
Daniel duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Arinda, tangannya menggenggam erat tangan istrinya. Sebelah tangannya yang lain membelai lembut pipi, sesekali tangan Arinda di kecup mesra olehnya.
“sayang... kamu cepat bangun, aku sangat merindukanmu.... sangat sangat merindukanmu” ujar Daniel merebahkan kepalanya di samping kepala istrinya yang tertidur dalam damai. Tangannya terus menggenggam tangan istrinya, menatap penuh cinta wajah Arinda yang tampak pucat.
Arinda menatap Evan yang berdiri di depannya beberapa langkah menuju Gerbang bercahaya itu.
“ Evan....” panggil Arinda, Evan berbalik menatap Arinda dengan senyuman hangat.
“ Rin, sudah saatnya kamu kembali. Daniel sudah menantimu di sana”
“ Tapi...” Arinda melihat ke arah gerbang itu.
“ tidak Rin, ini bukalah saatnya kamu berada di sini, kembalilah Rin... kembalilah pada mereka yang menyayangi dan sedang menantimu saat ini. Kembalilah ke jalan di mana kamu lalui.... tolong sampaikan maafku pada Daniel dan lainnya karena sudah membohongi mereka. Di saat dan waktu yang tepat kita semua akan bertemu juga berkumpul kembali” Evan menghampiri Arinda, membalikkan tubuhnya ke arah berlawanan dengan gerbang bercahaya itu.
Evan mendorong lembut tubuh Arinda untuk melangkah kembali ke jalan yang di laluinya, kaki Arinda melangkah menjauhi gerbang. Sesekali mata indahnya menatap ke arah belakang, menatap Evan melangkah menuju gerbang bercahaya itu.
Langkah Arinda semakin cepat , seakan ada yang menariknya menuju ke suatu tempat. Dia seperti tersedot ke sebuah tempat yang begitu terang dan semuanya menjadi begitu menyilaukan mata. Terdengar olehnya lantunan azan yang begitu indah memanggil-manggil dirinya.
***
Lantunan azan berkumandang dengan begitu merdu pertanda waktu subuh telah masuk, perlahan-lahan mata Arinda terbuka merasa silau dengan lampu di ruangan itu. Matanya mengerjap-kerjap menyesuaikan dengan keadaan sekitar, perlahan-lahan kepalanya miring ke kanan menatap ke segala penjuru ruangan.
Dia melihat dari balik kaca itu, Ifan duduk bersandar ke dinding dengan kepala tertunduk. Maya yang juga tertidur dengan kepala berada di pangkuan Ifan, sesaat sebelum mereka berdua tertidur. Ifan melayangkan protes saat Maya tidur di pangkuannya, namun Maya dengan cuek mengabaikan protes Ifan. Rasa lelah yang teramat membuat Ifan malas untuk berdebat dan memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Kepala Arinda melihat ke arah kiri, mata indahnya menatap lama ke arah suaminya yang tertidur kelelahan. Sekuat tenaga Arinda memiringkan tubuhnya, menatap wajah Daniel yang begitu dekat dengan wajahnya.
Arinda melihat di kedua sudut mata Daniel, Air mata yang menggenang. Tatapan Arinda menjadi teduh menatap suami yang sangat di cintainya. Perlahan-lahan tangan sebelah kanan yang terpasang jarum infus mengusap lembut pipi Daniel juga menyeka air mata di sudut mata suaminya, rasa sakit di pundak dan juga perutnya tidak di hiraukan Arinda. Saat ini dia ingin berada di dekat suaminya, memeluk dan mencium penuh cinta juga kasih sayang.
Bibir Arinda perlahan-lahan mendekat ke arah kening Daniel, mengecup dengan penuh kasih sayang. Bibir pink natural itu perlahan-lahan menjauh, kening Arinda menempel dengan kening Daniel.
Merasakan sentuhan lembut dan kehangatan yang menghilang membuat mata Daniel yang tertutup rapat perlahan-lahan terbuka. Mata Elang itu menatap mata indah yang sangat di rindukannya.
__ADS_1
“Assalamualaikum imam ku, selamat pagi...” sapa Arinda tersenyum manis. Mata elang itu menatap lembut ke arah Arinda, doa-doanya telah di dengarkan oleh yang Maha Kuasa.
“waalaikum salam bidadari ku..." sebelah tangan Daniel membelai lembut wajah istrinya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya mencium lembut bibir yang begitu di rindukannya.
Wajah Arinda merona saat mendapat ciuman mesra dari Daniel, wajah tampan itu semakin terlihat tampan saat senyuman tersungging di bibir seksi itu.
