikahan” jelas Arvin jujur tanpa ada yang di tutupi. Aisyah hanya diam mendengar semua penjelasan dari Arvin, di tatapnya mata Arvin yang menyiratkan kejujuran.
“mungkin menurutmu aku seorang fakboy yang suka mempermainkan wanita, tapi demi Allah kamu perempuan pertama yang aku sentuh.
Kamu berhak untuk mendapat yang terbaik, yang mendukungmu dan mencintaimu hingga akhir. Dengan ridho Allah, izinkan aku menjadi imam, menjadi pelindung dan penuntun mu ke jalannya, maukah kamu menikah dengan ku” ujar Arvin dengan gaya cool.
Mata Aisyah terbuka lebar saat Arvin melamarnya, dia tidak menyangka jika dia di bawa ke kota kelahirannya untuk di nikahi.
“kamu... kamu ingin menikahiku?” tanya Aisyah tidak percaya.
“ benar Aisyah, aku sudah menemui Abi dan Umi mu meminta restu dari beliau. Restu itu akan sempurna saat kamu menerima lamaran ku, jika lamaran ini kamu terima insyaallah nanti selesai sholat zhuhur kita akan menikah di pesantren milik abimu” ujar Arvin membuat Aisyah semakin terkejut.
“abi dan umi menerima lamaranmu? Kenapa?” Aisyah semakin bingung tidak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
“ semula Abi mu menolak lamaranku namun Abi mu mengucapkan syarat pada ku. Aku menyanggupinya dan memenuhi syarat Abimu” jelas Arvin kembali membuat Aisyah terpesona, baru kali ini ada pria yang berani menghadapi abinya yang memiliki sifat keras dan berhasil.
Ya Allah... diakah pria yang Engkau kirim untukku menjadi imam dan penuntun jalanku ke jalan-MU? Guman Aisyah dalam hati.
Dia menarik nafas panjang mengatur detakan jantung yang berdetak cepat saat Arvin melamarnya. Aisyah menatap ke mata Arvin yang serius dan tidak main-main,
“aku.... aku..... beri aku waktu, Aku masih bingung dan...” Aisyah tidak mampu melanjutkan ucapannya saat ini dia masih tidak tahu harus menjawab apa. Arvin mengerti jika Aisyah membutuhkan waktu untuk memikirkan,
“jika kamu ingin memikirkannya dulu tidak apa-apa, aku akan menunggunya. Walaupun harus menunggu lama” Arvin merogoh saku celananya untuk mengabari semua orang memberitahu jika akad nikah di undur. Aisyah menatap heran saat Arvin yang terlihat sangat sibuk dengan ponselnya.
“apa yang akan kamu lakukan?”
“aku akan mengabari semua orang jika akad nikah akan di undur sampai waktu di mana kamu siap menerima lamaranku. Aku tidak ingin kamu merasa terbebani dan terpaksa dengan pernikahan ini, aku sadar jika kita baru bertemu dan tidak mengenal satu sama lain” Arvin mencoba menelepon Ziko yang sama sekali belum terhubung.
Sebenarnya Aisyah bisa saja menerima lamaran Arvin, tapi dia merasa ragu dan takut.
Apa lagi yang ku ragukan? Pria ini berani mempertanggung jawabkan perbuatannya, dia tidak lari dan berani menghadapi. Kebanyakan pria akan mundur dan memilih meninggalkan perempuan saat mengetahui jika dirinya sudah tidak suci lagi hati Aisyah memberi masukkan pada dirinya.
“tunggu...” Aisyah menghentikan Arvin akan berbicara dengan Ziko untuk membatalkan rencana mereka, kening Arvin berkerut menatap ke arah Aisyah.
“bisakah kamu memberi aku waktu hingga pagi menjelang siang nanti? Aku akan memberi jawaban atas lamaran mu” kata Aisyah menundukkan pandangannya.
Arvin menatap perempuan yang ada di depannya kini, dia lalu menyetujui apa yang di inginkan Aisyah. Setelah cukup lama berbicara mereka, mereka berempat menaiki mobil menuju pesantren Abinya Aisyah.
Arvin duduk di samping Aisyah di bangku belakang, Ansel duduk di samping Riko yang mengemudikan mobil. Selama perjalanan Arvin menjelaskan pada Aisyah jika Abinya sudah memaafkan atas kesalahan yang di lakukan Aisyah dan Arvin.
Aisyah termenung saat Arvin menyampaikan jika Abinya ingin meminta maaf atas kesalahannya telah lampau. Abinya merasa sangat bersalah dengan perjodohan yang di paksakannya pada Aisyah.
***
Sayup-sayup terdengar azan subuh membangunkan Arinda dari tidurnya, di tatapnya Daniel yang masih tidur dengan pulas memeluk tubuhnya. Arinda tidur menghadap Daniel, sebelah tangannya menyentuh pipi, membelai Alisnya yang tebal dan menoel hidung mancung suaminya.
Sebuah senyuman tersungging di bibir seksi Daniel saat Arinda menggodanya. Sebuah kebiasaan yang selalu Arinda lakukan untuk membangunkannya,
“selamat pagi imamku...” Arinda mendekatkan bibirnya mengecup kening serta hidung mancung Daniel.
__ADS_1
“selamat pagi sayang.... “ sapa Daniel membalas mengecup lembut kening dan bibir pink natural Arinda. Matanya menatap perut Arinda, dia setengah bangkit menghampiri perut Arinda.
“selamat pagi baby Twins...” Daniel mengecup perut Arinda, dia merasakan pergerakan di sana saat menyapa baby mereka. Baby twins bergerak seolah-olah memberi tahu kepada kedua orang tua mereka jika mereka saat ini sangat senang dan bahagia.
“sayang... apa kamu tidak merasa kesakitan saat para twins bergerak di sana?” tanya Daniel khawatir.
“tidak sayang.... aku sangat senang saat merasakan pergerakan mereka. Terkadang saat aku berkomunikasi dengan mereka juga akan merespon dengan baik dan lincah” ujar Arinda sambil membelai perutnya, tubuhnya yang tidak mengenakan apa-apa hanya tertutup kain selimut.
“sayang sebaiknya kamu bersiap-siap, lalu kita sholat berjamaah ya” ujar Arinda menarik selimut hingga menutupi dadanya sambil bangun menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Daniel sejenak merebahkan kepalanya ke pangkuan Arinda tempat di depan perut yang berisi baby.
“sebentar lagi sayang, aku mau menyapa baby kita dulu dan mencium mereka” Daniel berbicara di depan perut istrinya seolah dia berbicara langsung dengan baby mereka. Baby mereka memberi respon dengan memberikan pergerakan yang membuat Arinda tersenyum bahagia.
Setelahnya Daniel bangkit dan melakukan ritual mandi, lalu dia keluar dari kamar mandi memakai pakaian bersih yang sudah di sediakan Arinda. Dia lalu menunggu istrinya duduk di sajadah yang sudah tergelar di kamar itu sambil membaca Al Quran.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
Author minta maaf terlambat up 🙏🙏🙏 karena ada sedikit kendala dan juga author menolong bocil Author membuat tugas sekolah**nya**....
secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat nulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ all...
__ADS_1