“kita menikah cukup lama, tapi kamu masih saja merona. Membuatku semakin... semakin.... semakin mencintaimu” Daniel tersenyum sambil membelai wajah istrinya. Arinda menatap Daniel cukup lama membuatnya bertanya-tanya.
“ada apa sayang? Apakah kamu merasa tidak nyaman?” tanya Daniel khawatir, Arinda menggelengkan kepalanya perlahan.
“aku mencintaimu, sekarang, nanti dan selamanya” Arinda membelai wajah Daniel.
“aku lebih mencintaimu sekarang, nanti dan untuk selamanya” Daniel mengecup mesra kening Arinda.
“eeheem” terdengar seseorang berdehem mengganggu kebersamaan Arinda dan Daniel. Ifan berdiri di depan pintu ruang ICU dengan wajah merona, dia tersipu malu melihat kemesraan Daniel juga kakaknya.
“Ifan” Arinda menatap ke arah Ifan dengan mata berkaca-kaca. Perasaan lega dan rindu yang bercampur aduk membuat Ifan tidak dapat menahan diri lagi.
“mbak...Ifn kira mbak akan ninggalin Ifan sendirian" Ifan meneteskan air mata memeluk erat kakaknya.
“gi mana mbak mau pergi, kalo adek mbak ini belum menemukan calon yang kan merawat dan menjagamu. Sudah jangan nangis, malu dengan seragam kamu dan...” Arinda memegang perutnya yang sudah datar.
“bayi mbak... Fan anak-anak mbak gi mana?” Arinda mulai panik.
“mbak... mbak tenang saja. Ponakan Ifan Alhamdulillah semuanya lahir dengan selamat. Mereka begitu tampan-tampan dan cantik” ujar Ifan menenangkan Arinda.
“maksud kamu?” Arinda terlihat kebingungan
“maksud Ifan, anak-anak kita kembar tiga. Dua laki-laki dan seorang perempuan, semuanya terlahir dengan selamat tanpa kurang suatu apa pun” ujar Daniel yang baru kembali memanggil dokter Yuki. Dia memberi tahu Arinda tentang anak-anak mereka, Dokter Yuki tersenyum ramah mulai menghampiri Arinda untuk memeriksanya.
Mendengar tentang bayinya yang lahir dengan selamat, rona bahagia tergambar jelas di wajah Arinda yang masih terlihat pucat.
__ADS_1
“anda patut di beri gelar super woman nyonya Arin, meski sudah kehilangan banyak darah dan dalam kondisi kritis anda tetap melakukan yang terbaik untuk anak-anak anda” puji dokter Yuki. Raut wajah Daniel mulai tidak suka dengan apa yang di utarakan dokter Yuki, dia menatap dan bersikap dingin.
“ kondisi nyonya Arinda sudah mulai ada perubahan, saat kantung darah ini habis anda akan di pindahkan ke ruang perawatan” Dokter Yuki tersenyum ramah pada Arinda yang membalas dengan tersenyum manis. Membuat Daniel semakin mengeluarkan aura kegelapan dan mengubah udara di ruang ICU itu menjadi dingin.
“suster, sepertinya AC di ruang ICU ini menurun. Coba periksa” Dokter Yuki merasakan udara dingin di tengkuk lehernya.
“AC nya baik-baik saja Dok” ujar Perawat melihat temperatur Ac yang biasa saja.
Lalu dari mana udara dingin dan menusuk ini datang gumam dokter Yuki dalam hati menatap ke arah Daniel yang menatapnya dengan tatapan mematikan. Dia terlihat terkejut dan sedikit takut melihat tatapan mata Elang dari Daniel yang seperti ingin memakannya hidup-hidup.
Waduh... bisa rame ini Gumam Arinda mengodekan dengan mata ke arah Ifan untuk membawa Daniel keluar sebelum terjadi sesuatu.
*************
dear para Reader yang paling baik hati dan rajin menabung...
maaf pada semua reader🙏🏻
🙏🏻🙏🏻, terlambat up secepatnya author akan up lagi dan akan di usahakan up tiap hari, mohon bersabar menunggu kelanjutannya... 🤗🤗🤗🤗
tetap terus dukung Author 😊😊😊
dengan cara like, vote dan tipnya.....ya.... plisss🙏🏻🙏🏻🙏🏻
jangan lupa juga kasih rate dan comment nya yang positif agar Author semakin semangat💪🏻💪🏻💪🏻 buat menulisnya...✍️✍️✍️
( Π_Π )
makasih..... tetap semangat 🤗🤗🤗🤗
❤️❤️❤️❤️❤️ for all...
__ADS_1